Pages

Tampilkan postingan dengan label transportasi massal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transportasi massal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2020

KRL Jogja-Solo Seperti Apa dan Bagaimana Pengoperasiannya?


Pengertian


KRL Jogja-Solo adalah layanan kereta rel listrik komuter yang melayani  rute Yogyakarta dan Solo yang masing-masing berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Layanan kereta rel listrik atau KRL ini merupakan yang pertama beroperasi di luar wilayah Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek-Lebak. Karena itu, banyak orang yang mengasosikan KRL dengan Jakarta dan daerah-daerah penyangganya. Alasan dipilihnya Yogyakarta dan Solo sebagai tempat beroperasi selain Jabodetabek-Lebak adalah karena tingginya mobilitas masyarakat di kedua kota terutama yang menggunakan transportasi massal. Kebutuhan akan transportasi massal yang efisien, efektif, ekonomis, dan aman juga menjadi alasan lainnya. Kedua kota sebenarnya sudah mempunyai transportasi massal berupa kereta Prambanan Ekspres. Namun, kereta yang disingkat Prameks itu ternyata kehadirannya dirasa belum cukup jika dikaitkan dengan kecepatan dan efektivitas sebab masih memakai diesel sebagai mesin penggerak. Selain itu, daya angkut penumpang pada Prameks maksimal hanya 800. Bandingkan dengan KRL yang mampu mengangkut hingga 1.000 lebih. Kereta komuter Jogja-Solo sendiri diproyeksikan menggantikan Prameks.

Rute dan Stasiun


Rute untuk KRL Tanah Jawa ini sekitar 60 kilometer meliputi Yogyakarta-Klaten-Solo. Jarak ini tentu saja masih kalah jika dibandingkan dengan jarak KRL Jabodetabek-Lebak yang mencapai hingga 418 km. Rute yang digunakan ini juga menggunakan rute yang sudah ada, yang sebelumnya merupakan rute Prameks. Untuk stasiun sendiri, KRL Commuter Line Jogja-Solo mempunyai 11 stasiun, yaitu:

  • ·         Stasiun Yogyakarta
  • ·         Stasiun Lempuyangan
  • ·         Stasiun Maguwo
  • ·         Stasiun Srowot
  • ·         Stasiun Klaten
  • ·         Stasiun Ceper
  • ·         Stasiun Delanggu
  • ·         Stasiun Bawok
  • ·         Stasiun Purwosari
  • ·         Stasiun Solo Balapan

Yang perlu diketahui beberapa stasiun terletak dekat atau mempunyai akses ke tempat-tempat penting seperti tempat wisata atau fasilitas publik. Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan dekat dengan tempat-tempat penting di Yogyakarta seperti Keraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg, dan Kebun Binatang Gembira Loka. Stasiun Brambanan dekat dengan Candi Prambanan  dan Candi Ratu Boko, Stasiun Maguwo dekat dengan Bandara Adi Sucipto, Stasiun Klaten dengan Watu Sepur Bayat, dan Stasiun Solo Balapan yang terkenal karena Didi Kempot dekat dengan Keraton Surakarta dan Benteng Vastenburg. Tentu saja letak stasiun yang dekat dengan tempat-tempat wisata akan semakin memudahkan akses jika ditempuh dengan KRL yang punya kecepatan 90 kilometer per jam. Bandingkan dengan Prameks yang hanya 70 km per jam. Ini seperti halnya di Jabodetabek-Lebak yang beberapa stasiunnya juga dekat dengan tempat-tempat wisata atau pemerintahan seperti Stasiun Jakartakota (kawasan Kota Tua Jakarta), Stasiun Bogor (Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor), Stasiun Sudirman (kawasan bisnis dan perdagangan), dan Stasiun Rangkasbitung (Museum Multatuli).

Operator


Operator KRL Jogja-Solo adalah PT KCI atau Kereta Commuter Indonesia, anak usaha PT KAI, yang juga mengoperasikan KRL Jabodetabek-Lebak sejak tahun 2008. PT KCI sendiri bermarkas di Jakarta tepatnya di Stasiun Juanda, salah satu stasiun KRL Jabodetabek-Lebak. Untuk daerah operasi, KRL Commuter Line Jogja Solo berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta.

Armada


Kereta listrik Jogja-Solo akan memakai armada berupa KRL KfW i9000, yaitu kereta listrik yang sebelumnya pernah beroperasi di lintas Jabodetabek-Lebak, dan terakhir sebelum dihentikan operasionalnya karena masalah teknis beroperasi di salah satu lintas, yaitu di jalur Jakartakota-Tanjung Priok. Kereta ini sendiri buatan PT INKA, BUMN yang memproduksi kereta api, dan Bombardier, perusahaan transportasi asal Kanada yang terkenal dengan berbagai produk kereta apinya untuk beberapa transportasi massal cepat seperti Berlin U-Bahn dan London Underground. KRL KfW ini tentu saja berbeda secara tampilan untuk lintas Jogja-Solo ini setelah dirapikan kembali di pabrik INKA di Madiun, yaitu mempunyai livery merah corak batik Jawa yang memang sesuai dengan Yogyakarta dan Solo sebagai dua pusat kebudayaan Jawa. Selain KRL KfW, kereta lain yang juga siap melintas adalah KRL JR-205 Series yang sudah malang-melintang di Jabodetabek-Lebak. KRL ini akan digunakan sebagai sarana untuk membantu dan melengkapi.

Tiket dan Harga



Untuk tiket KRL Jogja-Solo akan menggunakan tiket elektronik seperti halnya KRL Jabodetabek-Lebak. Tiket elektronik ini dapat berupa tiket harian berjaminan atau THB, kartu multi trip atau KMT, dan kartu elektronik dari bank seperti E-Money, Flazz, Brizzi, dan Tapcash. Untuk pembeliannya bisa dilakukan di konter loket stasiun pada THB dan KMT sedangkan kartu bank bisa di bank yang mengeluarkan kartu tersebut atau merchant-merchant yang bekerja sama dengan bank yang bersangkutan. Kartu elektronik ini juga bisa diisi ulang melalui konter atau vending machine sedangkan kartu bank pada bank atau merchant-merchant yang bermitra dengan bank-bank yang bersangkutan. Kartu-kartu ini kemudian di-tap di gate-gate elektronik yang ada di stasiun. Cara ini tentunya lebih praktis daripada Prameks yang masih mengandalkan tiket manual dan nomor tempat duduk.

Harga tiket juga akan sama seperti di Jabodetabek-Lebak, yaitu berdasarkan kilometer. Untuk 1-25 kilometer pertama tiket dihargai Rp 3.000, dan 10 kilometer berikutnya bertambah Rp 1.000 serta berlaku kelipatan. Namun hal ini masih menunggu penyesuaian lebih lanjut. Lalu apakah pengguna KRL Jabodetabek-Lebak bisa menggunakan layanan ini? Dilansir dari akun Twitter @AnkerTwitter pengguna di Jabodetabek bisa menggunakan KRL Commuter Line Jogja Solo dengan kartu elektronik yang ada.

Baca Juga: Jalur-jalur KRL Jabodetabek

Rencana Operasi



KRL Commuter Line Jogja-Solo hingga saat ini masih menjalani serangkaian uji coba sebagai proses adaptasi terhadap jalur-jalur dari Yogyakarta ke Solo yang sudah dielektrifikasi. Rencananya KRL Tanah Jawa ini akan beroperasi pada Januari 2021 jika tidak ada halangan sama sekali dan semua perangkat siap dijalankan.

Selasa, 24 Desember 2019

4 Persamaan MRT dan KRL yang Tidak Kamu Sadari


canva
Sejak Maret 2019, MRT mulai beroperasi melayani lintas Lebak Bulus-Bundaran HI.

Kehadiran transportasi massal berbasis rel ini menemani transportasi sejenis yang sudah ada, KRL.

Keduanya pun terlihat berbeda terutama dari segi pelayanan.

MRT identik dengan pelayanan jalur bawah tanah, KRL dengan jalur permukaan.

Apabila MRT terlihat begitu modern jika dilihat dari arsitektur stasiun-stasiunnya, dan bahkan namanya menggandeng sponsor, KRL sebaliknya.

Begitu juga dengan budaya penumpang. Yang satu terlihat tertib, yang satu lagi sebaliknya.

Waktu datang dan berangkat kereta MRT pun dianggap selalu tepat waktu. Kereta KRL kebalikannya.

Meski begitu, ternyata keduanya mempunyai banyak persamaan yang tidak disadari.

Apa saja persamaan kedua ular besi ini?

Kereta made in Japan

Canva
Ya, tepat sekali! Baik MRT maupun KRL menggunakan kereta buatan Jepang. Manufakturnya pun sama, Nippon Sharyo.

Namun untuk KRL yang keretanya tidak hanya terdiri dari satu jenis seperti MRT, manufakturnya pun beragam.

Selain Nippon Sharyo, ada juga nama Kawasaki Heavy Industries, Kinki Sharyo, Toei Corporation, dan Tokyu Car Corporation.

Akan tetapi, yang perlu dicatat adalah Ratangga, si kereta MRT benar-benar fresh from the oven sedangkan armada KRL kebanyakan merupakan bekas pakai.

Lebar sepur 1.067 mm

wikipedia
MRT dan KRL sama-sama menggunakan lebar sepur 1.067 mm yang memang umum digunakan di Indonesia terutama sejak zaman Jepang.

Keadaan ini membuat MRT menggunakan lebar yang sama dengan alasan ke depannya supaya ada konektivitas dan sinergisitas dengan KRL.

Listrik aliran atas

ceanadisty.wordpress.com
Disingkat LAA atau bahasa Inggrisnya, overhead catenary, yaitu sistem aliran listrik yang menggunakan tiang dan kabel yang dialiri listrik.

Perangkat ini juga digunakan MRT dan KRL untuk menghasilkan daya yang juga sama, 1.500V.

Akan tetapi, MRT menggunakan LAA jenis terbaru, rigid overhead conduct yang tampilan fisiknya tidak lagi memakai kawat penggantung seperti pada LAA konvensional KRL, tetapi rigid bar.

Selain LAA baru, MRT konsisten memakai pantograf cakar ayam atau single-arm yang memang pantograf bagi kereta zaman now.

Sebaliknya dengan KRL. Terkadang memakai single-arm, terkadang pula diamond shape atau pantograf berlian yang terlihat old school.

Jalur dan stasiun layang

Layout
MRT punya jalur dan stasiun layang. Begitu juga dengan KRL.

Di MRT jalur itu dimulai setelah Stasiun Senayan lalu keluar dari bawah tanah dan naik mengarah ke Stasiun ASEAN berlanjut hingga Stasiun Lebak Bulus.

Sedangkan di KRL dimulai setelah Stasiun Manggarai lalu naik menuju Stasiun Cikini dan berlanjut hingga Stasiun Jayakarta, dan turun lagi menuju Stasiun Jakarta Kota.

Meski begitu, jalur dan stasiun layang MRT kebanyakan dibangun di atas jalan sehingga masih memungkinkan kendaraan lewat di bawahnya.

Sedangkan jalur dan stasiun layang KRL dibangun di atas jalur lama yang sudah diaspal sehingga terlihat seperti bangunan yang konstan alias tidak bisa dilewati bagian bawahnya.

Namun, stasiun layang MRT dan KRL berwarna-warni dan tematik.


Sabtu, 22 September 2018

Rapid Transit di Semenanjung Korea

Canva


Dalam satu dekade belakangan ini, hal-hal yang berbau Korea begitu populer. Dimulai dari drama Korea (drakor) atau K-Drama hingga K-Pop yang menampilkan boyband dan girlband asal Negeri Ginseng. Tak hanya itu, alat-alat elektronik dan produk-produk otomotif Korea juga populer. Sebut saja Samsung, Kyocera, Kia, dan Hyundai. Dan juga banyak orang Korea yang juga fasih soal Indonesia, dan biasanya berprofesi sebagai youtuber. Hal tersebut semakin menambah cita rasa Korea seperti Hari Jisun, Korea Reomnit, dan Sunnydae.

Namun, jika berbicara mengenai Korea ini tentu akan lebih merujuk pada Korea Selatan yang menang salah satu macan Asia sedangkan Korea yang satu lagi, Korea Utara, kebalikannya karena sifatnya yang tertutup. Perbedaan kedua Korea ini dikarenakan ideologi yang dianut masing-masing. Korea Selatan menganut paham liberal sedangkan Korea Utara menganut komunisme. Dua paham yang membelah Korea semenjak berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Meski berbeda paham dan kehidupan, duo Korea di satu sisi mempunyai persamaan dalam transportasi massal angkut cepat terutama yang berbasis kereta api. Kenyataannya kedua Korea memahami betul arti penting transportasi massal angkut berbasis kereta api sebagai lambang kemajuan. Untuk kita di Indonesia mungkin memaklumi negara Macan Asia seperti Korea Selatan punya banyak sistem transportasi demikian untuk menunjang perekonomian dan mobilitas para warga negaranya. Tetapi rupanya yang tidak disangka adalah Korea Utara juga punya. Ini tentu akan menjadi semacam sindiran untuk Indonesia kok malah tidak punya padahal perekonomian lebih baik dari negara komunis itu? Dan akhirnya 
 Jakarta sudah punya rapid transit berupa MRT dan LRT.

Nah, mengenai transportasi massal angkut cepat atau rapid transit di Semenanjung Korea, boleh dibilang Korea Selatan yang lebih banyak daripada Korea Utara. Tercatat Korea Selatan mempunyai enam rapid transit yang tersebar di kota-kota besar Negeri Ginseng, yaitu Seoul, Incheon, Busan, Daegu, Gwangju, dan Daejeon. Sedangkan Korea Utara hanya punya satu, dan itu berada di Pyongyang, ibu kota negara tersebut.

Tentu saja gambaran itu bak langit dan bumi. Meskipun begitu, kedua Korea sudah mempraktikkan kemajuan yang signifikan bagi warganya. Berikut profil singkat transportasi massal angkut cepat di kedua Korea.

Korea Selatan

Seoul Subway
Sebagai ibu kota dan kota terbesar di Korea Selatan, Seoul tentu saja harus mempunyai banyak fasilitas untuk menunjang kehidupan warganya. Salah satunya adalah transportasi massal berbasis kereta api. Karena itu, Seoul Subway dihadirkan untuk hal tersebut. Mulai beroperasi sejak 1974, Seoul Subway adalah transportasi massal cepat tertua di Negeri Ginseng. Ia dibangun dengan bantuan dana dari Jepang, tetangga Korsel yang memang sudah maju perekeretapiannya.

Seoul Subway sebenarnya tak hanya rapid transit, tetapi juga kereta komuter (commuter rail). Karena itu, jarak yang dilayani bisa mencapai 340.4 kilometer. Hal yang demikian membuat Seoul Subway mendapat predikat sebagai salah satu transportasi urban terbesar dan efisien di dunia. Jarak yang begitu jauh disebabkan Seoul Subway tak sebatas melayani Seoul, tetapi juga para tetangga kota tersebut seperti Incheon dan kota satelit di Provinsi Gyeonggi yang tergabung dalam megapolitan Seoul (semacam Jabodetabek). Untuk pelayanannya, Seoul Subway memanjakan para penumpangnya dengan fasilitas internet gratis di tiap stasiun. Untuk operator, Seoul Subway dikelola oleh Seoul Metro, Korail, dan Incheon Transit Corporation.

Incheon Subway
Letaknya yang berdekatan dengan Seoul, dan juga posisinya sebagai kota terbesar ketiga di Korsel setelah Seoul dan Busan membuat Incheon juga harus mempunyai transportasi massal cepat berbasis kereta api. Apalagi di kota yang secara harfiah berarti sungai yang ramah ini juga terdapat pelabuhan internasional dan bandara udara. Boleh dibilang Incheon adalah gerbangnya Korsel.

Transportasi massal cepat di Incheon adalah Incheon Subway. Transportasi Berbasis kereta api ini beroperasi sejak 1999, dan merupakan yang keempat setelah Seoul, Busan, dan Daegu. Jarak yang ditempuh adalah 58.5 kilometer, dengan jumlah stasiun sebanyak 56, dan dua jurusan. Incheon Subway dikelola oleh Incheon Transit Corporation.

Daegu Metro
Posisi ketiga untuk kota yang mempunyai rapid transit adalah di Daegu. Kota terbesar keempat di Korsel mempunyai rapid transit bernama Daegu Metro. Beroperasi sejak November 1997, Daegu Metro yang dikelola oleh Daegu Metropolitan Transit Corporation mempunyai dua jenis pelayanan, yaitu rapid transit dan monorel. Untuk rapid transit stasiun yang dimiliki adalah 59 sedangkan monorel 30.
Untuk jarak, Daegu Metro mempunyai jarak sepanjang 59.8 kilometer, dan bertambah sebanyak 83.7 km jika digabung dengan monorel. Daegu Metro sejauh ini mempunyai tiga jurusan, dan salah satu jurusan pernah dilanda kebakaran hebat pada 18 Februari 2003. Kebakaran tersebut mengakibatkan 192 orang tewas, dan 151 orang terluka.

Busan Metro
Busan Doshicheoldo. Itulah nama asli moda transportasi ini dalam bahasa Korea. Inilah transportasi massal cepat yang berada di kota terbesar kedua setelah Seoul ini. Busan Metro juga merupakan transportasi massal cepat berbasis kereta api kedua setelah ibu kota Korsel tersebut. Beroperasi sejak 1985, Busan Metro mempunyai empat jurusan, 114 stasiun untuk jarak sejauh 116.5 kilometer. Salah satu jurusan mempunyai jalur ke Bandara Internasional Gimhae. Busan Metro sendiri terdiri dari rapid transit dan kereta komuter. Moda transportasi ini dioperatori oleh Busan Transportation Corporation, B&G Metro, dan Korail.

Gwangju Metro
Melintasi dua sungai. Kira-kira itulah gambaran dari moda transportasi massal cepat ini, Gwangju Metro. Sebagai transportasi andalan di kota terbesar keenam di Korsel itu, Gwangju Metro dalam layanan operasionalnya memang melintasi dua sungai, yaitu Sungai Yeongsan dan Sungai Hwangryong.
Gwangju Metro merupakan transportasi yang bergerak di bawah tanah. Meskipun begitu, beberapa stasiun seperti Sotae dan Dosang merupakan stasiun layang. Transportasi ini beroperasi sejak April 2004, dengan 20 stasiun di satu jurusan. Jarak yang ditempuh oleh rapid transit yang dioperatori oleh Gwangju Metropolitan Rapid Transit Corporation ini adalah 20.1 kilometer.

Daejeon Metro
Rapid transit terbaru dan terakhir di Korsel adalah Daejeon Metro yang terletak di Daejeon, kota terbesar kelima di negara tersebut. Kota ini bahkan bisa dijangkau dalam waktu 50 menit dari Seoul menggunakan KTX, kereta super cepat di Korsel.

Daejeon Metro yang beroperasi sejak 2006 ini dalam pelayanannya mempunyai 22 stasiun dalam satu jurusan, dengan jarak 22.74 kilometer. Daejeon Metro dioperatori oleh Daejeon Express Metropolitan Transit Corporation.

Korea Utara

Pyongyang Metro
Jika sedari tadi membahas mengenai profil singkat rapid transit di Korsel, kali ini kita akan membahas moda transportasi itu di Korea satunya, Korea Utara atau Korut. Tidak seperti sang tetangga yang lebih gemerlap, dengan semua rapid transit tersebar di seluruh kota tidak demikian halnya dengan di Korut.

Di negara ini rapid transit cuma ada di Pyongyang, ibu kota negara tersebut. Namanya adalah Pyongyang Metro atau dalam bahasa Koreanya disebut dengan Pyongyang Jichaeoldo. Keadaan ini dikarenakan sistem ekonomi dan pemerintahan Korut yang sentralistik. Pyongyang Metro sendiri beroperasi sejak 1973, di zaman ketika Korut masih diperintah oleh Kim Il-sung. Pyongyang Metro sendiri merupakan salah satu rapid transit yang mempunyai stasiun bawah tanah paling dalam di dunia selain Saint Petersburg Metro di Rusia dan Kiev Metro di Ukraina. Letak kedalaman ini pun bisa dijadikan sebagai bunker ketika perang.
Pyongyang Metro sendiri mempunyai dua jurusan dan 16 stasiun. Jarak yang ditempuh adalah 22.5 kilometer. Operator moda transportasi ini adalah Komisi Komunikasi dan Transportasi Korea Utara. Hampir semua layanan Pyongyang Metro berada di bawah tanah. Untuk armada kebanyakan mengimpor dari Cina.
Belakangan memakai bekas Jerman Timur. Ini tentu tidak seperti rapid transit di Korsel yang disuplai oleh produk lokal, Hyundai Rotem. Yang unik adalah rapid transit ini punya museum untuk menjelaskan mengenai sejarah konstruksi layanan ini.

Selasa, 03 April 2018

Nippon Sharyo dan Kereta-kereta Komuter Indonesia

SaukValley.com


Maret 2019, MRT Jakarta siap beroperasi. Transportasi angkut cepat massal berbasis kereta api yang digadang-gadang sebagai solusi untuk meminimalkan kemacetan parah di Jakarta merupakan transportasi massal pertama di Indonesia yang akan dioperasikan di jalur bawah tanah selain jalur layang. Dan, karena MRT Jakarta didanai dan dibantu oleh Jepang melalui JICA, wajar jika pengadaan manufaktur kereta api juga dari Negeri Sakura. Untuk MRT Jakarta yang bertindak sebagai manufaktur adalah Nippon Sharyo.
SocImage.com



Tentu para penggemar kereta api tidak asing dengan nama produsen kereta yang satu ini. Jauh sebelum menjadi manufaktur kereta MRT Jakarta, Nippon Sharyo terlebih dahulu sudah wira-wiri di dunia perkeretaapian di Indonesia, khususnya kereta komuter di Pulau Jawa. Sejak 1976, kereta-kereta yang diproduksi oleh perusahaan yang bermarkas di Nagoya, Jepang, ini hadir.

Bentuk kehadiran kereta-kereta Nippon Sharyo adalah pada KRL Rheostatik untuk KRL Jabodetabek. Kereta-kereta ini didatangkan untuk menggantikan kereta-kereta tua buatan Belanda seperti ES 3200 yang kerap terkenal dengan sebutan Bon Bon. Disebut Rheostatik karena KRL asal Jepang ini menggunakan teknologi rheostat atau potensiometer. KRL Rheostatik ini didatangkan sebanyak tiga gelombang dari 1976 hingga 1987, dan bukan kereta hibah seperti sekarang ini. Jadi, boleh dibilang mirip dengan MRT Jakarta yang dibuat langsung di pabriknya.


Pada 2013, KRL Rheostatik yang kala itu merupakan kereta komuter ekonomi dihentikan operasionalnya, dan digantikan oleh kereta-kereta Jepang yang lain namun merupakan hasil hibah, dan tetap buatan Nippon Sharyo seperti Tokyo Metro Seri 6000 dan 7000, serta yang terbaru, JR Seri 205. Kereta-kereta Nippon Sharyo generasi pertama bersama kereta-kereta buatan Hitachi dan Hyundai kemudian ditaruh dan ditumpuk di halaman dalam Stasiun Purwakarta, Jawa Barat.

Selain untuk KRL, Nippon Sharyo juga membuat untuk kereta diesel berupa MCW 301 dan 302. Pembuatan ini berdasarkan kenyataan di Indonedia pada 1976 belum seluruhnya mempunyai jalur listrik aliran atas termasuk di Jabodetabek. Jadilah kereta ini dioperasikan di daerah-daerah jalur non-listrik. Selain di Jabodetabek bukan relasi Jakarta-bogor, kereta diesel ini juga dioperasikan di Bandung Raya, Joglosemar, dan Gerbangkertosusilo. Hingga sekarang tercatat beberapa tempat masih mengoperasikan kereta ini yang untuk memaksimalkan performa harus dilakukan retrofit. Pada 2015 kereta ini direhabilitasi sebagai kereta klinik dan perpustakaan. Nippon Sharyo tercatat sudah memproduksi sebanyak 352 unit untuk kereta diesel yang punya ciri unik berupa dasi kupu-kupu di atas kaca kabin masinis.
Flickr


Sebenarnya dalam proyek-proyek pengerjaan kereta api komuter di Indonesia, kecuali MCW 301 dan 302, Nippon Sharyo tidak sendirian melakukannya. Perusahaan-perusahaan lain seperti Kawasaki, Hitachi, dan Kinki Sharyo juga melakukannya, dan ini sebagaimana kebiasaan produksi kereta api di Jepang yang selalu dikerjakan bareng-bareng. Namun nama Nippon Sharyo kadung terkenal sebagai produsen ternama kereta api di Jepang.
Flickr


Tak hanya di Jepang, perusahaan yang berdiri pada 1896 ini memang dalam perjalanan sejarahnya telah memproduksi begitu banyak kereta api yang mumpuni dan berkualitas. Mulai dari lokomotif di zaman Jepang menapaki modernisasi pada masa Meiji hingga beberapa Shinkansen seperti Shinkansen seri pertama atau Seri 0 yang diproduksi pada 1964. Selain itu, Nippon Sharyo mengerjakan produksi kereta-kereta api di seluruh dunia seperti di Argentina, Kanada, Venezuela, dan Taiwan. Bahkan untuk Taiwan perusahaan ini memproduksi kereta supercepat THSR 700T. Dan untuk pasar Amerika Serikat dan sekitarnya, Nippon Sharyo mendirikan anak perusahaan bernama Nippon Sharyo USA.
Jenis KRL


Untuk kawasan Asia Tenggara selain Indonesia, Nippon Sharyo juga memproduksi kereta-kereta untuk MRT Singapura dan LRT Manila. Dan, juga jika melihat sejarahnya di masa Perang Dunia Kedua, Nippon Sharyo turut terlibat dengan membuat lokomotif C56 31 yang merupakan lokomotif yang melintas di jalur kereta api Thailand-Myanmar. Jalur ini disebut sebagai jalur kematian karena kebanyakan para pekerjanya adalah tawanan perang Jepang dan para romusha yang bekerja dengan disiksa dan tanpa istirahat. Akibatnya, banyak korban jiwa berjatuhan. Lokomotif yang melintasi jalur ini sekarang tersimpan apik di Museum Perang Yasukuni, Tokyo.

Minggu, 01 April 2018

Kereta-kereta Bandara di Indonesia

Kebutuhan akan kereta api sebagai transportasi massal cepat bebas hambatan sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Hampir di setiap negara di dunia mengandalkan transportasi darat yang berjalan di atas rel ini. Begitu juga di Indonesia. Karena karakteristiknya yang demikian tak salah jika kereta api juga dijadikan sebagai transportasi menuju bandara. Dengan adanya kereta api ke bandara tentu perjalanan akan menjadi lebih efektif dan efisien alias tidak membuang-buang waktu di jalanan hanya karena macet. Keberadaan kereta api juga mengurangi polusi.

Sejak diperkenalkan pada 1927 melalui Berlin U-Bahn di Jerman, kereta api bandara telah menjelma menjadi transportasi favorit di seluruh dunia terutama di Eropa, Amerika, dan Asia. Kereta bandara itu sendiri ada yang memang khusus kereta bandara, yaitu dengan rute dan stasiun yang sudah dipersiapkan untuk lewat dan berhenti, dan ada juga yang berupa kereta yang memang rute dan stasiunnya tidak dikhususkan namun berhenti di Stasiun yang dekat dari bandara.

Di Indonesia sendiri sekarang ini terdapat lima kereta bandara, dan kelima kereta termasuk dua tipe tadi. Apa saja kereta-kereta bandara di Indonesia. Yuk, mari simak!

Prambanan Ekspres (Daerah Istimewa Yogyakarta)

Tempo.co

Populer dengan sebutan Prameks, Prambanan Ekspres adalah kereta komuter layaknya KRL Jabodetabek yang menghubungkan Yogyakarta (Kutoarjo) dan Solo (Solo Balapan). Beroperasi sejak 1994, Prameks mempunyai rute yang berhenti di Stasiun Maguwo. Stasiun kelas II ini terletak berdekatan dengan Bandara Internasional Adisucipto, bandara termashyur di Provinsi DI Yogyakarta. Karena itu, Prameks disebut sebagai kereta bandara pertama di Indonesia. Sayangnya, keberadaan Prameks sebagai kereta bandara pertama di Tanah Air kalah gaung dari kereta Bandara Kuala Namun yang muncul pada 2013, dan malah dianggap sebagai kereta bandara pertama di republik ini. Prameks merupakan kereta rel diesel ekonomi yang armadanya adalah kereta BN Holec eks KRL Jabodetabek, yang kemudian dimodifikasi oleh INKA. Operator kereta dengan jarak tempuh 64 kilometer ini adalah PT KA Daerah Operasi VI Yogyakarta.

ARS Kuala Namu (Sumatera Utara)
Beritatrans.com

Inilah kereta bandara yang kerap disalahkaprahkan oleh banyak orang sebagai kereta bandara pertama di Indonesia. Memang sepintas sebutan itu tidak salah jika melihat pada pengertian kereta bandara sebagai transportasi khusus bandara. Apalagi rute ARS Kuala Namu sendiri melayani Bandara Kuala Namu hingga Medan. Hal inilah yang membuat orang beranggapan demikian, dan ketika hadir ARS Kuala Namu bagai dianggap sebagai sebuah fenomena transportasi massal ke bandara.

ARS Kuala Namu sendiri mulai dioperasikan bersamaan dengan dibukanya Bandara Internasional Kuala Namu pada 2013. Kereta bandara ini menempuh perjalanan bolak-balik Medan-Kuala Namu 30-47 menit, dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Kereta bandara ini dibuat oleh Woojin dari Korea Selatan, dan digerakkan oleh diesel. Kereta Bandara Kuala Namu merupakan kereta eksekutif yang dioperatori oleh Railink, perusahaan patungan antara KA dan Angkasa Pura.

KRL Railink Basoetta (DKI Jakarta)
Koleksi pribadi


Sebagai ibu kota, Jakarta seharusnya lebih dulu yang mempunyai kereta bandara. Namun ini malah kebalikannya. Sebagai ibu kota Jakarta baru punya kereta bandara pada akhir 2017. Kehadiran kereta bandara ini tentu merupakan realisasi dari keinginan masyarakat selama bertahun-tahun yang mendambakan transportasi massal khusus cepat dan bebas hambatan ke Bandara Soekarno-Hatta. Kehadiran kereta Bandara Soekarno-Hatta sudah bisa menyandingkan Jakarta dengan ibu kota-ibu kota lain di Asia Tenggara seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok, yang telah lebih dulu mempunyai layanan kereta bandara.

Kereta Bandara Soekarno-Hatta adalah kereta yang digerakkan dengan listrik berkekuatan 1.500 Volt. Rutenya dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Bandara Soekarno-Hatta. Namun karena Stasiun Manggarai sedang diperluas titik awal pemberangkatan kereta ini dari Stasiun Sudirman Baru atau BNI City. Ada kemungkinan rute kereta diperpanjang hingga Bekasi. Kereta Bandara Soetta sendiri merupakan kereta yang dibuat oleh INKA, dengan bantuan dari Bombardier. Kereta ini dapat melaju dalam kecepatan 120 kilometer per jam, dengan waktu tempuh 55 menit, yang kemungkinan besar bakal dipangkas menjadi 38 menit demi menarik banyak penumpang. Operator kereta ini adalah Railink.

Minangkabau Express (Sumatera Barat)
Twitter.com/Moez


Tempat lain di Pulau Sumatera yang mempunyai kereta khusus ke bandara adalah Sumatera Barat, tepatnya di Padang dan sekitarnya. Kereta ini dinamakan Minangkabau Express, dan melayani rute Stasiun Simpang Haru di Padang dengan Stasiun Duku di Padang Pariaman yang terletak berdekatan dengan Bandara Internasional Minangkabau atau BIM. Minangkabau Express merupakan proyek yang digagas sejak 2012, dan baru selesai pengerjaannya pada 2018. Kereta ini menempuh jarak sepanjang 23 kilometer, dengan kecepatan 40 hingga 100 kilometer per jam. Minangkabau Express adalah kereta diesel eksekutif yang dibuat oleh INKA, dan dioperatori oleh KA Divisi Regional II Padang.

LRT Palembang (Sumatera Selatan)
Jawapos.com


Sebagai kota terpadat kedua di Sumatera setelah Medan, Palembang merasakan dampak negatif dari kepadatan tersebut, yaitu kemacetan. Hal itulah yang mendasari keinginan pemerintah daerah di Palembang untuk membangun sebuah transportasi massal yang efektif dan efisien untuk meminimalkan kemacetan. Awalnya transportasi yang diajukan adalah monorel namun tidak jadi karena kurang menguntungkan. Maka, dibangunlah kereta api ringan atau light rail transit yang dianggap cocok, dengan dibiayai oleh pemerintah.

Kehadiran LRT di Palembang ini merupakan yang pertama di Tanah Air. Dan ia sendiri dibangun juga untuk menyambut Asian Games yang akan digelar di Kota Pempek pada Agustus 2018. Tentu saja kehadiran LRT Palembang akan semakin menambah geliat pariwisata di kota itu. Apalagi salah satu stasiunnya, Stasiun Ampera, merupakan stasiun pertemuan semua moda transportasi di Palembang. Stasiun itu juga berdekatan dengan Jembatan Ampera, salah satu ikon Palembang, Museum Sriwijaya, Benteng Kuto Besak, dan patung ikan belido, ikon baru di bekas Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya itu. LRT Palembang mempunyai 13 stasiun, dan sebagaimana halnya transportasi angkut cepat, stasiun-stasiun yang dibangun berdekatan atau berhubungan dengan beberapa tempat publik di Palembang seperti Palembang Icon, Pasar Cinde, Jembatan Ampera, OPI Mall, dan Gelora Jakabaring. LRT Palembang juga mempunyai rute ke Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II sehingga ia juga merupakan kereta bandara yang sama dengan Prameks. Sedangkan di Asia Tenggara ia sama dengan MRT Singapura dan Greater Bangkok Commuter Rail yang berhenti di Stasiun Don Mueang, Thailand. Jarak yang ditempuh oleh kereta listrik buatan INKA, dan dioperatori oleh KA ini adalah 25 kilometer. Seluruh jalur kereta dari Bandara SMB II hingga Ogan Permata Indah adalah jalur layang atau elevated.



Selasa, 25 April 2017

Serupa Tapi Tak Sama: Perbedaan antara KRL (Kereta Komuter), MRT, dan LRT

Belakangan begitu ramai pembangunan transportasi angkut cepat yang dipercaya mampu mengurangi kemacetan. Ya, setelah menyadari bahwa pembangunan jalan tol ternyata tidak mampu memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan, pemerintah akhirnya menyadari bahwa transportasi berbasis rel yang sebenarnya bisa meminimalkan atau mengatasi kemacetan. Kesadaran ini muncul sejak tumbangnya rezim Orde Baru yang getol mendoktrin masyarakat agar mempunyai mobil supaya terlihat lebih bergengsi daripada angkutan massal seperti kereta api yang dianggap hanya untuk kelas bawah. Mulailah layanan yang berhubungan dengan kereta api diperbarui, diperbagus, dan direvitalisasi fungsinya. Terutama yang berada di perkotaan. Dimulai dari KRL Jabodetabek yang dianggap sebagai angkutan murah dan merakyat. Adalah Ignasius Jonan yang melakukan perubahan di semua lini KRL. Armada-armada diperbagus, dipercantik, di-retrofit walaupun kebanyakan bekas buatan Jepang. Gelandang, pengemis, dan pedagang asongan disingkirkan. Kios-kios di stasiun dirubuhkan untuk dijadikan lahan parkir. Stasiun-stasiun dipercantik, dan sistem pembayaran menggunakan kartu elektronik. Perlahan tapi pasti KRL Jabodetabek kembali seperti aslinya sebagai kereta penumpang sehingga menarik kembali minat masyarakat untuk menaiki kereta komuter yang aman dan nyaman meskipun untuk kecepatan belum jadi jaminan.

Hasil gambar untuk krl jabodetabek
kontan.co.id

Akan tetapi, itu saja belum cukup. Rupa-rupanya kehadiran KRL yang ada sejak zaman Belanda itu belum dirasakan oleh mereka yang tak terjangkau jaringan KRL sehingga ke mana-mana tetap harus menggunakan kendaraan pribadi roda dua atau roda empat. Akibatnya, kemacetan tetap merajalela. Menanggapi hal itu, pemerintah yang memang baru benar-benar menyadari arti penting transportasi massal berbasis rel memutuskan membangun sebuah transportasi angkut cepat terutama di kawasan Jabodetabek. Kawasan ini diprediksi dalam lima tahun mendatang akan mengalami lonjakan penduduk yang besar, dan hal itu berpotensi menambah kemacetan apabila tidak diakomodasi oleh sistem transportasi angkut cepat massal. Seolah ingin menanggapi dan menghidupkan kembali ide Bung Karno pada dekade 60-an tentang pentingnya sistem transportasi massal bawah tanah, dan juga meneruskan kembali proyek yang pernah dicanangkan pada era 80-an, barulah pada 2013, Pemprov DKI Jakarta mengimplementasi sistem itu dengan nama MRT Jakarta atau Angkutan Cepat Terpadu Jakarta. Pembangunan moda transportasi yang punya nama beken metro ini sebenarnya boleh dibilang cukup terlambat mengingat beberapa negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina, telah lebih dahulu mempunyai moda transportasi tersebut. MRT Jakarta yang dibangun ini direncanakan akan beroperasi pada 2018-2019 dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI lalu lanjut ke Kampung Bandan pada 2020. Selain MRT, dibangun juga moda transportasi rel bernama LRT Jabodetabek yang direncanakan beroperasi pada 2019 dari daerah-daerah penyangga seperti Bogor dan Bekasi ke pusat-pusat bisnis dan keuangan di Jakarta. Selain di Jabodetabek, juga tengah dibangun LRT Palembang untuk menyambut Asian Games 2018, dan Metro Kapsul di Bandung, yang seperti kata Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, untuk mengatasi atau meminimalkan kemacetan yang semakin parah di Kota Kembang.
Hasil gambar untuk mrt jakarta
KAORI Nusantara


Namun pembangunan yang sebenarnya bertujuan untuk kehidupan masyarakat urban yang lebih baik itu bukannya tanpa halangan jikalau itu berhubungan dengan permasalahan pembebasan lahan. Mengingat agak telat, pembebasan lahan pun menjadi mahal harganya seiring berjalannya waktu. Harga tanah pun meningkat per meter menjadi beberapa kali lipat. Apabila ini dilaksanakan pada waktu ketika harga tanah masih murah tentu hal demikian tidak akan terjadi. Tetapi saya di sini tidak akan membahas mengenai hal itu. Saya akan membahas perbedaan antara KRL, MRT, dan LRT.

Sebenarnya secara fisik ketiganya tidak terlalu mencolok. Sama-sama berbentuk kereta api dengan gerbong (rolling stock) alias tanpa lokomotif, dan sama-sama dialiri listrik pada bagian atasnya melalui pantograf. Belum lagi untuk ukuran rel, terutama di Indonesia, akan menggunakan ukuran rel 1.067 mm seperti di Jepang. Fungsi ketiganya pun sama, mengangkut massal penumpang secara bolak-balik di wilayah urban. Namun, jika diamati, ketiganya mempunyai perbedaan dalam jalur, pelayanan, dan gerbong. Ketika MRT Jakarta dibangun, muncul anggapan bahwa moda transportasi ini sebenarnya sama dengan KRL mengingat bentuk badan dan ukuran rel yang sama sehingga ada yang mengatakan untuk apa membuat MRT jika KRL sebenarnya sudah bisa menjadi MRT, dan yang ada malah menjadi pemborosan. Saya pun berpikiran sama awalnya. Namun setelah diamati ternyata terdapat perbedaan tak kasat mata dalam dua moda transportasi ini.

Hasil gambar untuk kereta lrt jabodetabek
Citraland Cibubur


Sebagaimana diketahui, KRL merupakan moda transportasi rel yang umumnya melintas di permukaan tanah (surface). Karena melintas di permukaan tanah itulah sering dalam lintasan KRL ditemui banyak lintasan sebidang untuk penyeberangan mobil, motor, atau pejalan kaki. Lintasan-lintasan sebidang itu ada yang besar namun ada juga yang kecil seperti jalan tikus atau tembus. Inilah yang sering menyebabkan kecelakaan seperti tabrakan atau perjalanan KRL terhambat. Selain itu, lintasan KRL harus berbagi dengan kereta antarkota, kereta lokal, atau kereta barang. Hal seperti ini yang membuat perjalanan KRL menjadi terlambat karena harus mengalah ketika kereta dengan lokomotif lewat. Untuk panjang lintasan, KRL bisa mencapai hingga 200 km karena menjangkau sampai wilayah suburban atau uncivilized. Contohnya, KRL Jabodetabek meluaskan pelayanannya hingga Rangkasbitung yang jaraknya 70 km dari Tanah Abang. Lintasan-lintasan dalam KRL juga merupakan rel yang sudah ada atau existing rail mengingat ini adalah rel-rel yang dibangun dari zaman Belanda. Belanda sendiri awalnya membuat KRL untuk kepentingan ekonominya hingga ke luar kota, dan belum memikirkan bahwa di sekitar rel itu harus dibangun properti dan pusat perbelanjaan. Untuk jumlah gerbong KRL bisa mencapai hingga 20 gerbong. Namun di Indonesia maksimal 12 gerbong.

Sedangkan untuk MRT dan LRT, keduanya merupakan bagian dari sistem angkutan cepat massal yang lintasannya dibangun secara melayang (elevated) atau bawah tanah (underground). Karena sifat lintasan yang demikian, sehingga tidak akan ditemui lintasan sebidang. Hal inilah yang menjadi kelebihan keduanya karena bisa mencapai stasiun dengan stasiun lainnya dalam tempo lima menit. Selain itu, jalur keduanya merupakan jalur khusus yang tidak boleh dimasuki kereta antarkota, kereta lokal, dan barang. Apalagi keduanya tidak memakai jalur yang sudah ada, melainkan membangun jalur yang baru. Ini semua karena keduanya dikhususkan mempunyai sifat frekuensi angkut yang cepat, dan tidak seperti KRL yang lambat. Baik MRT maupun LRT, harus dialiri listrik. Sedangkan kereta komuter, dengan KRL di dalamnya, ada juga yang bermesin diesel atau KRD seperti yang banyak ditemui di luar Jabodetabek. Untuk area operasi, keduanya sebatas di wilayah urban alias tidak mencapai suburban. Karena itu, jumlah lintasannya maksimal 20-40 km. Perbedaan lainnya dengan KRL atau kereta komuter, keduanya dibangun berdasarkan dekat dengan tempat perbelanjaan, properti, dan pusat keuangan sehingga boleh dikatakan terencana dan mendetail. Namun untuk gerbong, baik MRT maupun LRT mempunyai perbedaan. MRT bisa seperti KRL dengan jumlah 6-8 gerbong sedangkan LRT hanya tiga gerbong sehubungan dengan jumlah penumpang yang diangkutnya maksimal 628 orang. Kecepatan keduanya demikian. MRT 60-80 km/jam, LRT 30-60 km/jam. Untuk LRT, ia adalah model peningkatan dari trem.

Nah, itulah beberapa perbedaan antara KRL, MRT, dan LRT. Tulisan saya ini sebenarnya bukan tergolong baru mengingat sudah ada banyak tulisan semacam ini. Namun saya cuma menambahkan dari beberapa sumber yang saya baca. Dengan demikian, perbedaan ini tidak akan membuat orang salah kaprah dan sebut antara ketiganya hanya karena sama-sama dijalankan di atas rel.



 
 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran