Pages

Selasa, 26 April 2022

Abdi Dai Nippon

Angin malam bertiup begitu kencang. Menerbangkan debu, sampah, dan daun kering di jalanan tanpa permisi sama sekali kepada bulan yang ironisnya bersinar sangat terang dan keseluruhan. Tapi apa peduli orang pada situasi seperti ini ketika berbondong-bondong menaiki trem terakhir di Kramat ke Meester Cornelis. Mereka kebanyakan para pekerja yang baru saja menyelesaikan tugas hariannya hingga harus lembur.

Tirto.id

Dan, secepat mungkin mereka ingin menaiki trem agar bisa lekas beristirahat untuk mengisi energi karena esoknya akan beraktivitas lagi hingga Jumat atau Sabtu atau malah Minggu, hal yang sangat tidak beruntung bagi mereka yang harus bekerja tanpa libur sama sekali serta hanya bisa menggerutu. Tak jauh dari Kramat tepatnya di kawasan Paseban di sebuah rumah sedang duduk dua orang dalam sebuah ruangan yang sengaja dibuat remang di antara kerlap kerlipnya penerangan rumah dan jalan sekitarnya meskipun hanya beberapa, dan ini masuk wilayah perkampungan sebagai batas antara orang Belanda di Menteng dengan pribumi di sekitarnya.

Irawan, demikian salah satu nama yang duduk itu tengah menikmati isapan rokok di mulutnya yang 1-2 kali diembus lalu menghilang terbawa angin. Hal yang sama dilakukan oleh Rudiman. Keduanya sudah berada di dalam rumah tersebut tepatnya rumah Rudiman hampir 2 jam hanya untuk mendiskusikan masalah yang sangat serius. Ketika Rudiman yang sedang membaca buku di ruangan pribadinya kedatangan Irawan, ia segera melihat ke kanan kiri sampingnya untuk memastikan tidak ada yang mengikuti Irawan sama sekali. Mereka segera ke ruang pribadi Rudiman yang terletak di halaman belakang lalu sengaja meredupkan penerangan, dengan hanya memakai lampu tempel. Suasana perkampungan malam itu tidak begitu ramai, dan hanya terdengar suara jangkrik bersenandung tentang malam yang terang, berangin namun panas.

Pada awal pembicaraan, Rudiman segera memberikan kesimpulan mengenai masalah yang sedang dihadapi Irawan,

"Wan, saya cuma menyarankan, kamu sebaiknya pergi saja dari sini. Cari tempat yang aman daripada kamu diikuti terus oleh PID,"

Irawan yang mendengar kesimpulan Rudiman itu segera menyahut,

"Ya, inilah risiko perjuangan, kawan," ujarnya kemudian mulai mengambil batang rokok di kantungnya, menyalakan sembari menawarkan ke Rudiman yang tidak ditolak sama sekali, "Kaum imprealis itu memang akan selalu dan selalu menghancurkan upaya kita untuk bisa merdeka dari mereka. Tapi, saya juga memang sedang mempertimbangkan kembali ke Jepang. Terima kasih atas sarannya,"

Masalah yang dihadapi Irawan adalah ia dalam belakangan waktu sering dikuntit oleh para agen PID pemerintah kolonial Hindia-Belanda karena sepak terjangnya yang pro-Jepang. Irawan sendiri adalah seorang pekerja swasta di kawasan Senen di sebuah biro ekonomi. Ia sendiri lulusan sebuah universitas di Jepang, tepatnya Universitas Waseda. Di sanalah ia mengambil jurusan ekonomi. Ia mengambil kuliah di Jepang karena dorongan sang ayah yang sangat anti-kolonial serta terpukau oleh kemajuan cepat yang dialami Jepang hingga sejajar dengan negara-negara Barat. Sang ayah juga menyukai Jepang yang mampu mengalahkan Rusia pada perang tahun 1905, dan berulang kali itu selalu diceritakan kepada Irawan,

"Nak, coba kamu lihat Jepang. Lihat negara yang orangnya sama dengan kita. Mereka pendek dan makan nasi. Tapi, lihat mereka, Nak, lihat! Mereka sudah luar biasa maju. Ayah mau kamu suatu saat nanti belajar di Jepang. Serap ilmu mereka lalu praktikkan di sini supaya para Belanda itu hengkang dari sini,"

Karena terus-menerus itulah Irawan akhirnya terpengaruh oleh ucapan ayahnya. Ia berupaya memelajari Jepang, dan menyimpulkan bahwa negara 'serumpun' ini merupakan yang tempat yang tepat untuk belajar dan menempa nasionalisme yang sangat berguna untuk bisa mengusir penjajah. Karena dengan nasionalisme dan persatuan pula, Jepang bisa mengalahkan Cina dan Rusia.

Berbekal semangat nasionalisme dan antipenjajah yang tinggi itulah Irawan selepas lulus HBS langsung melanjutkan kuliah di Jepang pada 1934. Di sinilah ia mulai benar-benar terpengaruh oleh nasionalisme ala Jepang yang sangat tepat dipraktikkan di Indonesia. Di Jepang pula Irawan selalu menyatakan bahwa ia adalah orang Indonesia, dan bukan orang Hindia seperti yang tertera di paspornya.

Hal inilah yang membuat ia didekati oleh seorang mahasiswa di universitas yang sama bernama Jiro, yang selalu membeberkan mengenai pentingnya persatuan dan pan-Asianisme,

"Sebenarnya kuncinya cuma satu, kawan," kata Jiro suatu hari di sebuah taman rindang di area kampus saat musim gugur tiba, "bangsamu harus bersatu dan kuatkan paham nasionalisme dan patriotisme kalian. Dengan begitu, kamu bisa merdeka dan setara seperti kami! Lihatlah sekarang, Amerika, Inggris, tak lagi meremehkan Jepang!"

Dari Jirolah, Irawan sering diajak menghadiri pertemuan para pemuda nasionalis Jepang yang menginginkan Jepang untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme ke negara-negara Asia yang masih dijajah dan diperas oleh bangsa kulit putih. Dari pertemuan-pertemuan yang sering dihadiri ini, Irawan semakin terpengaruh dan sangat yakin mengenai Jepang yang dapat dianggap sebagai panutan. Ia pun mulai memelajari propaganda ala Jepang.

Tahun 1938, Irawan lulus kuliah, dan mulai kembali ke Indonesia. Namun kedatangan kembalinya bersama dengan seorang Jepang bernama Takeshi, seorang pemuda Jepang yang ditugaskan menemani Irawan ke Indonesia untuk menyebarkan propaganda Jepang sekaligus menjadi mata-mata. Adapun Takeshi adalah salah satu teman Jiro yang terhubung dengan Rikugun, dan kedatangannya juga untuk bekerja sebagai pegawai konsulat Jepang di Batavia.

Irawan sendiri juga mendapatkan tugas tersebut, tugas yang ia dapat beberapa bulan sebelum lulus. Adalah seorang perwira Rikugun bernama Otani yang memintanya karena terkesan dengan semangat nasionalisme Irawan,

"Irawan-san," kata Otani, " Jika Indonesia ingin merdeka dari Belanda, kami bisa membantu hal tersebut, dan tentunya kami juga perlu gambaran tentang negara Anda supaya bantuan kami bisa efektif,"

Itulah yang diungkapkan Otani yang kemudian bersedia menjadi mata-mata dan membantu menyebarkan propaganda ke orang-orang Indonesia. Beberapa hari selepas berlabuh di Tanjung Priok, ia mulai menjalankan aksi sembari melamar pekerjaan yang awalnya ia diterima di sebuah biro di kawasan Kali Pasir sebagai seorang analis data. Sayang, di perusahaan masa kerjanya sangat pendek oleh karena beberapa rekannnya yang kebanyakan orang Belanda tidak nyaman dengan sosoknya yang pro-Jepang yang berupaya memengaruhi para pribumi lain di kantor.

Hal inilah yang membuat ia dipanggil pemilik perusahaan lalu menegurnya,

"Kami meminta kepada Anda untuk tidak berorasi soal politik di kantor ini, dan mulai buang sifat pro-Jepangmu Anda tersebut. Apa Anda tidak tahu bahwa mereka bangsa yang kejam? Lihat Shanghai dan Nanjing contohnya!"

Irawan jelas tidak menerima anggapan tersebut. Ia langsung bereaksi,

"Kejam? Kekejaman itu tidak sebanding dengan bangsa tuan kepada kami selama beratus tahun! Tuan sudah membudaki kami dan memeras semua sumber daya kami! Ingat, Tuan, sudah saatnya kami merdeka!"

Si pemilik perusahaan terkejut namun tak memberikan reaksi sama sekali. Irawan segera membalikkan badan dan meninggalkan ruangan. Setelah itu, ia semakin gencar berorasi dan berpropaganda tentang Jepang sekaligus mengamati setiap situasi yang ia laporkan secara tertulis ke konsulat Jepang setiap minggunya. Hingga akhirnya datanglah surat pemecatan dirinya karena si pemilik perusahaan sudah gerah.

Namun ia tidak merasa itu masalah. Tak perlu waktu lama ia mendapatkan pekerjaan kembali di sebuah biro yang untungnya semua pegawainya adalah orang Indonesia. Hal yang demikian tentu sangat memudahkan dirinya untuk berpropaganda. Rata-rata orang di kantornya cukup antusias begitu juga pemilik perusahaan lalu beranggapan bahwa Jepang suatu saat akan datang untuk mengusir Belanda lalu membantu kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi, propagandanya ini sempat mendapat tantangan dari salah seorang pegawai bernama Rusdi yang baru masuk beberapa minggu.

"Kau selalu menganggap Jepang itu terbaik, nasionalisme Jepang itu bagus untuk semua negara di Asia yang terjajah. Sayang, itu semua omong kosong! Dibalik itu semua ada kekejaman mereka terhadap rakyatnya sendiri terutama kaum sosialis! Kau jangan pura-pura tidak tahu soal insiden tahun 1923, dan yang sekarang ada di Cina! Jepang itu kejam! Jangan percaya pada negara brengsek ini!"

Irawan tentu saja menerima anggapan seperti itu,

"Yang kau katakan itu tidak benar! Apa ada bukti soal demikian. Toh, yang dilakukan Jepang justru untuk membantu ketertiban. Kau pasti orang sosialis ya atau komunis dari cara bicaramu? Dasar, pengikut Stalin! Diktatormu itu justru yang kejam! Kalian, kaum Bolshevik, selalu berbicara atas nama rakyat dan keadilan! Tapi apa buktinya? Rakyat yang kalian agung-agungkan kalian siksa dan habisi! Darah selalu ada sejak Bolshevik ada, dan Holodomor adalah bukti bahwa kalian bukan manusia. Apalagi Stalin!"

Rusdi yang mendengar hal itu segera mendidih dirinya,

"Kurang ajar!" Ia berusaha mencengkeram dan menghajar Irawan namun keburu dilerai rekan-rekan kantor yang lain. Dalam keadaan demikian Irawan dibela oleh banyak rekan sekantornya termasuk juga pemilik perusahaan. Mereka menganggap Rusdi sebagai pengacau. Karena merasakan ketidakadilan keesokan harinya ia keluar dari perusahaan sambil memendam dendam. Belakangan diketahui bahwa ia simpatisan komunis, dan sudah 5 tahun menjadi komunis serta bergabung dengan partai komunis.

Irawan yang kemudian tidak ada lawan makin gencar berpropaganda dan melakukan kegiatan mata-mata. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran pemerintah kolonial yang lalu meminta PID untuk mengawasinya karena berbahaya.

***

Atas saran dari Rudiman dan melalui pertimbangan yang matang, Irawan lalu meminta tolong Konsulat Jepang untuk membawanya kembali ke Jepang karena kondisi keamanan yang ia alami. Ia merasa tidak nyaman dikuntit PID yang selalu ada setiap waktu terutama saat ke kantor. Konsulat Jepang menyanggupi keinginannya, dan dengan ditemani oleh Takeshi serta 2 pegawai konsulat lain, mereka menemaninya ke Tanjung Priok. Saat itu 1939, dan Jerman baru saja melancarkan serangan ke Polandia,

"Kau lihat, Irawan-san, "kata Takeshi kepadanya di dalam sebuah mobil yang mengantar ke Tanjung Priok, "Jerman sudah berperang. Selanjutnya, Jepang, dan kami akan datang ke sini dalam jumlah banyak untuk mengusir orang-orang Belanda!" Tatapan Takeshi mengarah ke luar ke arah orang-orang Belanda yang sedang lalu-lalang.

***

Sebuah ketukan pintu terdengar. Rudiman yang mendengarnya segera ke depan lalu membuka pintu. Dilihatnya ada seorang berpakaian militer Jepang namun berwajah Indonesia, dan wajah itu sangat akrab. Alangkah terkejutnya ia itu adalah Irawan. Mereka segera berpelukan.

"Kau jadi militer Jepang?" Tanya Rudiman terkejut.

"Iya, dan saya di bagian penerjemah. Jadi, di sini akan membantu para perwira Jepang saat berbicara dengan orang-orang kita,"

Setelah kembali ke Jepang pada 1939, atas ajakan Jiro, Irawan masuk militer Jepang untuk kemudian dilatih dan dididik nasionalisme ala Jepang kemudian dijadikan sebagai penerjemah. Ketika Jepang mulai berperang melawan Amerika lewat serangan mendadak di Pearl Harbor, ia mulai diikutsertakan untuk mendarat di Indonesia pada Maret 1942 sehari setelah Batavia jatuh, dan tak lama kemudian setelah mendarat ia kunjungi Rudiman. Sepanjang perjalanan menuju rumah Rudiman, ia perhatikan banyak orang Belanda yang bersembunyi di balik jendela rumah, dan melihat sorak sorai orang-orang Jerman yang mengibarkan bendera Nazi.

"Saya masih ada waktu bebas sampai hari ini, "kata Irawan, "Jika berkenan, nanti sore datanglah ke markas saya di Senen. Kita akan bicarakan masa depan negara kita dengan bantuan Jepang,"

"Baik, saya bersedia," jawab Rudiman yang kemudian dibalas ucapan arigato gozaimasu sembari menunduk oleh Irawan. Setelah itu ia berbalik, dan segera berjalan menuju ke sebuah kendaraan lalu ke luar kampung ke arah Kramat. Rudiman yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala tidak menyangka.



Kamis, 31 Maret 2022

Orang Korea dan Taiwan di Tentara Kekaisaran Jepang

Jepang yang bertempur di Perang Dunia Kedua tidak melulu mengerahkan orang-orang 'asli'nya untuk melawan musuh di banyak palagan. Meniru negara-negara Eropa, Jepang juga mengerahkan tentara dari wilayah kolonialnya, Korea dan Taiwan. Keberadaan tentara dari negara jajahan ini untuk membantu upaya Jepang memenangkan setiap pertempuran di Perang Dunia Kedua di Pasifik yang prolognya dimulai dari Cina hingga kemudian membesar Ke Pearl Harbor dan berakhir menyakitkan di Hiroshima dan Nagasaki.


Korea

Semenjak 1910 Jepang mulai menguasai Korea. Keadaan ini berlangsung hingga 1945. Berkuasanya Jepang pada negara tetangga di seberang lautan ini karena adanya perjanjian mengikat antara Kekaisaran Jepang dan Kekaisaran Korea pada 1910 yang menyetujui aneksasi Jepang terhadap Korea sebagai lanjutan dari perjanjian-perjanjian sebelumnya yang menyatakan Korea adalah protektorat Jepang (1905) dan mulai kehilangan haknya dalam administrasi dalam negeri (1907).

Adapun keinginan Jepang sendiri menguasai Korea adalah sebagai jalan utama menuju Cina serta untuk mendapatkan sumber daya alam yang diperlukan untuk keperluan ekonomi Jepang pasca Restorasi Meiji di abad ke-19. Jepang sebenarnya setelah Restorasi Meiji sudah mulai mengadakan perjanjian dengan Korea pada 1876 sebagai perjanjian ekonomi dan perdagangan kedua negara termasuk impor makanan dan sejumlah bahan baku dari Korea. 

Karena itulah, ketika terjadi peperangan dengan Cina pada 1894-1895, Jepang segera harus mengamankan Korea yang memang jadi rebutan antara negara tersebut dan Cina. Ketika perang dimenangkan Jepang, negara ini mulai mempersiapkan diri menguasai Korea tahap demi tahap hingga nantinya bisa menguasai Cina yang kemudian terjadi mulai 1931 melalui Insiden Mukden dan peperangan pada 1937 hingga 1945.

Penguasaan Jepang terhadap negara-negara tetangganya lebih karena kebutuhan ekonomi karena Jepang setelah Restorasi Meiji mulai menjadi negara industri tapi miskin sumber daya alam. Berkuasanya Jepang di Korea selama 35 tahun ditandai oleh banyak kekerasan dan kekejaman terhadap orang Korea yang dipaksa menghilangkan identitas Koreanya melalui japanisasi dari nama, bahasa, dan lainnya, dengan alasan asimilasi. Bahkan kekejaman itu juga dilakukan oleh orang-orang Korea yang menjadi aparat Jepang. Peristiwa kekejaman Jepang itu paling besar terlihat pada demonstrasi kemerdekaan 1 Maret 1919, sebuah demonstrasi damai yang ditanggapi dengan penembakan, pembunuhan, dan penangkapan para peserta demo.

Tak hanya di tanah Korea, kekejaman Jepang juga terlihat pada pembantaian sejumlah orang Korea di Negeri Matahari Terbit tahun 1923 hanya karena secara mengada-ngada dianggap sebagai dalang onar dalam peristiwa gempa bumi yang terjadi sebelum pembantaian. Diperkirakan terdapat 6.000 orang Korea menjadi korban "berita palsu" yang dilancarkan pemerintah Jepang dan dieksekusi para milisi. Selain orang Korea, para sosialis dan komunis Jepang turut jadi korban karena dianggap sebagai musuh dalam selimut.

Ketika Jepang mulai berperang dengan Cina, baik dengan nasionalis dan komunis, dikeluarkanlah undang-undang mobilisasi nasional pada 1938 yang mengharuskan orang Jepang untuk wajib bertempur membela negara dalam perang di Cina. Peraturan ini juga berlaku bagi orang-orang Korea yang wajib masuk ketentaraan Jepang serta bersumpah setia atas nama Kaisar. Tak hanya pengerahan menjadi tentara, banyak orang Korea yang dikerahkan menjadi jugun ianfu dan pekerja paksa di tambang-tambang industri Jepang ---banyak dari mereka yang tewas selama pengeboman Sekutu pada 1945 di daratan Jepang.

Sebanyak 110.000 orang Korea tercatat sebagai tentara Jepang di Perang Dunia Kedua. Kebanyakan orang Korea ini ditempatkan di Manchuria atau Guangdong yang secara geografis lebih dekat dari Semenanjung Korea. Mereka pun menjadi bagian dari Tentara Kwantung, dan ikut berperang dengan Jepang melawan Uni Soviet pada pertempuran di Khalkin Gol (1939) selain tentu juga tugas utamanya adalah melawan gerilyawan komunis. Adapun orang-orang Korea ini di Tentara Kwantung ini ditempatkan dalam Unit Khusus Gando.

Ketika Perang Dunia Pecah, mulai banyak lagi orang Korea yang dikerahkan dalam Angkatan Kekaisaran. Tak hanya di pasukan darat, tetapi juga di pasukan laut, dan bahkan beberapa menjadi penerbang Kamikaze. Banyaknya orang Korea ini jelas terlihat pada pertempuran di Tarawa 1943 yang merupakan pertempuran paling berdarah di teater Pasifik Perang Dunia Kedua. Karena di sinilah marinir AS harus mati-matian menghadapi kegigihan orang-orang Korea dalam ketentaraan Jepang. Pertempuran itu sendiri berakhir dengan kemenangan AS, dan jumlah korban di kedua belah pihak mencapai 6.400 orang.

Orang Korea yang menjadi tentara Jepang juga tidak di bagian bawah saja namun beberapa menjadi perwira. Sebut saja Yi Un, putera mahkota Korea yang menyandang pangkat Letnan Jenderal, Pangeran Yi Geon dan Yi Wu yang menjabat sebagai kapten. Di luar istana, terdapat nama Hong Sa-ik, Letnan Jenderal dengan nama Jepang Shiyoku Ko yang didakwa melakukan kejahatan perang di Filipina Selatan pada 1944-1955. Selanjutnya ada nama Park Chung-hee yang menjabat sebagai Letnan di Manchuria, dan kemudian menjadi Presiden ketiga Korea Selatan. Anaknya, Park Gyun-hee, mengikuti jejaknya menjadi presiden.

Selain para perwira tinggi, tentu ada juga orang Korea yang tidak hanya bekerja untuk Jepang namun juga bekerja untuk negara lainnya dalam Perang Dunia Kedua. Ia adalah Yang Kyungjong yang awalnya adalah bagian dari Tentara Kwantung kemudian menjadi tentara Merah Ini Soviet, dan setelah itu bertarung untuk Nazi Jerman di bagian Ostlegionen. Ia sendiri tertangkap oleh Sekutu pada Pendaratan di Normandia 6 Juni 1944. Kisahya yang terbilang unik kemudian menjadi inspirasi untuk film My Way (2011).

Kisah menjadi tentara negara lain oleh orang Korea juga pernah terjadi di Indonesia tepatnya di masa Revolusi Kemerdekaan setelah Proklamasi. Adalah Yang Chil-seong, orang Korea yang berada di ketentaraan Jepang dengan nama Jepang Tanagawa. Ia bersama rekan-rekannya orang Jepang menolak menyerah pada Sekutu serta kembali ke Jepang kemudian beralih membela Indonesia dengan menjadi bagian dari tentara Republik di Garut, Jawa Barat, untuk melawan Belanda, dan kemudian berhasil ditangkap dan dieksekusi oleh Belanda pada Agustus 1949. Kisahnya sempat menjadi dokumenter di salah satu televisi Korea.

Setelah Jepang menyerah kemudian meninggalkan Korea, banyak dari orang Korea ini kemudian tetap melanjutkan karier kemiliterannya di Korea Selatan dan Utara, dan terlibat dalam Perang Korea.

Taiwan

Untuk Taiwan, periode penjajahan Jepang di negara pulau tersebut cukup lama, yaitu dimulai pada 1895 sejak ditandatanganinya Perjanjian Shimonoseki yang mengakhiri konflik antara Cina dan Jepang. Dengan demikian, Cina harus menyerahkan Taiwan kepada Jepang, dan menjadi koloni pertama Jepang setelah Restorasi Meiji.

Sama seperti di Korea, Jepang juga melakukan banyak kekerasan dan kekejaman. Tidak hanya kepada etnis Cina namun juga kepada suku asli Taiwan. Terdapat peristiwa paling besar di Taiwan yang terjadi pada 1930 tepatnya di Wushe antara suku Seediq pimpinan Mona Rudao melawan pemerintah Jepang. Mona Rudao yang setelah insiden terus melakukan perlawanan terhadap Jepang kemudian bunuh diri saat hendak ditangkap, oleh orang Taiwan dianggap sebagai pahlawan, dan namanya cukup populer bahkan kemudian difilmkan dalam film arahan John Woo, Warriors of The Rainbow (2011).

Orang Taiwan sendiri mulai masuk ketentaraan Jepang pada 1937 ketika berkobarnya Perang Cina-Jepang Kedua yang ditandai dengan jatuhnya sejumlah kota penting di Cina seperti Shanghai, Nanjing, dan Beijing. Pada umumnya mereka direkrut menjadi penerjemah dalam berbagai bahasa seperti Min, Kanton, dan Mandarin untuk penghubung ke kemiliteran Jepang.

Ketika Perang Dunia Kedua pecah di Pasifik, pemerintah Jepang mulai merekrut orang banyak orang Taiwan sebagai tentara lapangan, baik di Kaigun dan Rikugun, untuk kemudian bertarung melawan musuh-musuh Jepang. Tentu saja yang direkrut tidak hanya etnis Cina, namun juga para penduduk asli seperti yang ditunjukkan oleh Sukarelawan Takasago yang memang kebanyakan direkrut dari para suku aborigin Taiwan. Fungsi sukarelawan ini bermacam-macam mulai dari perang langsung di lapangan hingga aksi bunuh diri. Mereka dipilih karena memang punya kemampuan yang bagus di kondisi hutan tropis dan sub tropis yang dominan menjadi medan pertempuran di Perang Pasifik terutama di teater Asia Tenggara.

Salah satu prajurit yang terkenal dari Sukarelawan Takasago ini adalah Teruo Nakamura yang berasal dari suku Amis, dan mempunyai nama asli Attun Palalin. Ia terkenal karena baru menyerah pada tahun 1974 tepatnya di Kepulauan Morotai, Maluku, setelah 29 tahun bersembunyi dari sejak menyerahnya Jepang pada Agustus 1945. 

Sedangkan dari etnis Cina sendiri ada Lee Teng-hui yang di kemudian hari menjadi Presiden Taiwan dari 1988 hingga 2000. Total selama Perang Dunia Kedua terdapat 207.183 orang Taiwan di ketentaraan Jepang.

Kejahatan perang

Orang Korea dan Taiwan di dalam ketentaraan Jepang juga tidak bisa lepas dari kejahatan perang selama beraksi. Banyak dari mereka yang didakwa sebagai penjahat perang kelas B atau C yang menandakan kejahatan itu dilakukan di lapangan. Salah satu yang terkenal adalah Hong Sa-ik. Banyak saksi mata dari Sekutu yang mengatakan bahwa orang Korea disebut lebih galak dan kejam daripada orang Jepang, bahkan lebih bersemangat dalam pertempuran. Begitu juga orang Taiwan yang ditunjukkan oleh Sukarelawan Takasago. Pada akhirnya para penjahat perang dari orang-orang beda negara ini diabadikan di Kuil Yasukuni.

Rabu, 30 Maret 2022

Di Antara Rayuan Matahari dan Tangisan Giok

Tiba-tiba ia menangis padaku. Air matanya perlahan keluar disertai dengan suara yang sesenggukan. Raut wajah itu mengguratkan kepedihan. Aku yang melihatnya jujur terkejut. Aku berusaha untuk mendekap dan menenangkannya. Namun tangannya segera menolakku. Aku pun terdiam.


Quora

Air mata mengalir tepat di wajah putih dan sipitnya. Ia yang menangis menengadahkan kepala ke atas kemudian segera mengambil tisu di tempat tisu di dekatnya, dan menyekanya perlahan masih dengan nada yang sesenggukan. Ia lalu melihat padaku. Tatapannya tajam menyiratkan rasa tidak suka padaku.

"Kamu memang tidak akan bisa mengerti karena kamu tidak akan mengalami,"

Itulah sebaris kata yang keluar dari mulutnya. Ia lalu mengambil sebatang rokok baru di meja samping kemudian menyalakan korek pada rokok, mengisap, dan mengembusnya.

"Maafkan aku, Mei, aku tidak bermaksud untuk pro pada Kenichi. Aku hanya ingin kamu tidak berprasangka saja pada orang yang niatnya baik,"

Itulah kata-kataku yang yang kukeluarkan karena aku merasa wanita di depanku ini, Mei-Ling, sudah bisa menenangkan dirinya dengan merokok.

"Kamu terlalu polos, Didiek," ujar Mei setelah aku berkata. Ia sepertinya masih menilai bahwa aku memang tidak paham terhadap seseorang yang bernama Kenichi, seorang fotografer keliling yang aku kenal di sebuah pesta beberapa bulan yang lalu jauh sebelum Mei Ling datang.

"Ada baiknya aku dengarkan saja Frederik. Pikirannya sama denganku," ujar Mei-Ling kemudian tanpa basa-basi segera meninggalkanku. Aku hanya diam. Tak berusaha mengejar. Membiarkan saja karena tahu rasanya percuma mengejar seorang wanita yang seperti itu kondisinya. Aku kemudian menatap pada langit-langit rumahku, dan langsung melayangkan pikiran pada kejadian sebelum hal ini terjadi.

***

Beberapa bulan yang lalu tepatnya Juni 1941 aku datang ke pesta temanku yang berada di kawasan Oranje Boulevard, Menteng. Temanku ini bernama Willem, seorang Indo. Bapaknya Belanda, ibunya Minahasa-Ambon. Pesta yang diadakan ini adalah pesta ulang tahunnya. Aku yang kebetulan sudah lama mengenal Willem di bangku sekolah tentu saja hadir sembari memberi hadiah dan harapan pada Willem yang kala itu hendak berusia 25 tahun namun belum mendapatkan jodoh seperti halnya diriku.

"Aku sedang tidak mau memikirkan hal itu, kawan. Sedang ingin bersenang-senang. Kau juga kan?" Begitulah kata-katanya kalau ditanya masalah tersebut. Willem adalah seorang arsitek, dan ia lulusan Sekolah Teknik di Bandung. Sedangkan aku? Aku lulusan hukum di sekolah hukum Batavia, dan sehari-hari bekerja sebagai notaris muda di sebuah firma hukum di Kramat.

Sewaktu pesta itulah aku mendapatkan bahwa Willem menyewa seorang juru foto keliling bernama Kenichi Fukuyama. Asalnya dari Jepang, dan sudah selama setahun lebih tinggal di Hindia. Sewaktu aku dikenalkan oleh Willem ke orang Jepang ini, ia mengaku tinggal di kawasan Kramat namun lebih dekat ke Senen. Aku perhatikan bahasa Belanda dan Indonesianya cukup lancar. 

Ya, aku sendiri soal bahasa akan lebih menyebutnya Indonesia bukan Melayu karena itu lebih menunjukkan identitas diriku sebagai orang Indonesia dari suku Sunda-Jawa, dan masih mempunyai darah biru dari kedua keluargaku. Karena itulah, aku bisa dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi daripada rekan sebangsa yang lain. Aku hanya berharap suatu saat tidak ada diskriminasi soal hak mendapatkan pendidikan karena pendidikan itu perlu.

Namun aku akan menyebut bahasa Indonesia terhadap sebangsaku sedangkan kepada orang Belanda bahasa Melayu. Namun untuk Willem, ia menyatakan tidak masalah dan sama saja hanya berbeda nama. Untuk hal ini aku kurang setuju dengan pendapatnya. Begitu juga dengan Kenichi yang memintaku untuk menyebut nama Indonesia saja, baik itu bahasa maupun wilayahnya. Dalam artian ia lebih akan senang aku menyebut negara yang aku tempati adalah Indonesia bukan Hindia-Belanda.

"Ini akan lebih bisa jelas mengungkap siapa kalian dan rasa nasionalisme akan tanah air," begitulah ujarnya pada suatu waktu yang senggang saat kami berdua jalan-jalan sore di wilayah Kramat.

Kenichi pula yang membukakan mataku soal rasa cinta tanah air sampai mati, dan pengorbanan tanpa pamrih bagi negara dan bangsa. Ia selalu mencontohkan negaranya yang berhasil mengalahkan negara-negara besar seperti Cina dan Rusia.

"Itu terjadi karena kami semua bersatu. Bersumpah setia pada kaisar dan Hinomaru demi kejayaan negara kami ke depannya, Didiek-san,"

Aku jujur terpesona oleh pandangan dan pemikirannya yang selalu diekspresikan dengan berkobar-kobar khas Jepang. Di situ juga aku sering mengungkapkan bahwa sebenarnya orang-orang Indonesia itu sudah lama ingin merdeka dari cengkraman ratusan tahun Belanda namun selalu saja gagal dan gagal. Aku ingin seperti negaranya Kenichi yang benar-benar bebas dan mandiri serta mampu bersaing dan sejajar dengan negara-negara besar di Barat.

"Itu karena kalian semua belum bersatu sama sekali sehingga mudah diadu domba. Kalau kamu tahu sejarah kami kamu akan mendapati bahwa kami dulu juga sering berperang satu sama lain tetapi setelah Kaisar Meiji memerintah kami jadi bersatu hingga sekarang. Kamu hendaknya lihat kami sebagai contoh. Kami yang sama dengan kamu sebagai orang Asia bisa mengalahkan Rusia. Itu artinya Indonesia bisa mengalahkan Belanda,"

Boleh dibilang semenjak pertemuan di pestanya Willem dan sering melakukan pertemuan, aku akrab dengan Kenichi.

Namun hal itu berubah ketika suatu hari aku diajak oleh rekan satu firmaku, Frederik, untuk makan malam di rumahnya. Sebenarnya aku sudah sering makan malam di rumah Frederik, orang Belanda keturunan Yahudi. Di rumahnya aku sering melihat atribut-atribut Yahudi seperti Bintang Daud dan Menorah. Tak hanya itu, makanan yang disajikan Frederik dan keluarganya juga makanan-makanan yang halal karena orang Yahudi tidak boleh mengonsumsi yang haram seperti babi.

"Kita ini sama-sama anak Ibrahim, kawan," begitulah Frederik selalu berujar kepadaku mengenai kesamaan kepercayaan yang kami anut meski berbeda di luar. Ia yudaisme, aku muslim. Ketika aku yang sering ke rumah Frederik yang juga ada di Menteng dekat dengan Lapangan Vios, kusadari ada sesuatu yang berbeda dalam pandanganku. Aku melihat seorang wanita sipit dengan rambut panjang yang dikuncir serta memakai pakaian Cina. Ia tampak membawa nampan makanan ke arah kami. Apa ia pembantu rumah tangga Frederik yang baru? 

Tahu aku menatap sesuatu yang baru tersebut, Frederik segera memanggil wanita tersebut ke arah kami.

"Didiek, kenalkan ini Mei-Ling. Dia pembantu baruku, dan baru 2 hari bekerja di sini. Asalnya dari Cina,"

Kami segera bersalaman. Wanita yang tampak sipit tersebut tampak malu berjabat tangan denganku. Ia menatapku sebentar lalu menunduk, dan kemudian membalikkan badan, menjauhi kami.

"Ia pemalu, kawan," kata Frederik setelah itu.

Aku yang heran kemudian bertanya pada Frederik.

"Ia betul dari Cina? Maksudku bukan Cina yang ada di Glodok, kan?"

Frederik hanya tertawa kecil soal keherananku. Ia lalu berkata,

"Memang ia berasal dari Cina tepatnya dari Wuhan. Datang ke sini untuk mengadu nasib dan keluar dari neraka,"

"Maksudmu? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

Mendengar pertanyaanku itu Frederik menghela napas sebentar seperti mempersiapkan sesuatu yang ia hendak ungkapkan kepadaku.

"Didiek, kau tentunya sudah tahu kalau negara Mei-Ling ini dikuasai oleh Jepang sejak 1937, dan kau tahu banyak rakyat Cina yang menjadi korban kekejaman Jepang. Kau pasti sudah tahu kekejaman di Nanjing dan Shanghai? Nah, di Wuhan, tempat Mei-Ling, juga terjadi kekejaman yang sama. Ia adalah saksinya. Keluarganya sudah habis semua dibunuh Jepang. Ditusuk demgan bayonet dan dipenggal tanpa tahu kesalahan mereka. Mei-Ling ke sini karena sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan aku mendapatkan dia dari kenalanku yang juga orang Cina, yang membawanya ke sini di Tanjung Priok,"

Frederik diam sebentar lalu berbicara lagi,"

"Kasihan dia. Aku hanya berharap ia damai di sini, dan tidak mengalami trauma. Apa yang ia rasakan sama seperti yang kami, orang Yahudi, rasakan karena kau pun tahu di Eropa kami juga jadi kekejaman Hitler dan Nazinya. Keluargaku di Belanda salah satunya. Menurut kabar mereka dibawa ke Auschwitz. Semoga di Hindia tidak ada perang seperti di Eropa dan Cina. Entah bagaimana kalau itu terjadi?"

"Jujur, aku kurang mengamati perkembangan yang terjadi di luar kawan. Mungkin karena aku terlalu sibuk bekerja,"

"Ya, kau sesekali harus melihat apa yang terjadi di luar supaya kau bisa sadar dan paham dengan apa yang terjadi"

Ketika mendengar itu aku jujur tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Frederik. Aku hanya diam dan tak ingin bertanya.

Semenjak itu aku jadi sering bertandang ke rumah Frederik. Entah kenapa aku jadi tertarik dan menyukai Mei-Ling. Gadis Cina itu memesonaku. Ketika Frederik mengajak kami bertiga bicara, dan kemudian meninggalkan kami berdua di saat itulah aku coba berkomunikasi dengannya. Awalnya aku bingung memakai bahasa yang ingin digunakan tetapi dengan Mei-Ling segera menyatakan dengan singkat,

"Bahasa Inggris saja karena aku guru bahasa Inggris di Wuhan,"

Dan, begitulah seterusnya aku berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Inggris. Dari Mei-Ling lah aku mendapatkan gambaran tentang situasi yang ia alami di Cina terutama di masa pendudukan Jepang,

"Kami adalah bangsa besar yang sebenarnya berupaya memerdekakan diri dari kekuasaan asing selama ratusan tahun. Ketika impian kami tercapai pada 1911 dengan menendang orang-orang Manchu, situasi selanjutnya tidak menentu. Terjadi perang di mana-mana antara sesama kami, antara pemerintah dengan para panglima perang, dan juga dengan komunis. Di saat begitu, tanpa alasan yang jelas Jepang menyerang kami. Rumah-rumah kami dibom, dibakar, orang-orang ditangkap, ditusuk bayonet, dipenggal, dan bahkan diperkosa. Aku pun hampir kena jika saja ada temanku seorang tentara berhasil menyelamatkamu lewat penyamaran, dan dari situlah ia membawaku ke seorang teman lalu membawaku ke sini. Jujur, aku selalu bertanya-tanya dalam hati apa salah negaraku sampai jadi hancur-lebur karena perang?"

Mei-Ling akan selalu menangis saat menceritakan kisahnya, dan aku selalu berupaya menenangkannya sembari memberinya ia tisu.

"Apa berarti semua orang Jepang itu jahat?" tanyaku lagi setelahnya.

"Tadinya aku menganggap tidak semua namun setelah aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri mereka semua jahat, dan aku tidak paham alasan orang-orang yang secara budaya di bawah kami menghabisi kami yang sudah memberi banyak ilmu pengetahuan ke mereka. Mereka benar-benar benci kami yang jujur tidak tahu apa-apa,"

Aku sekali lagi hanya bisa diam, dan belum memahami masalah ini sama sekali karena ternyata pandanganku soal Jepang terganggu oleh pengalaman yang dirasakan Mei-Ling.

"Ketika aku tiba di sini aku bisa melihat banyak juga orang Jepang di sini" kata Mei-Ling setelah itu, "Bisa jadi mereka mata-mata, dan sebentar lagi akan datang ke tempatmu,"

***

Seujujurnya aku kurang begitu paham dengan kondisi perang yang terjadi di Cina antara Cina dan Jepang. Aku juga tidak merasakan apa-apa saat sebagian orang mengatakan bahwa perang juga akan pecah di Indonesia seperti yang diyakini oleh Ilham, teman dekat tempat tinggalku,

"Sebentar lagi Jepang akan datang, dan para Belanda itu akan kabur lalu kita merdeka!"

Tapi apa iya untuk merdeka harus kedatangan Jepang dahulu, dan aku merasa tidak melihat hal-hal yang mengarah ke sana apalagi soal Jepang akan datang.

"Kau seharusnya peka. Jangan urusi pekerjaan mulu. Ingat sebentar lagi Jepang akan datang ke sini!" Begitulah Ilham selalu memperingatkanku.

Karena juga masih belum bisa menyadari hal yang akan terjadi, dan menganggap situasi aman-aman saja aku pun mencoba mengajak Mei-Ling untuk bertemu Kenichi di rumahku. Mungkin saja keduanya berprasangka soal bangsa masing-masing, dan bisa saja kenyataannya sebaliknya.

Tetapi rupanya..

Mei-Ling dan Kenichi berdebat satu sama lain. Perdebatan itu sebenarnya sudah ada dari mulai keduanya kuajak berkenalan dan memperkenalkan diri. Raut wajah yang tadinya ramah seketika menegang.

Dengan bahasa Inggrisnya Mei-Ling menyerang Kenichi sebagai orang dari negara yang kejam dan imprealis.

"Apa kau tidak puas berbuat kejam pada kami semua lalu bilang itu sebagai tanda sayang dan persahabatan? Apa yang kalian inginkan di negara kami? Kalian benar-benar tidak tahu terima kasih atas semua ilmu yang sudah kami berikan. Apa karena restorasi itu membuat kalian jadi imprealis. Tidak ada bedanya kalian dengan negara-negara Barat!"

"Tutup mulutmu, Nona!" Jawab Kenichi juga dengan sengitnya memakai bahasa Inggris, "Kami hanya berupaya membantu situasi negara kalian yang sedang kacau!"

"Kami tidak perlu bantuan siapa-siapa apalagi dari negara yang orang-orangnya mati demi Kaisar! Suruh kaisarmu mati sendiri!"

Mendengar kata-kata itu raut muka Kenichi berubah marah, dan ia pun geram,

"Kurang ajar! Jangan menghina Kaisar!"

Aku perhatikan Kenichi berusaha melayangkan tangannya ke arah Mei-Ling namun segera aku mencegahnya. Setelah itu, Mei-Ling yang hendak ditampar itu terduduk, dan Kenichi melanjutkan amarahnya.

"Kalian orang Cina hanya jadi bangsa rendahan, dan selamanya rendahan!" Kenichi lalu menatapku, "Didiek-san, kau sudah lihat pada negaranya. Itulah akibatnya jika perang melulu, dan wajar jika kami bisa serang dan duduki. Ingat, Frederik, buat negaramu bersatu. Usir Belanda dan juga orang-orang Cina, musuh besar Jepang!"

Kenichi lalu pergi meninggalkan kami berdua. Di saat itulah Mei-Ling terdiam lalu menangis dan mulai menyatakan bahwa aku polos lalu meninggalkanku.

***

"Kau benar-benar tidak sensitif, kawan," ujar Frederik beberapa hari setelah kejadian. Ia mengatakan bahwa Mei-Ling sudah pindah ke Australia untuk mencoba hidup tenang, dan mendapat kabar dari teman-temannya bahwa Jepang akan datang ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.

"Kau pikir negara ini akan aman-aman saja tidak terkena dampak perang di Eropa dan Cina? Tidak, kawan, cepat atau lambat perang akan datang ke sini. Jerman juga sudah meminta Jepang untuk ekspansi di Asia. Mereka berdua sudah berbagi kekuasaan. Aku sendiri juga akan pergi menyusul Mei-Ling di Australia karena aku Yahudi, dan akan juga jadi korban. Ingat, kawan, cobalah untuk peka. Separuh dunia sudah dalam keadaan hancur lebur, dan ini serius!"

Ketika Frederik berkata seperti itu barulah aku paham dengan ungkapan Mei-Ling sebelumnya bahwa ia dan Frederik berpikiran sama, dan beberapa hari kemudian ia pergi ke Australia. Aku juga setelah kejadian pertengkaran Mei-Ling dan Kenichi yang aku dianggap pro-Jepang oleh Mei-Ling akibat terpesona oleh propagandanya Kenichi, juga tidak pernah bertemu lagi Kenichi.

***

Banyak orang berada di depanku. Mereka tampak berdiri di tepian jalan seperti melihat sebuah parade. Kulihat beberapa mengibarkan bendera Jepang ukuran kecil lalu ada yang berteriak "Banzai". Tak berapa lama kemudian datanglah parade tentara Jepang yang berjalan berbaris sambil menenteng senjata, dan ada juga yang bersepeda. Di belakangnya ada beberapa kendaraan militer. Semua menyambut suka cita dan gempita seperti menyambut seorang pahlawan.

Aku akhirnya baru tahu dan memahami kalau Jepang benar-benar datang. Apakah ini tanda Indonesia akan merdeka seperti yang dikatakan Ilham? Dan, kulihat tidak ada lagi orang Belanda yang mungkin bersembunyi di rumah masing-masing.

Saat aku seperti itu tiba-tiba sebuah kendaraan militer menghampiriku lalu di dalamnya keluar seorang perwira yang kemudian datang padaku lalu membuka topinya. Aku pun terkejut,

"Kenichi-san," 

Ia hanya tersenyum lalu membungkuk dan berkata setelahnya, "Ya, ini saya, Didiek-san. Seperti yang sudah saya bilang saya akan membantu kemerdekaan bangsa Anda. Nanti sore datanglah ke tangsi di Galur karena di situlah saya bermarkas. Saya ingin bicara banyak dengan Anda,"

Aku hanya mengiyakan. Lalu Kenichi si perwira itu masuk kembali ke mobilnya, dan dengan bahasa Jepang ia menyuruh bawahannya menjalankan mobil kembali. Aku setelah itu malah seperti diliputi kebingungan.





Sabtu, 05 Maret 2022

Amerika Latin di Perang Dunia Kedua

Selama ini kita mengetahui bahwa Perang Dunia Kedua kebanyakan terjadi Eropa dan Asia-Pasifik serta sebagian Afrika. Lalu bagaimana dengan kawasan Amerika Latin? Lokasi pertempuran yang kebanyakan terjadi di Eropa dan Asia adalah karena kedua wilayah yang lokasinya berdekatan tersebut merupakan lokasi utama beberapa pertempuran bahkan paling penting sekalipun.


Canva

Sebut saja Blitzkrieg Jerman ke Polandia, Pertempuran Britania, Pertempuran Stalingrad, D-Day Normandia Juni 1944, Penyerangan Jepang ke Pearl Harbor, Pertempuran Midway, Pertempuran Shanghai, dan Pengeboman Hiroshima-Nagasaki. Nama-nama pertempuran sangat populer dalam sejarah Perang Dunia Kedua. Bahkan karena populernya, beberapa kali pertempuran tersebut ditulis lalu diangkat ke layar lebar tentunya dengan mengambil sudut pandang yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan kawasan Amerika Latin? Semasa Perang Dunia Kedua kawasan yang memanjang dari Meksiko hingga Argentina ini boleh dibilang kawasan yang damai dan aman. Tidak ada pertempuran di kawasan tersebut yang mengakibatkan kota dan desa hancur serta banyak orang terbunuh. Kehidupan berjalan seperti biasa termasuk ajang sepak bola di kawasan tersebut (Amerika Selatan), Copa America.

Semasa Perang berkobar, negara-negara Amerika Latin berupaya netral meskipun pihak yang bertikai berupaya menganggu kenetralan mereka seperti Jerman dan AS. Jerman diketahui merupakan mitra terbesar perdagangan di kawasan Amerika Latin sebelum perang terjadi seperti dengan Brasil, Cile, Peru, dan Argentina. Karena itulah, orang-orang Jerman terutama anggota Nazi bebas pergi ke sana kemari dari Jerman ke kawasan tersebut. Kondisi ini tentu saja mengkhawatirkan AS sebagai salah satu negara berkekuatan besar di benua Amerika yang tidak menginginkan negara-negara Latino terpengaruh oleh Nazisme.

Ketika perang berkobar, beberapa negara Amerika Latin seperti Brasil memutuskan perdagangan dengan Jerman namun menyatakan netralitas. Netralitas itu beberapa tahun kemudian berubah menjadi pernyataan perang dari Brasil kepada negara-negara Poros pada 1943 menyusul banyaknya kapal dagang dan penumpang yang ditorpedo oleh U-Boat Jerman. Mulai 1944 Brasil membantu AS dalam perang melawan Jerman di Eropa.

Selain Brasil yang turun langsung di medan tempur Eropa, negara Amerika Latin lainnya yang juga turun langsung ke pertempuran adalah Meksiko. Namun, berbeda dari Brasil, Meksiko turun di medan tempur di Pasifik melawan Jepang. Di bawah komando AS, Meksiko yang masuk dalam skuadron petempur 201 yang terkenal dengan nama Aguila Aztecas atau Elang Aztec. Skuadron ini membantu AS dalam perang melawan Jepang di Luzon-Chiapas, Filipina. Keterlibatan Negeri Sombrero dalam Perang Dunia Kedua terjadi karena ditorpedonya dua kapal tanker minyak itu oleh U-boat Jerman pada 1942. Selain bertempur di udara, orang-orang Meksiko yang ada di AS diikutsertakan dalam ketentaraan AS untuk membela Paman Sam.

Sebenarnya ada satu pertempuran fisik yang terjadi di kawasan tersebut namun pertempuran ini adalah pertempuran laut yang terjadi di dekat muara Sungai Rio de Plata yang melibatkan Jerman dan Inggris. Pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Rio de Plata pada Desember 1939 itu berujung dengan tenggelamnya kapal perang Jerman, Admiral Graf Spee di kawasan tersebut karena dikeroyok habis-habisan oleh kapal-kapal tempur Inggris yang memergoki kapal perang kelas berat Kriegsmarine berada di dekat muara Sungai Rio de Plata untuk perbaikan setelah peperangan di Atlantik. Adapun kapal tersebut berada di Uruguay, salah satu negara netral di Amerika Latin.

Simpati Dibalik Netralitas

Meski negara-negara Amerika Latin menyatakan netralitas, diam-diam ada beberapa negara yang menyatakan simpatinya kepada Jerman seperti Argentina yang baru mendukung Sekutu pada 1945 setelah Jerman mengalami kekalahan. Kondisi yang demikian pada akhirnya membuat para buronan Nazi kabur ke kawasan ini setelah perang. Salah satunya adalah Adolf Eichmann yang kemudian ditangkap oleh Mossad Israel lalu dieksekusi pada 1960. 

Selain Argentina ada juga Urugay, Peru, dan Cile. Simpati terhadap Jerman juga diperlihatkan oleh para diktator di kawasan tersebut seperti Rafael Trujillo dari Republik Dominika, Jorge Ubico dari Guatemala, Tiburias Andino dari Honduras, dan Maximiliano Martinez dari El Salvador. Mereka semua terpikat oleh ketegasan dan gaya eksentrik yang dimiliki oleh Adolf Hitler untuk kemudian dijadikan acuan.

Negara-negara Amerika Latin sebenarnya cukup terkejut perang terjadi di Eropa karena hal itu dapat mematikan ekonomi kawasan ini yang sebelum perang merupakan mitra dagang terbesar Jerman. Ketika perang berkobar, AS yang tidak mau kawasan ini masuk pengaruh Nazi mulai berupaya menggalang negara-negara tersebut untuk melawan Jerman dan memberikan bantuan ekonomi sehingga kawasan Amerika Latin yang dipandang mempunyai industri potensial seperti di Meksiko dan Kolombia bisa terus membantu AS memenangkan perang. Apalagi laut di sekitar kawasan ini juga sudah diblokade oleh Inggris untuk menghalau Jerman. Bahkan saat Perang pecah di Pasifik AS sudah mengarahkan konsentrasi ke Terusan Panama yang sewaktu-waktu bisa diserang Jepang. Jepang sendiri memang pada Juni 1945 berniat menyerang terusan yang menghubukan Samudra Pasifik dan Atlantik melalui serangan dari kapal selam terbesar mereka I-400.

Jerman tentu saja tidak tinggal diam. Mereka melancarkan banyak operasi intelijen seperti ke Bolivia yang dinamakan Operasi Bolivar yang terjadi di Bolivia pada 1942. Operasi yang mengambil nama dari Simon Bolivar, pejuang revolusi kemerdekaan di Amerika Latin pada abad ke-19 ini bertujuan melakukan sabotase sumber daya alam yang ada di negara-negara Amerika Latin seperti minyak, katun, dan tembaga. Selain itu, operasi ini bertujuan menyabotase jalur perdagangan di Terusan Panama. Sayang, operasi intelijen ini gagal, dengan beberapa agen ditahan di Argentina.

Uni Soviet di Amerika Latin

Mulai berkiblatnya negara-negara Amerika Latin ke Sekutu pada Perang Dunia Kedua, juga secara tidak langsung membuat beberapa negara bersimpati pada Uni Soviet, salah satu Sekutu yang diserang Jerman pada 1941. Salah satunya adalah Kuba yang mengirimkan 42.000 rokok ke Uni Soviet kemudian pada 1942 menjalin hubungan diplomatik yang menandakan Kuba adalah negara Amerika Latin pertama yang menjalin kesepakatan dengan Negeri Tirai Besi. Hal yang demikian pada akhirnya berlanjut di masa Perang Dingin yang salah satunya menimbulkan peristiwa Teluk Babi pada 1962. Setelah Uni Soviet runtuh hingga hari ini Kuba masih terus melanjutkan kemitraan politik dengan penerus terbesar Uni Soviet, Rusia.

Selain Kuba negara-negara Amerika Latin lain yang juga menjalin hubungan diplomatik menjelang perang berakhir adalah Kolombia, Cile, Argentina, dan negara-negara Latin di kawasan Amerika Tengah. Bahkan Meksiko yang lebih banyak membantu AS sangat mengagumi patriotisme Uni Soviet saat melawan Jerman. Kondisi yang demikian akhirnya melahirkan polarisasi di Amerika Latin pada Perang Dingin yang membuat AS waspada dan curiga pada tetangganya karena lebih banyak berkiblat ke Uni Soviet hingga harus campur tangan lewat invasi militer.

Kesimpulan 

Pada masa Perang Dunia Kedua, bisa disimpulkan bahwa kawasan Amerika Latin damai dan aman dari serangan dan kehancuran fisik yang diakibatkan oleh negara-negara yang bertikai di medan perang karena netralitas yang dianut meskipun berubah saat perang pecah juga di Pasifik yang menandakan kawasan ini bisa rentan terkena serangan dari Jepang. Dan terjadinya perang juga menganggu aliran investasi dari Eropa.

Meski demikian AS sebagai pemimpin Sekutu di Perang Dunia Kedua menghendaki semua negara Amerika Latin membantu AS melawan Poros dan memenangkan perang, dengan cara memberikan bantuan ekonomi, dan menggalang anti Nazi. Berpihaknya Amerika Latin pada Sekutu ini secara tidak langsung memberikan pintu masuk bagi Uni Soviet untuk memberikan pengaruh yang terasa di Perang Dingin.

Permasalahan yang dihadapi oleh kawasan Amerika Latin di masa Perang Dunia Kedua bukanlah ancaman dari luar, melainkan antar negara kawasan yang bertikai karena sengketa wilayah seperti yang dilakukan oleh Peru dan Ekuador yang berperang pada 1941 hingga 1942.

Senin, 28 Februari 2022

Kenapa Barat dan Rusia Saling Takut Satu Sama Lain?

Friksi itu menegang lagi setelah adanya invasi terhadap Ukraina yang dilakukan Rusia. Seperti yang sudah-sudah terjadilah pertempuran urat syarat antara Barat dan Rusia sejak dahulu mulai dipanggungkan. Masing-masing mempunyai argumen dan ketakutannya sendiri sembari terus berupaya mengaktifkan perlindungan di sana-sini. Kondisi yang demikian pada akhirnya menyimpulkan bahwa Barat dan Rusia tidak akan bisa berjalan bersama dan beriringan. Mengapa?


Arab News

Bagi pihak Barat sendiri Rusia adalah gambaran yang menakutkan, simbol kekejaman akan penguasa yang haus darah dan kekuasaan yang mengorbankan banyak rakyat sipil. Kondisi yang demikian dinamakan dengan rusofobia atau ketakutan yang sebenarnya berlebihan terhadap Rusia mulai dari perilaku negara, budaya, dan orang-orangnya. Rusofobia sendiri mulai terlihat setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua atau ketika dunia sudah memasuki masa Perang Dingin. 

Gambaran yang menakutkan akan Rusia itu di Eropa lebih berpusat di Inggris. Sebagai Sekutu utama AS di Benua Biru, kekhawatiran akan Rusia sebenarnya mulai terlihat ketika Perang Dunia Kedua di Eropa berakhir pada 8 Mei 1945. Di saat semua negara Eropa merayakan Hari Kemenangan Eropa atas kekalahan Jerman ---yang juga diperingati Rusia-- Perdana Menteri Inggris kala itu, Winston Churchill, mulai mengingatkan kepada semua negara Barat bahwa akan datang ancaman dari Timur, yang tentu saja hal tersebut mengarah pada Rusia sebagai inti utama Uni Soviet.

Kekhawatiran ini sebenarnya cukup beralasan mengingat Churchill melihat Rusia di bawah pimpinan Josef Stalin merupakan sebuah negara yang tingkat kediktatoran dan kekejamannya melebihi Vladimir Lenin. Berita-berita kekejaman tentang Holodomor di Ukraina pada 1930-an juga menguatkan persepsi tersebut. Sebenarnya tidak ada niatan sama sekali bagi Churchill untuk mengajak serta Rusia dalam perang melawan Jerman. Namun karena Jerman masih terlalu kuat, dan AS menginginkan agar Rusia diajak serta supaya perang cepat diselesaikan, mau tidak mau terciptalah aliansi yang sifatnya setengah hati. Apalagi dalam kondisi di lapangan, AS, sekutu utama dan berharga Inggris, juga memberikan pinjaman berupa persenjataan kepada Rusia yang di awal-awal perang masih kalang kabut melawan Jerman.

Aliansi itu tentu saja menimbulkan tuntutan bahwa Rusia berhak juga mendapatkan kue kemenangan berupa Berlin bagian timur dan wilayah-wilayah Eropa Timur yang menjadi satelitnya di masa Perang Dingin. Hal yang tentu saja sudah memulai sebuah ketegangan pasca Perang dan ketakutan bagi Barat. Karena itu, memang tidaklah mengherankan jika Churchill berupaya melakukan sebuah operasi militer bernama Unthinkable untuk menghantam Rusia pada Juni 1945 namun urung dilakukan karena faktor AS.

Ketakutan pada Rusia yang berlebihan itu juga diperkuat oleh gambaran-gambaran di media Inggris. Dari Inggrislah ketakutan akhirnya menyebar ke negara-negara Barat lainnya bahkan ke Jerman yang ditaklukkan hingga kemudian dibagi dua, Jerman Barat dan Jerman Timur, hanya untuk mengakomodasi ketakutan dan memberikan kompromi antara dua pihak yang saling bersitegang.

Ketakutan akan Rusia ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama yang dimulai pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19 ketika Kekaisaran Swedia dan Prancis Napoleon secara sepihak memulai peperangan dengan Rusia yang baru merintis menjadi sebuah kekuatan baru di Eropa di bawah pimpinan Peter yang Agung. Pada masa Peter inilah Rusia memulai sebuah gerakan geopolitik berupa politik air hangat, yaitu mencari pelabuhan yang tidak beku untuk menunjang aktivitas perekonomian mereka. Latar belakang adanya gerakan geopolitik ini karena kondisi Rusia yang terkepung oleh salju.

Gerakan ini tentu saja mengancam eksistensi kekuatan-kekuatan di Eropa yang terlebih dahulu ada seperti Kekaisaran Swedia dan Prancis yang pada akhirnya harus mengaku kalah serta menyerahkan beberapa wilayahnya ke Rusia. Begitu juga dengan Kekhalifahan Ustmaniyah yang beberapa kali harus bertempur dengan Rusia karena keinginan Rusia merebut wilayah-wilayah di sekitar Laut Hitam seperti Krimea yang merupakan wilayah strategis. Selain itu, Rusia berupaya mencari kekuasaan di Balkan dengan menyokong pemberontakan wilayah Balkan terhadap Ustmaniyah.

Dari situlah perlahan wilayah Kekaisaran Rusia terbentuk dan meluas. Inggris sebagai salah satu kekuatan besar di Eropa kala itu masih belum melihat urgensi ekspansi yang dilakukan Rusia berkaitan dengan politik air hangat. Karena itu, Inggris agak santai saja ketika Prancis menyerang Rusia, dan memang Rusia, selain juga Portugal, yang mendukung Inggris di tengah embargo dari Prancis. Bahkan Rusia juga diajak bertempur melawan Prancis dalam Perang Koalisi Keenam pada masa Perang Napoelon.

Akan tetapi Inggris mulai menyadari dan khawatir ketika Rusia mulai melebarkan sayap ekspansi ke wilayah-wilayah Utsmaniyah seperti Azerbaijan dan Georgia, mengambil beberapa wilayah Persia (Iran) dan ke wilayah Asia Tengah yang tentu jika dibiarkan dapat menyentuh India. Di sinilah Inggris mulai berancang-ancang harus menghadapi Rusia langsung yang pada akhirnya melalui sebuah negosiasi politik bernama The Great Game dengan Afghanistan sebagai penyangga.

Ketakutan akan Rusia ini pun akhirnya lestari selama berabad-abad bahkan pada masa Perang Dunia Pertama yang mau tidak mau Inggris harus bersekutu dengan Rusia dalam menghadapi Jerman hanya karena adanya pertalian saudara antara raja Inggris dan tsar Rusia. Ketakutan akan Rusia yang melanda negara-negara di Eropa bukan hanya karena sifat Rusia yang ekspansif namun juga karena Rusifikasi negara-negara yang diduduki. Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, Belarusia, Armenia, dan negara-negara tetangga Rusia lainnya mengalami hal yang demikian. Rusifikasi ini bersifat memaksa, dan karena itulah tidak mengherankan jika Finlandia di masa Perang Dunia Kedua bertempur di pihak Jerman melawan Rusia atau Ukraina yang sejak lepas dari Uni Soviet berusaha menghilangkan rusifikasi, yaitu dengan berpaling ke Barat dan menggalakkan bahasa Ukraina di Ukraina Timur yang pro-Rusia.

Jerman yang juga menyerang Rusia di Perang Dunia Kedua juga mempunyai alasan yang bisa dibenarkan menurut cara pandang mereka, yaitu menghancurkan kaum Bolshevik yang merupakan ancaman karena didirikan oleh orang-orang Yahudi, musuh besar dalam pandangan Adolf Hitler. Namun dibalik itu, Hitler sangat menginginkan ladang gas alam dan minyak bumi di Rusia sebagai penunjang Reich Ketiga.

Di masa sekarang ini ketakutan akan Rusia semakin bertambah karena faktor persenjataan nuklir serta Rusia adalah kekuatan militer kedua terbesar di dunia setelah AS. Hal-hal inilah yang membuat Barat selalu waspada ketika ada saja pemberitaan yang menyangkut militer Rusia dan Vladimir Putin.

Lalu bagaimana dengan Rusia terhadap Barat?

Rusia meskipun merupakan negara besar juga mempunyai ketakutan terhadap Barat yang dimulai dari masa Perang Dingin. Kala itu Josef Stalin sebagai pemimpin Uni Soviet menyadari bahwa ada yang tidak beres dalam pembagian wilayah antara Barat dan Rusia. Stalin menganggap pembagian yang didapat Rusia kala itu bisa memunculkan serangan mendadak Barat ke wilayahnya. Karena itu, Stalin meminta adanya negara-negara satelit untuk menyangga wilayah Rusia dan Barat. Ketika pihak Barat melancarkan bantuan Marshall Plan ke negara-negara Eropa yang terdampak perang di Eropa Barat, Rusia menganggap hal tersebut sebagai sebuah ancaman terselubung karena menilai dibalik bantuan AS sebagai pemberi bantuan berupaya mempersenjatai para sekutunya untuk bisa berperang melawan Rusia. 

Ketika AS dan sekutunya membentuk NATO pada 1949, Rusia juga membalasnya dengan membentuk Pakta Warsawa pada 1955 sebagai penangkal ancaman dengan beranggotakan para negara satelit penyangga yang tentu saja akan dapat menerima konsekuensi jika menyimpang. Karena itulah, tak mengherankan jika Rusia melakukan intervensi ke Hongaria pada 1956 dan Cekoslovakia pada 1968 karena adanya unsur-unsur nonkomunis yang membahayakan.

Pada masa awal terjadinya Perang Dunia Kedua, hal serupa dilakukan oleh Rusia ketika Jerman menyerang Polandia yang dianggap sebagai ancaman karena itu Rusia segera menginvasi Polandia Timur dan negara-negara Baltik untuk mengadang Jerman. Kedua pihak pun memang tidak saling menyerang sesuai dengan Pakta Non Agresi pada Agustus 1939 yang bertahan hingga 22 Juni 1941 karena pelanggaran sepihak Jerman.

Ketika Uni Soviet runtuh yang menandai berakhirnya Perang Dingin pada dekade awal 90-an, Rusia sebagai kekuatan inti harus merelakan wilayah-wilayah yang merupakan bagian Soviet memerdekakan diri menjadi negara-negara mulai dari negara-negara Baltik, Belarusia, Ukraina hingga negara-negara Asia Tengah. Sebenarnya Pemimpin Uni Soviet kala itu, Mikhail Gorbachev, tidak setuju karena hal ini dapat mengancam Rusia ke depannya namun pihak Barat berupaya meyakinkan Gorbachev apalagi NATO mengatakan bahwa tidak akan ada seinci pun perluasan keanggotaan ke Timur, yang akhirnya disetujui Gorbachev.

Ketika Uni Soviet runtuh, pandangan orang-orang Rusia terhadap AS sangat positif. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika AS dan sekutunya menyerang Serbia pada 1999 yang kala itu masih bernama Yugoslavia berkaitan dengan masalah Kosovo. Serbia sendiri merupakan sekutu setia Rusia hingga saat ini. Selain itu, NATO dianggap ingkar janji karena memperluas keanggotaan hingga ke Laut Baltik sehingga Rusia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada Ukraina sebagai garis merah karena secara geopolitik Ukraina adalah penyangga. 

Kebutuhan Rusia akan negara-negara penyangga lebih dikarenakan faktor historis negara tersebut yang pernah beberapa kali diserang kekuatan-kekuatan asing, yaitu Mongol, Swedia, Prancis, negara-negara Barat selepas Revolusi Bolshevik, dan Jerman. Karena itu, Rusia tidak mau hal-hal tersebut terulang. Dan inilah yang dianut Putin dan lingkaran sekitarnya saat memegang Rusia sekaligus mengembalikan hegemoni masa Uni Soviet.


Sabtu, 26 Februari 2022

Kala Prancis dan Jerman Invasi Rusia, Hasilnya?

Perang antara Rusia dan Ukraina pun terjadi. Pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mendeklarasikan operasi militer skala penuh di Ukraina Timur dengan dalih melindungi warga Ukraina pro Rusia yang berada di Donbass alih-alih berupaya mendisplinkan Ukraina yang mulai mengarah pada AS dan Sekutunya usai Victor Yanukovich, Presiden Ukraina yang sebelumnya dan pro Kremlin digulingkan melalui revolusi pada 2014, yang dibalas oleh Rusia dengan mencaplok Semenanjung Krimea.

Canva

Serangan tersebut tentu saja membuat dunia internasional bereaksi terutama AS dan sekutunya yang tergabung dalam NATO dan negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa. Mereka mengecam dan mengancam memberikan sanksi dan embargo ekonomi. Invasi juga berpengaruh pada bidang olahraga seperti dipindahkannya final Liga Champions musim 2021-2022 dari Saint-Petersburg, Rusia, ke Saint-Dennis di Prancis serta pembatalan GP F1 di Sirkuit Sochi, Rusia.

Banyak warganet yang tidak hanya mengecam tindakan Rusia ini, tetapi mempertanyakan tindakan AS dan Sekutunya yang diam saja. Ini tidak seperti janji-janji di awal yang menyatakan negara-negara Barat akan langsung membantu Ukraina jika diserang Rusia. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya AS dan Sekutunya takut menghadapi Rusia yang bukan lawan sembarangan karena jika ikut campur akan berimplikasi pada berkobarnya perang di Eropa juga merembet ke bagian dunia lain seperti Asia-Pasifik sehingga memunculkan Perang Dunia Ketiga.

Jika itu terjadi, perang kali ini bukan perang main-main karena setiap negara yang bertikai akan mengeluarkan kemampuan senjata nuklirnya. Baik Rusia, AS dan sekutu-sekutu Eropanya diketahui mempunyai hulu ledak nuklir, dan perang nuklir yang lebih merusak dan menakutkan daripada Perang Dunia Kedua dimulai. Hingga tulisan ini dibuat, AS dan Sekutunya yang tergabung dalam NATO masih berjaga-jaga di perbatasan negara anggota masing-masing, dan sejauh ini hanya mengirimkan bantuan persenjataan. Ketika ibu kota Ukraina, Kyiv, sudah hampir dalam genggaman Rusia, NATO menyatakan akan siap mengirim unit responsnya ke Ukraina. Namun sejauh ini juga, NATO masih berhati-hati akan tindakan mereka apalagi Rusia tidak akan segan-segan melancarkan balasan.

Kehati-hatian negara Barat dalam konflik Ukraina selain menyadari bahwa lawan yang dihadapi adalah lawan yang cukup berat, ketergantungan negara-negara Eropa akan sumber daya alam Rusia berupa gas, juga memang peristiwa traumatis yang pernah menimpa dua negara besar NATO dan Eropa, Prancis dan Jerman.

Kedua negara besar di Eropa Barat ini diketahui memang mempunyai ketergantungan gas alam dari Rusia. Prancis mempunyai ketergantungan seperempat dari kebutuhan nasional mereka, dan Jerman setengahnya. Untuk kasus Jerman tidak perlu heran karena negara tetangga Belanda memang memasang pipa gas langsung dari Rusia ke kawasan Lembah Ruhr. Tak hanya itu, Jerman juga memasang gas langsung dari Negeri Beruang Merah via laut Baltik, yang karena invasi Rusia ke Ukraina, negara pusat otomotif Eropa itu langsung memutus kontrak dengan Rusia. Karena itu juga, tak mengherankan jika Gazprom, perusahaan gas terbesar asal Rusia, punya cabang khusus di Jerman.

Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina, beberapa minggu sebelum invasi Rusia menyatakan bahwa ada negara NATO yang tampak setengah hati mendukung Ukraina dari ancaman Rusia daripada negara-negara NATO lain termasuk di kawasan Baltik. Kemungkinan besar hal itu mengarah pada Jerman.

Lalu mengapa Prancis dan Jerman punya pengalaman traumatis berhadapan dengan Rusia? Jawaban untuk hal tersebut bisa kita lihat pada perilaku kedua negara di awal abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Demi Mengganyang Inggris

Prancis pada awal abad ke-19 adalah sebuah imperium terbesar di Eropa yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, seorang perwira keturunan Italia yang lahir di Korsika. Ketika itu wilayah imperium hampir mencapai Eropa Timur berbatasan dengan Kekhalifahan Ustmaniyah di Selatan dan Kekaisaran Rusia di Timur.

Dalam usahanya untuk menguasai Eropa, Prancis terjegal oleh Inggris di seberang Selat Channel. Negeri Albion ini memang saingan utama Prancis bahkan berani menentang kekuaksaan Napoleon yang bagaikan gurita karena sudah mencengkram seluruh Eropa. Inggris pun sebenarnya bisa berbangga hati ketika Prancis yang kuat di darat malah loyo di lautan. Hal itu terbukti pada Pertempuran Trafalgar yang dimenangkan Inggris.

Akibat kekalahan itulah, Prancis memutuskan mengembargo Inggris. Ketika hampir seluruh Eropa patuh pada putusan Napoleon karena kekuatan Le Grande Armeé, hanya Rusia yang tidak mau mematuhi, yang berakibat Napoleon memutuskan menggelar ekspedisi ke negara tersebut pada Juni 1812.

Prancis begitu percaya diri untuk bisa menghantam Rusia yang baru muncul di abad ke-18 sebagai sebuah negara baru yang tengah merintis sebagai kekuatan di Eropa melalui politik air hangat. Namun hal itu tak berlaku bagi Prancis yang memang merupakan kekuatan besar di Eropa kala itu sehingga sebanyak 612.000 pasukan digelar dan dibawa ke Rusia menyeberangi Sungai Neman di Belarusia.

Jumlah besar itu tentunya mempunyai komposisi dari Prancis dan negara-negara yang diduduki Prancis. Ketika tentara besar Napoleon itu akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Rusia, mereka langsung disambut perlawanan oleh Rusia di Smolensk yang dimenangkan oleh Prancis. Kemenangan itu semakin menabalkan Prancis untuk bisa menaklukkan Rusia dalam waktu cepat. 

Setelah pertempuran di Smolenks yang berakhir dengan taktik bumi hangus dari Rusia, Grande Armeé melanjutkan perjalanan ke pusat pemerintahan Rusia di Moskow. Di sinilah Prancis kembali menghadapi pertempuran di Borodino yang kembali dimenangkan Prancis. Tetapi lagi-lagi kemenangan yang sulit dicapai ditandai dengan mundurnya tentara Rusia. Hal ini kemudian membuat Napoleon memerintahkan pasukannya segera menuju Moskow.

Sayang, ketika Prancis berhasil sampai di Moskow, kota yang dijuluki Roma ketiga itu dalam keadaan terbakar dan kosong ditinggalkan penghuninya. Kondisi ini sendiri sebenarnya merupakan taktik yang dirancang oleh Kaisar Rusia, Alexander I bersama para jenderalnya terutama Mikhail Kutuzov.

Di sinilah sebenarnya bencana itu terjadi. Napoleon yang memasuki Moskow dan memutuskan tinggal di kota itu untuk menerima negosiasi dan penyerahan dari Rusia, mulai merasakan berbagai masalah yang ada seperti kurangnya pasokan logistik apalagi kala itu musim dingin mulai mengancam. Dan, benar saja musim dingin yang menyerang Rusia akhirnya hinggap di Grande Armeé. Dalam kondisi yang demikian pasukan Prancis yang awalnya begitu yakin akan kemenangan besar yang didapat di Rusia mulai mengendur mentalnya. Tak hanya kurangnya logistik untuk pasukan dan kuda-kuda kavaleri dan artileri, pasukan Prancis banyak yang menderita hipotermia akibat musim dingin ekstrem di Rusia, yang tentu lebih gila daripada di negara-negara Eropa Barat.

Kondisi yang demikian membuat Napoleon memutuskan meninggalkan Moskow kembali ke Prancis ke arah barat daya,  dan di saat inilah Rusia mulai melancarkan serangan-serangan balik via pertempuran terbuka dan serangan gerilya yang dilancarkan pasukan berkuda Kazaki (Cossack) dari Ukraina, yang menuntut kemerdekaan dari Polandia. Serangan-serangan balik yang dilancarkan Rusia ini pun sukses memukul mundur Prancis dari invasi yang berlangsung selama 5 bulan tersebut.

Kekalahan Prancis di Rusia seketika meruntuhkan citra Napoleon di Eropa. Akibat kekalahan itu, Prusia dan Austria memutuskan aliansi dan melawan balik Prancis bersama dengan Inggris dan Rusia dan negara-negara Eropa lain pada Perang Koalisi Keenam  di Leipzig 1813-1814 dan Koalisi Ketujuh di Waterloo pada 1815 yang mengakhiri Kekaisairan Prancis di Eropa selama-lamanya.

Terulang lagi

Kondisi yang pernah dialami Prancis di awal abad ke-19 rupanya tidak cukup menjadi pelajaran negara Eropa lainnya, Jerman, di pertengahan abad ke-20. Atas ambisi paham lebensraumnya yang berbalut dengan Naziisme, Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler memutuskan menyerang Rusia yang kala itu menjadi bagian Uni Soviet semenjak Revolusi Bolshevik. Keinginan menyerang Rusia ini memang merupakan obsesi Hitler yang cukup lama saat ia berada di tahanan karena tragedi Munich 1921, dan menulis Mein Kampf pada masa penahanannya tersebut.

Dalam Mein Kampf ia menyebut jika Rusia merupakan bangsa ras rendah atau untermensch karena sudah bercampur dengan Mongol dalam sejarahnya akibat invasi. Selain di Rusia dan wilayah Uni Soviet lainnya banyak sekali orang Yahudi yang harus dimusnahkan, yang ia tuding sebagai biang kerok kekalahan Jerman di Perang Dunia Pertama. Serangan ke Rusia yang disebut sebagai Operasi Barbarossa itu sebenarnya adalah untuk menguasai sumber daya alam seperti gas alam dan minyak bumi yang tentu saja sangat dibutuhkan oleh Jerman untuk menghidupi rakyatnya.

Serangan ke Rusia ini merupakan serangan Jerman secara sepihak membatalkan pakta non-agresi dengan Uni Soviet pada 1939, dan kegagalan Jerman menyerang dan menduduki Inggris via Operasi Singa Laut pada 1940. Awalnya, rencana Hitler ini ditentang para jenderalnya termasuk ahli tank, Heinz Guderian, karena menganggap operasi tidak menguntungkan sama sekali tetapi karena keras kepalanya sang diktator operasi itu akhirnya dilaksanakan dengan penuh kepercayaan diri Der Fuhrer.

Pada awalnya, Jerman memang bisa memenangkan pertempuran melawan tentara Soviet yang hanya mengandalkan serangan konvensional, yaitu menyerang dalam jumlah besar yang tentu saja menjadi santapan mudah senapan-senapan dan artileri Jerman. Beberapa kota di Uni Soviet hancur dan dikuasai seperti Kyiv dan Stalingrad yang tentu saja memudahkan jalan ke Moskow.

Dalam kondisi demikian Jerman tampak percaya diri akan bisa menaklukkan Uni Soviet dalam waktu cepat. Namun di saat itu pula pihak Soviet mulai memelajari keunggulan Jerman dan kelemahannya. Mereka memelajari taktik perang Jerman yang praktis dan dinamis serta membuat senjata berupa tank, roket, dan pesawat tempur yang bisa mengungguli Jerman. Selain itu, Soviet, terutama Rusia, memanfaatkan kondisi alam berupa hutan-hutan yang sangat luas dan misterius untuk menggiring Jerman ke dalamnya supaya bisa dihajar serta memanfaatkan kondisi musim dingin ekstrem yang membuat Jerman akhirnya menyerah dan malah diserang balik hingga ke Berlin pada 1945. Bantuan AS melalui lend leasing tentunya juga berpengaruh.

Pertempuran Jerman di wilayah Rusia itu menjadi pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia Kedua terutama di Stalingrad yang kini menjadi Volgograd di Rusia. Karena di sinilah kota ini hancur lebur dan paling banyak menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Karena itu, dalam sejarah Rusia, Stalingrad adalah simbol keberanian patrotik negara tersebut dalam melawan agresi Jerman. Kekalahan Jerman di Rusia pada Perang Dunia Kedua menjadi sebuah akhir dari Nazi Jerman yang begitu perkasa, dan membuat Adolf Hitler memutuskan bunuh diri.

Kesimpulan 

Jika memang mengacu pada peristiwa historis traumatis Prancis dan Jerman di masa silam, ada kemungkinan NATO akan tetap hati-hati menyikapi Rusia yang beraksi tanpa halangan di Ukraina. Hal ini juga yang mungkin membuat AS hati-hati untuk menyerang Rusia langsung sebab negara terbesar di Eropa dan dunia ini terkesan misterius. Sama misteriusnya dengan Vladimir Putin. Rusia bisa saja meluncurkan senjata-senjata aslinya yang tersembunyi di dalam hutan dan padang salju Siberia yang bahkan tidak bisa dideteksi melalui citra satelit dan radar. Hal ini bisa jadi sesuai anggapan bahwa senjata-senjata Rusia yang diekspor kemungkinan besar bukanlah yang asli melainkan kualitas palsu yang mendekati asli.


Jumat, 25 Februari 2022

Konflik Rusia-Ukraina dan Yang Kesekian di Eropa Timur

Perang itu akhirnya pecah juga. Rusia secara resmi meluncurkan operasi militer ke Ukraina pada Kamis pagi, 24 Februari 2022 waktu setempat dengan meluncurkan rudal-rudal ke kota-kota penting di Ukraina seperti ibu kota Kyiv, Kharkiv, Odessa, Dnipro, dan kota pelabuhan Mariupol.

AFP

Dalam sebuah siaran resminya, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan ke Ukraina sebagai reaksi untuk membela Donetsk dan Luhanks yang berada di wilayah Donbass, Ukraina Timur. Keduanya merupakan wilayah yang pro-Rusia sehingga memutskan melepaskan diri dari Ukraina.

Selain itu serangan bertujuan melindungi warga sipil dan mengeratkan kembali Rusia dan Ukraina dalam satu lingkaran pasca keruntuhan Uni Soviet dekade awal 90-an. Putin mengatakan bahwa bahwa Rusia dan Ukraina adalah satu nenek moyang dan satu pemerintahan. Hal yang dibantah oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy yang mengatakan bahwa memang Rusia dan Ukraina satu nenek moyang namun berbeda pemerintahan serta kultur dan sejarah.

Alasan sebenarnya Rusia menyerang Ukraina adalah untuk mendisplinkan tetangganya tersebut yang lebih condong ke Barat (AS dan Sekutunya) seusai Victor Yanukovich yang pro-Rusia digulingkan pada 2014 melalui sebuah revolusi. Putin yang melihat penggulingan tersebut menganggapnya sebagai sebuah ancaman besar karena sewaktu-waktu Ukraina yang pro-Barat bisa bergabung dengan NATO sejak pengajuan pada 2008.

Apabila hal yang demikian terjadi, Rusia bisa sangat terancam karena NATO yang dimotori AS dan Inggris akan mudah menempatkan pasukannya di Ukraina yang hanya berjarak sekitar 500 km dari Moskow. Dan, jika itu terjadi bukan tidak mungkin AS dan Sekutunya bisa kapan pun menyerang Rusia jika ada suatu konflik yang melibatkan Rusia.

Rusia sendiri tampaknya menoleransi ketika bekas negara pecahan Uni Soviet, yaitu Estonia, Latvia, dan Lithuania memutuskan bergabung ke NATO pada 2004. Namun, untuk Ukraina, Rusia tidak menoleransinya karena Ukraina mempunyai peran yang vital bagi geopolitik Beruang Merah selain juga kedekatan kultural kedua negara bersama dengan Belarusia yang sedari awal memang pro-Rusia.

Penyerangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina ini sebenarnya mirip dengan penyerangan yang dilakukan oleh negara tersebut ke negara tetangga lainnya, Georgia, pada 2008. Penyerangan dilakukan setelah adanya legitimasi terhadap dua wilayah Georgia yang pro Rusia, Ossetia dan Abkhazia, akibat pemerintahan Georgia pasca Uni Soviet pro ke Barat. Karena itulah, Rusia merasa perlu mendisplinkan Georgia apalagi negara transkontinental tersebut letaknya strategis dan merupakan jalur pipa gas dari Asia Tengah ke Rusia.

Penyerangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina mendatangkan banyak kecaman dan pemberian ancaman sanksi dan embargo ekonomi dari AS dan Sekutunya. Hingga sejauh ini, dari serangan yang menewaskan puluhan warga sipil dan 137 tentara Ukraina ini, pihak Barat melalui NATO hanya bisa menyuplai persenjataan ke Ukraina dan banyak negara NATO sejauh ini hanya dapat menahan para tentaranya di perbatasan masing-masing tanpa harus bertindak langsung karena dikhawatirkan akan membuat konflik meluas dan akhirnya menimbulkan Perang Dunia Ketiga yang bisa diwarnai dengan serangan senjata nuklir. Tentunya hal itu tak ingin diharapkan oleh seluruh warga dunia karena peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 saja sudah cukup mengerikan.

Eropa Timur yang Selalu Bergolak

Penyerangan Rusia atas Ukraina demi mengganti ke pemerintahan yang pro Rusia menandakan bahwa wilayah Eropa Timur sebenarnya jauh dari kata stabil terutama pasca Perang Dingin. Kita tentu ingat pada awal dekade 90-an terjadi perang besar-besaran di Semenanjung Balkan antara Yugoslavia dan bekas wilayahnya seperti Kroasia dan Bosnia. Konflik Balkan itu sendiri memakan banyak korban jiwa terutama ketika Bosnia diserang habis-habisan oleh Yugoslavia hingga membuat semua pihak termasuk Indonesia turun tangan untuk menyelesaikan konflik.

Kemudian pada dekade akhir 90-an terjadilah konflik di Kosovo karena Yugoslavia berulah lagi dengan memerangi Kosovo yang kebanyakan dihuni etnis Albania. Pada akhirnya, dari semua konflik itu Yugoslavia pun bubar dan menjadi banyak negara, yaitu Kroasia, Slovenia, Bosnia, Makedonia Utara, Montenegro, Serbia, dan Kosovo yang merdeka pada 2008.

Eropa Timur memang berbeda dari Eropa Barat yang selalu stabil dari politik, hukum, dan ekonomi bahkan sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Pada masa Perang Dingin Eropa Timur yang dianeksasi politik secara paksa oleh Uni Soviet tidak bisa berkutik sama sekali ketika kedua negara, Hungaria dan Cekoslovakia harus pasrah dihantam Uni Soviet pada 1956 dan 1968, menentang komunisme di negara tersebut yang dianggap oleh Uni Soviet sebagai ancaman.

Ketidakstabilan yang terjadi di Eropa Timur karena bentuk pemerintahan yang agak represif dan tidak terbuka seperti di Eropa Barat. Dalam hal ini juga mayoritas orang Eropa Timur berupaya menghilangkan hal-hal yang berbau Soviet di masa Perang Dingin karena itulah banyak negara Eropa Timur bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, yang sekali lagi dianggap oleh Rusia era Putin sebagai ancaman. Apalagi diketahui Rusia era Putin adalah Rusia yang masih terbelenggu oleh romantisme zaman Soviet.

Pada akhirnya konflik yang terjadi di Ukraina adalah konflik kesekian yang terjadi di Eropa Timur yang bahkan jika dirunut kembali terjadi sejak akhir abad ke-19 ketika Kekaisaran Rusia bersitegang dengan Kekhalifahan Ustmaniyah dalam perebutan wilayah di sekitar Laut Hitam yang banyak dimenangi oleh Rusia.


Jumat, 11 Februari 2022

Aliansi AS-Inggris: Musuh Menjadi Teman

AS-Inggris adalah kedua negara yang kerap kali muncul sebagai sebuah aliansi dalam setiap permasalahan internasional terutama yang berkaitan dengan keamanan. Aliansi ini termasuk aliansi yang cukup kuat dan sulit dibendung karena keduanya mempunyai pengaruh yang cukup besar terutama di PBB. Keduanya sama-sama menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan karena itu mempunyai hak veto dalam setiap permasalahan internasional termasuk konflik Israel-Palestina yang sekarang sedang berlangsung.

The Civil War

Selain masalah konflik Israel-Palestina, aliansi kedua negara yang dipisahkan oleh Samudra Atlantik itu sebelumnya sudah begitu terlihat dalam konflik-konflik yang dianggap mengancam kedaulatan kedua negara seperti di Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah dalam rangkaian perang melawan terorisme sejak Serangan 11 September 2001 di New York. Keduanya juga merupakan para pendiri NATO yang didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua untuk mengantisipasi kekuatan komunis yang dilancarkan Uni Soviet.

Bahkan pada masa Perang Dingin selain pembentukan NATO, AS-Inggris sering bahu-membahu bekerja sama untuk turun dalam setiap konflik yang dianggap memengaruhi kepentingan kedua negara terutama untuk memerangi komunis seperti Perang Korea, Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Pemberantasan Komunis di Semenanjung Malaya, Perang Sipil Yunani, dan konflik-konflik di Timur Tengah sebelum perang melawan terorisme seperti di Lebanon dan Irak dalam Perang Teluk pada awal 90-an.

Namun ternyata, Inggris tidak pernah ikut serta langsung dalam Perang Vietnam meski mendukung tindakan melawan komunisme secara lisan di Vietnam sebab hal itu ditolak langsung oleh PM Inggris, Harold Wilson, untuk menghindari kemarahan kaum kiri Inggris yang berada di Partai Buruh.

Aliansi AS-Inggris ini tidak hanya pada kerja sama militer namun pada ekonomi kedua negara. AS menganggap Inggris adalah partner ekonomi terpenting dan terbesar pada hubungan Trans-Atlantik kedua negara. Inggris pun demikian. Kesamaan budaya dan bahasa merupakan faktor-faktor terpenting kedua negara untuk selalu bekerja sama dalam hubungan spesial ini. Bahkan, Inggris menganggap hubungan dengan AS lebih bermakna daripada hubungan dengan negara-negara di daratan Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Italia. Karena itulah, Inggris enggan masuk Uni Eropa, dan baru masuk pada 1973 meskipun kemudian pada 2020 Inggris menyatakan keluar dari komunitas regional tersebut karena masalah kedaulatan ekonomi. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa semakin mengukuhkan aliansi kedua negara tersebut dalam ekonomi dan perdagangan.

Aliansi yang kelihatan begitu mesra, akrab, meskipun pernah ada celah karena ada ketidaksetujuan dari para pemimpinnya terhadap suatu hal konflik di Mesir pada 1956, Perang Vietnam, Perang Malvinas, dan Invasi AS ke Grenada, ternyata jika dirunut dari sejarah, keduanya merupakan musuh.

Hal ini bermula dari kemerdekaan AS dari Inggris pada 1776 yang dilanjutkan dengan perang kemerdekaan melawan Inggris oleh AS hingga Negeri Ratu Elizabeth itu mau mengakui kemerdekaan Negeri Paman Sam pada 1783 melalui Perjanjian Paris. Kedua negara kemudian terlibat perang lagi pada 1812 dikarenakan AS yang dianggap Inggris hendak meluaskan wilayah melalui ekspansi militer, dan menyinggung Kanada, salah satu jajahan Inggris di Amerika, dengan hasil yang imbang.

Ketika terjadi revolusi kemerdekaan di Amerika Selatan pada pertengahan abad ke-19, AS segera mengeluarkan Doktrin Monroe, yang berupaya mencegah berkuasanya kembali kekuatan kolonialis dan imprealis termasuk Inggris di negara-negara Amerika Selatan yang merdeka. AS dan Inggris kembali bergulat saat terjadinya Perang Saudara di AS pada 1861-1865. Diketahui Inggris membantu pihak Konfederasi atau Selatan dalam perang tersebut untuk melawan pihak Republik atau Utara.

Sampai akhir abad ke-19 kedua negara masih saja terlibat konflik bersenjata di perbatasan AS-Kanada dan di Cina pada 1859 saat Cina masih dalam kekuasaan Dinasti Manchu. Apalagi di akhir abad ini, AS tengah berupaya menjadi kolonialis baru dengan menguasai Filipina, Guam, Kuba, Puerto Riko, Hawaii, dan pulau-pulau kecil di Pasifik. Inggris sendiri saat itu masih menguasai beberapa wilayah jajahan di Afrika dan Asia, dan masih dianggap salah satu kekuatan kolonial terkuat selain Prancis namun perlahan mulai melemah setelah PD I dan PD II.

Namun keduanya kemudian berteman pada awal abad ke-20 saat AS memutuskan terjun ke Perang Dunia Pertama pada 1917 akibat kapal dagangnya diserang U-Boat Jerman di Samudra Atlantik. Sebelumnya AS memberikan bantuan militer pada negara-negara Eropa yang berperang di pihak Sekutu. Pada PD I, Inggris menyediakan tempat bagi pasukan AS yang hendak bertempur di Eropa, dan hal itu berlanjut lagi ketika PD II berkobar di Eropa. 

Meski awalnya netral, AS membantu Inggris dengan menyediakan para pilotnya bertarung di Pertempuran Britania melawan Jerman, dan ketika AS memutuskan terjun langsung ke pertempuran pada 1941 akibat serangan Jepang terhadap Pearl Harbor, AS langsung memberikan bantuan peralatan tempur kepada Inggris dalam program Lend-Lease. Bantuan ini tidak hanya diberikan kepada Inggris, tetapi juga kepada sekutu yang lain, Uni Soviet. Karena itu, tidak mengherankan jika kendaraan-kendaraan militer AS berseliweran bebas di kedua negara tersebut.

Kerja sama kedua negara di PD II terutama di front barat teater Eropa pada akhirnya berbuah cukup manis. Perang dimenangkan oleh keduanya, dan bersama-sama dengan Prancis, AS-Inggris mendapat jatah menduduki Jerman Barat sedangkan Soviet Jerman Timur. Pendudukan dan pembagian atas Jerman setelahnya memicu ketegangan urat syarat negara-negara yang bersekutu, AS dan Uni Soviet, dalam Perang Dingin hingga awal 90-an.

Jumat, 21 Januari 2022

Antara Nusantara dan Brasilia: Suatu Kebetulan? Kenapa Bukan Indonesiana Saja?

Nama Nusantara seketika bergema saat pemerintah menyatakan bahwa nama sakral tersebut dijadikan sebagai nama untuk ibu kota baru yang berada di Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara.



Pro-kontra pun datang ketika nama tersebut dicanangkan. Dari segi makna penamaan Nusantara untuk ibu kota terkesan mereduksi makna Nusantara yang sesungguhnya, yang menyatakan bahwa nama tersebut adalah nama dahulu Indonesia, dan jika diperluas nama tersebut mengacu juga pada Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Madagaskar.

Karena penamaan itulah orang-orang Malaysia juga mempertanyakan maksud tersebut, dan menyatakan orang Indonesia overnationalism.

Dari segi bahasa juga penamaan Nusantara menimbulkan ambiguitas dan akhirnya perlu disambiguasi halaman untuk menyelesaikannya.

Hal yang demikian juga akan berpengaruh pada judul penulisan sejarah ibu kota baru tersebut beberapa puluh tahun mendatang sehingga jika Anda ingin menulis harus menambahkan kata 'kota' di depannya sehingga menjadi Sejarah Kota Nusantara 2024-2045 dan begitu seterusnya.

Dari segi historis pun juga terjadi penentangan dari sejarawan kontemporer seperti JJ Rizal yang menyatakan bahwa penamaan tersebut menandakan adanya dominasi njawani atau jawasentris sehingga tidak mencerminkan keindonesiaan yang diharapkan.

JJ Rizal sendiri mendasarkan argumentasinya ini pada Negarakertagama dan sumber-sumber lain yang mendukung. Namun hal tersebut dibantah oleh sejarawan lokal asal Samarinda, Muhammad Sarip.

Sejarawan yang banyak menulis sejarah Kalimantan Timur ini mendasarkannya pada Salasila Koetei yang menyatakan bahwa nama Nusantara adalah nama asli Kutai bukan Jawa.

Pihak pemerintah sendiri juga menolak anggapan njawani dalam penamaan Nusantara, dan menganggap nama ikonik dan historis mencirikan keindonesiaan yang diinginkan dari sebuah kota yang dibangun dana sekitar Rp 600-an trilyun ini.

Perdebatan ini memang tidak akan kunjung usai karena setiap pihak punya argumen masing-masing sebagai dasar kebenaran sehingga cara terbaik adalah mempertemukan para pihak yang silang pendapat untuk berbicara di depan publik, mempertanggungkan semua argumentasinya, dan setelah itu agar semuanya akur serta tidak memancangkan permusuhan sampai akhir hayat.

Terpengaruh Brasilia?

Ketika pemerintah mencanangkan bahwa ibu kota baru akan dipindahkan ke Kalimantan tepatnya di tengah hutan, seketika saya jadi teringat Brasilia yang berada di Brasil. Brasilia sendiri adalah ibu kota negeri tersebut.



Kota ini dibangun pada 1956-1960 di masa Brasil dipimpin oleh Presiden Juscelino Kubitschek untuk menggantikan ibu kota sebelumnya, Rio de Janeiro, yang sudah sangat padat dan sulit ditata. Letak Brasilia sendiri memang di tengah hutan Amazon, dan jaraknya sekitar 1.000-an kilometer dari Rio de Janeiro.

Pemilihan kota yang berada di tengah-tengah Brasil itu rupanya adalah keinginan Presiden Kubitschek untuk memenuhi undang-undang konstitusi negara tersebut pada 1891 yang menyatakan bahwa ibu kota harus dipindah ke tengah negara dengan nama Brasilia yang dipancangkan sejak 1822 ketika Brasil masih berbentuk kerajaannya Portugis.

Pemilihan nama Brasilia juga untuk mencirikan sesuatu yang bersifat "Brasil", yang memang nama Brazil sendiri adalah nama sebuah kayu, yaitu kayu Brasil atau Paubrasilia. Kayu ini memang banyak tumbuh di Brasil, dan menjadi flora nasional negara tersebut. Nama Brasilia dalam bahasa Spanyol juga bisa berarti dari Brasil.

Ibu kota yang pada 1987 ini dianugerahi City of Design oleh UNESCO karena karya-karya arsitekturalnya yang posmodern sempat dikunjungi Bung Karno pada 1959. Presiden pertama Indonesia itu terpukau oleh kota yang dirancang oleh Oscar Niemeyer tersebut, dan dijadikan sebagai landasan untuk membangun sebuah ibu kota baru.

Memang Bung Karno sendiri ingin memindahkan ibu kota ke Palangkaraya namun tidak jadi sehingga akhirnya karya-karya arsitektural yang terinspirasi dari Brasilia dibangun di Jakarta baru yang berada di Senayan dan Semanggi seperti Gedung MPR/DPR (dahulu Gedung CONEFO) dan Gedung Veteran yang sekarang menyatu dengan Plaza Semanggi.

Terinspirasinya Nusantara dari Brasilia menurut saya juga terlihat dari desainnya walapun memang kota-kota yang direncanakan atau planned city itu pasti mempunyai desain yang sudah tertata rapi dengan adanya bulevar. Hal itu bisa kita saksikan pada Washington D.C dan Canberra. 

Namun peletakan ibu kota baru di Kalimantan yang berada di tengah Indonesia, dan berada dalam hutan serta pengalaman empiris Bung Karno ke Brasilia menurut saya memang menginspirasikan hal tersebut.

Bukan yang terbesar

Ketika ibu kota mulai ada di Nusantara pada 2024 nanti jangan berharap kota dalam hutan Kalimantan yang konsepnya adalah Nagara Rimba Nusa ini akan menjadi kota terbesar. Nusantara yang luasnya 2.000-an kilometer persegi hanya akan berisikan gedung-gedung pemerintahan seperti istana kepresidenan, parlemen, kementerian, angkatan bersenjata, dan ruang-ruang publik yang luas dan didominasi hutan. 

Itu artinya Nusantara hanya akan menjadi kota pusat pemerintahan sementara pusat perdagangan tetap ada di Jakarta yang secara historis dan infrastruktur memang sepertinya akan tetap diberikan status khusus pasca tidak lagi jadi ibu kota.

Karena itu, jangan berharap ada keramaian seperti di Jakarta atau Bandung dan Surabaya sebab memang ini cuma berisi pemerintahan. Kasus-kasus yang sama juga terjadi pada Washington, Canberra, dan bahkan Brasilia sendiri. Tertatanya sebuah kota malah juga dapat menimbulkan kebosanan karena jarang ada sesuatu yang aktraktif dan dinamis selain hanya gedung-gedung dan jalan-jalan besar sehingga akan membuat kota tersebut sepi. Inilah yang terjadi pada Naypyidaw di Myanmar.

Itulah pendapat saya mengenai Nusantara yang memang terinspirasi dari Brasilia, dan seperti sebuah penegasan euforia melepaskan diri dari beban-beban arsitektur dan infrastruktur kolonial yang masih melekat kuat di Jakarta. Saya hanya berharap bahwa kota ini benar-benar bisa manusiawi dan memberdayakan para penduduk aslinya seperti orang Paser dan orang Balik supaya tidak seperti orang Betawi yang tersingkir di tempat sendiri.

Namun memang sekali lagi saya masih agak tidak sreg dengan nama Nusantara untuk sebuah kota padahal sudah banyak nama yang diajukan tetapi sekali lagi pemerintah punya alasan sendiri. Jika memang terinspirasi dari Brasilia seharusnya namanya Indonesiana saja. Bukan begitu?



 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran