Geliat pembangunan stadion sepak bola di Indonesia pasca Orde Baru cukup massif. Setiap daerah kini mempunyai stadion yang cukup megah dengan kapasitas besar sehingga tidak perlu lagi mengarah ke GBK. Ini karena di masa Orde Baru, stadion yang megah, modern, dan representatif dengan wajah sebuah kota adalah GBK, yang di masa pemerintahan Soeharto itu bernama Stadion Utama Senayan.
Karena itu, semua perhatian untuk olahraga nasional tertuju ke GBK. Mulai dari kompetisi Liga Indonesia hingga PON. Kondisi ini tentu saja timpang. Ketika Reformasi datang, dan dampaknya ada otonomi pada setiap daerah, tentu saja pemerintah daerah memanfaatkannya juga di bidang olahraga dengan membangun stadion yang tidak kalah megah dari GBK.
Tak mengherankan, jika banyak stadion baru dan besar bermunculan hampir setiap tahun di era Reformasi ini. Stadion-stadion ini kebanyakan dibangun untuk keperluan PON. Lainnya untuk estetika kota serta sebagai ruang ketiga. Ada yang benar-benar baru. Ada juga yang merupakan stadion lama namun dirubuhkan lalu dibangun kembali dengan desain kekinian seperti pada fasad, atap, tribun, kapasitas stadion, dan lain-lain.
Sebut saja Stadion Gelora Sriwijaya, Palaran, Riau, Bandung Lautan Api, Papua Bangkit, dan Sumatera Utara yang dibangun untuk PON. Lalu ada Patriot Chandrabaga, Manahan, Surajaya, Mandala Krida, Jati Diri, dan Teladan yang merupakan stadion lama yang dibangun kembali melalui pembongkaran total dan renovasi. Selanjutnya adalah Jakarta International Stadium yang dibangun untuk kepentingan estetika kota, pemanfaatan ruang ketiga, dan untuk membuat bangunan olahraga yang ramah lingkungan.
Meski demikian, harus diakui, kebanyakan stadion baru di Tanah Air masih berorientasi pada kendaraan bermotor atau car oriented bukan berorientasi pada manusia atau transportasi umum atau human centric. Mengapa bisa begitu? Perhatikan saja pada desain dan lokasi stadion. Desain stadion yang car centric umumnya lebih banyak menyediakan tempat parkir daripada akses pejalan kaki yang ke ke stadion menggunakan transportasi umum, baik itu melalui bus dan kereta api. Itu artinya tidak ada trotoar sama sekali. Kalaupun ada, tidak begitu lebar sehingga sangat berbahaya bagi pejalan kaki.
Hal lainnya adalah tidak adanya halte atau stasiun kereta api yang dekat atau menempel di sekitar stadion, yang dihubungkan oleh jembatan penghubung atau skybrigde atau jalur khusus yang mengarah dari dan ke stadion. Nah, kebanyakan stadion yang car centric itu terletak di pinggiran kota sehingga dekat dengan perbatasan. Pada Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir, perhatikan saja jika kebanyakan stadion-stadion yang dipakai adalah car centric sehingga menyulitkan fans untuk mobilisasi.
Di Indonesia sendiri kita bisa menyebut Bandung Lautan Api dan Gelora Bung Tomo adalah dua stadion --dari banyak contoh-- dengan kapasitas besar tetapi car centric. Ada dua alasan untuk menyebut keduanya seperti itu. Pertama, terletak di luar kota. Kedua, tidak mudah dijangkau dengan transportasi umum serta berjalan kaki. Meski Bandung Lautan Api jika dilihat dari Google Maps terlihat dekat dengan Stasiun Whoosh Tegalluar dan Stasiun Kereta Api Commuter Line Bandung Raya Cimekar. Ternyata, untuk menuju ke stadion harus melalui Jembatan Cibiru yang dikhususkan untuk kendaraan sehingga tidak aman untuk pejalan kaki. Alhasil, untuk ke stadion, harus menggunakan kendaraan pribadi atau umum berupa shuttle bus.
Untuk Gelora Bung Tomo atau GBT juga sama saja. Di Wikipedia disebutkan kalau stadion ini punya akses transportasi umum berupa kereta api Commuter Line Surabaya Raya yang berhenti di Stasiun Benowo. Namun jika diperhatikan lagi dengan detail via Maps, jarak dari stasiun ke stadion bisa 3 kilometer, dan itu pun jalan harus memutar. Untuk berjalan kaki pun sangat tidak disarankan karena harus melalui persawahan. Begitu yang diungkap oleh seorang Bonek Mania dalam sebuah curahan di media sosial. Jadi, untuk ke stadion mau tidak mau harus memakai kendaraan umum atau angkutan pengumpan.
Bandung Lautan Api dan GBT setidaknya masih ada stasiun kereta api di dekatnya meski cukup jauh untuk dijangkau dengan berjalan kaki. Ternyata ada juga stadion yang memang terletak di luar kota tapi juga susah dijangkau dengan transportasi umum serta tidak ada stasiun atau halte di sekitar. Yaitu, Banten International Stadium dan Indomilk Arena. Keduanya terletak di Tangerang Raya. Di luar Jawa, ada Stadion Batakan, Stadion Palaran, Stadion Papua Bangkit, Stadion Riau, dan Stadion Barombong yang hingga hari ini masih mangkrak.
Tapi dari semua itu apakah Indonesia mempunyai stadion yang human centric? Tentu saja, Indonesia punya, dan jumlahnya ada 9. Namun, sebelum itu, kita bahas dahulu stadion yang human centric itu ciri-cirinya.
Yang pertama adalah stadion memang didesain untuk pejalan kaki dan transportasi umum. Ini merupakan syarat utama. Desain untuk pejalan kaki itu dimulai dari perimeter stadion itu sendiri, dengan adanya jalur atau ramp khusus pejalan kaki yang terhubung dengan stasiun atau halte. Jalur pejalan kaki itu kebanyakan berupa trotoar yang lebar dan sejuk karena banyak pohon sehingga berjalan kaki terasa aman dan nyaman.
Kedua adalah lokasi. Kebanyakan stadion yang human centric terletak di pusat kota, dan terkoneksi tidak hanya dengan fasilitas transportasi umum, tetapi juga dengan pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit, universitas, dan taman. Namun, dalam beberapa kasus, ada juga stadion yang human centric tetapi terletak di pinggiran kota namun terhubung dengan transportasi umum serta mudah dijangkau dengan jalan kaki dari akses transum tersebut.
Tentu saja 9 stadion di Indonesia yang human centric bisa disebut seperti itu karena punya ciri-ciri yang disebut di atas. 9 stadion ini kebanyakan berada di Pulau Jawa dan Sumatra. Ada stadion yang lama dan historis, baru dan kekinian, serta lama namun dibangun kembali dengan kapasitas besar atau dipercantik untuk keperluan even.
Pemilihan 9 stadion ini juga berdasarkan hasil penelusuran langsung di lapangan oleh penulis atau penelusuran via Maps dan Streetview sehingga tidak mengasal. Lalu stadion apa sajakah itu? Mari simak!
1. Stadion Gelora Bung Karno
Semua orang se-Indonesia tentu sudah tahu stadion yang sangat historis ini, yang dibangun untuk keperluan Asian Games 1962, dan kemudian dipakai lagi untuk Asian Games 2018. Letak Gelora Bung Karno atau GBK sendiri cukup strategis karena berada di pusat kota. Dekat juga dari kawasan Segitiga Emas Kuningan dan SCBD. Tak hanya itu, GBK juga dikelilingi oleh hotel-hotel dan pusat perbelanjaan seperti FX Sudirman dan Plaza Senayan.
Namun yang lebih penting adalah stadion dengan kapasitas sekitar 77.000-an sudah banyak terhubung dengan transportasi umum, yaitu Transjakarta koridor 1 dan MRT Jakarta (Istora Mandiri) yang halte dan stasiunnya berada persis di depan kompleks GBK, tempat GBK berada. Selain itu, akses berupa trotoar untuk pejalan kaki cukup nyaman dan lebar serta sejuk karena banyak pohon ketika memasuki kompleks olahraga.
Karena letak GBK berada dalam kompleks olahraga GBK Arena, itu berarti bukan hanya GBK yang bersifat human centric tetapi juga Indonesia Arena, Istora, Stadion Madya, dan arena olahraga lainnya dalam kompleks.
2. Jakarta International Stadium
Jakarta International Stadium atau JIS juga salah satu stadion di Jakarta yang human centric. Hal ini terlihat dari desain stadion yang lebih mengutamakan pejalan kaki dan transportasi umum. Karena itu, lahan parkir di JIS sangat kecil karena keterbatasan lahan. JIS sendiri dibangun bukan untuk even apa pun, melainkan sebagai perwujudan estetika kota untuk menjadikan stadion tak hanya sebatas arena olahraga tapi juga ruang ketiga.
Stadion berkapasitas 82.000 dengan fasad berupa ukiran anyaman Betawi ini terhubung sangat dekat dengan halte Transjakarta koridor 14 di ramp barat dan stasiun KRL yang memakai nama stadion di sebelah utara stadion yang terhubung melalui sebuah JPO yang bisa menembus hingga Pantai Karnaval Ancol dan Sirkuit Jakarta E-Prix di kawasan Taman Impian Jaya Ancol.
Adanya akses transportasi umum dan desain stadion yang human centric ini tak pelak menjadikan JIS nyawa yang menghidupkan kawasan pinggiran kota di Jakarta Utara.
3. Stadion Soemantri Brodjonegoro
Selain dua stadion besar yang human centric, Jakarta juga punya stadion kecil yang seperti itu. Yaitu, Stadion Soemantri Brodjonegoro yang terletak di Kuningan, salah satu kawasan bisnis di Jakarta Selatan.
Letak yang demikian membuat stadion ini cukup strategis untuk dijangkau melalui transportasi umum. Stadion berkapasitas 5.000 penonton ini terletak di belakang Pasar Festival, Universitas Bakrie serta berdampingan dengan kolam renang dan lapangan tenis. Jalan menuju ke stadion juga cukup nyaman karena difasilitasi dengan trotoar lebar dan besar serta letak stadion yang cukup dekat dari Halte Transjakarta Koridor 6 (GOR Soemantri) dan Stasiun LRT Jabodebek Lintas Bekasi dan Cibubur (Rasuna Said).
4. Stadion Patriot Chandrabaga
Tak hanya di Jakarta, stadion besar juga ada di Bekasi. Yaitu, Stadion Patriot Chandrabaga. Sebenarnya ini adalah stadion lama berkapasitas 5.000-10.000 penonton yang dibangun pada 1982 untuk Porda Jawa Barat 1984. Kemudian dirubuhkan dan dibangun ulang pada 2013-2014 dengan kapasitas 30.000. Membuatnya menjadi salah satu stadion terbesar di Bekasi dan Jabodetabek hingga sekarang.
Letak stadion sendiri berada di pusat kota, dekat dengan kantor Wali Kota Bekasi yang ada di seberang Jalan Ahmad Yani. Menjadikannya cukup strategis untuk dijangkau dengan transportasi umum. Adapun transportasi umum yang bisa dinaiki adalah KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi, yang terletak 1 km dari stadion. Perjalanan bisa dilanjutkan dengan baik angkot konvensional warna merah, bus Trans Beken Koridor 1 atau berjalan kaki. Jika berjalan kaki juga cukup aman dan nyaman karena trotoar yang lebar serta teduh karena banyak pepohonan. Tak perlu risau untuk menyeberang karena ada dua JPO yang terhubung ke stadion dari arah kantor Wali Kota.
Stadion juga bisa dijangkau dengan bus Trans Beken Koridor 1, dan berhenti di halte depan stadion. Bus ini juga buat yang ke stadion jika naik LRT Jabodebek yang berhenti di Stasiun Bekasi Barat.
5. Stadion Mandala Krida
Di luar Jabodetabek, juga terdapat stadion dengan kapasitas besar yang human centric, yaitu Stadion Mandala Krida yang berada di Yogyakarta. Seperti halnya Patriot, Mandala Krida juga merupakan stadion lama yang dibangun kembali. Stadion ini awalnya berkapasitas 20.000. Setelah dibangun ulang jadi 35.000.
Letak stadion sendiri jika dilihat dari Maps berada di pusat kota dan permukiman penduduk yang cukup padat serta sekolah, universitas, dan kantor salah satu instansi Pemprov DI Yogyakarta. Stadion ini pada sisi luarnya terdapat trotoar yang cukup nyaman untuk pejalan kaki yang jika ke stadion menggunakan bus Trans Jogja Koridor 2A dan 2B. Adapun halte Transjogja ini terletak persis depan stadion.
6. Stadion Manahan
Di tetangga Yogyakarta, tepatnya Solo atau Surakarta, juga ada stadion yang human centric, yaitu Stadion Manahan. Stadion ini mencuri perhatian internasional karena jadi tempat final Piala Dunia U-17 2023. Seperti dua stadion sebelumnya, Manahan juga stadion lama yang direnovasi kembali dengan tampilan baru stadion atap penuh dan fasad yang cukup bagus.
Stadion ini berkapasitas awal 25.000 penonton. Setelah renovasi jadi 20.000 saja. Adapun stadion terletak di pusat kota. Dekat dengan permukiman penduduk, hotel, sekolah-sekolah, Fakultas Olahraga UNS. Tak hanya itu desain stadion memang juga terlihat human centric karena memanjakan pejalan kaki dengan trotoar dan plaza serta taman yang jadi ruang ketiga. Adapun fasilitas transportasi umum berupa halte bus Batik Solo Trans koridor 4 dan 5 persis di depan stadion.
7. Stadion Gelora Sriwijaya
Ini adalah salah satu stadion terbesar di Sumatra Selatan dan Sumatra. Terletak di pinggiran kota Palembang, Stadion Gelora Sriwijaya atau Jakabaring merupakan stadion besar berkapasitas 23.000 penonton yang dibangun untuk kepentingan PON 2004.
Dari PON stadion kebanggaan Wong Kito Galo ini kemudian banyak menggelar ajang internasional. Mulai dari Piala Asia 2007, SEA Games 2011, ISG 2013 hingga Asian Games 2018. Meski terletak di luar kota, stadion bertaraf internasional ini termasuk human centric karena punya akses pejalan kaki yang cukup nyaman jika memakai transportasi umum. Stadion sendiri terhubung dengan Stasiun LRT Jakabaring. Dan, jika diperhatikan dari maps, kawasan stadion sendiri cukup hijau serta ada pusat perbelanjaan di dekatnya, Lippo Mall Palembang.
8. Stadion Bumi Sriwijaya
Masih dari Palembang. Selain Gelora Sriwijaya, ada lagi Stadion Bumi Sriwijaya. Stadion ini merupakan stadion lama, dan ada sebelum Gelora Sriwijaya berdiri. Stadion ini dibangun pada 1972 dan mulai dipakai pada 1978.
Stadion Bumi Sriwijaya sendiri merupakan stadion sepak bola yang terletak di pusat kota Palembang, dan mulai jadi perhatian ketika jadi salah satu venue Asian Games 2018. Adapun stadion ini sangat human centric. Sebab, mudah dijangkau dengan berjalan kaki jika naik transportasi umum serta berdekatan dengan mal dan rumah sakit. Uniknya lagi, transportasi umum yang terkoneksi dengan stadion ini adalah LRT Palembang yang berhenti di Stasiun Bumi Sriwijaya yang juga satu lintasan dengan Stadion Gelora Sriwijaya. Hal ini tentu memudahkan bagi mereka yang ke Palembang bisa mengunjungi dua stadion sekaligus dalam waktu cepat.
9. Stadion Teladan
Terakhir, adalah Stadion Teladan yang terletak di Medan, Sumatra Utara. Ini juga sebenarnya stadion lama yang dibangun ulang. Stadion Teladan merupakan salah satu stadion legendaris di Medan, Sumatra, dan Indonesia.
Stadion ini dibangun untuk kepentingan PON 1953, dengan kapasitas 15.000. Stadion kemudian direnovasi pada 2024, dan selesai pada 2026 ini. Kapasitasnya menjadi 20.000 dengan kursi single seat dan semua tribun beratap. Stadion juga tidak memakai lintasan atletik pada tampilan baru seperti halnya JIS.
Terletak di pusat kota Medan, Stadion Teladan jika dilihat dari Maps berdekatan dengan permukiman padat, kawasan bisnis, dan Museum Sumatera Utara. Stadion ini juga human centric karena desainnya yang memungkinkan mobilisasi pejalan kaki seperti adanya trotoar, taman depan stadion, dan jarak dari halte ke stadion yang cukup dekat. Adapun transportasi umum yang bisa menjangkau ke stadion adalah Bus Listrik Medan koridor 1 yang haltenya tidak jauh dari Jalan Stadion.
Nah, itulah 9 stadion sepak bola di Indonesia yang human centric berdasarkan lokasi, konektivitas ke transportasi umum dan fasilitas lainnya serta akses pejalan kaki yang aman dan nyaman. Ke depannya, kita harapkan semakin banyak stadion yang human centric, bukan sekadar bangun stadion baru dan besar saja tapi tanpa memikirkan akses ke lokasi.
Akan tetapi, ada yang perlu diketahui juga dari stadion yang human centric ini. Dari 9 ini cuma JIS dan Teladan yang tanpa lintasan atletik sehingga benar-benar khusus sepak bola. Kemudian dari semuanya, yang sangat disayangkan, masih dimiliki pemerintah daerah atau pusat bukan klub olahraga kota tersebut. Sama seperti kebanyakan stadion di Italia. Tentu kepemilikan atas nama pemerintah, akan berpengaruh secara politik pada kebijakan yang diterapkan jika ada pergantian pemerintahan tersebut.
Artikel dari berbagai sumber
Foto, kecuali foto JIS, dari berbagai sumber













