Pages

Jumat, 21 Januari 2022

Antara Nusantara dan Brasilia: Suatu Kebetulan? Kenapa Bukan Indonesiana Saja?

Nama Nusantara seketika bergema saat pemerintah menyatakan bahwa nama sakral tersebut dijadikan sebagai nama untuk ibu kota baru yang berada di Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara.



Pro-kontra pun datang ketika nama tersebut dicanangkan. Dari segi makna penamaan Nusantara untuk ibu kota terkesan mereduksi makna Nusantara yang sesungguhnya, yang menyatakan bahwa nama tersebut adalah nama dahulu Indonesia, dan jika diperluas nama tersebut mengacu juga pada Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Madagaskar.

Karena penamaan itulah orang-orang Malaysia juga mempertanyakan maksud tersebut, dan menyatakan orang Indonesia overnationalism.

Dari segi bahasa juga penamaan Nusantara menimbulkan ambiguitas dan akhirnya perlu disambiguasi halaman untuk menyelesaikannya.

Hal yang demikian juga akan berpengaruh pada judul penulisan sejarah ibu kota baru tersebut beberapa puluh tahun mendatang sehingga jika Anda ingin menulis harus menambahkan kata 'kota' di depannya sehingga menjadi Sejarah Kota Nusantara 2024-2045 dan begitu seterusnya.

Dari segi historis pun juga terjadi penentangan dari sejarawan kontemporer seperti JJ Rizal yang menyatakan bahwa penamaan tersebut menandakan adanya dominasi njawani atau jawasentris sehingga tidak mencerminkan keindonesiaan yang diharapkan.

JJ Rizal sendiri mendasarkan argumentasinya ini pada Negarakertagama dan sumber-sumber lain yang mendukung. Namun hal tersebut dibantah oleh sejarawan lokal asal Samarinda, Muhammad Sarip.

Sejarawan yang banyak menulis sejarah Kalimantan Timur ini mendasarkannya pada Salasila Koetei yang menyatakan bahwa nama Nusantara adalah nama asli Kutai bukan Jawa.

Pihak pemerintah sendiri juga menolak anggapan njawani dalam penamaan Nusantara, dan menganggap nama ikonik dan historis mencirikan keindonesiaan yang diinginkan dari sebuah kota yang dibangun dana sekitar Rp 600-an trilyun ini.

Perdebatan ini memang tidak akan kunjung usai karena setiap pihak punya argumen masing-masing sebagai dasar kebenaran sehingga cara terbaik adalah mempertemukan para pihak yang silang pendapat untuk berbicara di depan publik, mempertanggungkan semua argumentasinya, dan setelah itu agar semuanya akur serta tidak memancangkan permusuhan sampai akhir hayat.

Terpengaruh Brasilia?

Ketika pemerintah mencanangkan bahwa ibu kota baru akan dipindahkan ke Kalimantan tepatnya di tengah hutan, seketika saya jadi teringat Brasilia yang berada di Brasil. Brasilia sendiri adalah ibu kota negeri tersebut.



Kota ini dibangun pada 1956-1960 di masa Brasil dipimpin oleh Presiden Juscelino Kubitschek untuk menggantikan ibu kota sebelumnya, Rio de Janeiro, yang sudah sangat padat dan sulit ditata. Letak Brasilia sendiri memang di tengah hutan Amazon, dan jaraknya sekitar 1.000-an kilometer dari Rio de Janeiro.

Pemilihan kota yang berada di tengah-tengah Brasil itu rupanya adalah keinginan Presiden Kubitschek untuk memenuhi undang-undang konstitusi negara tersebut pada 1891 yang menyatakan bahwa ibu kota harus dipindah ke tengah negara dengan nama Brasilia yang dipancangkan sejak 1822 ketika Brasil masih berbentuk kerajaannya Portugis.

Pemilihan nama Brasilia juga untuk mencirikan sesuatu yang bersifat "Brasil", yang memang nama Brazil sendiri adalah nama sebuah kayu, yaitu kayu Brasil atau Paubrasilia. Kayu ini memang banyak tumbuh di Brasil, dan menjadi flora nasional negara tersebut. Nama Brasilia dalam bahasa Spanyol juga bisa berarti dari Brasil.

Ibu kota yang pada 1987 ini dianugerahi City of Design oleh UNESCO karena karya-karya arsitekturalnya yang posmodern sempat dikunjungi Bung Karno pada 1959. Presiden pertama Indonesia itu terpukau oleh kota yang dirancang oleh Oscar Niemeyer tersebut, dan dijadikan sebagai landasan untuk membangun sebuah ibu kota baru.

Memang Bung Karno sendiri ingin memindahkan ibu kota ke Palangkaraya namun tidak jadi sehingga akhirnya karya-karya arsitektural yang terinspirasi dari Brasilia dibangun di Jakarta baru yang berada di Senayan dan Semanggi seperti Gedung MPR/DPR (dahulu Gedung CONEFO) dan Gedung Veteran yang sekarang menyatu dengan Plaza Semanggi.

Terinspirasinya Nusantara dari Brasilia menurut saya juga terlihat dari desainnya walapun memang kota-kota yang direncanakan atau planned city itu pasti mempunyai desain yang sudah tertata rapi dengan adanya bulevar. Hal itu bisa kita saksikan pada Washington D.C dan Canberra. 

Namun peletakan ibu kota baru di Kalimantan yang berada di tengah Indonesia, dan berada dalam hutan serta pengalaman empiris Bung Karno ke Brasilia menurut saya memang menginspirasikan hal tersebut.

Bukan yang terbesar

Ketika ibu kota mulai ada di Nusantara pada 2024 nanti jangan berharap kota dalam hutan Kalimantan yang konsepnya adalah Nagara Rimba Nusa ini akan menjadi kota terbesar. Nusantara yang luasnya 2.000-an kilometer persegi hanya akan berisikan gedung-gedung pemerintahan seperti istana kepresidenan, parlemen, kementerian, angkatan bersenjata, dan ruang-ruang publik yang luas dan didominasi hutan. 

Itu artinya Nusantara hanya akan menjadi kota pusat pemerintahan sementara pusat perdagangan tetap ada di Jakarta yang secara historis dan infrastruktur memang sepertinya akan tetap diberikan status khusus pasca tidak lagi jadi ibu kota.

Karena itu, jangan berharap ada keramaian seperti di Jakarta atau Bandung dan Surabaya sebab memang ini cuma berisi pemerintahan. Kasus-kasus yang sama juga terjadi pada Washington, Canberra, dan bahkan Brasilia sendiri. Tertatanya sebuah kota malah juga dapat menimbulkan kebosanan karena jarang ada sesuatu yang aktraktif dan dinamis selain hanya gedung-gedung dan jalan-jalan besar sehingga akan membuat kota tersebut sepi. Inilah yang terjadi pada Naypyidaw di Myanmar.

Itulah pendapat saya mengenai Nusantara yang memang terinspirasi dari Brasilia, dan seperti sebuah penegasan euforia melepaskan diri dari beban-beban arsitektur dan infrastruktur kolonial yang masih melekat kuat di Jakarta. Saya hanya berharap bahwa kota ini benar-benar bisa manusiawi dan memberdayakan para penduduk aslinya seperti orang Paser dan orang Balik supaya tidak seperti orang Betawi yang tersingkir di tempat sendiri.

Namun memang sekali lagi saya masih agak tidak sreg dengan nama Nusantara untuk sebuah kota padahal sudah banyak nama yang diajukan tetapi sekali lagi pemerintah punya alasan sendiri. Jika memang terinspirasi dari Brasilia seharusnya namanya Indonesiana saja. Bukan begitu?



 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran