Pages

Jumat, 25 Februari 2022

Konflik Rusia-Ukraina dan Yang Kesekian di Eropa Timur

Perang itu akhirnya pecah juga. Rusia secara resmi meluncurkan operasi militer ke Ukraina pada Kamis pagi, 24 Februari 2022 waktu setempat dengan meluncurkan rudal-rudal ke kota-kota penting di Ukraina seperti ibu kota Kyiv, Kharkiv, Odessa, Dnipro, dan kota pelabuhan Mariupol.

AFP

Dalam sebuah siaran resminya, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan ke Ukraina sebagai reaksi untuk membela Donetsk dan Luhanks yang berada di wilayah Donbass, Ukraina Timur. Keduanya merupakan wilayah yang pro-Rusia sehingga memutskan melepaskan diri dari Ukraina.

Selain itu serangan bertujuan melindungi warga sipil dan mengeratkan kembali Rusia dan Ukraina dalam satu lingkaran pasca keruntuhan Uni Soviet dekade awal 90-an. Putin mengatakan bahwa bahwa Rusia dan Ukraina adalah satu nenek moyang dan satu pemerintahan. Hal yang dibantah oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy yang mengatakan bahwa memang Rusia dan Ukraina satu nenek moyang namun berbeda pemerintahan serta kultur dan sejarah.

Alasan sebenarnya Rusia menyerang Ukraina adalah untuk mendisplinkan tetangganya tersebut yang lebih condong ke Barat (AS dan Sekutunya) seusai Victor Yanukovich yang pro-Rusia digulingkan pada 2014 melalui sebuah revolusi. Putin yang melihat penggulingan tersebut menganggapnya sebagai sebuah ancaman besar karena sewaktu-waktu Ukraina yang pro-Barat bisa bergabung dengan NATO sejak pengajuan pada 2008.

Apabila hal yang demikian terjadi, Rusia bisa sangat terancam karena NATO yang dimotori AS dan Inggris akan mudah menempatkan pasukannya di Ukraina yang hanya berjarak sekitar 500 km dari Moskow. Dan, jika itu terjadi bukan tidak mungkin AS dan Sekutunya bisa kapan pun menyerang Rusia jika ada suatu konflik yang melibatkan Rusia.

Rusia sendiri tampaknya menoleransi ketika bekas negara pecahan Uni Soviet, yaitu Estonia, Latvia, dan Lithuania memutuskan bergabung ke NATO pada 2004. Namun, untuk Ukraina, Rusia tidak menoleransinya karena Ukraina mempunyai peran yang vital bagi geopolitik Beruang Merah selain juga kedekatan kultural kedua negara bersama dengan Belarusia yang sedari awal memang pro-Rusia.

Penyerangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina ini sebenarnya mirip dengan penyerangan yang dilakukan oleh negara tersebut ke negara tetangga lainnya, Georgia, pada 2008. Penyerangan dilakukan setelah adanya legitimasi terhadap dua wilayah Georgia yang pro Rusia, Ossetia dan Abkhazia, akibat pemerintahan Georgia pasca Uni Soviet pro ke Barat. Karena itulah, Rusia merasa perlu mendisplinkan Georgia apalagi negara transkontinental tersebut letaknya strategis dan merupakan jalur pipa gas dari Asia Tengah ke Rusia.

Penyerangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina mendatangkan banyak kecaman dan pemberian ancaman sanksi dan embargo ekonomi dari AS dan Sekutunya. Hingga sejauh ini, dari serangan yang menewaskan puluhan warga sipil dan 137 tentara Ukraina ini, pihak Barat melalui NATO hanya bisa menyuplai persenjataan ke Ukraina dan banyak negara NATO sejauh ini hanya dapat menahan para tentaranya di perbatasan masing-masing tanpa harus bertindak langsung karena dikhawatirkan akan membuat konflik meluas dan akhirnya menimbulkan Perang Dunia Ketiga yang bisa diwarnai dengan serangan senjata nuklir. Tentunya hal itu tak ingin diharapkan oleh seluruh warga dunia karena peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 saja sudah cukup mengerikan.

Eropa Timur yang Selalu Bergolak

Penyerangan Rusia atas Ukraina demi mengganti ke pemerintahan yang pro Rusia menandakan bahwa wilayah Eropa Timur sebenarnya jauh dari kata stabil terutama pasca Perang Dingin. Kita tentu ingat pada awal dekade 90-an terjadi perang besar-besaran di Semenanjung Balkan antara Yugoslavia dan bekas wilayahnya seperti Kroasia dan Bosnia. Konflik Balkan itu sendiri memakan banyak korban jiwa terutama ketika Bosnia diserang habis-habisan oleh Yugoslavia hingga membuat semua pihak termasuk Indonesia turun tangan untuk menyelesaikan konflik.

Kemudian pada dekade akhir 90-an terjadilah konflik di Kosovo karena Yugoslavia berulah lagi dengan memerangi Kosovo yang kebanyakan dihuni etnis Albania. Pada akhirnya, dari semua konflik itu Yugoslavia pun bubar dan menjadi banyak negara, yaitu Kroasia, Slovenia, Bosnia, Makedonia Utara, Montenegro, Serbia, dan Kosovo yang merdeka pada 2008.

Eropa Timur memang berbeda dari Eropa Barat yang selalu stabil dari politik, hukum, dan ekonomi bahkan sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Pada masa Perang Dingin Eropa Timur yang dianeksasi politik secara paksa oleh Uni Soviet tidak bisa berkutik sama sekali ketika kedua negara, Hungaria dan Cekoslovakia harus pasrah dihantam Uni Soviet pada 1956 dan 1968, menentang komunisme di negara tersebut yang dianggap oleh Uni Soviet sebagai ancaman.

Ketidakstabilan yang terjadi di Eropa Timur karena bentuk pemerintahan yang agak represif dan tidak terbuka seperti di Eropa Barat. Dalam hal ini juga mayoritas orang Eropa Timur berupaya menghilangkan hal-hal yang berbau Soviet di masa Perang Dingin karena itulah banyak negara Eropa Timur bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, yang sekali lagi dianggap oleh Rusia era Putin sebagai ancaman. Apalagi diketahui Rusia era Putin adalah Rusia yang masih terbelenggu oleh romantisme zaman Soviet.

Pada akhirnya konflik yang terjadi di Ukraina adalah konflik kesekian yang terjadi di Eropa Timur yang bahkan jika dirunut kembali terjadi sejak akhir abad ke-19 ketika Kekaisaran Rusia bersitegang dengan Kekhalifahan Ustmaniyah dalam perebutan wilayah di sekitar Laut Hitam yang banyak dimenangi oleh Rusia.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran