Pages

Senin, 28 Februari 2022

Kenapa Barat dan Rusia Saling Takut Satu Sama Lain?

Friksi itu menegang lagi setelah adanya invasi terhadap Ukraina yang dilakukan Rusia. Seperti yang sudah-sudah terjadilah pertempuran urat syarat antara Barat dan Rusia sejak dahulu mulai dipanggungkan. Masing-masing mempunyai argumen dan ketakutannya sendiri sembari terus berupaya mengaktifkan perlindungan di sana-sini. Kondisi yang demikian pada akhirnya menyimpulkan bahwa Barat dan Rusia tidak akan bisa berjalan bersama dan beriringan. Mengapa?


Arab News

Bagi pihak Barat sendiri Rusia adalah gambaran yang menakutkan, simbol kekejaman akan penguasa yang haus darah dan kekuasaan yang mengorbankan banyak rakyat sipil. Kondisi yang demikian dinamakan dengan rusofobia atau ketakutan yang sebenarnya berlebihan terhadap Rusia mulai dari perilaku negara, budaya, dan orang-orangnya. Rusofobia sendiri mulai terlihat setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua atau ketika dunia sudah memasuki masa Perang Dingin. 

Gambaran yang menakutkan akan Rusia itu di Eropa lebih berpusat di Inggris. Sebagai Sekutu utama AS di Benua Biru, kekhawatiran akan Rusia sebenarnya mulai terlihat ketika Perang Dunia Kedua di Eropa berakhir pada 8 Mei 1945. Di saat semua negara Eropa merayakan Hari Kemenangan Eropa atas kekalahan Jerman ---yang juga diperingati Rusia-- Perdana Menteri Inggris kala itu, Winston Churchill, mulai mengingatkan kepada semua negara Barat bahwa akan datang ancaman dari Timur, yang tentu saja hal tersebut mengarah pada Rusia sebagai inti utama Uni Soviet.

Kekhawatiran ini sebenarnya cukup beralasan mengingat Churchill melihat Rusia di bawah pimpinan Josef Stalin merupakan sebuah negara yang tingkat kediktatoran dan kekejamannya melebihi Vladimir Lenin. Berita-berita kekejaman tentang Holodomor di Ukraina pada 1930-an juga menguatkan persepsi tersebut. Sebenarnya tidak ada niatan sama sekali bagi Churchill untuk mengajak serta Rusia dalam perang melawan Jerman. Namun karena Jerman masih terlalu kuat, dan AS menginginkan agar Rusia diajak serta supaya perang cepat diselesaikan, mau tidak mau terciptalah aliansi yang sifatnya setengah hati. Apalagi dalam kondisi di lapangan, AS, sekutu utama dan berharga Inggris, juga memberikan pinjaman berupa persenjataan kepada Rusia yang di awal-awal perang masih kalang kabut melawan Jerman.

Aliansi itu tentu saja menimbulkan tuntutan bahwa Rusia berhak juga mendapatkan kue kemenangan berupa Berlin bagian timur dan wilayah-wilayah Eropa Timur yang menjadi satelitnya di masa Perang Dingin. Hal yang tentu saja sudah memulai sebuah ketegangan pasca Perang dan ketakutan bagi Barat. Karena itu, memang tidaklah mengherankan jika Churchill berupaya melakukan sebuah operasi militer bernama Unthinkable untuk menghantam Rusia pada Juni 1945 namun urung dilakukan karena faktor AS.

Ketakutan pada Rusia yang berlebihan itu juga diperkuat oleh gambaran-gambaran di media Inggris. Dari Inggrislah ketakutan akhirnya menyebar ke negara-negara Barat lainnya bahkan ke Jerman yang ditaklukkan hingga kemudian dibagi dua, Jerman Barat dan Jerman Timur, hanya untuk mengakomodasi ketakutan dan memberikan kompromi antara dua pihak yang saling bersitegang.

Ketakutan akan Rusia ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama yang dimulai pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19 ketika Kekaisaran Swedia dan Prancis Napoleon secara sepihak memulai peperangan dengan Rusia yang baru merintis menjadi sebuah kekuatan baru di Eropa di bawah pimpinan Peter yang Agung. Pada masa Peter inilah Rusia memulai sebuah gerakan geopolitik berupa politik air hangat, yaitu mencari pelabuhan yang tidak beku untuk menunjang aktivitas perekonomian mereka. Latar belakang adanya gerakan geopolitik ini karena kondisi Rusia yang terkepung oleh salju.

Gerakan ini tentu saja mengancam eksistensi kekuatan-kekuatan di Eropa yang terlebih dahulu ada seperti Kekaisaran Swedia dan Prancis yang pada akhirnya harus mengaku kalah serta menyerahkan beberapa wilayahnya ke Rusia. Begitu juga dengan Kekhalifahan Ustmaniyah yang beberapa kali harus bertempur dengan Rusia karena keinginan Rusia merebut wilayah-wilayah di sekitar Laut Hitam seperti Krimea yang merupakan wilayah strategis. Selain itu, Rusia berupaya mencari kekuasaan di Balkan dengan menyokong pemberontakan wilayah Balkan terhadap Ustmaniyah.

Dari situlah perlahan wilayah Kekaisaran Rusia terbentuk dan meluas. Inggris sebagai salah satu kekuatan besar di Eropa kala itu masih belum melihat urgensi ekspansi yang dilakukan Rusia berkaitan dengan politik air hangat. Karena itu, Inggris agak santai saja ketika Prancis menyerang Rusia, dan memang Rusia, selain juga Portugal, yang mendukung Inggris di tengah embargo dari Prancis. Bahkan Rusia juga diajak bertempur melawan Prancis dalam Perang Koalisi Keenam pada masa Perang Napoelon.

Akan tetapi Inggris mulai menyadari dan khawatir ketika Rusia mulai melebarkan sayap ekspansi ke wilayah-wilayah Utsmaniyah seperti Azerbaijan dan Georgia, mengambil beberapa wilayah Persia (Iran) dan ke wilayah Asia Tengah yang tentu jika dibiarkan dapat menyentuh India. Di sinilah Inggris mulai berancang-ancang harus menghadapi Rusia langsung yang pada akhirnya melalui sebuah negosiasi politik bernama The Great Game dengan Afghanistan sebagai penyangga.

Ketakutan akan Rusia ini pun akhirnya lestari selama berabad-abad bahkan pada masa Perang Dunia Pertama yang mau tidak mau Inggris harus bersekutu dengan Rusia dalam menghadapi Jerman hanya karena adanya pertalian saudara antara raja Inggris dan tsar Rusia. Ketakutan akan Rusia yang melanda negara-negara di Eropa bukan hanya karena sifat Rusia yang ekspansif namun juga karena Rusifikasi negara-negara yang diduduki. Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, Belarusia, Armenia, dan negara-negara tetangga Rusia lainnya mengalami hal yang demikian. Rusifikasi ini bersifat memaksa, dan karena itulah tidak mengherankan jika Finlandia di masa Perang Dunia Kedua bertempur di pihak Jerman melawan Rusia atau Ukraina yang sejak lepas dari Uni Soviet berusaha menghilangkan rusifikasi, yaitu dengan berpaling ke Barat dan menggalakkan bahasa Ukraina di Ukraina Timur yang pro-Rusia.

Jerman yang juga menyerang Rusia di Perang Dunia Kedua juga mempunyai alasan yang bisa dibenarkan menurut cara pandang mereka, yaitu menghancurkan kaum Bolshevik yang merupakan ancaman karena didirikan oleh orang-orang Yahudi, musuh besar dalam pandangan Adolf Hitler. Namun dibalik itu, Hitler sangat menginginkan ladang gas alam dan minyak bumi di Rusia sebagai penunjang Reich Ketiga.

Di masa sekarang ini ketakutan akan Rusia semakin bertambah karena faktor persenjataan nuklir serta Rusia adalah kekuatan militer kedua terbesar di dunia setelah AS. Hal-hal inilah yang membuat Barat selalu waspada ketika ada saja pemberitaan yang menyangkut militer Rusia dan Vladimir Putin.

Lalu bagaimana dengan Rusia terhadap Barat?

Rusia meskipun merupakan negara besar juga mempunyai ketakutan terhadap Barat yang dimulai dari masa Perang Dingin. Kala itu Josef Stalin sebagai pemimpin Uni Soviet menyadari bahwa ada yang tidak beres dalam pembagian wilayah antara Barat dan Rusia. Stalin menganggap pembagian yang didapat Rusia kala itu bisa memunculkan serangan mendadak Barat ke wilayahnya. Karena itu, Stalin meminta adanya negara-negara satelit untuk menyangga wilayah Rusia dan Barat. Ketika pihak Barat melancarkan bantuan Marshall Plan ke negara-negara Eropa yang terdampak perang di Eropa Barat, Rusia menganggap hal tersebut sebagai sebuah ancaman terselubung karena menilai dibalik bantuan AS sebagai pemberi bantuan berupaya mempersenjatai para sekutunya untuk bisa berperang melawan Rusia. 

Ketika AS dan sekutunya membentuk NATO pada 1949, Rusia juga membalasnya dengan membentuk Pakta Warsawa pada 1955 sebagai penangkal ancaman dengan beranggotakan para negara satelit penyangga yang tentu saja akan dapat menerima konsekuensi jika menyimpang. Karena itulah, tak mengherankan jika Rusia melakukan intervensi ke Hongaria pada 1956 dan Cekoslovakia pada 1968 karena adanya unsur-unsur nonkomunis yang membahayakan.

Pada masa awal terjadinya Perang Dunia Kedua, hal serupa dilakukan oleh Rusia ketika Jerman menyerang Polandia yang dianggap sebagai ancaman karena itu Rusia segera menginvasi Polandia Timur dan negara-negara Baltik untuk mengadang Jerman. Kedua pihak pun memang tidak saling menyerang sesuai dengan Pakta Non Agresi pada Agustus 1939 yang bertahan hingga 22 Juni 1941 karena pelanggaran sepihak Jerman.

Ketika Uni Soviet runtuh yang menandai berakhirnya Perang Dingin pada dekade awal 90-an, Rusia sebagai kekuatan inti harus merelakan wilayah-wilayah yang merupakan bagian Soviet memerdekakan diri menjadi negara-negara mulai dari negara-negara Baltik, Belarusia, Ukraina hingga negara-negara Asia Tengah. Sebenarnya Pemimpin Uni Soviet kala itu, Mikhail Gorbachev, tidak setuju karena hal ini dapat mengancam Rusia ke depannya namun pihak Barat berupaya meyakinkan Gorbachev apalagi NATO mengatakan bahwa tidak akan ada seinci pun perluasan keanggotaan ke Timur, yang akhirnya disetujui Gorbachev.

Ketika Uni Soviet runtuh, pandangan orang-orang Rusia terhadap AS sangat positif. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika AS dan sekutunya menyerang Serbia pada 1999 yang kala itu masih bernama Yugoslavia berkaitan dengan masalah Kosovo. Serbia sendiri merupakan sekutu setia Rusia hingga saat ini. Selain itu, NATO dianggap ingkar janji karena memperluas keanggotaan hingga ke Laut Baltik sehingga Rusia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada Ukraina sebagai garis merah karena secara geopolitik Ukraina adalah penyangga. 

Kebutuhan Rusia akan negara-negara penyangga lebih dikarenakan faktor historis negara tersebut yang pernah beberapa kali diserang kekuatan-kekuatan asing, yaitu Mongol, Swedia, Prancis, negara-negara Barat selepas Revolusi Bolshevik, dan Jerman. Karena itu, Rusia tidak mau hal-hal tersebut terulang. Dan inilah yang dianut Putin dan lingkaran sekitarnya saat memegang Rusia sekaligus mengembalikan hegemoni masa Uni Soviet.


Sabtu, 26 Februari 2022

Kala Prancis dan Jerman Invasi Rusia, Hasilnya?

Perang antara Rusia dan Ukraina pun terjadi. Pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mendeklarasikan operasi militer skala penuh di Ukraina Timur dengan dalih melindungi warga Ukraina pro Rusia yang berada di Donbass alih-alih berupaya mendisplinkan Ukraina yang mulai mengarah pada AS dan Sekutunya usai Victor Yanukovich, Presiden Ukraina yang sebelumnya dan pro Kremlin digulingkan melalui revolusi pada 2014, yang dibalas oleh Rusia dengan mencaplok Semenanjung Krimea.

Canva

Serangan tersebut tentu saja membuat dunia internasional bereaksi terutama AS dan sekutunya yang tergabung dalam NATO dan negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa. Mereka mengecam dan mengancam memberikan sanksi dan embargo ekonomi. Invasi juga berpengaruh pada bidang olahraga seperti dipindahkannya final Liga Champions musim 2021-2022 dari Saint-Petersburg, Rusia, ke Saint-Dennis di Prancis serta pembatalan GP F1 di Sirkuit Sochi, Rusia.

Banyak warganet yang tidak hanya mengecam tindakan Rusia ini, tetapi mempertanyakan tindakan AS dan Sekutunya yang diam saja. Ini tidak seperti janji-janji di awal yang menyatakan negara-negara Barat akan langsung membantu Ukraina jika diserang Rusia. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya AS dan Sekutunya takut menghadapi Rusia yang bukan lawan sembarangan karena jika ikut campur akan berimplikasi pada berkobarnya perang di Eropa juga merembet ke bagian dunia lain seperti Asia-Pasifik sehingga memunculkan Perang Dunia Ketiga.

Jika itu terjadi, perang kali ini bukan perang main-main karena setiap negara yang bertikai akan mengeluarkan kemampuan senjata nuklirnya. Baik Rusia, AS dan sekutu-sekutu Eropanya diketahui mempunyai hulu ledak nuklir, dan perang nuklir yang lebih merusak dan menakutkan daripada Perang Dunia Kedua dimulai. Hingga tulisan ini dibuat, AS dan Sekutunya yang tergabung dalam NATO masih berjaga-jaga di perbatasan negara anggota masing-masing, dan sejauh ini hanya mengirimkan bantuan persenjataan. Ketika ibu kota Ukraina, Kyiv, sudah hampir dalam genggaman Rusia, NATO menyatakan akan siap mengirim unit responsnya ke Ukraina. Namun sejauh ini juga, NATO masih berhati-hati akan tindakan mereka apalagi Rusia tidak akan segan-segan melancarkan balasan.

Kehati-hatian negara Barat dalam konflik Ukraina selain menyadari bahwa lawan yang dihadapi adalah lawan yang cukup berat, ketergantungan negara-negara Eropa akan sumber daya alam Rusia berupa gas, juga memang peristiwa traumatis yang pernah menimpa dua negara besar NATO dan Eropa, Prancis dan Jerman.

Kedua negara besar di Eropa Barat ini diketahui memang mempunyai ketergantungan gas alam dari Rusia. Prancis mempunyai ketergantungan seperempat dari kebutuhan nasional mereka, dan Jerman setengahnya. Untuk kasus Jerman tidak perlu heran karena negara tetangga Belanda memang memasang pipa gas langsung dari Rusia ke kawasan Lembah Ruhr. Tak hanya itu, Jerman juga memasang gas langsung dari Negeri Beruang Merah via laut Baltik, yang karena invasi Rusia ke Ukraina, negara pusat otomotif Eropa itu langsung memutus kontrak dengan Rusia. Karena itu juga, tak mengherankan jika Gazprom, perusahaan gas terbesar asal Rusia, punya cabang khusus di Jerman.

Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina, beberapa minggu sebelum invasi Rusia menyatakan bahwa ada negara NATO yang tampak setengah hati mendukung Ukraina dari ancaman Rusia daripada negara-negara NATO lain termasuk di kawasan Baltik. Kemungkinan besar hal itu mengarah pada Jerman.

Lalu mengapa Prancis dan Jerman punya pengalaman traumatis berhadapan dengan Rusia? Jawaban untuk hal tersebut bisa kita lihat pada perilaku kedua negara di awal abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Demi Mengganyang Inggris

Prancis pada awal abad ke-19 adalah sebuah imperium terbesar di Eropa yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, seorang perwira keturunan Italia yang lahir di Korsika. Ketika itu wilayah imperium hampir mencapai Eropa Timur berbatasan dengan Kekhalifahan Ustmaniyah di Selatan dan Kekaisaran Rusia di Timur.

Dalam usahanya untuk menguasai Eropa, Prancis terjegal oleh Inggris di seberang Selat Channel. Negeri Albion ini memang saingan utama Prancis bahkan berani menentang kekuaksaan Napoleon yang bagaikan gurita karena sudah mencengkram seluruh Eropa. Inggris pun sebenarnya bisa berbangga hati ketika Prancis yang kuat di darat malah loyo di lautan. Hal itu terbukti pada Pertempuran Trafalgar yang dimenangkan Inggris.

Akibat kekalahan itulah, Prancis memutuskan mengembargo Inggris. Ketika hampir seluruh Eropa patuh pada putusan Napoleon karena kekuatan Le Grande Armeé, hanya Rusia yang tidak mau mematuhi, yang berakibat Napoleon memutuskan menggelar ekspedisi ke negara tersebut pada Juni 1812.

Prancis begitu percaya diri untuk bisa menghantam Rusia yang baru muncul di abad ke-18 sebagai sebuah negara baru yang tengah merintis sebagai kekuatan di Eropa melalui politik air hangat. Namun hal itu tak berlaku bagi Prancis yang memang merupakan kekuatan besar di Eropa kala itu sehingga sebanyak 612.000 pasukan digelar dan dibawa ke Rusia menyeberangi Sungai Neman di Belarusia.

Jumlah besar itu tentunya mempunyai komposisi dari Prancis dan negara-negara yang diduduki Prancis. Ketika tentara besar Napoleon itu akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Rusia, mereka langsung disambut perlawanan oleh Rusia di Smolensk yang dimenangkan oleh Prancis. Kemenangan itu semakin menabalkan Prancis untuk bisa menaklukkan Rusia dalam waktu cepat. 

Setelah pertempuran di Smolenks yang berakhir dengan taktik bumi hangus dari Rusia, Grande Armeé melanjutkan perjalanan ke pusat pemerintahan Rusia di Moskow. Di sinilah Prancis kembali menghadapi pertempuran di Borodino yang kembali dimenangkan Prancis. Tetapi lagi-lagi kemenangan yang sulit dicapai ditandai dengan mundurnya tentara Rusia. Hal ini kemudian membuat Napoleon memerintahkan pasukannya segera menuju Moskow.

Sayang, ketika Prancis berhasil sampai di Moskow, kota yang dijuluki Roma ketiga itu dalam keadaan terbakar dan kosong ditinggalkan penghuninya. Kondisi ini sendiri sebenarnya merupakan taktik yang dirancang oleh Kaisar Rusia, Alexander I bersama para jenderalnya terutama Mikhail Kutuzov.

Di sinilah sebenarnya bencana itu terjadi. Napoleon yang memasuki Moskow dan memutuskan tinggal di kota itu untuk menerima negosiasi dan penyerahan dari Rusia, mulai merasakan berbagai masalah yang ada seperti kurangnya pasokan logistik apalagi kala itu musim dingin mulai mengancam. Dan, benar saja musim dingin yang menyerang Rusia akhirnya hinggap di Grande Armeé. Dalam kondisi yang demikian pasukan Prancis yang awalnya begitu yakin akan kemenangan besar yang didapat di Rusia mulai mengendur mentalnya. Tak hanya kurangnya logistik untuk pasukan dan kuda-kuda kavaleri dan artileri, pasukan Prancis banyak yang menderita hipotermia akibat musim dingin ekstrem di Rusia, yang tentu lebih gila daripada di negara-negara Eropa Barat.

Kondisi yang demikian membuat Napoleon memutuskan meninggalkan Moskow kembali ke Prancis ke arah barat daya,  dan di saat inilah Rusia mulai melancarkan serangan-serangan balik via pertempuran terbuka dan serangan gerilya yang dilancarkan pasukan berkuda Kazaki (Cossack) dari Ukraina, yang menuntut kemerdekaan dari Polandia. Serangan-serangan balik yang dilancarkan Rusia ini pun sukses memukul mundur Prancis dari invasi yang berlangsung selama 5 bulan tersebut.

Kekalahan Prancis di Rusia seketika meruntuhkan citra Napoleon di Eropa. Akibat kekalahan itu, Prusia dan Austria memutuskan aliansi dan melawan balik Prancis bersama dengan Inggris dan Rusia dan negara-negara Eropa lain pada Perang Koalisi Keenam  di Leipzig 1813-1814 dan Koalisi Ketujuh di Waterloo pada 1815 yang mengakhiri Kekaisairan Prancis di Eropa selama-lamanya.

Terulang lagi

Kondisi yang pernah dialami Prancis di awal abad ke-19 rupanya tidak cukup menjadi pelajaran negara Eropa lainnya, Jerman, di pertengahan abad ke-20. Atas ambisi paham lebensraumnya yang berbalut dengan Naziisme, Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler memutuskan menyerang Rusia yang kala itu menjadi bagian Uni Soviet semenjak Revolusi Bolshevik. Keinginan menyerang Rusia ini memang merupakan obsesi Hitler yang cukup lama saat ia berada di tahanan karena tragedi Munich 1921, dan menulis Mein Kampf pada masa penahanannya tersebut.

Dalam Mein Kampf ia menyebut jika Rusia merupakan bangsa ras rendah atau untermensch karena sudah bercampur dengan Mongol dalam sejarahnya akibat invasi. Selain di Rusia dan wilayah Uni Soviet lainnya banyak sekali orang Yahudi yang harus dimusnahkan, yang ia tuding sebagai biang kerok kekalahan Jerman di Perang Dunia Pertama. Serangan ke Rusia yang disebut sebagai Operasi Barbarossa itu sebenarnya adalah untuk menguasai sumber daya alam seperti gas alam dan minyak bumi yang tentu saja sangat dibutuhkan oleh Jerman untuk menghidupi rakyatnya.

Serangan ke Rusia ini merupakan serangan Jerman secara sepihak membatalkan pakta non-agresi dengan Uni Soviet pada 1939, dan kegagalan Jerman menyerang dan menduduki Inggris via Operasi Singa Laut pada 1940. Awalnya, rencana Hitler ini ditentang para jenderalnya termasuk ahli tank, Heinz Guderian, karena menganggap operasi tidak menguntungkan sama sekali tetapi karena keras kepalanya sang diktator operasi itu akhirnya dilaksanakan dengan penuh kepercayaan diri Der Fuhrer.

Pada awalnya, Jerman memang bisa memenangkan pertempuran melawan tentara Soviet yang hanya mengandalkan serangan konvensional, yaitu menyerang dalam jumlah besar yang tentu saja menjadi santapan mudah senapan-senapan dan artileri Jerman. Beberapa kota di Uni Soviet hancur dan dikuasai seperti Kyiv dan Stalingrad yang tentu saja memudahkan jalan ke Moskow.

Dalam kondisi demikian Jerman tampak percaya diri akan bisa menaklukkan Uni Soviet dalam waktu cepat. Namun di saat itu pula pihak Soviet mulai memelajari keunggulan Jerman dan kelemahannya. Mereka memelajari taktik perang Jerman yang praktis dan dinamis serta membuat senjata berupa tank, roket, dan pesawat tempur yang bisa mengungguli Jerman. Selain itu, Soviet, terutama Rusia, memanfaatkan kondisi alam berupa hutan-hutan yang sangat luas dan misterius untuk menggiring Jerman ke dalamnya supaya bisa dihajar serta memanfaatkan kondisi musim dingin ekstrem yang membuat Jerman akhirnya menyerah dan malah diserang balik hingga ke Berlin pada 1945. Bantuan AS melalui lend leasing tentunya juga berpengaruh.

Pertempuran Jerman di wilayah Rusia itu menjadi pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia Kedua terutama di Stalingrad yang kini menjadi Volgograd di Rusia. Karena di sinilah kota ini hancur lebur dan paling banyak menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Karena itu, dalam sejarah Rusia, Stalingrad adalah simbol keberanian patrotik negara tersebut dalam melawan agresi Jerman. Kekalahan Jerman di Rusia pada Perang Dunia Kedua menjadi sebuah akhir dari Nazi Jerman yang begitu perkasa, dan membuat Adolf Hitler memutuskan bunuh diri.

Kesimpulan 

Jika memang mengacu pada peristiwa historis traumatis Prancis dan Jerman di masa silam, ada kemungkinan NATO akan tetap hati-hati menyikapi Rusia yang beraksi tanpa halangan di Ukraina. Hal ini juga yang mungkin membuat AS hati-hati untuk menyerang Rusia langsung sebab negara terbesar di Eropa dan dunia ini terkesan misterius. Sama misteriusnya dengan Vladimir Putin. Rusia bisa saja meluncurkan senjata-senjata aslinya yang tersembunyi di dalam hutan dan padang salju Siberia yang bahkan tidak bisa dideteksi melalui citra satelit dan radar. Hal ini bisa jadi sesuai anggapan bahwa senjata-senjata Rusia yang diekspor kemungkinan besar bukanlah yang asli melainkan kualitas palsu yang mendekati asli.


Jumat, 25 Februari 2022

Konflik Rusia-Ukraina dan Yang Kesekian di Eropa Timur

Perang itu akhirnya pecah juga. Rusia secara resmi meluncurkan operasi militer ke Ukraina pada Kamis pagi, 24 Februari 2022 waktu setempat dengan meluncurkan rudal-rudal ke kota-kota penting di Ukraina seperti ibu kota Kyiv, Kharkiv, Odessa, Dnipro, dan kota pelabuhan Mariupol.

AFP

Dalam sebuah siaran resminya, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan ke Ukraina sebagai reaksi untuk membela Donetsk dan Luhanks yang berada di wilayah Donbass, Ukraina Timur. Keduanya merupakan wilayah yang pro-Rusia sehingga memutskan melepaskan diri dari Ukraina.

Selain itu serangan bertujuan melindungi warga sipil dan mengeratkan kembali Rusia dan Ukraina dalam satu lingkaran pasca keruntuhan Uni Soviet dekade awal 90-an. Putin mengatakan bahwa bahwa Rusia dan Ukraina adalah satu nenek moyang dan satu pemerintahan. Hal yang dibantah oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy yang mengatakan bahwa memang Rusia dan Ukraina satu nenek moyang namun berbeda pemerintahan serta kultur dan sejarah.

Alasan sebenarnya Rusia menyerang Ukraina adalah untuk mendisplinkan tetangganya tersebut yang lebih condong ke Barat (AS dan Sekutunya) seusai Victor Yanukovich yang pro-Rusia digulingkan pada 2014 melalui sebuah revolusi. Putin yang melihat penggulingan tersebut menganggapnya sebagai sebuah ancaman besar karena sewaktu-waktu Ukraina yang pro-Barat bisa bergabung dengan NATO sejak pengajuan pada 2008.

Apabila hal yang demikian terjadi, Rusia bisa sangat terancam karena NATO yang dimotori AS dan Inggris akan mudah menempatkan pasukannya di Ukraina yang hanya berjarak sekitar 500 km dari Moskow. Dan, jika itu terjadi bukan tidak mungkin AS dan Sekutunya bisa kapan pun menyerang Rusia jika ada suatu konflik yang melibatkan Rusia.

Rusia sendiri tampaknya menoleransi ketika bekas negara pecahan Uni Soviet, yaitu Estonia, Latvia, dan Lithuania memutuskan bergabung ke NATO pada 2004. Namun, untuk Ukraina, Rusia tidak menoleransinya karena Ukraina mempunyai peran yang vital bagi geopolitik Beruang Merah selain juga kedekatan kultural kedua negara bersama dengan Belarusia yang sedari awal memang pro-Rusia.

Penyerangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina ini sebenarnya mirip dengan penyerangan yang dilakukan oleh negara tersebut ke negara tetangga lainnya, Georgia, pada 2008. Penyerangan dilakukan setelah adanya legitimasi terhadap dua wilayah Georgia yang pro Rusia, Ossetia dan Abkhazia, akibat pemerintahan Georgia pasca Uni Soviet pro ke Barat. Karena itulah, Rusia merasa perlu mendisplinkan Georgia apalagi negara transkontinental tersebut letaknya strategis dan merupakan jalur pipa gas dari Asia Tengah ke Rusia.

Penyerangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina mendatangkan banyak kecaman dan pemberian ancaman sanksi dan embargo ekonomi dari AS dan Sekutunya. Hingga sejauh ini, dari serangan yang menewaskan puluhan warga sipil dan 137 tentara Ukraina ini, pihak Barat melalui NATO hanya bisa menyuplai persenjataan ke Ukraina dan banyak negara NATO sejauh ini hanya dapat menahan para tentaranya di perbatasan masing-masing tanpa harus bertindak langsung karena dikhawatirkan akan membuat konflik meluas dan akhirnya menimbulkan Perang Dunia Ketiga yang bisa diwarnai dengan serangan senjata nuklir. Tentunya hal itu tak ingin diharapkan oleh seluruh warga dunia karena peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 saja sudah cukup mengerikan.

Eropa Timur yang Selalu Bergolak

Penyerangan Rusia atas Ukraina demi mengganti ke pemerintahan yang pro Rusia menandakan bahwa wilayah Eropa Timur sebenarnya jauh dari kata stabil terutama pasca Perang Dingin. Kita tentu ingat pada awal dekade 90-an terjadi perang besar-besaran di Semenanjung Balkan antara Yugoslavia dan bekas wilayahnya seperti Kroasia dan Bosnia. Konflik Balkan itu sendiri memakan banyak korban jiwa terutama ketika Bosnia diserang habis-habisan oleh Yugoslavia hingga membuat semua pihak termasuk Indonesia turun tangan untuk menyelesaikan konflik.

Kemudian pada dekade akhir 90-an terjadilah konflik di Kosovo karena Yugoslavia berulah lagi dengan memerangi Kosovo yang kebanyakan dihuni etnis Albania. Pada akhirnya, dari semua konflik itu Yugoslavia pun bubar dan menjadi banyak negara, yaitu Kroasia, Slovenia, Bosnia, Makedonia Utara, Montenegro, Serbia, dan Kosovo yang merdeka pada 2008.

Eropa Timur memang berbeda dari Eropa Barat yang selalu stabil dari politik, hukum, dan ekonomi bahkan sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Pada masa Perang Dingin Eropa Timur yang dianeksasi politik secara paksa oleh Uni Soviet tidak bisa berkutik sama sekali ketika kedua negara, Hungaria dan Cekoslovakia harus pasrah dihantam Uni Soviet pada 1956 dan 1968, menentang komunisme di negara tersebut yang dianggap oleh Uni Soviet sebagai ancaman.

Ketidakstabilan yang terjadi di Eropa Timur karena bentuk pemerintahan yang agak represif dan tidak terbuka seperti di Eropa Barat. Dalam hal ini juga mayoritas orang Eropa Timur berupaya menghilangkan hal-hal yang berbau Soviet di masa Perang Dingin karena itulah banyak negara Eropa Timur bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, yang sekali lagi dianggap oleh Rusia era Putin sebagai ancaman. Apalagi diketahui Rusia era Putin adalah Rusia yang masih terbelenggu oleh romantisme zaman Soviet.

Pada akhirnya konflik yang terjadi di Ukraina adalah konflik kesekian yang terjadi di Eropa Timur yang bahkan jika dirunut kembali terjadi sejak akhir abad ke-19 ketika Kekaisaran Rusia bersitegang dengan Kekhalifahan Ustmaniyah dalam perebutan wilayah di sekitar Laut Hitam yang banyak dimenangi oleh Rusia.


Jumat, 11 Februari 2022

Aliansi AS-Inggris: Musuh Menjadi Teman

AS-Inggris adalah kedua negara yang kerap kali muncul sebagai sebuah aliansi dalam setiap permasalahan internasional terutama yang berkaitan dengan keamanan. Aliansi ini termasuk aliansi yang cukup kuat dan sulit dibendung karena keduanya mempunyai pengaruh yang cukup besar terutama di PBB. Keduanya sama-sama menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan karena itu mempunyai hak veto dalam setiap permasalahan internasional termasuk konflik Israel-Palestina yang sekarang sedang berlangsung.

The Civil War

Selain masalah konflik Israel-Palestina, aliansi kedua negara yang dipisahkan oleh Samudra Atlantik itu sebelumnya sudah begitu terlihat dalam konflik-konflik yang dianggap mengancam kedaulatan kedua negara seperti di Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah dalam rangkaian perang melawan terorisme sejak Serangan 11 September 2001 di New York. Keduanya juga merupakan para pendiri NATO yang didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua untuk mengantisipasi kekuatan komunis yang dilancarkan Uni Soviet.

Bahkan pada masa Perang Dingin selain pembentukan NATO, AS-Inggris sering bahu-membahu bekerja sama untuk turun dalam setiap konflik yang dianggap memengaruhi kepentingan kedua negara terutama untuk memerangi komunis seperti Perang Korea, Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Pemberantasan Komunis di Semenanjung Malaya, Perang Sipil Yunani, dan konflik-konflik di Timur Tengah sebelum perang melawan terorisme seperti di Lebanon dan Irak dalam Perang Teluk pada awal 90-an.

Namun ternyata, Inggris tidak pernah ikut serta langsung dalam Perang Vietnam meski mendukung tindakan melawan komunisme secara lisan di Vietnam sebab hal itu ditolak langsung oleh PM Inggris, Harold Wilson, untuk menghindari kemarahan kaum kiri Inggris yang berada di Partai Buruh.

Aliansi AS-Inggris ini tidak hanya pada kerja sama militer namun pada ekonomi kedua negara. AS menganggap Inggris adalah partner ekonomi terpenting dan terbesar pada hubungan Trans-Atlantik kedua negara. Inggris pun demikian. Kesamaan budaya dan bahasa merupakan faktor-faktor terpenting kedua negara untuk selalu bekerja sama dalam hubungan spesial ini. Bahkan, Inggris menganggap hubungan dengan AS lebih bermakna daripada hubungan dengan negara-negara di daratan Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Italia. Karena itulah, Inggris enggan masuk Uni Eropa, dan baru masuk pada 1973 meskipun kemudian pada 2020 Inggris menyatakan keluar dari komunitas regional tersebut karena masalah kedaulatan ekonomi. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa semakin mengukuhkan aliansi kedua negara tersebut dalam ekonomi dan perdagangan.

Aliansi yang kelihatan begitu mesra, akrab, meskipun pernah ada celah karena ada ketidaksetujuan dari para pemimpinnya terhadap suatu hal konflik di Mesir pada 1956, Perang Vietnam, Perang Malvinas, dan Invasi AS ke Grenada, ternyata jika dirunut dari sejarah, keduanya merupakan musuh.

Hal ini bermula dari kemerdekaan AS dari Inggris pada 1776 yang dilanjutkan dengan perang kemerdekaan melawan Inggris oleh AS hingga Negeri Ratu Elizabeth itu mau mengakui kemerdekaan Negeri Paman Sam pada 1783 melalui Perjanjian Paris. Kedua negara kemudian terlibat perang lagi pada 1812 dikarenakan AS yang dianggap Inggris hendak meluaskan wilayah melalui ekspansi militer, dan menyinggung Kanada, salah satu jajahan Inggris di Amerika, dengan hasil yang imbang.

Ketika terjadi revolusi kemerdekaan di Amerika Selatan pada pertengahan abad ke-19, AS segera mengeluarkan Doktrin Monroe, yang berupaya mencegah berkuasanya kembali kekuatan kolonialis dan imprealis termasuk Inggris di negara-negara Amerika Selatan yang merdeka. AS dan Inggris kembali bergulat saat terjadinya Perang Saudara di AS pada 1861-1865. Diketahui Inggris membantu pihak Konfederasi atau Selatan dalam perang tersebut untuk melawan pihak Republik atau Utara.

Sampai akhir abad ke-19 kedua negara masih saja terlibat konflik bersenjata di perbatasan AS-Kanada dan di Cina pada 1859 saat Cina masih dalam kekuasaan Dinasti Manchu. Apalagi di akhir abad ini, AS tengah berupaya menjadi kolonialis baru dengan menguasai Filipina, Guam, Kuba, Puerto Riko, Hawaii, dan pulau-pulau kecil di Pasifik. Inggris sendiri saat itu masih menguasai beberapa wilayah jajahan di Afrika dan Asia, dan masih dianggap salah satu kekuatan kolonial terkuat selain Prancis namun perlahan mulai melemah setelah PD I dan PD II.

Namun keduanya kemudian berteman pada awal abad ke-20 saat AS memutuskan terjun ke Perang Dunia Pertama pada 1917 akibat kapal dagangnya diserang U-Boat Jerman di Samudra Atlantik. Sebelumnya AS memberikan bantuan militer pada negara-negara Eropa yang berperang di pihak Sekutu. Pada PD I, Inggris menyediakan tempat bagi pasukan AS yang hendak bertempur di Eropa, dan hal itu berlanjut lagi ketika PD II berkobar di Eropa. 

Meski awalnya netral, AS membantu Inggris dengan menyediakan para pilotnya bertarung di Pertempuran Britania melawan Jerman, dan ketika AS memutuskan terjun langsung ke pertempuran pada 1941 akibat serangan Jepang terhadap Pearl Harbor, AS langsung memberikan bantuan peralatan tempur kepada Inggris dalam program Lend-Lease. Bantuan ini tidak hanya diberikan kepada Inggris, tetapi juga kepada sekutu yang lain, Uni Soviet. Karena itu, tidak mengherankan jika kendaraan-kendaraan militer AS berseliweran bebas di kedua negara tersebut.

Kerja sama kedua negara di PD II terutama di front barat teater Eropa pada akhirnya berbuah cukup manis. Perang dimenangkan oleh keduanya, dan bersama-sama dengan Prancis, AS-Inggris mendapat jatah menduduki Jerman Barat sedangkan Soviet Jerman Timur. Pendudukan dan pembagian atas Jerman setelahnya memicu ketegangan urat syarat negara-negara yang bersekutu, AS dan Uni Soviet, dalam Perang Dingin hingga awal 90-an.

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran