Pages

Senin, 30 September 2013

Angkor Wat: Yang Tersisa dari Kejayaan Khmer



Langit masih terlalu gelap untuk dilihat dan dipandang. Gelapnya langit juga berpengaruh pada keadaan di bawahnya. Padahal, ini sudah jam 5 pagi. Suasana seperti malam masih terasa. Begitulah yang saya rasakan ketika saya keluar hotel. Angin berhembus pelan. Rasa dingin menyelimuti. Tapi, itu bukanlah halangan ketika saya, adik saya, dan teman saya meniatkan pergi ke Angkor Wat pada pagi yang masih gelap itu. Mendengar kata 'Angkor Wat' semua akan langsung menyahut Kamboja, negara tempat candi itu berada. Saya memang sedang berada di Kamboja, tepatnya di Siem Reap, kota yang dianggap tepat menuju Angkor Wat, warisan budaya Kamboja yang sudah begitu mendunia dan menjadi warisan dunia versi UNESCO sejak 1992.



Begitu saya, adik saya, dan teman saya masuk ke taksi yang kami pesan, keadaan yang sangat gelap itu masih terasa sampai kami di Angkor Wat. Dengan membayar 20 dolar Amerika per orang untuk satu hari kunjungan, kami dipotret satu per satu untuk dimasukkan ke dalam tiket masuk. Perlu diketahui, Angkor Wat adalah candi yang teramat besar dan luas sehingga satu hari berkeliling pun tidak akan cukup. Karena itu, tiket masuknya juga bervariasi. Ada yang dua hari, ada yang satu minggu. Bervariasi tiket, bervariasi juga harganya. Yang dua hari mencapai 40 dolar AS, sedangkan yang satu minggu bisa mencapai 60 dolar AS. Cara berkelilingnya pun tidak melulu jalan kaki. Bisa juga dengan sepeda, taksi, tuk-tuk---sejenis bajaj, atau helikopter. Itulah yang saya baca ketika hendak mengunjungi salah satu warisan dunia ini. Kebetulan kami memilih taksi untuk berkeliling. Taksi ini yang juga sehari sebelumnya mengantar kami dari bandara Siem Reap. Sopirnya, Bora, seorang Khmer, dengan raut wajah sedikit sipit, bagi saya seorang yang ramah dan bersahabat. Kemampuan berbahasa Inggrisnya yang lancar dan mudah dipahami membuat kami bisa dengan mudahnya berkomunikasi.  Boralah yang menawarkan diri berkeliling Angkor Wat seharian dengan harga 40 dolar AS. Cukup mahal memang bagi seukuran kami yang datang dengan uang pas-pasan. Alhasil, kami pun patungan. Tak apalah mahal yang penting kami dapat transportasi buat mengantar. Lagipula, di Siem Reap, ketika membaca buku panduan ke Kamboja, bahwa hotel-hotel di sana terhubung satu sama lain dengan moda transportasinya. Dan itu benar.

Usai membayar tiket masuk dan mendapat kartu sebagai validasi, kami langsung menuju ke Angkor Wat. Bora memberhentikan kami lalu menunjuk ke tempat orang-orang yang sedang berjalan dengan senter. Kami segera ikuti petunjuk dari dia dan mengikuti orang-orang bersenter itu berjalan. Usai dicek kembali oleh barisan petugas yang menyambut turis, masuklah kami ke candi Hindu terbesar di Asia Tenggara itu. Meski gelap, tetapi siluet menara candi terlihat. Rasa tak percaya membuncah sekaligus bercampur rasa bangga. Angkor Wat yang saya biasa lihat di televisi dan hanya tahu dari Tomb Raider tiba-tiba saja saya jejakkan.

Kompleks Candi Terbesar di Asia Tenggara dan Identitas Nasional
Angkor Wat adalah sebuah candi, tetapi juga kompleks bangunan keagamaan yang pada awalnya Hindu lalu berganti menjadi Buddha. Candi Angkor Wat yang merupakan bagian dari kompleks Taman Arkeologi Angkor merupakan candi yang dibangun oleh raja Suryawarman II pada awal abad ke-12 Masehi. Angkor Wat, yang dalam bahasa Khmer berarti kota besar, juga merupakan identitas nasional Kamboja. Hal itu yang diperlihatkan di dalam bendera negara tersebut.

Ketika menjejak kaki di Angkor Wat, saya jadi teringat bahwa hampir semua struktur bangunan di Angkor Wat terpengaruh oleh Jawa. Apa pasal? Salah satu raja dari Kemaharajaan Khmer, kemaharajaan yang membangun Angkor dan seisinya, Jayawarman II, dalam sejarah pernah tinggal beberapa lama di Jawa. Ketika itu Jawa sedang diperintah oleh Dinasti Syailendra, dinasti yang mahsyur dengan pembangunan Borobudur, candi Buddha terbesar di Asia Tenggara. Keberadaan sang raja di Jawa juga tidak terlepas dari kebijakan politik Jawa yang menjadikan Khmer sebagai bagian dari Jawa. Hal yang demikian membuat sang raja ketika kembali ke Kamboja, membangun beberapa candi dengan terpengaruh ala Jawa. Kemiripan struktur dan relief antara beberapa candi di Taman Arkeologi Angkor dan Borobudur itu pun pernah diteliti dalam sebuah seminar.



Ketika saya melihat candi itu dari kejauhan, sekedar melihat matahari terbit, yang nyatanya tidak muncul karena mendung, saya melihat beberapa menara menjulang dari candi itu. Di depan candi terbentang sebuah danau teratai. Persis seperti yang saya lihat di televisi. Kemudian ketika masuk ke candi dengan menaiki tangga kayu buatan untuk melapisi tangga asli yang curam, candi itu terlihat sedang direstorasi pada bagian depannya. Tampak di situ ada beberapa biksu berdoa. Layaknya candi-candi, sudah pasti ada relief. Begitu juga di Angkor Wat yang terpampang relief yang berkisah mengenai Mahabhrata dan Ramayana. Tentu dengan ala Kamboja. Angkor Wat memang candi yang besar dan luas. Berbeda dengan Borobudur, candi ini bersifat tertutup dengan adanya lorong panjang beratap yang membentuk sebuah rumah panjang. Bisa dipastikan, di Angkor Wat, kita pun bisa mengelakkan diri dari cuaca panas atau hujan lalu duduk-duduk di pelatarannya.

Yang membuat kami terheran-heran kenapa tangga di candi itu begitu suram. Berbeda dengan Borobudur atau candi-candi lainnya di Indonesia. Apalagi menara-menara candi itu seperti Prambanan. Apa karena ini candi Hindu jadi seperti itu strukturnya.

 
Angkor Wat hanyalah sekian dari candi-candi yang tersebar di Taman Arkeologi Angkor. Seperti namanya, dia merupakan tempat pemujaan sekaligus pusat kekuasaan raja sebab dibangun di ibu kota kemaharajaan Khmer, Yasodharapura. Keberadaan Angkor Wat dan situs-situs lainnya di Kamboja diketahui dimulai ketika pada akhir abad ke-19, beberapa arkeolog Prancis melakukan penggalian mengenai situs-situs bersejarah yang berada di dekat Siem Reap. Tak lama kemudian setelah berhasil direstorasi, Angkor Wat dibuka untuk umum dengan beberapa turis Prancis sebagai pengunjungnya. Keberadaan situs arkeologi itu tak pelak mempengaruhi Siem Reap, sebuah kota kecil yang awalnya hanyalah permukiman kumuh. Dibangunlah akomodasi dan jalan-jalan untuk mempermudah akses ke Angkor Wat. Akibatnya, Siem Reap pun menjadi kota yang berkembang cepat menjadi kota pariwisata dan gerbang ke Angkor Wat. Jarak dari kota itu kompleks candi hanya sekira 5,5 kilometer.

Puncak Kejayaan Khmer
Angkor Wat sendiri merupakan sebuah puncak prestasi peradaban yang dilakukan Kemaharajaan Khmer. Dalam sejarah Kamboja, Kemaharajaan Khmer merupakan kemaharajaan paling berpengaruh di negeri dan juga di Indocina. Indocina pada masa-masa kemaharajaan ini dikuasai dan disatukan. Kekuasaan Kemaharajaan Khmer membentang dari dari Myanmar hingga Thailand. Kemaharajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Sriwijaya di utara Semenanjung Melayu, Champa dan dinasti Tang di timur, Haripunjaya dan Mon di barat. Dalam sejarahnya, kemaharajaan ini memang mempunyai hubungan politik dan perdagangan dengan Jawa dan kemudian Sriwijaya. Beberapa raja yang terkenal selain Jayawarman II dan Suryawarman II adalah Indrawarman I yang memulai ekspansi Angkor, Yasowarman I yang membangun Yasodharapura. Hampir semua candi di kawasan Angkor dibangun oleh raja yang sedang berkuasa. Candi Angkor Thom atau Bayon dibangun oleh Jayawarman VII. Sedangkan Baphuon dibangun oleh Jayawarman VIII. Begitulah info yang kami dapatkan dari Bora kala kami bertaksi dari satu candi ke candi lainnya. Perlu diketahui jarak tiap candi bisa 2-5 kilometer sehingga transportasi beroda merupakan alternatif yang tepat untuk berkeliling.

Hujan turun cukup deras pada hari kami mengelilingi kawasan Angkor. Maklum, bulan September. Bulan yang tepat untuk turunnya hujan sampai Oktober. Wajar jika di bulan ini bisa dibilang bulan low-season atau bulan minim turis. Dipastikan berkeliling Angkor akan menghadapi tanah becek akibat hujan. Itulah juga yang kami alami ketika berjalan ke Angkor Thom kemudian berjalan menembus hutan sampai Teras Gajah-Gajah. Cukup melelahkan. Namun juga mengasyikkan. Ketika berkeliling sampai ke Teras Gajah-Gajah inilah, seperti halnya di Indonesia, ada anak kecil yang merengek-rengek meminta turis membeli barang dagangannya. Saya jadi teringat panduan di Lonely Planet dan beberapa situs internet, lebih baik jangan membeli barang-barang yang diperjualbelikan. Ada baiknya memberi anak kecil itu buku atau alat tulis sebab itu berguna untuk pendidikan mereka daripada uang yang ujung-ujungnya bisa membuat mereka terus mengemis. Dan memang ada beberapa turis yang memberikan buku dan alat tulis. Saya sendiri dan lainnya sih menolak halus.

Sehabis dari Teras-Teras Gajah, perjalanan dilanjutkan ke dua candi yang saya tidak tahu namanya. Meskipun Bora sudah memberi tahu tetap saja susah diingat sebab asing di telinga. Barulah setelah itu ke Ta Keo yang sedang direstorasi lalu berlanjut ke Ta Promh, tempat lokasi syuting Tomb Raider, dan terakhir Banteay Kdei.

Perjalanan mengelilingi kompleks Angkor berakhir pada pukul setengah 4 sore setelah kami mengawalinya pada jam 5 pagi. Sekali lagi, cukup melelahkan perjalanan ini tetapi setidaknya kami puas. Bisa berkunjung ke salah satu situs warisan dunia yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mungkin seperti mimpi. Menyaksikan sisa-sisa kejayaan Kemaharajaan Khmer yang tetap membisu meski zaman berganti sampai Khmer pun hanya dikenal sebagai Kamboja, sebuah negara kecil di Teluk Thailand, yang kemudian mengalami penjajahan Prancis, Jepang, perang sipil, masa Khmer Merah, invasi Vietnam, sampai akhirnya menjadi seperti sekarang ini, negara yang sepertinya harus menanggung kemiskinan dan trauma akibat perang sipil. Pariwisata hanyalah menjadi alat penghibur semata.

Dari kejauhan, hujan yang tetap turun itu terlihat tidak segan-segan menumbuk sisa-sisa batu-batu kejayaan Kemahajaraan Khmer itu. Kemaharajaan itu akhirnya runtuh pada 1463 setelah konflik internal, wabah penyakit, serangan Kerajaan Ayutthaya dari Thailand, dan kerusakan lingkungan di Angkor.





Jumat, 27 September 2013

Nasgor...Nasi Goreng...

Dalam dua hari belakangan ini, saya memakan nasi goreng. Bukan saya yang mau tetapi karena makanan itu disediakan kantor tempat saya bekerja. Soalnya, di kantor saya itu sedang ada pengerjaan edisi khusus APEC yang akan diadakan di Bali pekan depan. Nah, supaya bisa memacu stamina diberilah makanan karbohidrat biar tetap ngejreng di malam hari.

 
Mengenai nasi goreng, saya dan semua orang di Indonesia, tentu memang tidak asing dengan makanan yang satu ini. Bentuk fisiknya berupa nasi yang digoreng hingga kecoklatan terkadang menjadi obat ampuh ketika lapar datang. Belum lagi jika tampilannya disuguhin lauk-pauk, telur, dan aroma harum yang menggoda. Siapa yang tak kuasa mencoba? Nasi goreng boleh dibilang makanan yang sangat-sangat populer di Indonesia, terutama di Jakarta. Populernya karena hampir semua tempat di Jakarta akan ditemukan penjual nasi goreng, baik melalui gerobak keliling, warung-warung, restoran, dan hotel. Tentu dengan variasi harga yang berbeda. Satu porsi bisa berkisar dari 5.000 sampai 10.000, bahkan 15.000. Variasi itu juga merambah ke tampilan menu yang memunculkan banyak varian nasi goreng seperti nasi goreng ayam, nasi goreng kambing, nasi goreng seafood, nasi goreng ati ampela, dan bahkan nasi goreng pete. Belum lagi yantg selalu menjadi peneman, kerupuk atau emping.

Nah, karena populernya nasi goreng di Indonesia, wajar jika menu ini sudah menjadi menu nasional Indonesia, dan boleh dibilang menjadi warisan kuliner Nusantara. Wajar juga ketika saya tengah berada di Siem Reap, Kamboja, seorang pemilik hotel yang akan saya inapi, menyalami lalu berkata,
"Nasi goreng sangat populer di Jakarta, ya?" ketika tahu saya dari Indonesia
Saya menjawab dengan yakin,
"Tentu saja,"
Gambaran itu tentu saja menjadi bukti, ya bukti, bahwa nasi goreng merupakan makanan yang betul-betul populer dan merakyat ---soalnya tidak mengenal batasan usia ---di Indonesia. Saking populernya, orang-orang dari luar Indonesia saja tahu.

Tetapi, dari sini timbul pertanyaan, apakah benar nasi goreng merupakan masakan asli Indonesia? Rasa penasaran saya ini lalu saya lanjutkan dengan mencari perihal makanan murah nan praktis itu ---bahkan Sevel membuat nasi goreng beku yang bisa dihangatkan kembali--- di internet. Setelah saya cari-cari dan membaca-baca barulah saya tahu kalau nasi goreng itu asalnya dari Cina. Ini berawal dari 4.000 tahun yang lalu. Nasi goreng, yang dalam bahasa Cinanya disebut Han-Chou, pada awalnya merupakan makanan yang tadinya dingin lalu dihangatkan kembali. Kemunculannya dikarenakan kebiasaan orang-orang Cina yang tidak menyukai makanan dingin dan tidak mau membuang sisa makanan itu. Jadilah, makanan itu dihangatkan dan digoreng bersama dengan bumbu-bumbu penyedap sehingga terciptalah masakan yang lezat.

Dari Cinalah, terutama dari masa Dinasti Siu, nasi goreng menyebar ke luar Cina, khususnya Asia Tenggara, pada abad ke-17. Di sinilah resep nasi goreng dari Cina itu berbaur dengan resep-resep lokal sehingga bisa diketahui di beberapa wilayah Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura berbeda resep dan cita rasanya. Di Indonesia saja ada beberapa varian lokal nasi goreng. Seperti nasi goreng jawa, nasi goreng teri medan, nasi goreng kambing, nasi goreng udang, nasi goreng ikan asin dan nasi goreng aceh. Selain populer di Indonesia dan beberapa negara jiran, nasi goreng atau nasgor juga populer di Belanda. Kepopuleran ini dikarenakan interaksi masa lalu kedua negara di masa kolonial. Lirik lagu dari Wietteke van Dort ini menjadi penegasnya,

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
 
Bagi mereka yang menyukai segala sesuatu yang berbau kolonial tentulah akrab dengan lirik lagu yang berjudul Geef Mij Maar Nasi Goreng yang begitu populer hingga sekarang.

Saking populernya juga, wajar jika CNN pada 2011 menempatkan nasi goreng sebagai makanan populer kedua setelah rendang dalam 50 makanan terlezat di dunia. Memang, nasi goreng bisa dibilang tiada duanya. Kesederhanaan dan kefleksibelannya menjadi makanan Indonesia yang tepat saat lapar.

Nasgor...nasi goreng....
 

Kamis, 26 September 2013

Filipina: Si Latino-Hispanik Asia

Latin. Mendengar kata itu selalu diidentikkan dengan bahasa Latin atau Amerika Latin, dan bahkan telenovela. Hal itu memang sudah menjadi anggapan umum di masyarakat. Nama-nama yang berbau Latin dan biasanya berasal dari Spanyol seperti Jose, Gonzales, Alberto, Roberto, Gustavo, Helena sudah begitu akrab di telinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Ini karena adanya siaran serial drama asal Amerika Latin yang menggunakan bahasa Spanyol, telenovela. Selain itu, nama-nama demikian menjadi populer tatkala beberapa nama pemain sepak bola berdarah Latin atau Latino menggunakannya.
manila.cervantes.es
Disebut Latin dikarenakan wilayah tersebut menggunakan bahasa-bahasa dari rumpun bahasa Latin, yaitu Spanyol, Portugal, dan Prancis. Spanyol menjadi bahasa dominan di wilayah Amerika Latin yang juga mencakup Karibia karena hampir semua negara Amerika Latin menggunakannya. Mulai dari Meksiko hingga Argentina. Sedangkan sisanya, Portugal dan Prancis digunakan Brasil dan Guyana Prancis. Jadi, yang dimaksud dengan Amerika Latin adalah wilayah benua Amerika yang menggunakan bahasa-bahasa dari grup bahasa Latin (Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, dan Rumania). Hal ini untuk membedakan dengan wilayah Amerika Anglo seperti Amerika Serikat dan Kanada yang menggunakan bahasa Inggris.

Lalu apakah wilayah bahasa Latin di luar Spanyol, Portugal, dan Prancis, itu hanya ada di benua Amerika yang memang menjadi penyumbang terbesar kebudayaan Latino terbesar di dunia? Tentu saja jawabannya tidak. Wilayah Latin ada di Afrika dan Asia, serta Oseania. Afrika menjadi wilayah terbesar kedua setelah Amerika diikuti Asia dan Oseania. Di Asia setidaknya ada tiga wilayah berbahasa Latin, yaitu, Filipina, Makau, dan Timor Leste. Yang pertama disebut menggunakan bahasa Spanyol. Dua terakhir Portugal sehingga bisa disebut sebagai Asia Latin sebab selain berbahasa mereka juga berbudaya Latin. Hanya saja, dalam konteks ini, budaya Latin yang dimaksud menyerupai budaya Latino ala Amerika Latin. Dan negara yang mewakili Latino di Asia itu adalah Filipina.

Terletak di Lautan Pasifik dan berada dalam kawasan ASEAN, Filpina yang merupakan sebuah negara republik ini dikatakan berbudaya Latino karena masa lalu negara tersebut yang dikuasai Spanyol selama 333 tahun (1565-1898). Kolonisasi Spanyol atas Filipina yang berlangsung 3 abad itu dimulai ketika Ferdinand de Magellan mendaratkan kakinya di negara kepulauan tersebut, tepatnya di Cebu pada 1521. Kolonisasi yang begitu lama itu membuat Filipina terspanyolisasi dalam budaya, terutama dalam penamaan tempat, bangunan, orang-orang, agama, dan pakaian. Bahkan nama Filipina pun berasal dari nama Raja Spanyol, Phillip II. Dalam bahasa pun, sekitar 100-an lebih kosakata bahasa Spanyol masuk dalam bahasa nasional Filipina, Tagalog. Bahasa Spanyol pun digunakan sebagai bahasa pengantar, bahkan saat Amerika Serikat datang menguasai Filipina sampai akhir Perang Dunia ke-2. Baru pada 1987 bahasa Spanyol dihentikan menjadi bahasa pengantar lalu digantikan oleh Tagalog dan Inggris.  Namun sejak 2007 dihidupkan kembali sebagai bahasa pendidikan.

Identitas Latin yang dimiliki Filipina itu membuatnya hendak disamakan dengan negara-negara Amerika Latin. Bahkan ada yang menyebut Filipina merupakan salah satu negara Amerika Latin, bukan Asia. Anggapan demikian memang tidak berlebihan mengingat banyak kesamaan yang dimiliki Filipina dengan banyak negara Amerika Latin. Identitas Latin itu tetap terjaga meskipun bahasa Spanyol tak lagi menjadi bahasa nasional dan hanya menjadi bahasa opsional. Amerikanisasi yang disebabkan penjajahan AS atas negara itu setelah Perang Spanyol-AS menjadi penyebabnya. Akibatnya, banyak generasi muda Filipina tak bisa lagi berbahasa Spanyol namun lancar berbahasa Inggris. Meskipun demikian, budaya-budaya Latin lain selain bahasa tetap hidup hingga sekarang. Hal itu yang tetap membuat Filpina dipandang sebagai salah satu negara Latin yang satu-satunya berbudaya Hispanik di Asia.

Rabu, 25 September 2013

Vietnam: Si Asia Tenggara Beridentitas Sinosphere

Vietnam. Apa yang pertama kali kita bayangkan ketika mendengar nama negara ini? Jelas, Perang Vietnam, Vietkong, dan Ho Chi Minh. Penyebutan nama-nama itu jelas tidak sembarang mengingat Vietnam memang terkenal sebagai negara yang menjadi ajang pertempuran negara itu dengan Amerika Serikat pada kurun waktu 1965-1975. Alasan terjadinya perang itu, Amerika tidak menyukai tindak-tanduk Vietnam, yang ketika itu terbelah menjadi dua Vietnam (utara dan selatan), dan berideologi komunis berusaha menyerang Vietnam Selatan untuk disatukan dalam satu Vietnam. Bagi Amerika, tindakan itu bisa mengancam dan menyebabkan Asia Tenggara jatuh dalam pangkuan komunis. Perlu diketahui, pada masa-masa penyebab terjadinya perang, situasi dunia sedang dalam ancaman akibat persaingan dua negara adidaya, Amerika dan Uni Soviet. Amerika merasa harus bertanggung jawab bahwa kawasan Asia Tenggara harus aman dari komunisme.
en.wikipedia.org


Perang Vietnam yang terjadi selama 10 tahun itu dan membuat Amerika sebagai negara besar harus angkat kaki dari negeri itu memang memunculkan banyak kisah. Mulai dari Vietnam Rose, Vietkong, gerilyawan Vietnam Utara yang melawan Pemerintah Vietnam Selatan bentukan Amerika, bom oranye, serta Ho Chi Minh, sang pahlawan nasional Vietnam yang menjadi penggerak untuk bisa menyatukan Vietnam dan melawan Amerika. Dan ketika perang berakhir, kisah pun berlanjut ke serial televisi  dan film seperti Rambo dan Platoon.

Namun, Vietnam nyatanya bukanlah sekedar Perang Vietnam yang membuat negara ini menjadi dikenal banyak orang. Tetapi negara ini juga terkenal akan wisata alamnya yang terkenal, Halong Bay, yang kemudian dijadikan sebagai salah satu tujuh keajabian dunia baru bersanding dengan Taman Nasional Komodo dari Indonesia.

Namun, jika dilihat dari sisi budaya, Vietnam mempunyai budaya yang agak berbeda dan terkesan unik. Beribu kota di Hanoi dan terletak di kawasan Asia Tenggara, sejatinya Vietnam merupakan sebuah negara sosialis yang mempunyai kedekatan budaya dengan tetangganya di utara, Cina. Hal ini bisa dilihat dari tradisi yang meliputi cara dan bentuk pakaian yang disebut dengan Ao Dai, penamaan tempat, kebiasaan-kebiasaan dari tata cara perkawinan, filosofi hidup yang konfusian, bentuk bangunan dan penggunaan aksara Cina yang disebut dengan Han-Nom. Kedekatan budaya antara Cina dan Vietnam bukanlah sebuah kebetulan.

Kedekatan itu tercipta dari interaksi antara keduanya semenjak zaman perunggu melalui pengaruh Cina yang kemudian menghasilkan Kebudayaan Dongson. Kemudian Cina menguasai Vietnam semenjak zaman Dinasti Han sampai abad ke-10. Di masa-masa ini banyak orang Vietnam yang direkrut menjadi pegawai pemerintahan di dinasti itu dan beberapa di antaranya merupakan sastrawan-sastrawan terkenal Vietnam. Ketika Vietnam bisa memerdekakan diri dari Cina, negara itu meniru bekas penjajahnya tersebut dengan mendirikan pemerintahan bercorak dinasti. Dimulai dari Dinasti Ly sampai Dinasti Nguyen. Pada masa pemerintahan Dinasti Tran, Vietnam tercatat tiga kali bisa menghalau serangan Mongol yang berdinastikan Yuan.

Kedatangan Prancis sebagai salah satu negara Eropa pada akhir abad ke-19 mengakhiri kekuasaan dinasti-dinasti di Vietnam. Prancis menjadikan Vietnam sebagai bagian dari Indochina Prancis yang meliputi Kamboja, Laos, dan Vietnam dengan Vietnam sebagai pusatnya. Keberadaan Prancis juga yang membuat menghilangnya aksara Han-Nom dan digantikan dengan aksara Latin hingga sekarang. Prancis bertahan di Vietnam sampai Perang Dunia ke-2 ketika Jepang datang namun berkuasa kembali sampai akhirnya benar-benar mangkat pada 1954 setelah kalah oleh Vietnam di Dien Bien Phu. Prancis mangkat bukan berarti Vietnam benar-benar merdeka dan bisa menyatu. Amerika Serikat menjadi lawan berikutnya Vietnam sampai 1975.

Dikarenakan mempunyai kedekatan budaya yang kuat dengan Cina, Vietnam pun oleh sebagian kalangan dimasukkan ke dalam lingkungan berbudaya Cina dan kawasan Asia Timur bersama-sama dengan Jepang, Cina, Korea Selatan, Hongkong, Makau, dan Taiwan.  Kedekatan itu juga yang membuat Harry S. Truman, Presiden AS pengganti Franklin Rooselvelt pernah bertanya kepada Chiang Kai-Shek, pemimpin Cina pada Perang Dunia ke-2, mengenai Vietnam yang dikiranya bagian dari Cina ketika hendak mengizinkan beberapa negara Eropa mengambil alih kembali bekas-bekas jajahannya yang dikuasai Jepang pada Perang Dunia ke-2. Kedekatan itu juga yang memperkuat pendapat ilmiah bahwa Vietnam hanya satu-satunya negara di kawasan Indocina yang sangat kuat pengaruh Cinanya sementara negara-negara Indocina lainnya terpengaruh oleh India. Inilah yang membuat Vietnam unik. Berada di Asia Tenggara tetapi berbudaya Asia Timur (Sinosphere).

Senin, 23 September 2013

Nuk*

Matahari masih menggantung di ufuk barat. Sebentar lagi cahaya terbesar alam semesta itu akan menenggelamkan diri, merayap bagian bumi lainnya yang siap menerima cahayanya. Langit memerah menguning. Gelap sudah mulai terasa. Siluet burung-burung nampak beterbangan mencoba menjadi latar bagi senja yang selalu berulang setiap hari. Potret senja itu jelas menjadi santapan bagi mereka yang menyukai senja untuk diabadikan ke dalam kamera, baik digital atau kamera. Selanjutnya diunggah ke dalam jejaring sosial untuk menyatakan dan membagi betapa indahnya senja itu. Apalagi senja yang dimaksud berlatar depan sebuah bangunan megah dari masa lampau, Candi Borobudur. Sungguh tak seorang pun mau melewatkan ini. Bisa dipastikan kilatan cahaya menyambangi pendaran cahaya senja itu.

Bagi Rudi, pemandangan senja itu merupakan hal yang biasa. Tiap hari ia melihat senja itu dari tempat kerjanya, sebuah hotel di kawasan dekat candi Buddha terbesar di Asia Tenggara itu. Di hotel itu ia bekerja sebagai seorang pegawai hotel yang diikhususkan mengantar para turis ke kawasan Borobudur. Tak hanya mengantar, ia juga memandu mereka ke candi tersebut. Menjelaskan asal mula candi itu, sejarahnya dari zaman baheula hingga sekarang. Berulang kali ini ia lakukan sampai-sampai ia menjadi di luar kepala dan bisa dengan caranya sendiri mengatur untuk menjelaskan setiap detail-detail dan sejarah Borobudur. Tentu saja ada perasaan bosan dan ia ingin rehat sejenak dari pekerjaan ini dengan pergi ke pantai. Menikmati alunan ombak dan pasir putih. Tetapi, di dalam rehat pun ia merindukan dan ingin secepatnya kembali. Apalagi atasannya menjanjikan ia tambahan gaji jika ia bisa meningkatkan kinerjanya supaya lebih baik.

Tiap kali mengantar dan memandu, tiap kali ia juga berhadapan dengan banyak wajah dari berbagai bangsa. Coklat, sawo matang, hitam, putih, bahkan kuning. Menjelaskan dengan sabar sejarah Borobudur meski terkadang tak begitu ditanggapi. Membiarkan diri diterpa dengan siang yang menyengat yang membuat tenggorokan minta diairi. Tapi, itulah risiko dari pekerjaannya. Pekerjaan yang sebenarnya bukan pekerjaan idaman selepas lulus kuliah dari sebuah universitas di Solo. Ia sebenarnya ingin menjadi diplomat. Tapi, apa daya syarat menjadi diplomat cukup berat dan harus menunggu umur 45. Kemampuan berbahasa Inggris yang dimilikinya, selain bahasa-bahasa asing lainnya membuat ia mau dan menyanggupi untuk bekerja di salah satu hotel di Borobudur ketika hotel itu membuka lowongan pekerjaan.

Tiap kali mengantar dan memandu juga, ia berkenalan dengan banyak wajah dari berbagai dunia yang juga mmepunyai banyak karakter. Ada yang antusias sampai begitu aktif bertanya-tanya. Ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang tak terlalu begitu antusias dan kagum alias masa bodoh. Dari banyak wajah itu, turis-turis dari Asia Timur yang paling sering berceloteh sedangkan turis-turis dari Barat diam namun mengamati, dan turis-turis dari Mediterania sesekali tertawa. Rudi tak begitu menangkap kesan istimewa di antara mereka walaupun turis-turis, terutama para wanita, memakai pakaian terbuka yang cukup membelalakkan mata apalagi di siang yang menguras tenaga. Lagipula mereka yang gemar memakai pakaian terbuka harus menutup bawahannya supaya terlihat sopan.

Hanya saja ada yang harus membuatnya terkesan dari sekian wajah yang banyak ia jumpai. Seorang wanita membuatnya terpikat dan jatuh cinta walaupun bukan pada pandangan pertama. Ya, Rudi menganggap ia biasa-biasa saja seperti turis lainnya namun lama-kelamaan ia merasa tertarik pada wanita itu. Arruny nama wanita itu. Parasnya putih. Rambut panjang. Pendek, dan enak diajak bicara. Adalah sebuah kesalahan dilakukan Arruniy. Kesalahan ini yang membuat Rudi berinteraksi dengannya. Di dalam sebuah rombongan yang terdiri dari 10-15 orang, Rudi merasa ada yang tertinggal di dalam rombongannya setelah berkeliling Borobudur. Ia kemudian mengabsen satu per satu turis-turis yang ada di dalam rombongannya. Kebanyakan dari Eropa, Amerika, serta Asia Timur, dan satu Asia Tenggara. Ketika di daftar absen itu ada nama Arruny Chantou dan berasal dari Kamboja, ia lalu memanggilnya, tak ada jawaban, ia segera mencari-cari dan meminta turis-turis yang lain untuk menetap di titik temu yang ditetapkan, bagian candi yang menghadap ke Bukit Menoreh. Supaya aman, ia meminta salah satu rekannya agar segera datang menjaga turis-turis itu selagi ia mencari si turis asal Kamboja.

Ketika temannya, Aryo datang, Rudi segera bergegas dan mulai mencari-cari di bagian candi yang lain. Ia berteriak-teriak lalu bertanya kepada pemandu yang lain tentang sosok yang dicarinya. Namun tak ada yang tahu. Ia bertanya dalam hati, kemanakah gerangan ini orang? kenapa harus menghilang segala. Rasa kesal muncul di dalam dirinya. Huh, menyusahkan saja. Ia kemudian mencari lagi. Kali ini malah ke arah Candi Mendut alias sudah mau keluar dari kawasan candi. Ia berpikir pasti turis itu ada di desa di sekitar candi. Berjalanlah ia ke desa yang jarak sekira 1 kilometer itu. Cukup lelah memang tetapi mau bagaimana lagi. Turis itu menjadi tanggung jawabnya. Kalau hilang bisa-bisa ia bakal kehilangan pekerjaannya.
"Ini turis kok kaya hantu? hilang begitu saja," ujarnya kesal pada diri sendiri.
Rasa lelah menghantuinya. Ia mau tidak mau harus mencari bahan bakar berupa air minum. Sebuah warung terdekat disinggahinya. Ia pesan sebuah minuman dingin.
"Capek banget le sepertinya," kata si pemilik warung.
"Iya, bu," jawabnya, "Ada turis hilang dari rombongan saya. Nyusahin aja,"
Ia teguk minuman dingin yang dipesannya dan merasakan dahaga yang kemudian hilang.
"Kok bisa le?" tanya si pemilik warung.
"Tidak tahu, bu," jawab Rudi sambil meneguk lagi, "Orang saya sudah bilang jangan pisah dari rombongan. Tapi dia ini nakal,"
Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba muncullah suara dari belakang. Suara itu berkata dalam bahasa Inggris,
"Sorry, do you know which way to Borobudur?"
Rudi segera membalikkan badan. Dan terkejutlah ia ternyata suara itu berasal dari orang yang tengah ia cari-cari, Arruny. Ia segera berdiri dan berkata dalam bahasa Inggris,
"Kemana saja kamu, hei? Saya mencari-cari kamu,"
Arruny yang sadar bahwa yang dihadapinya itu adalah pemandunya hanya tersenyum lalu berkilah,
"Maaf, tadi saya hanya mencoba keluar untuk memotret-motret desa di sini. Kelihatannya lebih menarik daripada Borobudur,"
"Ya apa pun itu kamu hampir membuat saya kehilangan pekerjaan," ujar Rudi yang nampaknya kesal namun gembira, "Ayo kita kembali ke rombongan,"
Rudi lalu membawa Arruny berjalan kembali ke rombongan setelah sebelumnya membayar uang minuman dingin.
"Ingat lho saya harus bertanggung jawab terhadap turis yang saya bawa dan tolong jangan seperti itu lagi,"
"Iya, maaf, saya hanya mengikuti naluri saja,"
"Apa pun itu, tanpa seizin saya, tidak boleh,"
"Iya,"

Kejadian itulah yang membuatnya harus terus berinteraksi dengan Arruny. Ketika di hotel pun, Arruny membuat masalah lagi karena kehilangan kunci kamarnya. Hal yang membuat Rudi menjadi geram dan memperingatkan Arruny agar berhati-hati supaya tidak ceroboh. Kehilangan kunci bisa membuat Arruny didenda puluhan ribu rupiah, atau kalau tidak Rudi yang harus bertanggung jawab. Untungnya, kunci hotel itu ketemu. Ia terselip di bawah pintu kamar.
"Jaga baik-baik dan jangan sampai hilang," ujar Rudi setelah itu.
"Iya, maaf ya merepotkan," jawab Arruny dengan senyum, "Terima kasih,"
Arruny segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

Esok pagi, ketika sedang tidak ada pekerjaan, Arruny tiba-tiba mendekatinya. Memintanya diantarkan. Rudi menyanggupi. Salah satu temannya, Heri, berkata,
"Cantik tuh cewek, bro. Sayang dianggurin,"
"Maksudmu apa?"
"Ya, pacarin aja,"
"Sembarangan kamu,"
Heri hanya tertawa-tawa.

Maka, diantarlah Arruny oleh Rudi keliling Borobudur dengan mobil dan kemudian ke arah Yogyakarta. Rudi sembari menjelaskan tiap daerah yang dilewati dengan gaya pemandu.
"Kamu dari tadi bicara mulu memangnya tidak capek," ujar Arruny yang kemudian ikatan rambutnya hingga terurai panjang. Saat itulah, Rudi melihat pesona dari wanita Khmer ini. Oh, cantik rupanya, ujarnya dalam hati.
"Capek memang," kata Rudi kaku.
"Kalau begitu berhentilah," ujar Arruny, "Saya ingin menikmati alam di sini tanpa harus mendengar panduan,"
"Baiklah," ujar Rudi menurut.

Arruny lalu memperkenalkan dirinya secara jelas. Ia berasal dari Kamboja, tepatnya dari Siem Reap, sebuah kota kecil yang terkenal dengan situs warisan dunianya, Angkor Wat. Mendengar Angkor Wat, Rudi hanya mengingat tentang Tomb Raider yang katanya pernah melakukan proses syuting di situ. Ya, candinya lumayan besar. Itu juga yang ia ingat kala melihat di internet. Ia pun teringat setelahnya bahwa Borobudur dan Angkor Wat mempunyai hubungan historis di masa lalu mengingat salah satu raja di Angkor, Jayawarman II pernah menetap di Jawa di masa dinasti Syailendra, dinasti pendiri Borobudur. Di masa lalu itu antara Indonesia yang diwakili Jawa dan Kamboja yang diwakili Khmer sering terjadi banyak interaksi terutama di perdagangan. Bukankah Khmer dahulunya merupakan bagian dari Jawa?

Dan pertemuan dengan Arruny ini seperti membuka tabir masa lalu.

"Saya ke Borobudur ingin mengetahui Borobudur itu seperti apa dan bagaimana relasi historis antara Angkor Wat dan Borobudur. Ya ini seperti sebuah perjalanan historis antara bangsa pendiri kedua candi,"
"Dan kamu sudah tahu kan Borobudur itu seperti apa?" tanya Rudi.
"Ya saya sudah tahu," kata Arruny, "Cukup besar tetapi tidak sebesar Angkor Wat,"
"Maksudmu?"
"Angkor Wat sejujurnya bukan merupakan satu candi tetapi banyak candi dalam satu kompleks. Apa kamu tahu Angkor Wat itu berarti kota besar? Boleh dibilang Angkor Wat dan candi-candi lainnya adalah sebuah permukiman bangsa Khmer di masa lalu. Nanti ketika kamu ke sana kamu akan tahu betapa luasnya candi-candi yang kami miliki dan kebanyakan berada di dalam hutan,"
"Hutan? Maksudnya kita berjalan ke dalam hutan untuk melihat semuanya,"
"Iya, dan ini bukan perjalanan sehari tetapi bisa dua atau seminggu,"
"Saya malah jadi penasaran,"

Arruny hanya tersenyum. Senyumnya membuat Rudi seketika takluk. Oh, begitu cantiknya wanita Khmer ini. Ia merasa jatuh cinta.Saking merasa jatuh cinta, Rudi yang mabuk itu bertanya tentang arti namanya. Arruny menjawab bahwa arti namanya adalah matahari terbit. Di saat itulah Rudi menggombal,
"Oh, pantas wajahmu selalu berseri. Aku suka itu,"

Arruny hanya tersipu. Ia tahu Rudi menyukainya. Sesuatu yang ia harapkan. Ia juga menyukai Rudi. Namun mencoba memancing supaya terlihat.

Seharian itu Rudi mengantarnya keliling Yogyakarta. Menjelaskan secara detail kota Yogyakarta mulai dari sejarah hingga tempat-tempat wisatanya juga kulinernya.

"Kota yang tenang dan adem ayem seperti di Siem Reap," komentar Arruny ketika mereka berada di Malioboro, "Orang-orang yang ramah. Saya sungguh suka,"
"Oh, terima kasih," kata Rudi, "Itulah kami. Tetapi saya jadi penasaran dengan Siem Reap,"
"Datanglah ke kotaku dan saya akan menyambut kamu di sana dengan ramah. Kamu akan merasakan keramahan khas Kamboja,"
"Ya, semoga ada waktu dan saya akan ke sana,"

Rasa jatuh cinta dibarengi dengan keinginan menyambangi langsung Siem Reap membuat Rudi merasa harus menyatakan cintanya ketika tahu lusa Arruny harus kembali ke Kamboja via Kuala Lumpur. Maka, pada esok malamnya, di sebuah tempat sepi di hotel, berhadapan dengan kolam ikan dan ditemani nyanyian jangkrik, Rudi menyatakan cintanya pada Arruny. Arruny yang tahu hal itu pura-pura terkejut lalu mencoba mengetes Rudi mengenai apa yang dikatakannya. Rudi mencoba meyakinkan sampai akhirnya Arruny mau menerima cintanya dan menjadikan Rudi sebagai pacarnya. Malam itu, selepas berikrar menjadi pasangan satu sama lain mereka bermesra-mesraan. Esok harinya, hari terakhir Arruny di Yogyakarta, Rudi mengantarnya ke Gunung Merapi. Di sanalah Arruny merasakan keterpesonaan panorama indah gunung itu. Di sanalah keduanya kembali bermesra-mesraan untuk terakhir kalinya. Ketika akan berpisah esoknya, keduanya seakan tak mau berpisah. Tetapi, Arruny harus kembali sebab ia harus bekerja. Begitu juga Rudi. Keduanya saling berucap sayang dan rindu. Rudi merasa waktunya cepat sekali harus berpisah.

Selepas berpisah, keduanya terus mengintensifkan komunikasi melalui Whatsapp. Sayang dan rindu selalu terucap ketika memulai dan mengakhiri pembicaraan. Rudi merasa harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berlibur ke Kamboja, tepatnya ke Siem Reap. Membayangkan ia akan bertemu Arruny, melepas rindu lalu berjalan bersama ke dalam Angkor Wat. Oh, sungguh indah!

"Sudah samperi saja pacarmu itu," kata Heri, "Pergilah ke Kamboja,"
"Besok aku pergi kok," kata Rudi, "Sudah bilang ke atasan dan membolehkan,"
"Bagus dong," kata Heri senang, "Jangan lupa oleh-olehnya,"
"Pasti lah, bro,"

Di senja itulah dari hotel, Rudi menerawang. Membayangkan wajah Arruny yang tersenyum bersanding dengan siluet Borobudur. Rasa rindu itu tak bisa ditahan. Jawabannya hanyalah bertemu. Maka, leburlah rindu itu. Ia berharap esok bisa ke lancar terbang dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur lalu ke Siem Reap. Sebuah relasi historis yang lama terpendam muncul kembali ketika cinta meruak di lubuk.

*bahasa Khmer: Kangen


Jumat, 13 September 2013

Polisi oh polisi

Selasa malam, 10 September 2013 lalu tiba-tiba kita dikejutkan oleh penembakan terhadap seorang anggota polisi oleh beberapa orang tak dikenal di depan gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah penembakan yang sepertinya merupakan miniseri dari penembakan-penembakan sebelumnya terhadap anggota dari institusi yang sama. Setelah penembakan yang menjadi breaking news di beberapa stasiun televisi nasional itu, beberapa pihak mulai berspekulasi. Ada yang bilang itu perbuatan pelaku teror. Ada yang bilang itu karena persaingan di dunia pengawalan barang. Apa pun itu, saya tau mau membahas terlalu dalam mengenai kejadian yang, mungkin, akhir atau endingnya sulit ditebak atau takkan pernah berakhir. Saya ingin melihat, melalui tulisan ini, tentang polisi.

Polisi, selalu identik dengan pemberantasan kejahatan dan pencarian keadilan. Selain itu,  identik sebagai alat anti huru-hara akibat demonstrasi atau kerusuhan. Polisi, yang saya tahu sewaktu kecil, kala mendengarnya, adalah polisi yang memakai mobil dengan sirine, cat mobilnya berwarna hitam dan putih, berseragam hitam-hitam, dan memakai pistol. Gambaran itu saya dapat karena terpengaruh oleh film-film Hollywood seperti Police Academy, yang waktu kecil memang populer. Tapi, kala melihat ke negeri sendiri, rupanya polisinya berpakaian coklat. dan tidak seperti di Hollywood, jarang yang bermobil.

Seiring berjalannya waktu, polisi yang saya lihat, ketika menyaksikan televisi, adalah polisi yang memakai tameng, helm, senapan mesin, pentungan lalu berpelindung di sekujur tubuhnya. Terlihat kesan angker dan juga angkuh kala dengan senjata yang dipunya menembaki dan memukul lawannya yang hanya bermodalkan nekat atau malah cuma punya bom molotov saat terjadi huru-hara. Bisa ditebak, lawannya babak belur tak keruan. Dipukul dan ditendangi.

Lalu polisi yang saya lihat juga berpakaian dan berperalatan canggih. Ya, itulah polisi yang bertindak sebagai pasukan elite. Tugasnya, melawan dan memberantas penjahat yang sudah berada di level mengkhawatirkan seperti teroris. Tampilan polisi ini boleh dibilang keren seperti di film-film. Apalagi memakai kacamata hitam yang digunakan untuk menyamarkan identitas.

Padahal, di masa lampau polisi itu tidak seperti sekarang. Hanya memakai pentungan, berjalan kaki lalu bersepeda. Nah, bagi yang pernah menyaksikan salah satu adegan dalam Pengkhianatan G30S/PKI, Anda akan melihat Soekitman, si polisi, yang tertangkap anggota Cakrabirawa karena tidak sengaja melintas di sekitar rumah Jenderal Pandjaitan. Ketika tertangkap ia sedang berpatroli menggunakan sepeda.

Di beberapa film kartun pun, terutama film kartun di tahun 30-40-an, polisi digambarkan hanya berseragam dan memakai pentungan, namun berperilaku kocak. Itu juga yang terlihat di Agen Polisi 212, sebuah komik karya Daniel Kox dan Raoul Cauvin. Ini mengenai kisah seorang polisi yang konyol dan terkadang sok tahu dalam menghadapi suatu kasus. Tingkah lakunya bisa membuat yang membacanya terbahak-bahak.

Polisi, yang berasal dari kata politia, yang berarti warga kota atau pemerintahan kota, yang kemudian diartikan lagi sebagai usaha kegiatan negara, pada kenyataannya lebih populer dalam ranah fiksi illmiah daripada tentara. Robocop, Judge Dredd, Jiban, Winspector,  merupakan sederetan beberapa film yang menggunakan polisi, dalam hal ini, polisi robot sebagai tokoh yang diyakini mampu memberantas kejahatan. Keyakinan itu muncul karena para polisi ini merupakan robot yang mempunyai sederetan kendaraaan dan senjata canggih. Keberadaan mereka pun diyakini sebagai jawaban persoalan atas kejahatan yang tak kunjung reda dan tak bisa diatasi polisi biasa. Keberadaan polisi dalam ranah fiksi ilmiah lebih populer dan banyak daripada tentara yang diwakili dalam The Universal Soldier.

Itulah gambaran saya tentang polisi. Aparat/perangkat negara yang tugasnya mengayomi dan melindungi. Meski dalam prakteknya sering berkebalikan. Sebuah gambaran yang melihat polisi mulai dari tampang ramah hingga bisa sangar dan kejam, terutama dalam pemberantasan teroris. Akibatnya, timbullah dendam kesumat yang berujung pembalasan terhadap perangkat negara yang sudah berusia ribuan tahun di bumi.

 

Selasa, 03 September 2013

Selamat Datang di Dunia Maya

Nyalakan komputermu
Nyalakan handphonemu
Nyalakan laptopmu

Lalu mainkan jejarimu
ketik sebuah situs
dan klik

infobogor.com

Selamat datang di dunia maya
selamat datang di dunia portal-portal
mencari kawan
mencari lawan
mencari cinta
mencari narsis
tiada batas dan waktu
apalagi norma

Selamat datang di dunia nihil kesopanan
caci maki, hujat-menghujat, deras mengalir seperti sungai
dan menghujam seperti pisau

Selamat datang di dunia yang nampak tepat untuk seorang pengecut
mungkin juga seorang pengumbar
dan seorang penggarap imaji liar
lalu menjadi gugup ketika kembali ke dunia nyata

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran