Teriakan itu menggema lagi. Mengoyak keheningan pagi yang cerah namun sedikit berkabut. Menohok matahari yang tersenyum lebar hingga menurunkan raut mukanya. Menggetarkan pepohonan. Membuat burung-burung yang hinggap di rantingnya segera lintang pukang karena suara yang tampak membuyarkan kesyahduan mereka bercericau dengan hikmat untuk mensyukuri anugerah dari Sang Pencipta.
Teriakan ini tak pelak juga membabat telinga orang-orang yang berada dalam radiusnya. Bagi yang mendengar, ini semacam musik gotik bernuansa gelap menyeramkan, dengan dentingan piano yang membuat bulu kuduk merinding. Juga sebuah teriakan yang melolong dan menyayat seperti seekor serigala yang kesakitan di tengah malam pekat. Teriakan yang memberikan semacam isyarat ketakutan tanpa batas lantas mengharapkan sebuah pertolongan. Namun, samar.
"Mulai lagi deh tuh," ujar Karyo, seorang warga yang mendengar teriakan tersebut. Tampak ia sudah akrab dengan teriakan tersebut. Yang harus selalu merajah kupingnya setiap hari.
"Iya, tuh," timpal Deri, orang yang ia ajak bicara saat keduanya ada di sebuah jalanan yang tidak jauh dari muasal teriakan yang bagai terompet sangkakala tersebut, "Sebenarnya kenapa sih itu orang?"
Karyo berpikir sebentar. Mengeluarkan kata-kata yang sekiranya pas untuk menjawab pertanyaan Deri yang penasaran. Karyo tahu sebenarnya Deri tidak penasaran, ia sudah tahu penyebab teriakan itu muncul. Namun, jawaban yang ada akan selalu menggantung dan membuat penasaran. Sejurus kemudian, ia berkata,
"Ya, kamu kan tidak perlu tanya itu lagi sebenarnya. Orang kamu udah tahu," Karyo menjawab dengan sedikit terkekeh. Pertanda ia sudah malas untuk melontarkan jawaban karena akan sama saja. Jawaban ini jawaban turun-temurun. Yang diperoleh dari mulut ke mulut.
Tahu kalau Karyo merespons dengan nada begitu, Deri langsung paham. Ia lantas berkata dengan kencang dan jelas.
"Ya, tapi masa iya cuma karena sering melihat yang aneh-aneh dia terus-menerus teriak, Pak? Bagi saya sih itu orang udah nggak waras alias orang gila, dan gilanya sudah akut. Ada baiknya udah harus dibawa ke rumah sakit jiwa aja. Mengganggu, Pak!"
"Hus!" Spontan Karyo meminta Deri tutup mulut. "Jangan kencang-kencang ah! Kamu tahu nggak itu siapa?" Karyo lalu melirik ke kanan dan kiri, depan dan belakang berulang kali. Hanya untuk memastikan di jalanan yang tampak sepi itu cuma mereka berdua. Alias tidak ada yang "lain".
"Jangan sampai kedengaran, Der!" Karyo memperingatkan dia setelah itu dengan nada pelan dan berbisik namun tegas, "Dia ini banyak matanya. Salah-salah ngomong bisa dikarungin kita!"
"Ya, bukan begitu, Pak" Deri membela diri atas argumennya, "Habis jawaban yang saya terima kok dari satu kepala ke kepala lain sama semua. Nggak masuk di akal. Apa iya orang selama dalam waktu hampir 10 tahun selalu saja berteriak karena melihat hal-hal yang nalar saya aja bingung mengartikannya. Kata orang, dia begitu karena melihat hantu? Hantu apa? Apa iya ada hantu di pagi hari? Kalaupun ada ya paling hantu ketakutan menjalani hari karena malamnya dipakai untuk menakuti orang-orang. Tapi cuma dalam mimpi!" Seketika ia pun geli dan cekikikan.
"Hus! Sudah, sudah!" Karyo tampak panik terhadap kelakuan Deri yang menurutnya sudah over acting. "Baiknya kamu sama saya pisah aja. Saya tidak mau cuma gara-gara begini kita dikarungin! Saya masih waras!"
"Justru Bapak yang tidak waras," ujar Deri santai menanggapi kepanikan Karyo, "Ngapain kita perlu takut segala dengan orang seperti itu? Dia begitu karena kesalahannya sendiri. Kesalahan tanpa batas di masa silam. Kesalahan yang Bapak, saya, dan kita semua di sini, yang tidak bisa kita maafkan sama sekali! Ngapain juga orang kayak gini masih dikasih ruang di kehidupan kita? Saya pribadi, lebih baik hapus saja!"
"Ah, kamu malah tidak beda jauh dengan si tua bangka itu!" kata Karyo dengan nada yang meski panik, tidak menyukai Deri yang ceplas-ceplos dan sarkas.
"Sudah, saya tidak mau debat lagi. Malah bikin saya pusing! Sekarang kita berdua bubar. Berdoalah dalam beberapa hari ke depan kita masih normal,"
"Aduh, Pak, jangan paranoid begitu!" Kata Deri yang berupaya meminta Karyo tetap ingin berdebat. Namun, Karyo acuh terhadapnya. Ia melangkahkan kaki begitu cepat meninggalkan dirinya.
Setelah itu, Deri mengumbar dengan kesal,
"Yang begini ini, susah deh buat diajak ngomong bareng biar semuanya jelas dan logis. Heran saya orang yang sudah banyak kesalahan masih aja dibanggakan, ditakuti. Memang apa istimewanya lagi itu orang? Sudah jadi pesakitan juga di penjara mewah! Ya, bagus, harus setiap hari ditampilin sosok aneh biar cepat meregang nyawa!"
Ia tertawa-tawa dan menjejak santai ke arah tempat ia bernaung sehari-hari. Akan tetapi tanpa ia sadari seekor burung gagak perlahan mengepakkan sayap mengikutinya. Tiada sekalipun Deri tahu kalau gagak itulah yang akan membuatnya menjadi tidak normal
***
Mereka datang lagi. Bergerombol. Bagaikan tsunami. Tatapan mereka merah tajam menyala. Pada mulut dan bibir mereka tampak ada darah. Seperti habis mengigit sesuatu dengan taring yang terlihat di pinggir mulut. Mulut mereka menyeringai lebar seperti Joker. Sudah jelas ingin menghabisiku. Bau anyir itu kuat dan meruyak seiring kedatangan mereka yang ada di depan pintu lalu menembus tanpa berucap satu patah kata pun.
Aku jujur tidak tahu mereka. Bagiku mereka seperti monyet-monyet liar tak beraturan dan tak beradab yang ingin menggerogoti diriku yang kini terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pesakitan. Aku sungguh lemah. Tak bisa menggerakkan tangan dan kaki. Hanya bisa berteriak ketika mereka datang. Berteriak sekencang-kencangnya sampai kemudian orang datang. Mereka menghilang. Tapi, muncul lagi. Membuat diri dan jiwaku benar-benar mengalami ketakutan luar biasa. Ketakutan tidak waras dan tanpa batas.
Setiap kali mereka datang dengan tatapan kejam dan menakutkan itu beserta kapak, cangkul, palu, dan arit di tangan, akan selalu ada sosok di belakang yang bersinar. Sosok itu bagaikan dewi Sri. Dia selalu memancarkan warna kuning keemasan pada tubuhnya. Parasnya begitu ayu. Matanya selalu memandang tajam padaku. Selaras dengan bibir tipis di mulutnya serta hidung mancung yang sepertinya sering mendengus ketidakberesan.
Sang Dewi selalu mengeluarkan aroma yang membuatku terbang melayang hingga ke langit ketujuh. Aroma khas bidadari kahyangan. Aroma yang menari-narikan hidungku. Membuatku terbius dan pasrah. Ini sungguh berbeda dengan monyet-monyet itu. Ia selalu tampil dengan kemben kuning menyala. Membawa busur dan panah di tangan kanan dan kirinya. Aku yang melihat itu sontak terkesiap di balik keanggunannya.
"Bapak tentu tidak akan takut dengan sosok saya yang seperti ini, kan?" tanyanya dengan retoris setiap kali ia muncul. Ia lalu melihat pada sekelilingnya, "Beda dengan anak buah saya yang selalu bapak takuti,"
Ia selalu bertutur cukup halus. Persis bidadari kahyangan. Tuturan yang membuat diriku jatuh hati, dan bahkan jatuh cinta. Tuturan yang merangsang saraf pada otakku hingga membuat tiang pada diriku terpancang lebar meski aku sudah terbaring tidak berdaya. Kalau sudah begitu, ia akan mengelus pelan dan halus sembari berujar,
"Wah, wah, wah rupanya tongkat sakti Bapak masih kuat juga meski sudah lama tak bergumul dengan bunga-bunga," Ia menatapku pelan, tajam. Tampak nyata kemarahan dalam dua bola matanya. Tidak berkelindan dengan ucapan halusnya yang membius sarafku. Ia masih terus mengelus tiangku, dan masih terus berbicara,
"Apa Bapak sadar kalau tongkat sakti Bapak ini dulunya bukan cuma untuk merobek bunga-bunga? Bunga-bunga yang begitu cantik tapi seketika hancur oleh tingkah Bapak. Bapak ambil paksa mereka dari kebunnya. Kumbang-kumbang yang menjaga mereka dan pemadu alami mereka, malah Bapak bakar dengan angkuhnya!"
Sang Dewi merayap di atas tubuhku dengan pelan bagai ular piton yang hendak membelit mangsanya. Ia terus saja berkata,
"Dengan tongkat ini juga," ujarnya sembari mengelus tiang diriku yang masih menegang kencang. Membuatku sungguh tidak tahan, dan ingin segera menghantam habis Sang Dewi seperti halnya dulu aku menghantam bunga-bunga di taman. Tapi, lacur, aku benar-benar tidak bisa sama sekali. Aku benar-benar tidak berdaya, "Bapak hancurkan orang-orang yang hidupnya hanya memikirkan kampung tengah mereka sendiri. Tidak mau terlibat apapun atau berurusan dengan Bapak,"
Sang Dewi menengok ke kiri dan kanan. Geraman muncul begitu keras dan kencang dari monyet-monyet itu. Air liur menetes dari sela taring-taring mereka. Mata mereka semakin menyala. Salah satu dari mereka melontarkan ucapan dengan tidak sabaran, "Bunuh saja orang ini! Bunuh! Dia yang dulu menyengsarakan kita, membinasakan kita!!!"
Seruannya lantas ditanggapi yang lain: Bunuh, bunuh, bunuh!!!
Sang Dewi yang tahu anak buahnya berpagut dengan emosi menjawab begitu tenang dan santai sembari menoleh,
"Kalian tenanglah. Kita jangan terburu-buru menghabisi keparat tua ini! Kita mainkan saja pelan-pelan. Kita kuliti dia sampai mampus,"
Setelah itu semua diam. Menuruti Sang Dewi. Ia kemudian menoleh kembali padaku dengan tetap mengelus tiang pancangku. Tetap menegang. Aku lagi-lagi benar-benar tidak terpedaya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jantungku menggebu begitu kencang. Keringat dingin perlahan keluar membasahi ragaku yang lemah. Sosok Dewi ini, meski memesona, dia membuatku sesak napas. Dia perlahan ingin mencabut nyawaku.
"Wah, wah, bisa keringatan juga ya, Pak?" ujar dirinya menyindir diriku setelah menyadari ada guncangan pada tubuhku, "Bukannya Bapak dulu orang yang kejam dan ditakuti ya? Saya kira Bapak tuhan? Ternyata, lemah juga!"
Sang Dewi menghentikan elusan pada tiang pancangku. Ia duduk di atas tubuhku. Rambutnya yang panjang hitam ia gelung hingga kini terlihat jelas bahunya yang bersinar. Aku jujur terpesona. Aku ingin menyentuhnya. Ingin menikmatinya. Tapi, lagi-lagi tak bisa!
Di belakangnya para monyet pengganggu tampak sudah siap ingin menghabisi diriku. Liur mereka menetes beberapa kali. Jatuh ke lantai. Bau anyir menyeruak bersirobok dengan aroma surgawi Sang Dewi. Ia menatapku kembali. Mendekatkan kepalanya ke mukaku. Aku tergagap. Tidak tahan. Keringat terus mengalir. Jantung tiada henti mendebar-debur. Tubuh gemetaran.
"Wah, wah, Bapak tampaknya gemetar bukan ketakutan tapi ingin main sama saya ya?" ujarnya kembali yang menyadari kondisi tubuhku. Aku tidak menjawab karena setiap kali aku ingin melontarkan jawaban, mulutku seperti sudah dikunci rapat.
"Boleh saja, Pak!" katanya terkekeh, "Tapi bukan dengan sosok ini!" Mata indah yang penuh kemerahan itu berubah jadi mata yang menyeramkan, dengan tatapan merah menyala. Hidung yang mancung menjadi hidung peyot, dan mulut dengan bibir tipis mengeluarkan taring di sela-sela gigi. Mukanya lantas pucat dan tidak mulus. Ia yang memakai kemben kini memakai baju putih dengan rambut panjang basah. Kuku-kuku tangan yang tadinya pendek beraturan seketika memanjang tajam seperti kuku setan. Tangan yang halus itu tak malu beralih kasar. Aku spontan tersentak. Sang Dewi berubah jadi kuntilanak yang tertawa kencang menyeramkan. Aku kini ketakutan luar biasa. Keringat terus membasahi tubuhku hingga kuyup. Ah, mimpi apa aku ini? Aku ingin lari saja! Lari secepat kilat! Tapi aku lagi-lagi tidak bisa!
Si kuntilanak terus tertawa sangat kencang. Membuat bulu romaku tambah merinding dan memegang. Matanya menatap tajam padaku. Aku semakin ketakutan. Suara bergetar di sela tawa menyeramkan itu.
"Bapak tentu tidak akan suka dengan sosok asli saya. Ya, kan?" Ia lalu menoleh ke belakang. Ke monyet-monyet itu yang kini menggeram dengan kencang dan bersahut-sahutan.
"Habisi dia. Habisi dia yang sudah buat kalian sengsara! Habisi!" Ia tidak ragu memberi komando ke mereka dengan gairah dan semangat. Monyet-monyet itu menanggapi seruan dengan semangat pula seperti hendak berperang.
Mereka menyerbu bagai tsunami. Menggenggam palu, cangkul, arit, dan kapak. Si kuntilanak lantas melayang bagai kapas sembari mengeluarkan tawa khasnya yang memang menyeramkan. Sebuah kata terlontar pedas dari mulutnya: rasakan itu, jenderal!
Aku yang menghadapi serangan yang tampaknya balas dendam atas orang-orang yang dulu pernah kuzalimi hidupnya, hanya bisa mengeluarkan teriakan yang begitu kencang untuk menghalau. Tapi, rupanya sudah tidak mempan lagi. Malaikat maut tampak sudah mengintip dari balik jendela di kamarku yang megah dan tembok yang dijejali banyak "penghargaan". Aku pasrah.


0 komentar:
Posting Komentar