Pages

Tampilkan postingan dengan label Taman Bendera Pusaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Bendera Pusaka. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2026

Plesir ke Taman Kota Jakarta di Zaman Ali Sadikin dan Batavia

Belakangan ini Jakarta terus membangun, menambah, dan merevitalisasi ruang terbuka hijau berupa taman dan hutan kota. Salah satunya adalah Taman Bendera Pusaka yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Taman dengan luas 5,6 hektare ini sebenarnya bukanlah taman yang baru karena merupakan penggabungan tiga taman lama yang letaknya berdekatan namun terpisah oleh jalan raya, yaitu Taman Ayodya atau Taman Barito, Taman Langsat, dan Taman Leuser. Ketiganya digabungkan oleh sebuah jembatan dan sebuah terowongan. Taman Bendera Pusaka sendiri adalah salah satu taman yang beroperasi selama 24 jam.

CNN Indonesia

Adanya Taman Bendera Pusaka di Jakarta, yang diresmikan pada Maret 2026 ini oleh Gubernur Pramono Anung ini tentunya menambah RTH di Ibu Kota, selain juga menjadi sebuah ikon baru karena letaknya yang cukup strategis di dekat pusat perbelanjaan Blok M. Taman ini sendiri merupakan sebuah taman yang estetik serta tematik karena konsepnya yang mengintegrasikan taman-taman yang ada. 

Selain Taman Bendera Pusaka, Pram juga merevitalisasi Taman Semanggi, membangun taman-taman kecil di bawah jembatan layang, yang juga dilengkapi dengan fasilitas olahraga seperti Taman Gapura Muka Cakung dan Taman Si Pitung Jampea.

Sebelum Taman Bendera Pusaka, sudah ada taman dengan konsep yang sama, yaitu Tebet Eco Park yang berlokasi di Tebet. Taman ini merupakan penggabungan dua taman, yaitu Taman Gas dan Taman Seno atau Taman Honda, dan diresmikan pada 2021, di masa pendahulu Pramono, Anies Baswedan. Di masa Anies pula banyak taman dibangun dengan konsep interaksi dan integrasi bernama Taman Maju Bersama sebanyak 100 buah menjelang masa jabatan berakhir.

Kompas Megapolitan 

Pembangunan taman kota di Jakarta yang begitu massif dalam dua masa kegubernuran di Jakarta, Anies dan Pram, sebenarnya merupakan tindak lanjut dari sebuah target jangka panjang Pemprov DKI untuk 2025-2030 yang menargetkan cakupan RTH di Jakarta menjadi 10-12%. Sejauh ini, Jakarta sudah mempunyai 82 taman yang tersebar di 5 wilayah administrasi. Sayangnya, jika dipersentase, jumlah tersebut hanya 5-6% dari target yang harus dicapai, sebanyak 30%. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Itu berarti taman di Jakarta masih jauh di bawah 20-30%. 

Kondisi yang demikian membuat Jakarta cukup tertinggal jika dibandingkan dengan ibu kota-ibu kota lainnya di Asia Tenggara seperti Singapura dan Hanoi yang berada di angka 48 dan 47%. Bahkan, Jakarta sebagai salah satu kota terbesar dan terpadat di ASEAN juga kalah jumlah jika dibandingkan dengan Vientiane di Laos (22,5%).

Hal yang demikian kenyataannya membuat keberadaan sebuah taman kota menjadi sangat penting dalam kota itu sendiri. Sebuah kota akan menjadi baik jika taman kotanya juga dikelola dengan baik. Karena keberadaan taman kota yang baik tersebut akan mengubah persepsi warga terhadap kotanya sendiri dan sering menimbulkan optimisme. Laksono dalam Metropolis Universalis (2013) menyebut bahwa taman kota sejatinya bukan sekadar taman yang menampilkan keindahan visual, tapi ia bisa membangun nilai-nilai demokratis yang terbuka dan keuntungannya bisa dirasakan oleh semua warga tanpa batasan kelas.

Hal serupa diungkapkan oleh Lynch dalam The Image of City (1961) yang dikutip oleh Sunjayadi, yang menyatakan bahwa sebuah taman kota adalah sebuah titik pusat kegiatan kota karena di dalamnya berkumpul dan bertemunya masyarakat untuk berkegiatan bersama.

Perkembangan Taman di Masa Ali Sadikin dan Kolonial Belanda

Jika melihat pada perkembangan taman kota di Jakarta, tentu juga kita perlu telusuri saat di masa Ali Sadikin dan masa kolonial. Di masa Ali Sadikin, beliaulah yang menggagas kalau RTH di Jakarta itu harus 30%. Bagi Bang Ali, Jakarta harus berbentuk kota taman seperti di Singapura. Gagasan ini sudah ia tuangkan dalam Pola Umum Rencana Tata Ruang Kota 20 tahun (1960-1980). Karena itu, tidak mengherankan jika di masanya Bang Ali banyak membangun taman kota seperti Taman Waduk Ria Rio, juga taman-taman untuk rekreasi dan kegiatan budaya seperti Taman Ria Senayan, Taman Margasatwa Ragunan, dan Taman Ismail Marzuki. Selain itu, ia mengumumkan Condet sebagai wilayah cagar budaya yang perlu dijaga keasriannya.

Tempo

Tak hanya taman kota dan taman rekreasi yang dijadikan RTH, Bang Ali juga menginginkan pemakaman umum punya fungsi yang sama. Ini supaya target 30% tercapai sekaligus menghindarkan kesan seram, mistis menjadi sejuk, teduh, dan nyaman pada pemakaman umum. Sebab, pohon-pohon pada pemakaman dapat juga berfungsi sebagai penyerap air ke tanah serta dapat mengurangi banjir. Alasan lainnya, adalah dapat melindungi pemakaman itu sendiri jika dijadikan RTH atau diberi status RTH karena tidak akan mudah dijadikan sebagai bangunan beton.

Sayangnya, rencana dan keinginan Bang Ali ini perlahan sirna dan musnah ketika para gubernur selanjutnya tampak ogah meneruskan hal ini karena lebih memilih membangun Jakarta secara fisik seiring dengan derasnya arus urbanisasi daripada membangun secara kultural. Akibatnya, banyak ruang hijau di masa Bang Ali berubah jadi beton untuk wilayah komersial dan permukiman, dan ada juga yang tidak terawat sama sekali.

Lalu bagaimana dengan di masa kolonial?

Jakarta yang bernama Batavia di masa Hindia-Belanda tentu hanya mempunyai luas 182 kilometer persegi jika dibandingkan dengan sekarang yang mencapai 661,5 km2. Meski terbilang kecil, keberadaan taman di Jakarta kala itu cukup signifikan. Kebanyakan taman berpusat di Weltevreden. Di sana ada taman-taman indah dan menawan yang dirancang melalui konsep taman ala Eropa seperti Taman Wilhelmina dan Taman Blavatsky. Taman-taman yang dibangun pada abad ke-19 ini memakai aliran romantisme yang bercirikan tata lanskap asimetris, nonformal, dan alami. Karena itu, tak mengherankan jika di dalam taman-taman tersebut ada bangunan kecil, danau, jalan melengkung, jembatan, tanah rendah, dan lapangan kecil.

Selain taman-taman di Weltevreden, juga ada taman baru yang dibangun pada awal abad ke-20, yaitu Biscchopplein, yang sekarang dikenal dengan Taman Suropati. Pembangunan taman ini seiring dengan pembangunan Menteng di Gondangdia yang memangh memiliki konsep kota taman atau tuinstad. Bentuknya sendiri simetris tidak seperti taman-taman sebelumnya yang cenderung alami serta mengikuti kontur jalan yang memudahkan pejalan kaki atau kendaraan yang lalu lalang di sekitar taman. 

Wikipedia 

Keberadaan taman ini sendiri merupakan sebuah puncak mahakarya Jakarta kala itu yang berhasil menjadi kota kolonial tropis karena adanya konsep kebun dan taman di dalamnya sehingga membuat para penghuninya terutama orang-orang Eropa di Menteng dan sekitarnya betah untuk lama menetap di Hindia.

Namun di balik taman-taman yang pernah ada di masa kolonial, selain sebagai paru-paru kota dan kesehatan warga serta rekreasi mingguan, ia juga menjadi tempat segregasi sosial. Kenapa? Karena kebanyakan taman yang ekslusif ada dan dirancang khusus untuk orang Eropa sehingga pribumi tidak bisa mengaksesnya sama sekali. Karena itu, tidaklah mengherankan jika banyak foto taman di masa kolonial akan selalu ada dengan foto-foto orang kulit putih sebagai penguasa. Interaksi yang terjadi hanya pada sesamanya. Bandingkan dengan di masa pasca-kolonial interaksi bisa dari segala macam golongan sesuai dengan fungsi sosial taman.

Kesimpulan

Masifnya pembangunan taman di Jakarta yang belakangan terjadi terutama di masa Gubernur Anies Baswedan dan Pramono Anung sebenarnya adalah implementasi dari yang pernah dicanangkan Ali Sadikin saat menjabat sebagai Gubernur serta kebijakan kolonial pemerintah Hindia-Belanda untuk menegaskan jika taman kota itu penting sebagai bagian dari sebuah kota. Meski demikian, pembangunan taman yang massif rupanya masih jauh dari capaian target yang diharapkan, 30% karena masih banyaknya kendala akibat alih lahan RTH yang sebelumnya pernah ditetapkan oleh Ali Sadikin.

Sumber artikel

Zakia, Emily. “Potret Ruang Terbuka Hijau di Ibu Kota Negara ASEAN, Jakarta Kalah Jauh!.” Diakses 17 Mei 2026.https://goodstats.id/article/potret-ruang-terbuka-hijau-di-ibu-kota-negara-asean-jakarta-kalah-jauh-80rjW

Idris Muhammad. “Penasaran Berapa Jumlah Taman di DKI?.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.kompas.com/properti/read/2026/05/09/183600721/penasaran-berapa-jumlah-taman-di-dki-

Sunjayadi, Achmad.”Taman pada Masa Hindia-Belanda.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.kompas.id/artikel/taman-pada-masa-hindia-belanda

Pemprov DKI Jakarta.”Resmikan Taman Bendera Pusaka, Gubenur Pramono Satukan Tiga Taman Ikonik Jakarta Selatan.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.jakarta.go.id/siaran-pers/6552-SP-HMS-03-2026

Tempo.co.”Kini Taman Kota Ada di Seluruh Penjuru Jakarta.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.tempo.co/info-tempo/kini-taman-kota-ada-di-seluruh-penjuru-jakarta-691626

Nababan Helena, Fransisca. “Jelang Berakhir Jabatan, Anies Resmikan 100 Buah TMB.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.kompas.id/artikel/jelang-berakhir-jabatan-anies-resmikan-100-tmb-sekaligus

Widjaja, Hinjati, dkk. “Taman Kota Suropati Sebagai Identitas Kota di DKI.” Jurnal Naturalis 12 No.2 Oktober 2023:138-146. DOI: https://doi.org/10.31186/naturalis.12.2.30287

Tim Harian Kompas. “Tempat Pemakaman Sebagai RTH.

 Diakses 17 Mei 2026. https://www.kompas.id/artikel/tempat-pemakaman-sebagai-rth

Dany, Fransiskus Wisnu Wardana, “Taman Gapura Muka Cakung RTH Bagi Tepian Warga Jakarta.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.kompas.id/artikel/taman-gapura-muka-cakung-rth-bagi-warga-tepian-jakarta

Tempo.co. “Ini 6 Taman Kota Terbaik di Jakarta Beserta Sejarahnya.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.tempo.co/arsip/ini-6-taman-kota-terbaik-di-jakarta-beserta-sejarahnya-1441985

Sinaga, P. Anton. “Jakarta Sebagai Kota dalam Taman. “Diakses 17 Mei 2026. https://tubasmedia.com/jakarta-sebagai-kota-dalam-taman/

Putra, Nanda Perdana. “Condet Bukan Kampung Arab.” Diakses 17 Mei 2026. https://www.liputan6.com/news/read/2505725/condet-bukan-kampung-arab

Laksono, Eko. Metropolis Universalis. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran