Pages

Kamis, 18 Oktober 2012

Kano


Pagi belum terang benar, tetapi Firman sudah tampak sibuk menyusuri jalan-jalan kecil di sekitar rumahnya sambil membawa sebuah kano dan juga sebuah dayung. Kano itu ia taruh di punggungnya sambil ia pegang ujungnya dan kemudian diseret. Sedangkan dayung ia pegang erat dan tanpa sekalipun menyentuh tanah. Dan ia sama sekali tak peduli jikalau pagi masih menyimpan sisa kegelapan malam.


Sungai kecil di depannya menjadi tujuannya. Ia banting kano itu ke air lalu ia naiki dan kemudian mendayung. Ia susuri sungai kecil yang terlihat tenang airnya yang mengarah menuju ke sungai besar. Di sekeliling sungai kecil dihiasi rumah-rumah penduduk berbentuk panggung. Dan dari rumah-rumah itu sudah terlihat aktivitas menyambut pagi. Mencuci, mandi, dan juga berkano seperti dirinya. Firman harus pelan-pelan menyusuri sungai kecil yang seringkali suka mengambang batang pohon yang habis ditebang dan berasal dari pepohonan di sekitaran sungai. Seringkali batang pohon itu menjadi penghambat kecil baginya.

Selepas dari sungai kecil, Firman segera menemukan tujuannya sebenarnya, sebuah sungai besar yang seperti laut. Sungai yang airnya berwarna kebiruan namun terkadang hijau dan kecoklatan. Sungai yang di atas permukaannya banyak dilintasi perahu-perahu dari segala macam. Mulai dari yang tak bermotor hingga bermotor. Mulai dari yang murah hingga yang mahal. Mulai dari yang sederhana hingga yang mewah.
Tapi, apalah itu semua bagi dirinya yang berniat menyusuri sungai besar itu untuk latihan mendayung dengan kano yang ia buat sendiri sehari sebelumnya. Sejujurnya, kano itu bukan buatannya semata, tetapi adalah bekas dari ayahnya yang telah meninggal yang kemudian ia perbaiki sendiri dan ia pelitur sesuai seleranya. Begitu juga dayungnya. Yang ia beri warna merah sebagai tanda keberanian. Juga tanda kemenangan.

Perlahan Firman menjejaki permukaan di sungai besar itu. Cuaca memang cukup cerah untuk latihan. Latihan untuk mencari dan mendapatkan kemenangan. Latihan untuk meraih harga diri yang hilang karena kekalahan beberapa bulan yang lalu di sebuah kejuaraan antarkano di kampungnya, sebuah kampung di tepi sungai. Kampung yang penduduknya suka membangun rumah panggung dan berinteraksi dengan air. Kampung yang penduduknya yang membanggakan seseorang yang jago berkano adalah orang terpandang dan juga pahlawan.

Dan Firman sadar betul akan hal itu. Jika kalah dalam suatu pertandingan kano maka harga diri adalah taruhan. Para penduduk akan menyepelekannya dan akan menghormatinya jika ia menang. Maka, ia harus segera berlatih yang ia tak pernah lewatkan tiap hari.

“Nyalimu bagus juga,” seru suara seseorang dalam kepalanya. Orang itu bernama Bandi. Dia adalah orang yang mengalahkan Firman pada kejuaraan beberapa bulan lalu. Bandi, anak dari kepala desa yang kedudukannya sangat dihormati di kampungnya. Karena kedudukan sebagai anak kepala desa, tak satu pun yang berani melawan, atau melaporkan jika Bandi melakukan semacam kejahatan dan perusakan kecil terhadap warung dan fasilitas umum di kampung. Jika ada yang melaporkan, tak tanggung-tanggung yang melaporkan malah akan dibuat kebalikannya dan akhirnya masuk hotel prodeo. Sogokan besar dari si kepala desa menjadi penyebab mengapa para aparat penegak hukum lemah jika ada kasus yang menyangkut Bandi. Mereka semua akan mengatakan baik-baik saja.

Firman tidak menyukai perilaku anak ini yang kerap meremehkannya. Suara Bandi terus menggema di kepalanya,

“Lupakan latihan. Tak ada gunanya melawan diriku. Kamu pasti tetap kalah toh,” Suara itu jelas membuatnya kesal dan membuat memegang erat dayungnya lalu mengayuhnya mendamprat air. Firman pun seperti tak merasa bahwa ia sudah melintas hampir satu kilometer. Ketika suara itu hilang, ia merasakan adanya keletihan dalam dirinya. Peluhnya mulai bermunculan. Mengalir membasahi tubuhnya. Ditambah dengan sengatan sang surya, semakin menjadilah ia mandi keringat. Tangannya yang memegang dayung ia renggangkan.

“Sial!” ujarnya tiba-tiba marah sambil mendamprat air dengan dayung.

Nafas itu terasa terasa patah-patah saat ia melihat sekitarnya sekarang. Keadaan nampak cukup sepi dan di kejauhan terlihat beberapa orang yang sedang menaiki perahu bermotor. Namun tanpa disadari perahu bermotor itu menuju dirinya dan berhenti. Dari dalam perahu itu muncul seseorang yang Firman mengenalnya. Bandi.

“Lagi latihan ya?” sapa Bandi dengan pertanyaan meremehkan, “Aku bilang lupakan. Seberapa kuat kamu latihan tetap saja kamu tidak bisa mengalahkan aku di kejuaraan nanti. Aku ini masih yang terkuat,”
Firman merasa mendidih dengan ucapan demikian. Ucapan yang hendak menjatuhkan mentalnya,

“Kamu pikir dirimu siapa?” ujar Firman yang menatap tajam.

“Aku tidak berpikir aku siapa,” kata Bandi dengan senyum jahat, “Aku hanya Bandi. Si raja kano,”

Ia lalu tertawa,

“Buang-buang waktu berbicara denganmu,” katanya kemudian masuk kembali ke perahu bermotor dan kembali berjalan menyusuri sungai.

“Awas kamu!” kata Firman dengan kesalnya sambil meremas tangan dan kemudian mendampratkannya ke air. Letih masih menyerangnya, tetapi ia ingin melanjutkan kembali latihannya dan baginya itu harus. Maka, dengan sekuat tenaga ia kembali berlatih menyusuri sungai dengan cepat ke arah sebelumnya.

Ketika sampai, ia berkata,

“Cukup,” lalu menepikan kanonya. Bangkit dan duduk di tepian sungai sambil memandang sungai besar yang terkadang seberangnya hanya nampak sebagian dari pandangan. Ia ambil batu kecil lalu ia lemparkan ke air. 
Batu kecil itu tenggelam.

“Mengapa dirimu selalu menyebalkan, brengsek?” ujarnya bertanya tentang sosok yang amat ia tidak sukai, Bandi.

“Seolah-olah kau itu raja dan melebihi Firaun!”

Kembali ia lemparkan batu kecil dan kemudian tenggelam lagi.

“Apa harus demikian melampiaskan kekesalan?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Firman menoleh dan tahu orang itu. Flora. Teman wanitanya yang semenjak kecil selalu bermain bersamanya.

“Flora?” tanya Firman dengan nada terkejut, “Mau apa kamu ke sini,”

“Aku hanya jalan-jalan saja dari rumahku dan mendapatimu duduk di tepi sungai,” kata Flora.

“Baiklah, kamu tentu sudah tahu kenapa aku kesal?” tanya Firman yang tak mau berpanjang lebar mengungkapkan masalahnya.

“Ya aku tahu,” kata Flora, “Karena setiap hari kamu seperti itu,”

“Terus mau kamu apa? Menasihatiku?”

“Tidak,” 
                                              
Mendengar itu Firman sedikit terkejut,

“Aku sendiri tidak tahu dan bosan aku menasehatimu,”

“Maksudmu apa?”

“Aku cuma bilang kamu itu laki-laki tapi sudah seperti itu aja kamu loyo. Aku yakin kamu tidak akan pernah menang melawan Bandi jika kamu seperti ini,”

“Bandi? Ya dia memang susah dikalahkan dan aku rasanya sudah malas berusaha mengalahkan dia,”

“Jadi ini yang namanya Firman?”

“Iya, kenapa?”

“Maaf, aku kecewa,”

Flora tiba-tiba pergi dari hadapannya tanpa mengatakan apa-apa lagi,

“Lalu kenapa kalau kamu kecewa? Toh, bukan urusanmu kan?” tanya Firman setengah berteriak yang sepertinya tidak dihiraukan Flora.

Kembali setelah itu Firman duduk memandang sungai besar di depannya. Ia bergumam, apa sih yang sebenarnya diharapkan dari kejuaraan itu? Menang? Prestis? Memangnya tidak ada hal lain untuk mendapatkan hal itu? Mengapa harus lewat kano? Lalu apa salahnya kalau aku kalah? Bukankah ada hal yang lebih penting daripada ini?

Ah, sial! Semua tak ada jawabannya.

Kesal, ia kemudian pergi dari tepian sungai sambil memanggul kano dan memegang dayungnya.
***
“Nak, itu semua sudah menjadi kebiasaan di sini, dan kamu sebagai yang terlahir dan tinggal di sini harus mengikuti asalkan positif,” begitulah sang ibu berbicara di depan Firman kala ia melihat Firman tampak pulang dengan wajah yang kesal.

“Aku tahu, Bu ini kebiasaan dan juga ritual,” kata Firman masih dengan kesalnya dan tambah kesal karena sudah mengetahui jawaban yang diberikan ibunya, “Tetapi, kenapa ini seperti menjadi sebuah kewajiban? Bukankah ada kewajiban lain yang harus dijalankan? Dan nampaknya ibu seperti memaksaku untuk melakukan ini agar keluarga kita yang sebenarnya tidak terpandang bisa terpandang di mata orang-orang,”

“Ibu tidak memaksa, Nak,” kata ibunya membela diri, “Ibu hanya ingin tahu bahwa kamu itu bisa mengalahkan Bandi anak kepala desa,”

“Tetapi, kenapa harus aku?” tanya Firman lagi, “Jangan bilang karena aku paling besar sementara Erwin dan Johan masih kecil,”

“Kenapa kamu bicaranya seperti itu?” Kini ibunya mulai berubah gaya bicaranya dan berdiri memandang tajam dirinya, “Kamu senang ya ibu setiap hari diolok-olok oleh tetangga membicarakan tentang diri kamu dengan negatif. Senang? Dan kamu senang kalau almarhum ayahmu yang menginginkan kamu jadi penerusnya kecewa?”

Firman terdiam. Ia tahu kalau sudah begini ia akan malas berdebat lagi. Ia hanya menundukkan kepala. 

Melihat itu, ibunya segera menurunkan tensi,

“Sekarang semua terserah kamu,” kata ibunya kemudian, “Kamu toh sudah besar. Sudah dewasa. Ibu tidak memaksa kamu. Kamu bisa pilih sendiri jalan yang terbaik. Maaf, kalau ibu egois,”

Ibunya lalu pergi dari hadapannya. Menuju kamar. Dan Firman setelah itu malah jadi berpikir tentang ucapan ibunya tadi. Lalu bertanya-tanya sampai tidak menemukan jawaban sama sekali.

“Ibumu hanya ingin kamu menjadi yang terbaik, Firman,” kata Taufik, sahabatnya, saat mereka berbicara sambil berperahu di sekitaran sungai besar esok harinya. Firman sama sekali tidak berlatih kano. Taufik sedang menjalankan tugasnya. Mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat di tepi sungai. Tetumbuhan holtikultura itu nantinya ia akan setor ke atasannya tempat ia bekerja.

“Karena kano itu adalah tandanya, wajar jika ia terus menyuruh kamu untuk bisa menang. Semua orangtua ingin anaknya mendapat yang terbaik, meskipun itu terkadang ada yang dilakukan dengan tidak wajar. Tetapi, percayalah jika itu tercapai mereka akan senang. Mereka tidak minta apa-apa darimu kan termasuk ibumu itu yang sudah berjuang mati-matian melahirkanmu, membesarkanmu sekuat tenaga. Hanya dengan menjadi juara di perlombaan itu bisa membuatnya bahagia. Dan kenapa harus berpikir repot dan pusing? Lakukanlah selama ia masih hidup,”

“Dan kamu sendiri, Fik?” tanya Firman.

“Ya kamu tahu aku seperti ini,” kata Taufik, “Aku sudah yatim-piatu semenjak kecil. Tiada yang memperhatikanku. Kamu beruntung masih diperhatikan. Jika aku jadi kamu aku akan lakukan selama itu positif untuk diriku,”
***
Malam harinya, Firman merenung di kamarnya. Pikirannya melayang pada tiga orang yang berusaha memberinya perhatian. Mulai dari Flora, ibunya, dan Taufik. Mereka benar-benar memberinya semacam penyuntik semangat, terutama ibunya yang saban hari berusaha mengatakan bahwa ia bisa melakukan. Seseorang yang menurutnya tiada bosan dalam berkata hingga mulut menjadi lebar demi hal itu.
Seharusnya aku tak boleh mengecewakan mereka, gumamnya dalam renungan itu, aku harus bisa membanggakan mereka. Ya harus bisa. Dan Tuhan pasti senang dengan hambaNya yang berusaha. Baiklah, aku harus memulainya lagi.
***
Esoknya, dengan semangat baru, Firman mengayuh kembali kano itu di sungai besar yang menjadi tempat latihannya. Ia tak pedulikan ejekan Bandi yang terkadang melintas. Yang ia pedulikan adalah bagaimana cara mengalahkannya. Itu saja. Agar Bandi bungkam dan menghormatinya. Ia berlatih dari pagi hingga sore setiap sore. Terkadang Flora menemaninya sambil memberinya semangat dari atas perahu yang didayung sendiri. Begitu juga ibunya yang juga menonton dengan ditemani Flora.

“Aku percaya sebenarnya ia bisa melakukannya asal diberikan dorongan,” ujar ibunya kepada Flora yang berada di sampingnya.

“Iya, saya juga percaya kok, bu,” kata Flora, “Firman pasti bisa,”

“Kalian berdua cocok,” kata ibunya Firman lagi ke arah pembicaraan lain, “Aku harap kamu dan dia bisa bersanding di pelaminan?”

“Maksud ibu menikah?”

“Iya,”

Mendengar itu Flora memerah wajahnya,

“Saya sih iya saja,” kata Flora, “Bapak dan ibu saya juga setuju dan tidak suka dengan jika saya dengan Bandi,”

“Ya sudah,” kata ibunya Firman, “Nanti saja itu dibahas lagi,”
***
“Ibumu menginginkan kita berdua nanti menikah,” kata Flora kepada Firman saat mereka berdua duduk di pelataran rumah panggung Firman.

Mendengar itu Firman menjadi senang hatinya,

“Benarkah?” tanyanya seperti tidak percaya.

“Iya,” kata Flora.

“Oh, syukurlah,” kata Firman dengan raut senang tetapi kemudian rautnya berubah, “Tetapi bagaimana dengan Bandi? Bukankah ia menyukaimu?”

“Ah, itu omong kosong!” kata Flora, “Orangtuaku juga tidak setuju dengannya. Kelakuannya benar-benar tidak mencerminkan anak baik-baik. Dari situ saja mereka sudah mewanti-wanti agar aku jangan mendekatinya. Dan aku iya saja. Lagipula ia sudah punya pacar. Lia namanya,”

Firman menarik nafas lega.

“Kenapa?” tanya Flora setelah itu.

“Tidak apa-apa,” kata Firman berusaha menyembunyikan kekhawatirannya tadi. Tetapi, Flora bisa membacanya.

“Aku itu dari dulu suka sama kamu,” kata Flora, “Tenanglah,”

Ketika mereka sedang berdua tiba-tiba datanglah perahu bermotor yang dikendalikan Bandi,

“Pemandangan yang sungguh...sungguh romantis,”

Ia lalu bertepuk tangan.

“Mau apa kau ke sini?” tanya Firman.

“Aku cuma jalan-jalan dan mengingatkan dua hari lagi aku akan mempermalukan dirimu,”

“Silakan,” kata Firman menantang, “Kita lihat siapa yang terbaik!”

Bandi tertawa-tawa mendengar itu,

“Kubur mimpimu dalam-dalam, bocah ingusan!”

Ia lalu berlalu dengan perahu bermotornya dan kembali menyusuri sungai kecil.

“Harusnya kamu tadi biarkan saja,” kata Flora kemudian.

“Maaf, aku tadi terpancing,”

“Itulah sifat dalam dirimu yang harus kamu hilangkan,”
***
Dua hari kemudian dan sudah menjadi ajang tahunan, sebuah perhelatan digelar di tepian sungai besar. Sebuah lomba mendayung dengan kano. Sebuah lomba yang menjadi pengharapan bagi mereka yang mengikutinya dan bagi mereka yang menjadikan ini sebagai ritual. Jika menang, tentu dihargai. Jika kalah, kebalikannya. Tapi, memang begitulah yang terjadi. Karena menang sama saja menaikkan harga diri dan menjadi terpandang. Sedangkan kalah, maaf, mungkin akan seperti pecundang.

Dan di perhelatan itu telah siap lima kano yang siap-siap menyongsong sungai. Para penonton tampak bersorak-sorai tak sabar menantikan gerak para pendayung kano itu. Di panggung kecil yang dibangun di pinggir sungai, Pak Kepala Desa memberikan semacam sambutan dan beberapa penonton tampak mengiyakan dan tidak mau menyorakinya karena pasti akan bermasalah. Polisi sewaan tampak berjaga-jaga.
Usai memberi sambutan, Pak Kepala Desa membunyikan pistol lomba dan perlombaan dimulai. Firman yang berada di posisi kedua langsung mengayuhkan dayungnya dengan cepat, sementara di sebelahnya, Bandi nampak santai dan meremehkan. Sebelum lomba, Bandi menerornya,

“Harga dirimu sebentar lagi hancur,”

Tetapi, Firman tak menanggapi dan membiarkan. Ia ingat pesan Flora agar tidak terpancing. Sehari sebelumnya, ibunya memberinya kejutan berupa sebuah dayung peninggalan ayahnya, yang pernah berjaya semasa mudanya menjadi pemenang. Dayung itu dipelitur emas. Ibunya menyuruhnya memakai saat pertandingan esok dengan harapan ada tuah dari dayung itu. Firman menerima dan mengiyakannya.
Firman terus mengayuh kanonya dengan dayung berpelitur emas itu tanpa mempedulikan siapa di depan dan belakangnya. Ia hanya ingin menuju titik finis yang masih terlihat jauh.

“Maaf, aku duluan ya,” kata Bandi tiba-tiba di sampingnya lalu tertawa dan mendahuluinya.
Firman pun jadi terpacu dan berusaha mendekati Bandi. Ia harus mengalahkan orang yang sering meremehkannya. Ia kayuh kanonya. Menggerakkan beberapa kali tangannya tanpa peduli siang panas menyengat. Dan ia pun bisa mendahului Bandi.

Bandi terkejut didahului. Apalagi ia didahului ketika sudah beberapa jarak menuju finis.

“Ini nggak bisa dibiarkan,” katanya dalam hati, “Dia harus diberi pelajaran,”

Memang Firman mendahului Bandi pada saat garis finis tinggal beberapa jarak lagi dan dengan kecepatan kano, garis finis itu bisa dicapai hanya dalam waktu dua menit. Bandi merasa akan jatuh harga dirinya kalah bila Firman bisa mengalahkannya. Dan Firman merasa sudah seperti di ambang kemenangan.

Mau tak mau, Bandi menyusulnya. Melakukan sebuah tindakan curang. Ia tubrukkan kanonya ke arah kano Firman saat Firman sudah hampir mendekati garis finis. Firman terkejut dan terbalik. Semua penonton juga terkejut dan tak menyangka, termasuk Flora dan sang ibu. Bahkan ada yang berteriak spontan,

“Curang!”

Si Kepala Desa yang mendengar itu segera memperingati lewat pengeras suara,

“Anak saya tidak curang, saudara-saudara,” ujarnya sambil menutupi perilaku anaknya.

Bandi tersenyum jahat,

“Harga dirimu hancur, bocah ingusan!”

Ia lalu mengayuh kanonya hingga garis finis dan memenangkan pertandingan. Sementara Firman yang terbalik hanya bisa melihat dari kejauhan dengan ratapan pasrah walau hati tidak bisa menerima sebab ini curang.
Bandi mengangkat tangannya sebagai pemenang. Tepuk tangan menyambutnya, meski itu terpaksa. Firman lalu mengayuh pelan kanonya. Pak Kepala Desa tersenyum lebar namun tiba-tiba polisi yang mengawal pertandingan mendatanginya dan memborgolnya lalu membawanya dengan alasan kasus korupsi yang melibatkan dirinya telah terkuak. Kemudian datang tiga personel polisi yang lain dan mengatakan pertandingan dibatalkan setelah berkoordinasi dengan panitia. Penyebabnya adalah kecurangan. Bandi terkejut. Ia segera menepi dan berlari ke arah polisi yang memborgol bapaknya,

“Bapak saya salah apa, Pak?” tanyanya heran.

“Bapakmu kena korupsi!” kata salah satu polisi ketus.

“Ah, tidak mungkin bapak saya seperti itu,” kata Bandi tak percaya, “Lepaskan bapak saya!”

Ia berusaha menggaet tangan polisi yang menahan bapaknya, tetapi salah satu polisi dari belakang menahannya.

“Kamu jangan macam-macam, nak. Mau kamu seperti itu?” ancamnya.

Bandi pun terdiam. Bingung. Membiarkan bapaknya yang tertunduk dan sama sekali tak melihat dirinya.
Firman mengayuh pelan kanonya lalu menepikannya. Ia berjalan tertunduk. Lesu. Kalah dan tak peduli ada sebuah peristiwa yang terjadi. Flora dan ibunya mendekatinya,

“Ibu, Flora,” katanya lesu, “Maaf, aku tidak bisa menang dan maaf ibu, aku tidak bisa menuruti keinginanmu,”

Ibunya membelai rambutnya, dan berkata,

“Sudahlah, nak,” katanya, “Tidak apa-apa. Kamu memang kalah, tetapi kamu berhasil buat kami bangga karena akhirnya kamu bisa menaklukkan ketakutanmu dan keputusasaanmu. Itu lebih baik daripada kamu hanya sekedar menang tetapi dengan cara yang curang,”

Firman terdiam tak menjawab,

“Aku bangga dengan kemauan kamu, Firman,” kata Flora menyanjung.

“Tetapi, bagaimana dengan harga diri?” tanya Firman.

“Harga diri?” ibunya balik bertanya, “Kamu sudah punya harga diri itu dan pertandingan ini bukanlah satu-satunya mendapatkan harga diri. Sekarang, kita sebaiknya balik ke rumah dan membicarakan hal yang lebih penting untuk masa depan,”

Firman menuruti ibunya. Begitu juga Flora. Tempat pertandingan itu berangsur-angsur sepi apalagi setelah dinyatakan batal oleh panitia. Namun, Bandi masih terduduk di situ. Masih heran dengan apa yang terjadi dan terus bertanya-tanya.

Rabu, 17 Oktober 2012

Berlalu Musim

Rel tua di depanku ini seperti sesuatu yang tak berdaya. Merenta dan rela dirambati ilalang panjang. Tak satu pun yang hendak menjenguknya walau hanya sebentar. Aku hanya terduduk diam memandangi nasibnya seperti mereka-mereka yang terlupakan walau sudah berjasa. Tetapi, aku tak ingin bercerita mengenai rel tua itu yang terlihat meminta sesuap pertolongan. Aku ingin bercerita bahwa di atas rel tua itu pernah ada sebuah cerita yang sudah beberapa musim terlewat dan juga terhempas.

analisadaily.com

Angin pelan mendesiri wajahku. Desiran itu bagaikan tangan lembut seorang wanita yang bisa membuatku tenang. Di atas bangku kayu di depan sebuah stasiun aku duduk. Menatap rel tua itu dan mengembarakan pikiranku akan cerita di masa silam. Ini cerita semasa aku menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi yang letaknya tak jauh dari rel tua itu. Hanya terpisah oleh jalan besar dan juga perumahan penduduk tetapi bentuk bangunannya yang tinggi jelas terlihat.

Dan rel tua itu adalah saksi bagaimana aku bergumul dengan berlainan jenis. Bercerita mengenai kehidupan sehari-hari, tentang kuliah, dan juga tentang cinta. Duduk di atas rel tua dan memetik ilalang-ilalang yang mengganggu sambil bersua tentang harapan di masa yang akan datang. Namanya pun masih aku ingat dalam hatiku. Nufus. Cukup sederhana namanya. Sesederhana seperti orangnya.

Aku mengenal dirinya sewaktu kuliah. Ia sendiri bukanlah teman sejurusanku, tetapi dari jurusan lain. Aku sendiri jurusan sastra dan ia filsafat. Aku mengenalnya sewaktu kami sama-sama menjadi panitia acara di kampus. Sejujurnya, ada perasaan biasa saja ketika aku mengenalnya. Aku tak menangkap kesan bahwa ia cantik. Tidak sama sekali. Tetapi, lama-kelamaan aku menangkap ada kesan itu dan aku menjadi suka dengannya.

Ia yang bertutur lembut dan halus. Tak pernah sekalipun berkata kasar dan jarang marah. Rasa sabar juga menjadi pelengkap bagi dirinya yang akhirnya aku anggap ia sempurna. Ketika berbicara dengannya sehabis kuliah atau jeda, kami akan selalu mengunjungi sebuah rel tua tak bertuan yang dikelilingi oleh padang luas seperti sabana dan stepa. Pohon-pohon juga jarang tumbuh.

Rel tua itu, menurutnya, memiliki sesuatu yang terasa istimewa. Ada yang seolah-olah memanggilnya untuk terus di rel tua itu kala ia sendiri. Lalu duduk termenung dan merasakan ketenangan. Dan Nufus tak peduli ketika ada segelintir yang mengatakannya tak wajar karena kebiasaanya mengunjungi rel tua. Ketika aku masuk dalam kehidupannya, serta-merta ia mengajakku ke rel tua itu. Duduk dan merasakan deraian angin lalu membicarakan kehidupan yang terkadang menjengkelkan.

Aku sebenarnya ingin sesuatu yang sederhana saja,” katanya suatu hari padaku, “Bukan sesuatu yang membuat orang mengerutkan dahi,”

Mendengar itu aku jadi heran dan bertanya,

Tetapi, jurusanmu filsafat kan? Bukannya itu mengerutkan dahi?”

Ia lalu menjawab sambil mematahkan ilalang dan meremasnya,

Itu hanya jurusan dan kamu tidak bisa menjadikan semuanya harus berbanding lurus,”

Aku dan dia lalu terdiam. Memandang pada langit di atas. Langit yang kebiruan. Kebiruan yang memancarkan rasa positif.

Kamu lihat awan-awan yang terbang di langit biru itu,” kata Nufus kemudian sambil menunjukkan dengan sebatang ranting pohon.

Aku mengikuti apa yang dia katakan.

Lihatlah mereka begitu sederhana kan? Tanpa ada embel macam-macam. Begitu murni,”

Ketika aku mendengar ucapannya, timbul rasa tidak mengerti dalam diriku,

Maksudnya?”

Lihat awan-awan itu berjalan saja di langit yang biru tanpa harus disuruh ini-itu. Tuhan memerintahkannya hanya berjalan. Tak lebih. Tetapi, mengapa manusia suka membuat aturan baru, berlebihan, dan melebihi Tuhan?”

Lho, bukankah manusia itu makhluk berpikir?” tanyaku balik, “Dan karena itu pula wajar jika mereka dengan pikirannya menciptakan dan melakukan ini-itu. Kalau begitu, kebudayaan tidak akan tercipta,”

Tidak, manusia harusnya mengucapkan rasa syukur saja karena sudah diberi nafas kehidupan tanpa perlu macam-macam,”

Maksudmu tidak bekerja?”

Ya seperti itu,”
Aku jelas tertawa-tawa mendengar ucapannya yang terkesan normatif dan baru kali ini aku mendengarnya.

Kenapa tertawa?” tanyanya heran.

Kamu ini aneh,” kataku, “Manusia diciptakan itu bekerja selain beribadah. Ingat lho beribadah itu adalah bekerja. Pernah baca “Robohnya Surau Kami”?”

Bagiku beribadah dan bekerja itu berbeda,” katanya, “Dan maaf aku belum pernah membacanya,”

Lalu aku ceritakan kisah dalam “Robohnya Surau Kami”. Tentang seorang pemuka agama yang merasa dirinya akan masuk surga karena selalu beribadah tetapi malah menelantarkan keluarganya hingga ia masuk neraka.

Intinya, bekerja itu perlu,” kataku, “Kamu akan dapat dari mana untuk menghidupi diri kamu sendiri kalau tidak bekerja. Tetapi, harus diimbangi dengan ibadah juga,”

Ya, aku mengerti kok,” kata Nufus setelah itu, “Aku cuma mengetes kamu. Ternyata kamu pintar juga,”

Mendengar itu aku jelas sedikit terkejut,

Tes buat apa?” tanyaku 
 
Buat apa aja,” katanya.

Dasar kamu aneh,” kataku mengomentari, “Tetapi, tidak apa-apa. Aku senang kok bisa mengobrol sama kamu,”

Kami lalu tertawa-tawa bersama. Berlomba melempar batu. Ya itulah yang tiap hari kami lakukan bahkan di saat libur kuliah sekalipun. Ketika berpisah, aku merasa ada rasa rindu ingin bertemu dengannya lagi. Rindu yang terbawa-bawa sampai ke rumah. Rindu yang kulampiaskan dengan mengirimkan pesan pendek dan telepon di telepon genggam. Rindu yang kemudian terobati ketika bertemu lagi, dan rindu yang tiba-tiba hilang ketika aku ingin mengatakan bahwa aku menyukainya.

Entah mengapa. Apa karena perasaanku saja. Ia tidak pernah menyapaku lagi ketika bertemu. Meski aku sering menyapanya. Ketika aku kirimkan pesan pendek tiada jawaban. Ketika aku telepon juga tidak diangkat, dan ketika aku sambangi rel tua itu ia juga tidak ada di situ. Perlahan tapi pasti, aku merasakan duniaku hilang. Seperti seseorang yang kenikmatannya diambil satu per satu. Aku merasakan kesepian karena tiada lagi teman untuk curhat dan juga tiada lagi teman spesial. Ia telah berubah sikap entah kenapa. Tanpa aku tahu sebabnya.

Begitulah. Ini terbawa sampai lulus kuliah. Saat wisuda aku tak melihat dirinya sama sekali. Apalagi saat aku ke jurusan filsafat. Teman-temannya bahkan tidak tahu sama sekali. Pada akhirnya, perlahan semua menghilang dan terlupakan begitu saja.

***
Kini di depan rel tua itu, aku hanya iseng berkunjung. Sekedar bernostalgia walau sebentar dari hiruk-pikuk pekerjaan. Aku lalu ke rel tua itu dan duduk di atasnya. Merasakan lagi kehangatan rel itu semasa kuliah dahulu. Bagiku ia sama sekali tidak berubah walau beberapa musim sudah terlewati. Aku mengelusnya. Ini sama seperti yang aku lakukan dahulu ketika duduk berdampingan dengan dirinya yang entah di mana. Sejujurnya, aku tahu ia di mana. Dari Facebook dan Twitter. Ia sama sekali tidak berubah dari penampilannya dan tetap seperti itu-itu saja meski musim sudah banyak dilewati. Dan aku tidak tahu ini sudah berapa musim. Aku coba menjadikan ia teman dan mengikutinya di dua jejaring sosial itu. Tapi, tiada reaksi. Apakah ia tahu kalau itu adalah aku yang dulu sempat begitu akrab dengannya bahkan intim. Sehingga ada rasa segan dalam dirinya untuk kembali berhubungan denganku lagi?

Tapi, ya sudahlah. Bagiku tiada masalah. Aku hanya mencoba berniat baik.

Angin mendesir pelan. Aku menikmatinya. Seperti diterbangkan ke masa silam, ada yang memanggil namaku,

Rudi,”

Aku menatap ke depan. Ada sesosok wanita. Ia tersenyum padaku. Rambutnya berkibar pelan tertiup angin. Aku pun melihat jelas wajahnya,

Nufus!” ujarku

Dan angin kembali berdesir. Ilalang bergoyang.

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran