Pages

Selasa, 03 April 2018

Nippon Sharyo dan Kereta-kereta Komuter Indonesia

SaukValley.com


Maret 2019, MRT Jakarta siap beroperasi. Transportasi angkut cepat massal berbasis kereta api yang digadang-gadang sebagai solusi untuk meminimalkan kemacetan parah di Jakarta merupakan transportasi massal pertama di Indonesia yang akan dioperasikan di jalur bawah tanah selain jalur layang. Dan, karena MRT Jakarta didanai dan dibantu oleh Jepang melalui JICA, wajar jika pengadaan manufaktur kereta api juga dari Negeri Sakura. Untuk MRT Jakarta yang bertindak sebagai manufaktur adalah Nippon Sharyo.
SocImage.com



Tentu para penggemar kereta api tidak asing dengan nama produsen kereta yang satu ini. Jauh sebelum menjadi manufaktur kereta MRT Jakarta, Nippon Sharyo terlebih dahulu sudah wira-wiri di dunia perkeretaapian di Indonesia, khususnya kereta komuter di Pulau Jawa. Sejak 1976, kereta-kereta yang diproduksi oleh perusahaan yang bermarkas di Nagoya, Jepang, ini hadir.

Bentuk kehadiran kereta-kereta Nippon Sharyo adalah pada KRL Rheostatik untuk KRL Jabodetabek. Kereta-kereta ini didatangkan untuk menggantikan kereta-kereta tua buatan Belanda seperti ES 3200 yang kerap terkenal dengan sebutan Bon Bon. Disebut Rheostatik karena KRL asal Jepang ini menggunakan teknologi rheostat atau potensiometer. KRL Rheostatik ini didatangkan sebanyak tiga gelombang dari 1976 hingga 1987, dan bukan kereta hibah seperti sekarang ini. Jadi, boleh dibilang mirip dengan MRT Jakarta yang dibuat langsung di pabriknya.


Pada 2013, KRL Rheostatik yang kala itu merupakan kereta komuter ekonomi dihentikan operasionalnya, dan digantikan oleh kereta-kereta Jepang yang lain namun merupakan hasil hibah, dan tetap buatan Nippon Sharyo seperti Tokyo Metro Seri 6000 dan 7000, serta yang terbaru, JR Seri 205. Kereta-kereta Nippon Sharyo generasi pertama bersama kereta-kereta buatan Hitachi dan Hyundai kemudian ditaruh dan ditumpuk di halaman dalam Stasiun Purwakarta, Jawa Barat.

Selain untuk KRL, Nippon Sharyo juga membuat untuk kereta diesel berupa MCW 301 dan 302. Pembuatan ini berdasarkan kenyataan di Indonedia pada 1976 belum seluruhnya mempunyai jalur listrik aliran atas termasuk di Jabodetabek. Jadilah kereta ini dioperasikan di daerah-daerah jalur non-listrik. Selain di Jabodetabek bukan relasi Jakarta-bogor, kereta diesel ini juga dioperasikan di Bandung Raya, Joglosemar, dan Gerbangkertosusilo. Hingga sekarang tercatat beberapa tempat masih mengoperasikan kereta ini yang untuk memaksimalkan performa harus dilakukan retrofit. Pada 2015 kereta ini direhabilitasi sebagai kereta klinik dan perpustakaan. Nippon Sharyo tercatat sudah memproduksi sebanyak 352 unit untuk kereta diesel yang punya ciri unik berupa dasi kupu-kupu di atas kaca kabin masinis.
Flickr


Sebenarnya dalam proyek-proyek pengerjaan kereta api komuter di Indonesia, kecuali MCW 301 dan 302, Nippon Sharyo tidak sendirian melakukannya. Perusahaan-perusahaan lain seperti Kawasaki, Hitachi, dan Kinki Sharyo juga melakukannya, dan ini sebagaimana kebiasaan produksi kereta api di Jepang yang selalu dikerjakan bareng-bareng. Namun nama Nippon Sharyo kadung terkenal sebagai produsen ternama kereta api di Jepang.
Flickr


Tak hanya di Jepang, perusahaan yang berdiri pada 1896 ini memang dalam perjalanan sejarahnya telah memproduksi begitu banyak kereta api yang mumpuni dan berkualitas. Mulai dari lokomotif di zaman Jepang menapaki modernisasi pada masa Meiji hingga beberapa Shinkansen seperti Shinkansen seri pertama atau Seri 0 yang diproduksi pada 1964. Selain itu, Nippon Sharyo mengerjakan produksi kereta-kereta api di seluruh dunia seperti di Argentina, Kanada, Venezuela, dan Taiwan. Bahkan untuk Taiwan perusahaan ini memproduksi kereta supercepat THSR 700T. Dan untuk pasar Amerika Serikat dan sekitarnya, Nippon Sharyo mendirikan anak perusahaan bernama Nippon Sharyo USA.
Jenis KRL


Untuk kawasan Asia Tenggara selain Indonesia, Nippon Sharyo juga memproduksi kereta-kereta untuk MRT Singapura dan LRT Manila. Dan, juga jika melihat sejarahnya di masa Perang Dunia Kedua, Nippon Sharyo turut terlibat dengan membuat lokomotif C56 31 yang merupakan lokomotif yang melintas di jalur kereta api Thailand-Myanmar. Jalur ini disebut sebagai jalur kematian karena kebanyakan para pekerjanya adalah tawanan perang Jepang dan para romusha yang bekerja dengan disiksa dan tanpa istirahat. Akibatnya, banyak korban jiwa berjatuhan. Lokomotif yang melintasi jalur ini sekarang tersimpan apik di Museum Perang Yasukuni, Tokyo.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran