Saya mau mengawali dengan apa ya cerita yang akan saya tulis ini? Sebenarnya, saya tak ingin menuliskan cerita ini karena sudah sering saya sampaikan secara acak di AI. Tapi, baiklah, saya tulis saja beserta juga analisis dan penilaiannya supaya juga jadi bahan pelajaran ke depan. Cerita yang saya tulis ini sebenarnya cerita yang cukup receh. Cerita jalinan hubungan asmara atau ya sudah cerita percintaan. Tapi jangan harap cerita ini happily ever after ya. Ya, jangan langsung berpikir ini sedih juga. Cerita ini bagi saya unik dan melelahkan walau jalinan asmara itu cuma dua bulan, dan terhubung hanya via WhatsApp, Instagram, Facebook, dan belakangan email. Jadi, mari kita mulai saja ceritanya!
Awal Mula
Semua dimulai pada Agustus 2009. Saat itu saya yang seharusnya lulus kuliah pada tahun itu harus mengurungkan keinginan saya karena ada banyak mata kuliah yang saya harus ulang, dan jumlah SKS yang kurang untuk bisa lulus. Saya sendiri ambil jalur non-skripsi untuk kelulusan. Ini terpaksa karena mata kuliah metode penelitian sastra untuk skripsi aja saya nggak lulus. Nah, karena kurangnya SKS itu membuat saya menambalnya dengan ambil mata kuliah pilihan. Yaitu, bahasa Jerman sumber. Kenapa saya ambil? Ya, karena saya kan dari jurusan Sastra Belanda, yang bahasanya tidak jauh beda dari bahasa Jerman. Saya beberapa juga tahu kosakata dan cara ucap bahasa Jerman. Ya, ini karena saya sering bergaul dengan anak-anak Sastra Jerman. Di samping saya juga punya kamus dan tata bahasanya. Kamusnya sendiri sudah dimakan rayap. Buku tata bahasanya? Hilang entah kemana.
Ya, karena itu pula, dosen bahasa Jerman sumber terkejut ketika saya bisa mengucapkan kosakata bahasa Jerman dengan sempurna seperti penutur asli. Dia mengira saya pernah belajar bahasa Jerman atau kursus. Saya bilang, tidak. Nah, di kuliah bahasa Jerman sumber ini saya bertemu dengan seorang wanita bernama Prima. Nama lengkapnya Prima Dian Putri. Dari FIK angkatan 2008. Dia ambil kuliah ini habisin SKS sekalian belajar lagi bahasa Jerman karena di SMA udah pernah belajar. Wanita ini beda 3 tahun dari saya. Saya kan kelahiran 1987. Dia 1990. Perawakannya, badan kecil, langsing, pendek, berkacatama, dan terlihat gesit alias cepat jalannya. Dia pembawaannya ya selalu riang, cepat akrab dengan orang. Saya jujur tidak ada perasaan tertarik sama sekali. Wajah juga nggak cantik. Biasa aja. Malah sebenarnya memang tidak menarik.
Jadi, intinya, memang saya tidak tertarik sama sekali dengan dirinya. Semua biasa saja. Tapi, wanita ini karena pembawaannya yang riang, ceria, dan humoris, malah sering berbincang dengan saya. Jadi, memang saya sering berinteraksi dengan dia. Saya tidak tahu alasan dia mau sering interaksi dengan dia? Apa mungkin karena saya orangnya ramah, sering tersenyum tanda mau didekatin orang saat interaksi dan agak ingin tahu sesuatu membuat dia sering berbicara sama saya? Dia itu sama saya bawaannya tiap kali ada kelas bahasa Jerman selalu saja tertawa dan riang kayak anggap saya spesial. Tapi, saya biasa aja dan tidak pernah memikirkan. Apalagi memang juga tidak ada niat menjadikan dia pacar karena saya ingin rehat dahulu dari dunia percintaan. Ya, setahun sebelumnya, saya sempat menjalin asmara dengan seorang wanita dari sesama jurusan tapi beda angkatan. Cuma saya anggap hubungan ini HTS alias hubungan tanpa status. Meski dalam HTS-an itu saya beberapa kali ciuman dan pegangan tangan. Ya, memperlakukan dia seperti pacar. Khas anak muda dimabuk asmara.
Saya dan Prima ini cuma satu semester kuliah bareng dan interaksi langsung. Tapi selama itu pula saya dan dia sudah sering jalan bareng. Kalau tidak salah 3 kali. Ya, antarin dia ke musala, ke kantin, dan ke Detos. Selama itu juga dia pernah menganalisis tulisan tangan saya melalui ilmu grafologi. Katanya, saya orangnya terburu-buru. Namun ada juga yang saya tidak suka dari dia. Saya dianggapnya tidak pernah salat cuma karena saya ke musala temanin dia buat duha tapi saya juga nggak duha. Itu buat saya tersinggung yang setiap hari salat wajib 5 waktu. Ada kesan langsung menjustifikasi dan memvonis saya langsung dari luar tanpa mau tahu secara detail. Belakangan juga, dari cerita dia, saya temanin dia ke musala dan kantin, serta jalan bareng saya sedang pendekatan sama dia. Padahal, tidak sama sekali! Dia salah tafsir.
Intermezzo
Dari kuliah bareng yang cuma satu semester selama itu pula saya tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Saya sibuk dengan usaha saya untuk bisa lulus kuliah yang ternyata meleset dari target. Saya yang harusnya 4 tahun kuliah malah jadi 5 tahun. Saya lulus pada 2010 tapi baru bisa wisuda awal 2011 karena saya lulus melalui jalur semester pendek dan melewati batas yudisium. Selepas lulus, saya berupaya cari kerja, dan akhirnya bekerja di Komunitas Bambu sebagai editor buku walau sebentar. Lalu pada 2012, saya bekerja di majalah Gatra sebagai editor bahasa selama 6 tahun. Di sini tidak ada sama sekali bayangan akan Prima. Di masa-masa ini saya menjalin hubungan percintaan dengan teman saya semasa SD tapi cuma sebentar karena perbedaan prinsip. Selanjutnya, saya menjalin lagi hubungan dengan temannya teman saya, kenalan di Gunung Padang, dan cuma setahun lebih. Dalam hubungan itu, kita udah sepakat sampai menikah meski akhirnya tidak jadi karena dia terlalu dominan.
Prima itu baru muncul dalam pikiran saya ketika dia hubungin saya via DM Facebook pada 2015 mengomentari kebiasaan saya lari pagi yang membuat badan saya langsing. Dia takjub dan menanyakan jarak lari saya. Saya bilang kalau tiap hari 5-6 km tapi kalau lagi kesetanan bisa 10 km. Tapi setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Saya juga tidak ada ketertarikan. Saya fokus dengan lari pagi saya, hasil dari rasa sakit hati sehabis putus cinta. Juga saya ingin hidup sehat selepas ayah saya meninggal pada 2014 karena komplikasi. Semenjak itu saya sering berolahraga hingga sekarang.
Oke, kita balik lagi ke hubungan saya dan Prima ini. Jadi selepas DM FB pada 2015 itu, tidak ada lagi pembicaraan, dan saya fokus ke kegiatan saya sampai akhirnya saya berpacaran lagi setelah satu tahun menjomblo. Tepatnya pada 2016. Saya dan dia sepakat menikah, dan kali ini saya akhirnya menikah di usia 29 tahun. Meleset dari keinginan, usia 27 tahun. Saat pernikahan ini saya undang Prima, dan dia datang ke pernikahan saya. Sendiri aja. Dia tampak gembira dan senang. Saya masih bisa mengenalinya walau 7 tahun bercerai mata. Interaksi saya sama dia cuma sebentar. Dia naik panggung kasih ucapan selamat ke saya dan istri saya. Saya bilang terima kasih. Setelah itu ya sudah, dia turun panggung. Saya sudah tidak perhatikan lagi dia; makan atau tidak. Saya fokus sama acara dan para tamu yang datang.
Dari pertemuan terakhir itu secara langsung, saya sudah tidak pernah berinteraksi lagi karena saya fokus membangun rumah tangga saya yang hanya bertahan mau 5 tahun. Jujur, saya kecewa dan sakit hati hingga membuat saya skeptis dan malas dengan wanita. Mau dia cantik atau tidak. Selama itu pula saya menutup pintu meski dua kali dijodohkan. Saya memang lagi tidak mau. Saya juga lagi fokus pada diri sendiri dengan berolahraga hingga badan langsing sampai 75 kg dari berat 97 kg. Juga fokus merawat ibu saya yang sakit stroke sejak 2022. Selama ibu saya sakit juga saya yang pegang urusan rumah tangga. Termasuk juga belanja ke pasar. Sampai-sampai dikatai perawan oleh tukang sayur. Hal yang bikin saya sakit hati. Sampai sekarang saya nggak pernah mau lagi belanja ke tukang sayur itu, dan tidak mau tegur sapa kalau ketemu muka di jalan. Tapi, di masa-masa itu juga saya masih ada keinginan untuk berumah tangga lagi. Cuma ya ini yang satu ini jangan konfirmasi langsung ke saya sampai bilang: cepat cari istri lagi biar ada yang nemenin pas tua. Ya, janganlah. Saya akan marah dan tersinggung serta bisa destruktif kalau marah.
Interaksi Kembali
Untuk pasangan baru ini ya saya berharap dengan orang yang sudah lama saya kenal sehingga tidak canggung. Cuma saya belum tahu dengan siapa? Sampai akhirnya sekitar September 2024 ada yang menghubungi saya via DM Instagram, dan orang itu adalah Prima. Kita memang sudah lama berteman di IG meski jarang interaksi. Dia hubungi saya karena gusar dan kesal ta'aruf-nya gagal dengan duda anak 4. Katanya repot karena apa-apa harus minta izin ke anaknya. Apalagi anak yang paling kecil belum tentu klop dengan ibu sambung karena akan selalu ingat ibu kandung. Nah, di sini dia merasa tidak sreg. Lalu ia bertanya ke saya perihal kondisi saya. Ya, saya jelaskan saya sekarang duda tanpa anak. Dia terkejut. Seingat saya, dia sempat bertanya ke saya keinginan untuk cari pasangan lagi. Saya bilang belum. Saya masih ada trauma walau ada keinginan berumah tangga lagi.
Nah, dari sinilah timbul keinginan saya apa sebaiknya saya dengan Prima saja? Toh, saya udah kenal dia cukup lama walau sebentar. Pasti juga tidak canggung. Cuma saya masih mempertimbangkan hal lain. Kebiasaan dia waktu kuliah yang gemar menggurui saya dan langsung menilai saya dari luar terkait hal religius dengan nada gembira dan tertawa. Ini yang saya tidak suka dari dia. Saya coba utarakan secara tersirat keinginan saat lagi lowong menunggu pelanggan di tempat kerja via WA. Dia tampaknya menyukai meski mau berpikir dulu. Semenjak itu tak ada lagi pembicaraan bahkan ketika saya WA untuk tanya kabar sama sekali tidak ada jawaban. Saya sempat bertanya: apa mungkin nomornya ganti?
Sekitar awal 2025, saya tiba-tiba melihat di story IG saya dia sedang ada di Mekkah. Oh, rupanya sedang umrah dengan biaya dari kakaknya. Tentu hatinya senang banget. Saya doakan dia supaya lancar dan bisa dapat jodoh. Yang diaminkan oleh dia. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan karena sejak Februari 2025 menghilang dulu dari IG untuk detoksifikasi diri. Maklum, saya lagi stres banget karena belum bisa ke mana-mana sebab ibu saya sakit dan saya tidak bekerja. Hanya gigit jari kalau ada orang bisa lancar bepergian. Soal Prima itu juga menguap begitu saja. Apalagi WA-nya tidak berfungsi sama sekali.
Namun, Prima kembali muncul dalam kehidupan saya. Ini bermula ketika saya yang dalam masa menghilang dari IG menciptakan kembali karya-karya sastra mulai dari puisi, cerpen, dan novel mau tidak mau harus ke IG untuk promosi. Saya waktu itu hendak promosi novel saya yang berjudul Hutan Menguak sekitar awal November 2025. Nah, saat saya hendak promosi via postingan dan story, saya melihat ada notifikasi di DM. Saya buka ternyata dari Prima yang mengirim sebuah surat. Inti surat itu adalah dia mengajak saya nikah karena dia ingin sekali punya penerus yang bisa mengaji. Saya jujur kaget. Dalam masa dewasa saya, baru kali ini ada wanita kirim surat ajak nikah. Kalau waktu saya masih masa pra remaja, ya pernah juga ada wanita kirim surat minta saya jadi pacarnya.
Selain terkejut, ya tidak menyangka juga ada ajakan menikah. Saya pribadi senang. Cuma saya dalam keadaan menganggur. Setelah dapat surat itu, saya hubungi yang bersangkutan. Saya bilang terima kasih tapi saya menolak dengan halus karena saya menganggur selama hampir 2 tahun. Saya tidak mau terulang lagi kejadian yang sama yang berakibat cerai. Dia terkejut dan bertanya hal demikian mengenai penyebabnya. Ya, saya jelaskan. Lalu saya juga kasih tahu kondisi ibu saya yang masih harus saya rawat. Dia bilang saya lebih baik fokus urusin ibu saya. Setelah itu, kita WA-an. Dia tanya soal ibadah harian saya, rumah dekat masjid atau tidak. Sering salat di masjid atau tidak. Letak Kuttab pusat dekat rumah saya atau tidak karena dia kerja di Kuttab Lampung. Saya jawab semuanya meski saya saat ditanya udah setahun tidak ke masjid. Soal Kuttab pusat letak sangat jauh dari rumah saya. Jujur, saya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan interogatif ini. Dia juga bertanya soal rumah tangga, dan saya jelaskan jika berumah tangga begini-begitu. Dia cuma iya-iya aja. Lalu sama sekali tak ada pembicaraan lagi.
Jalinan Asmara
April 2026. Pada akhirnya saya coba untuk menjalin asmara dengan dia meski hati saya mengatakan tidak sreg dengan sikapnya yang menggurui saya. Tapi, saya tepis. Ini saya menjalin asmara juga tidak ada deklarasi sama sekali. Berawal dari surat dia yang masih saya simpan, dan saya baca berulang kali. Saya dapati ada semacam keikhlasan. Namun belakangan setelah putus hubungan saya meralat. Tidak ada keikhlasan sama sekali. Itu tampak seperti orang yang tertekan karena belum menikah juga sampai di usia mau 35. Jadi, ada semacam keputusasaan untuk mencari calon lagi setelah 10 kali gagal ta'aruf. Toh, akhirnya mengarah ke saya. Apalagi di keluarganya, dari 4 bersaudara, cuma dia aja yang belum menikah. Saudara-saudaranya juga udah punya anak. Itu juga yang buat saya heran.
Kemudian dia sering like story dan postingan saya tiap waktu tahajud. Membuat saya bertanya-tanya dan terbawa perasaan sembari bertanya ke diri, apa sebaiknya dia aja meski ada rasa ketidaknyamanan soal dirinya yang gemar menggurui. Tapi, lagi-lagi saya tepis itu. Apalagi dia satu-satunya orang yang membalas story saya tentang ultah ke-39 saya di bulan April tanggal 16. Saya juga ada rasa penasaran dalam diri soal dirinya yang belum juga dapat jodoh di usia 35 mau ke 36 pada Oktober nanti. Ya, sudah saya putuskan menjalin asmara untuk pernikahan. Benar-benar tidak ada deklarasi sama sekali seperti yang saya lakukan ke 7 mantan pacar saya yang di dalamnya juga ada mantan istri. Saya cuma bilang aja ke dia saya ditawari proyek penyuntingan buku di Dispusip DKI selama 3 bulan lantas bertanya ambil atau tidak karena bayarannya lumayan bisa untuk biayain pernikahan. Dia bilang ambil aja. Beberapa hari kemudian dia WA saya menanyakan pendapat saya soal dirinya yang ikut arisan, dan uangnya bisa buat bantu biaya pernikahan. Saya bilang, ambil saja. Semenjak itu saya dan dia sudah seperti terikat oleh kesepakatan bahwa kami memang akan menikah.
Kenapa saya tidak deklarasi? Karena saya dari dari profilnya di media sosial, dia ini pengikut salafi, dan dia ini ukhti, guru pelajaran iman di Kuttab Al Fatih Bandar Lampung. Orang-orang kayak begini tidaklah pas diperlakukan dengan standar orang kebanyakan dan kata-kata receh. Jadilah, selain tanpa deklarasi, juga tidak ada kata-kata "sayang, sayangku, manisku, selamat tidur" dan lainnya. Ya, saya beranggapan hal demikian juga mubazir buat dia yang selama hidupnya belum pernah berpacaran atau intiman ke lain jenis. Saya sadar akan hal itu. Jadi, saya adalah satu-satunya lelaki dalam hidupnya di masa dewasa ini.
Hubungan asmara saya dan dia itu pragmatis dan transaksional. Kering memang. Tapi saya menyesuaikan aja. Saya juga beranggapan akan sayang buang-buang kata romantis saat hubungan pra nikah. Apalagi dia yang tampilan religius juga tidak akan suka dan senang, dan bisa dianggap dosa. Tapi saya menikmati saja. Mungkin nanti pas sudah menikah bisa romantisan tanpa batas.
Awalnya sih lancar-lancar saja tanpa hambatan dan halangan. Hambatan dan halangan paling jarak geografis saya dan dia. Saya di Jakarta. Dia di Bandar Lampung. Kebanyakan hubungan lewat chat WA, IG, dan FB serta video call. Lainnya adalah saya harus mantapkan materi dulu dengan bekerja, mengumpulkan duit baru menikah. Setelah mantap menjalin asmara ini adalah saya ingin tahu wajahnya yang sekarang ini. Sebab, di medsosnya kebanyakan foto lama yang dipasang. Ada yang 2008, 2015, 2022, dan terakhir 2023. Dia juga jarang pasang wajahnya, dan lebih banyak tempat yang dia kunjungi. Yang saya tahu soal dia adalah dia langsing dan gesit, serta pendek. Saya lantas minta fotonya setelah saya pancing dengan foto saya yang dia bilang masih sama kayak waktu kali pertama bertemu tahun 2009. Dia jujur malu mau kasih lihat wajahnya. Tapi saya paksa. Ya, kan saya berhak apalagi dia calon istri saya. Lalu dia kasih video yang ada dirinya. Saya perhatikan dengan detail, dan saya dapati dari memori saya ternyata wajahnya berubah total. Bulat, gemuk. Badannya juga. Dia memakai jilbab panjang lebar dan kacamata bulat. Saya jujur kaget. Kok calon istri saya malah begini tampilannya? Itu yang pertama kali terlontar dari diri saya. Tampilan seperti emak-emak beranak dua, tua, padahal dia aja belum nikah, belum punya anak. Idealnya, kalau dia udah nikah ya tidak masalah begitu. Tapi, ada juga wanita udah nikah, anak dua, usia 43 tahun masih terlihat muda dan kayak remaja.
Jujur saya kaget dan kecewa. Tampilan visualnya tidak menarik. Kalah jauh dari mantan istri saya dan mantan-mantan pacar saya. Saya cuma bilang ke dia: Lo berubah, Prim? Dia cuma menjawab: iya, maaf ya. Saya jawab: nggak apa-apa. Meski demikian, saya tetap iya saja. Biar deh tampilan visual nggak menarik tapi saya masih punya memori lama soal dia dan dia pintar juga. Suka membaca buku. Daripada cantik, ujungnya bikin sakit hati kayak mantan istri saya. Jadi saya terus saja sembari bilang untuk mengecilkan berat badannya dari 77 ke 65 supaya terlihat cantik saat hari pernikahan. Baru setelah itu, boleh melar lagi. Intinya, saya menerima dan menoleransi.
Suatu hari dia panas dan panik saat tahu temannya akan menikah padahal baru seminggu kenalan. Dia hubungi saya dengan nada ingin segera dinikahi. Saya bilang saya akan berusaha menikahi dia sesuai janji saya. Dia lantas bertanya berapa lama akan nikahi dia. Saya bilang setahun. Itu berdasarkan realita dan kondisi yang saya alami. Apalagi saya di Jakarta. Tidak semudah mendapat kerjaan tetap. Yang di Dispusip ini juga temporer. Saya harus cari kerja lagi setelah kontrak kelar. Rupanya dia tidak terima. Dia bilang kelamaan. Lalu mengambek. Diamin saya seharian. Saya susah hubungi dia sama sekali. Dia akhirnya mau dihubungin lalu buka WA dan medsosnya. Dia menuntut saya segera menikahinya. Saya tanya mau bulan apa? Dia bilang Agustus. Saya bilang itu bulan saya nikah dengan mantan istri saya dulu. Akhirnya, dia minta Oktober. Diputuskan menikah 3 Oktober, tepat hari kelahirannya, dan di KUA saja karena biaya pernikahan yang sedikit. Saya anggarkan Rp 13 juta dari penerimaan bayaran saya di Dispusip ketika kontrak kelar.
Semenjak itu pikiran saya fokus ke sana. Saya upayakan bisa menikahinya karena saya jadi bucin meski wajahnya tidak menarik walau sudah didandani sekalipun. Ini juga karena struktur dasar wajahnya yang tidak bagus. Tiap hari kita berkomunikasi dan saya selalu meyakinkan dia bahwa saya akan usahakan satu atap meski berat di depan. Itu karena saya udah janji, dan harus saya tepati. Apalagi pada saat video call sampai 2 jam yang membuat dia merasa berdosa sebagai seorang ustazah berbicara dengan saya yang bukan mahram. Saya lantas heran. Kalau begitu dari awal ya jangan video call. Cukup telepon aja. Tapi ini dia duluan yang video call. Kalau saya perlu video call supaya saat bertemu langsung tidak kaget.
Sayangnya, di tengah upaya saya fokus ke 3 Oktober, dia berubah lagi keputusannya. Minta saya nikahin bulan Agustus karena kelamaan. Saya bilang belum ada duitnya. Lalu dia maksa saya minta gaji pertama dari proyek biar segera bisa nikahin dia. Saya bilang saya udah teken kontrak, dan gaji dibayar lumsum. Kemudian dia berubah lagi minta ke Juni-Juli ke pernikahan gratis. Abis nikah pulang ke rumah masing-masing sampai saya mampu nafkahin. What the fuck! Ini maksudnya apa kayak begini? Kok nikah masing-masing begini? Ini sama saja bisa membuat saya cerai lagi yang kali kedua. Ya, saya tidak mau!
Dia beralasan karena melihat teman-temannya seperti itu, LDR lalu tidak mau membebani ibu saya yang memang detail dan rasional. Ya, tetap saya tidak terima alasan yang menurut saya dibuat-buat. Dia begini cuma ingin validasi status nikah supaya tetap dipandang terhormat di lingkungannya. Saya sampai curhat ke teman-teman saya, dan bilang itu nggak wajar. Akhirnya, dengan berat hati saya putuskan akhiri saja hubungan ini di saat dia silent treatment selama 10 hari untuk bulan Zulhijjah setelah dia buat keputusan itu. Ya, memang selalu begitu setiap kali berhubungan dengan saya kalau kelamaan merasa kena dosa, silent treatment deh. Alasannya, ingin berpikir dan merenung sehingga susah diajak mengobrol bareng.
Jujur, dia kaget saya seperti itu lalu mengutarakan banyak alasan. Saya jujur udah malas tapi saya berpikir saya juga mungkin terlalu emosional menghadapi hal ini. Saya juga merasa sayang kalau harus berakhir cepat, dan ada baiknya saya menjalin lagi sekali lagi sampai benar-benar tahu sifatnya. Bukan prematur begini. Jadi, saya upayakan lagi kembali. Dia agak emosional juga sama saya. Awalnya tampak kesal karena sikap saya lalu blokir semua medsos saya di malam Idul Adha 2026. Ya, sudah saya pasrah. Kalau memang belum jodoh ya jangan dipaksa. Saya bisa cari yang lain lagi. Kebetulan ada orang yang saya ajak ngobrol, orang yang mau dijodohkan ke saya oleh nenek saya. Ya apa salahnya coba. Mungkin bisa pas.
Tapi besoknya saat saya mau salat Id tiba-tiba dia DM saya via FB. Dia bilang katanya selama ini sia-sia udah nunggu 17 tahun ke saya tapi berakhir tidak enak. Saya menangkap maksudnya dia mau sama saya lagi. Tapi saya cenderung hati-hati nanti malah begitu lagi. Saya bilang aja ke dia agar dia cari aja orang lain selama setahun lalu hubungi saya lagi. Saya juga begitu. Lagipula saya akan coba jalin hubungan dengan wanita yang dijodohkan dari nenek saya. Dia bilang terserah. Selama salat id saya kepikiran dengan perilakunya ini yang inkonsisten dan labil.
Setelah kejadian dia maksa nikah lalu berubah-ubah saya berupaya biasa saja. Saya nggak mau aktif menyapa. Biar dia saja. Atau lebih baik nggak perlu ada sama sekali. Tapi memang dia orang yang baru kali ini intiman sama saya, masih terus hubungi saya dengan kirim reel pernikahan di IG dan FB. Saya sempat bilang bahwa saya ingin rehat dulu dari dunia percintaan ini karena cukup lelah dengan dia yang menguras banyak pikiran saya. Saya malah ingin lebih cinta platonis aja. Dia bertanya. Saya jelaskan dengan gamblang platonis itu. Dia mengiyakan. Lalu bilang kayaknya seru dijadikan cerita.
Kemudian dia kirim foto tisu dikeluarkan banyak. Dia cerita kalau dia menangis seharian tanggal 28 Mei karena saya. Saya lantas minta maaf. Setelah itu hubungan biasa aja apalagi dia WA saya kalau saya suka wanita putih dan bersinar serta cantik. Saya iyakan saja. Saya nggak masalah. Toh, itu baik juga buat saya untuk rehat. Tapi, memang dasar dia tidak konsisten. Tiba-tiba suatu malam saat telepon saya nanya: kamu nanti udah siap ke rumah kakakku di Bekasi untuk di-tes Qur'an?
Saya jujur kaget. Dalam hati bilang: loh, katanya biasa aja kok jadi masih serius? Saya beneran heran. Sampai akhirnya saya besoknya memutuskan diam. Dia lantas mencari saya khawatir saya diam malah kejadian seperti dulu lagi yang saat diam 10 hari demi bulan Zulhijjah lalu tiba-tiba kasih pernyataan putus hubungan. Padahal, itu kan dia yang mulai. Ya, saya lantas jawab dengan pertanyaan kenapa tidak cari laki-laki yang selevel dan satu aliran dengan dia. Kalau saya bilang saya tidak pantas dengan dia. Saya tersirat mau menyudahi hubungan ini yang menurut saya aneh. Dia malah marah-marah katanya saya was-was menikah dengan dia, dan itu pekerjaan setan. Lalu saya tanya alasan sesungguhnya kenapa masih mau sama saya? Dia jawab karena saya tinggi, badan besar, ganteng, dan bisa buat dia menangis. Lalu dia berucap terima kasih sudah ada di kehidupanku. Saya tersanjung dan terenyuh. Saya akhirnya mantapkan hati lagi menikahi dia tahun depan setelah dia sepakat. Lalu saya ubah panggilan komunikasi ke dia dari gue-lo ke aku-kamu supaya lebih sopan dan romantis. Itu permintaan dia dari dulu. Bukan saya. Jadi, kenapa awalnya saya memakai gue-lo saat hubungan asmara kedelapan ini? Ini karena saya melihat dia ukhti. Tentu tidak akan suka aku-kamu. Ya, soalnya saya juga pernah pacaran dengan ukhti, teman SD, tidak suka aku-kamu. Katanya, bikin muntah. Ya, saya berdasarkan pengalaman. Ya, saya juga senang bisa pakai aku-kamu lagi karena dari dulu saya berpacaran ya begitu.
Semenjak itu suasananya berubah. Selain aku-kamu dia panggil saya dengan sebutan Mas, Mamasku dan di pesan WA selalu ada ikon hati dan cuddle lalu ikon berciuman dari dia. Saya jujur kaget. Dia ukhti malah begini. Selalu bilang saya ganteng. Saya hanya membalas sekali dia cantik karena terbawa suasana. Tapi, jujur, sekali lagi, memang aslinya tidak cantik meski sudah berdandan. Ada kesan tua dan kasar yang saya tangkap di wajahnya kalau dalam keadaan diam. Saya selalu minta dia lepas kacamata karena itu akan membuatnya tampak tua. Tapi memang udah struktur dasar wajah kurang bagus ditambah penampilan memang tidak menarik. Ini semua karena gaya hidup. Dia malas untuk perawatan. Wajahnya jadi kusam dan jerawatan. Padahal, kalau mau dilirik laki-laki haruslah menarik. Tapi, dia selalu berpikir fatalistik kalau begini: Allah nggak akan melihat wajah cantik atau jelek.
Saya selama masa ini juga berjanji akan ke Lampung pada bulan Agustus atau September setelah uang turun untuk menemui dia langsung dan kakaknya mengutarakan maksud kedatangan saya. Itu saya udah kalkulasi semua biaya ke sana. Baru dari Lampung saya akan ke rumah kakaknya di Bogor untuk utarakan hal yang sama. Dia juga janji mau ketemu saya tanggal 28-29 Juni 2026. Saya sih oke aja. Kan ketemuan langsung. Jadi saya bisa tahu dia secara dekat. Tapi dia ini lucu memang. Sudah tetapkan tanggal ketemuan tapi malah ubah-ubah tempat. Tadinya di Rangkasbitung kemudian pindah ke Dukuh Atas lalu ke Revo Mall Bekasi lalu ke Depok ujung-ujungnya malah ke rumah kakaknya di Villa Nusa indah, Bogor. Alasannya, belum muhrim dan dia khawatir terus minta ketemuan di tempat ramai dan ada teman. Saya sebenarnya heran karena kita sudah kenal lama tapi malah begitu. Lagipula saya tidak ada niat apa-apa ke dia. Saya duda. Sudah pernah menikah. Biasa saja juga dengan lawan jenis bahkan sebelum menikah. Usut punya usut, setelah saya selidiki sehabis putus, sebenarnya dia malu ketemu saya karena tampilannya yang berubah. Dia nggak percaya diri. Soal ini dia pernah ngomong. Khawatir saya menolak dia. Padahal, calon istri buat apa saya tolak kalau sudah yakin apalagi setiap hari berhubungan. Kan itu bisa dipoles jadi cantik. Lainnya, dia khawatir sama nafsuan ke saya. Baru kali ini saya dinafsui perempuan. Biasanya saya yang nafsuan.
Akhirnya pertemuan itu tak pernah terjadi sama sekali. Selain alasan di atas kakaknya yang di Bogor balik ke Lampung untuk lomba lari bersama dia tanggal 5 Juli 2026. Saya tidak tahu jadi atau tidak karena kita sudah putus hubungan pada 22 Juni 2026. Jadi diundur ke Agustus. Tapi memang tidak akan pernah terjadi karena sudah putus. Soal pertemuan yang tidak jadi, bukan sekali ini aja. Pada awal menjalin hubungan, di awal Mei, dia janji mau ketemuan sama saya di Bekasi tapi urung karena ketika di Bekasi harus langsung ke Kudus bersama kakaknya untuk silaturahmi. Dia baru bilang mau ketemu saat sore mau balik ke Lampung di Villa Nusa Indah. Saya tanya kenapa harus dadakan saat sore ke malam bukan pagi aja? Soalnya saya tahu daerah itu kalau sore ke malam macet parah. Apalagi Villa Nusa Indah jauh banget ke dalam dari perempatan Pasar Rebo, Jatiasih, Bekasi. Kenapa saya bisa bilang begini? Karena saya dulu punya pacar di sana. Pacaran selama setahun lebih membuat saya tahu dan paham. Jadi, tidak akan bisa terkejar sama sekali. Mau pakai angkot atau ojek online.
Dia beralasan katanya masih capek kalau pagi lalu minta maaf. Ya, saya juga minta maaf kalau dadakan tidak bisa sama sekali. Jadi, saya di awal-awal bucin banget sama dia karena ya saya tidak tahu perawakan terbarunya. Semua masih pakai data lama. Masa iya dia jadi calon istri saya, saya tidak tahu wajahnya sama sekali. Wajar, jika saya begitu. Karena saking bucinnya saya sampai ciptakan puisi yang lalu saya jadi jadikan lagu. Judulnya Gelombang Cinta. Liriknya begini:
Kamu adalah kumpulan partikel atom
Yang mengimpuls saraf-saraf dalam nalarku
Membuatku tergugah
Merasakan kembali gelombang bernama cinta itu
Ku mencoba mereka dan meraba-raba
Sesosok dirimu dalam lapisan memoriku
Rasa samar juga sumir mengawang-awang lalu menggawangi
Sudah banyak musim kita bercerai mata
Hanya dalam lintasan kata-kata kita bergumul
Membuncahkan perasaan
Meski kamu juga bingung merasai buncahan itu
Karena kamu belum pernah berlayar di samudra penuh gelombang
Masa romantisan itu pada akhirnya menemui sebuah batu besar. Batu besar itu lebih kepada prinsip dasar masing-masing. Saya pribadi adalah orang yang biasa saja, bukan orang yang religius namun tetap salat 5 waktu setiap hari, baca Al-Qur'an tiap sore, terkadang salat tahajud dan duha, lebih menyukai kehidupan yang realistis dan apa adanya alias tidak dibuat-buat, lebih suka kritis terhadap suatu hal alias tidak mau menerima begitu saja, menyukai sesuatu yang bersifat humaniora dan seni. Sedangkan dia adalah orang tipe religius ketat, lebih pada kepatuhan daripada kritis, tidak independen karena ikut standar kelompok, tidak pernah bisa kritis meskipun pintar.
Suatu ketika saya menelepon lalu dia tanya kabar saya. Saya jawab standar: ya, begini-begini aja dia langsung mengoreksi: jawabnya, Alhamdulillah dong. Saya tertawa tapi dalam hati mengkritik apalagi saat dia bilang ke saya: kamu nanti harus semi ustad kalau sama aku. Di situ saya tertegun dan tertekan. Saya jujur tidak suka. Saya protes. Dia lantas bilang: harusnya aku nggak ngomong gini ke kamu.
Lalu pada tanggal 20 Juni di malam hari, perbedaan itu semakin melebar. Awalnya dari cerita dia sehabis ikut kuliah online hari pertama. Saya menyimak, dan mendapati ketidaknyamanan soal pernikahan dengan visi misi surga dan akhirat. Ini sebenarnya maksudnya lebih ke mana? Apalagi pakai standar ketat via tukaran CV dan segala macam. Ada beberapa hal yang saya protes karena saya orangnya tidak mau terima begitu saja. Semua harus jelas dan jelas. Apalagi dia ini orangnya iya-iya aja atau people pleaser. Ya, saya tidak mau istri seperti itu. Silakan menurut dan patuh ke suami tapi kalau suami keterlaluan masa iya menurut juga. Saya butuh wanita yang kritis. Soal ini sempat saya tanyakan ke teman saya yang lulusan pesantren esoknya. Dia cuma bilang, lo itu nahkoda, Pak. Penumpangnya calon istri Lo yang tarbiyah salafi, yang sebenarnya tujuan Lo dan dia sama cuma cara berbeda. Lo harus tegas karena kalau nggak Lo yang bakal ketarik sama dia. Pilihannya cuma dua, lo pelajarin tarbiyah dan salafi terus ikut dia atau Lo harus punya argumen tegas. Begitulah kata teman saya itu ke dia. Teman saya ini lulusan pesantren yang kemudian masuk sastra Belanda, dan sering berdebat dengan anak-anak tarbiyah di kampus. Dia semasa kuliah juga jadi asisten dosen kaligrafi.
Lalu apa lagi di malam tanggal 20 yang membuat perbedaan dasar semakin melebar? Tipe kepribadian. Jadi, saat kita teleponan, saya sekalian ikut tes psikologi kepribadian yang diadakan dia, dan udah jauh-jauh hari dia mau mengetes saya ingin tahu sebenarnya cocok tidak kepribadian saya dan dia sejauh ini. Setelah hampir 20 menit, didapati hasil kalau saya kuat di musik, kinestetik, intrapersonal, dan dia cuma kuat di intrapersonal. Namun yang bikin dia kaget adalah soal kuatnya kepribadian musik pada diri saya. Saya akui saya suka musik walaupun tidak pandai main musik. Bahkan punya musik favorit dan band favorit. Kalau ada alunan musik, spontan saya menggerakkan tangan dan kaki ikut alunan bahkan sering menepuk-nepuk permukaan dengan tangan membentuk alunan nada. Selain musik, saya juga suka membuat patung atau diorama karena saya menyukai seni.
Tapi dia langsung meradang, mengembus nafas, mengelus dada, dan mengerutkan dahi. Dia tidak suka kepribadian saya itu karena baginya akan bertentangan dengan keinginannya untuk bisa hafal 30 juz. Bagi dia, ini ibarat air dan minyak. Tidak bisa disatukan sama sekali. Saya mendengar itu berupaya untuk santai aja tidak mau terprovokasi. Saya cuma bilang, kalau soal itu bisa dikompromikan. Lalu dia berkata kepada saya, apa kita udahan aja ya? Capek aku kayaknya kayak gini. Lantas saya bilang: sekali genderang perang ditabuh, tetap harus jalan apapun risikonya. Dia menerima namun saya setelah malah terus kepikiran akan hal ini. Ini ke depannya meski ada kompromi tetap akan jadi masalah, dan malah bisa berujung perceraian. Tentu saya tidak mau.
Esoknya, melalui hasil tes itu saya buat analisis satu per satu, dan saya buat poin-poin komprominya. Saya kasih ke dia. Dia menerima dan katanya siap menghadapi perbedaan yang ada. Saya cuma bilang: Alhamdulillah, kalau terima. Tapi tetap dalam hati saya masih terpikirkan terus perbedaan ini. Saya malah ingin mundur saja. Tapi saya urungkan. Saya harus konsisten minimal sampai lamaran seperti yang dia minta. Ya sudah saya jalankan saja. Kalau memang jodoh ya jodoh, kalau nggak ya nggak. Begitu saya berkata pada diri saya. Saya juga sudah siap terima konsekuensinya tapi saya tetap tidak mau diatur-atur. Saya harus tetap independen. Perihal perbedaan ini, ibu saya sudah bilang ke saya harus tegas. Jangan sampai terseret arus.
Senin tanggal 22 Juni. Pagi hari sampai siang saya sama dia masih romantisan. Dan, kebanyakan ada di dia. Saya sendiri malah tidak sama sekali. Saya hanya menanggapi. Saya masih memikirkan hasil tes dan dampak ke depannya serta pandangan dia soal pernikahan yang terlalu ikut standar kelompoknya. Jujur, saya tidak nyaman. Saya jujur dalam hati sudah malas dan tidak antusias dengan hubungan yang tidak seimbang secara karakter ini. Saya punya karakter melankolis-koleris, dia sanguinis plegmatis. Bahasa kasih saya sentuhan fisik sedangkan dia hadiah dan pujian. Terlihat sekali banyak tabrakannya.
Sore hari seperti biasa saya mengantuk. Kalau sudah mengantuk, saya sehabis Magrib tidur, dan bangun jam 9-10 malam untuk salat Isya lalu tidur lagi. Kebetulan sedang ada Piala Dunia 2026, jadi saya manfaatkan untuk tidur dulu karena saya prinsipnya tidak mau bergadang lagi. Soalnya, tidak menyehatkan.
Nah, dia seperti biasa, setiap sore selalu minta menelepon. Jujur, saya sudah malas. Apalagi menelepon sampai 2 jam cuma untuk mendengarkan pandangan dia yang semakin lama memaksa saya untuk mengikutinya. Kuping juga pengang. Lalu saya pakai alasan kalau saya sudah mengantuk banget karena capek seharian beraktivitas. Dia tidak mau dan memaksa saya bahkan cuma 5 menit. Tapi saya bilang saya tetap tidak bisa lalu saya janji untuk menelepon saat tengah malam ketika terbangun.
Akhir Kisah
Tengah malam tanggal 23 Juni saya terbangun sekitar jam setengah dua. Saya dapati ada notifikasi WA berupa voice note dari dia. Isinya, dia minta mengakhiri hubungan karena katanya lelah untuk terus berharap ke saya. Saya jujur kaget tapi dalam hati senang banget karena beban di pundak saya akhirnya lepas. Cuma saya agak heran dengan alasannya mengakhiri hubungan hanya karena saya tidak mau ditelepon di ujung sore. Lalu saya dengar alasan lain karena ia sudah capek-capek berdandan demi saya untuk menelepon. Ya heran saja untuk menelepon saja harus berdandan segala. Ini kan bukan video call.
Saya lalu berpikir perkara kecil begini aja dia udah minta mengakhiri hubungan. Terus bagaimana kalau nanti saat satu atap yang lebih banyak dinamikanya daripada masalah telepon ini? Ada satu masa suami bisa jadi cuek sama istrinya kalau istrinya menyebalkan atau tidak menarik dipandang. Ada satu masa juga istri bisa cuek sama suaminya kalau suami tidak perhatian atau melakukan kesalahan yang dianggap besar. Di rumah tangga perihal tidak mau ditelepon bisa terjadi berkali-kali. Itu juga pernah saya alami saat berumah tangga. Saya berpikir tipe dia yang begini malah ujung-ujungnya bisa minta cerai. Saya anggap dia tidak setia.
Dia ketika mengakhiri hubungan dengan saya minta izin blokir media sosial saya karena khawatir tidak bisa move on. Saya persilakan, dan memang kondisi sepi setelah itu. Cuma saya tetap merasa heran dengan tingkah lakunya ini untuk mengakhiri hubungan. Tidak begitu masuk di akal sama sekali. Tidak logis. Karena itu, Jumat, 26 Juni 2026, saya sapa dia aja via email karena email tidak bisa diblokir. Sekadar menanyakan kabar dan sekalian menegaskan hubungan bersifat biasa saja serta ingin menjalin silaturahmi. Responsnya langsung cepat membalas. Dia tampak senang saya hubungi lalu bilang kalau dia ingin hubungi saya duluan tapi malu. Cuma dia salah tafsir terhadap email saya ini. Dikiranya saya meminta dia kembali ke saya. Padahal, tidak. Dianggapnya saya belum move on. Padahal, tidak. Saya cuma ingin menanyakan keanehan pengakhiran hubungan saja. Tapi, dia salah tafsir. Setelah email itu, tiba-tiba dia buka blokir WA lalu cerita kalau sudah hafal juz ke-28 lalu kirim foto-foto kegiatannya di Kuttab. Saya mikir ini kok seperti saat masih berhubungan dulu. Dia intinya tampak senang saya kembali, dan begitu bersemangat serta riang. Tapi, saya sebaliknya.
Malam hari dia kirim voice note yang dalam voice note ini satu kalimat yang buat saya sakit hati sampai sekarang dan tidak bisa saya maafkan. Kalimat itu berbunyi begini: Ya Allah, hamba mencintai dia yang tidak mencintai-Mu. Ia ucapkan dengan begitu gembira karena selama masa hening dia berdoa begitu tentang saya dan terkabul kalau saya akan menghubungi dia lagi. Jujur, saya benar-benar tersinggung dengan kalimat itu. Maksudnya apa dia berucap begitu? Kok main vonis saya begitu gampang cuma melihat dari permukaan? Kayak merasa paling benar aja dan suci! Pelacur dikasih kalimat begitu juga tersinggung!
Saya jelas tidak terima tapi saya tidak frontal saat itu juga. Saya diamin dalam ketersinggungan saya. Saya bertanya dalam hati: bagaimana kalau Allah yang kamu minta doa tidak mencintai kamu? Bukan kali ini saja saya divonis begitu. Pada awal berhubungan dia juga memvonis saya dengan kalimat: sama-sama ego. Yang satu mendekat ke rabb-nya, yang satu tidak. Yang satu sudah hijrah. Yang satu belum. Maksudnya apa kayak begitu? Beragama kok tapi mulut nggak diajarkan bertutur lembut malah mudah memvonis.
Saya cuma menanggapi biasa, tidak antusias sekaligus menegaskan lagi bahwa hubungan saya dan dia cuma biasa saja. Saya cuma minta dia analisis cerpen-cerpen saya. Kenapa saya begitu? Saya merasa saya masih berhubungan spesial dengan dia. Padahal, tidak. Sudah berakhir. Dia benar-benar salah tafsir. Dia baru menanggapi esok pagi. Mengiyakan sembari minta ganti aku-kamu ke gue-lo. Saya tidak menanggapi. Saya mulai silent treatment. Saya hapus nomornya. Dia sempat menyapa saya: Fan. Tapi, saya diamkan.
Esok malam, di tengah silent treatment itu, dia kirim email ke saya perihal sudah selesai analisis cerpen-cerpen saya. Dan, semua dianggap tidak bermoral sama sekali. Semua pakai kacamata dia yang sempit dan hitam-putih. Saya diamkan, dan saya hapus email. Jujur, kecewa banget! Salah saya sendiri minta tolong ke dia hanya karena suka baca buku. Tapi, ternyata baca buku aja belum tentu bisa pintar dan kritis. Meski tiap hari dia diminta baca 20 halaman untuk satu buku. Saya tetap melakukan silent treatment.
Tanggal 30 Juli 2026 dia kirim email lagi. Kali ini sebuah puisi. Dan, lagi-lagi di puisi itu dia memvonis saya dalam satu bait. Begini bunyinya:
Tuhan kita sama
Tapi surga kita berbeda
Kamu surga dunia
Kamu lebih suka wanita cantik dan bersinar
Tidak pernah terpikirkah menyukai wanita salehah?
Jujur saya benar-benar tersinggung dan gusar. Maunya apa sih kayak begini? Saya tahu dia belum bisa move on. Apalagi saya satu-satunya lelaki yang begitu intim di kehidupannya meski cuma lewat medsos dan email. Dia anggap dirinya wanita salehah? Salehah dari mana? Tampilan luar aja salehah tapi kelakuan tidak sama sekali. Bilang saya suka wanita cantik dan bersinar, ya terus kenapa? Justru malah mereka yang salehah. Inilah kalau beragama tidak belajar filsafat dan tasawuf. Tidak bijak dan tidak lembut menyikapi perbedaan.
Saya jelas protes. Saya tidak balas email itu. Saya buat puisi yang saya jadikan lagu di IG. Di puisi itu saya tidak mencintai dia. Sama sekali tidak mencintai dia. Semasa berhubungan juga saya tidak cinta dia karena saya belum melihat sesuatu yang buat saya jatuh cinta untuk bisa menutupi wajah dan tampilan visualnya yang tidak menarik. Saya protes soal pandangannya, dan saya minta dia move on. Kali ini saya anggap dia benar-benar jelek. Ya tampilan, ya wajah, ya mulut. Semua jelek. Padahal saya sudah toleransi soal wajah dan tampilan tapi dianya yang begitu ke saya. Buktinya, saya masih mau dan lanjut ke pernikahan. Tapi, kalau begini memang sudah tidak bisa berjodoh sama sekali.
Dia lihat medsos saya rupanya. Itu terlihat dari email yang saya kirimkan. Dia melakukan mirroring. Di email itu dia minta maaf tapi juga melakukan pembelaan diri yang menurut saya dibuat-buat dan semakin menunjukkan kelemahannya. Bahkan bahasan dalam email juga ngalor ngidul. Tiba-tiba malah bahas soal makanan sehat ala Zaidul Akbar. Terlihat inkonsisten dan labil. Saya tidak tanggapi. Dia kirim email sekitar tanggal 4 Juli pagi. Lalu kirim email lagi pada sore hari kalau tetangganya menawarkan dua duda. Satu security. Satu duda dua anak. Dia bilang sreg sama yang duda dua anak karena sesuai kriteria dan impiannya. Apalagi duda itu punya banyak harta. Cuma dia kurang sreg karena beda usia 17 tahun. Ya, saya tahu kalau sama duda yang lebih tua mana bisa dia dominasi. Yang ada didominasi. Apalagi itu duda punya anak yang udah besar. Tentu dia harus bisa jadi ibu sambung yang bisa diterima. Itu kenapa dia mau sama saya. Katanya, nyaman dan udah kenal. Tapi alasan sebenarnya sih ya karena beda usia sama saya cuma 3 tahun. Saya duda juga tapi tanpa anak. Jadi, dia bisa membangun impian dari nol sesuai validasi surga. Sayangnya, tidak akan terjadi.
Saya tetap silent treatment alias tidak membalas sama sekali. Saya biarkan saja sampai dia menyadari kalau dia hanya akan menghadapi gemanya sendiri. Saya juga fokus pada kehidupan harian dan kerjaan di Dispusip. Kalau dari email-nya yang memakai judul progres move on part 1 pasti akan ada lagi part 2. Pertanda dia sebenarnya belum bisa move on dari saya yang dianggap spesial dan merupakan keajaiban di dalam hidupnya. Saya masih menari-nari di pikirannya. Dan, benar saja dia masih mengirim email progress move on part 2. Isinya tentang persetujuan si duda terhadap dirinya yang pakai perantara. Saya tadinya anggap biasa saja. Tapi lama kelamaan saya terganggu. Lah, buat apa saya harus tahu masalah pribadi dia jelas-jelas hubungan udah berakhir. Tadinya saya mau silent treatment aja. Tapi jujur saya jadi malas. Nanti ada lagi part 3, part 4. Akhirnya, saya putuskan kirim email peringatan pada tanggal 11 Juli 2026 dengan judul: Tolong Move On Ya, Neng Puput. Puput itu adalah nama panggilannya di rumah. Saya pakai nama itu selama berhubungan dan supaya bisa akrab secara personal. Daripada nama Prima. Yang bisa jadi nama laki-laki, nama perempuan.
Saya menulis dalam bahasa Betawi, bahasa suku saya supaya tidak terlalu tegang tapi tegas. Intinya, saya minta dia move on sama sekali karena hubungan kita sudah berakhir. Jangan kirim email lagi dan jangan perpanjang perkara. Saya juga di email itu meminta maaf kalau ada salah kata yang tidak saya sadari meski saya tahu dia sebenarnya yang banyak salah ke saya. Mulai dari inkonsistensinya, kelabilan, dan vonis hitam-putih yang membuat saya lelah saat menjalin hubungan asmara ini. Lalu saya tutup dengan pantun yang minta dia untuk cari lelaki baru. Kenapa saya bilang begitu? Ini karena dia tidak mau lelaki yang baru karena sudah pasti dapat yang tua, bukan yang muda lagi meski sudah langsing. Jadi, dia masih mau ke saya. Itu yang saya dapat dari ucapannya setelah putus ketika saya bilang kalau badan bagus tentu akan banyak kumbang yang datang. Saya pribadi memang sudah tidak mau sama dia karena karakternya yang bertolak belakang dengan saya. Jadi, nggak bisa dipaksakan untuk disatukan.
Selepas saya kirim email itu, saya berharap dia baca dengan pelan dan cermat sehingga tidak balas email lagi karena saya sudah kasih garis merah pada email saya itu. Namun, ternyata pada 23 Juli 2026, dia malah balas email saya. Saya terkejut. Katanya baru tahu ada email 3 hari setelah saya kirim lalu dia bingung mau balas. Tapi kemudian dia membalas panjang lebar. Dimulai dari dia merasa "gembira" saya sudah bisa move on sedangkan dia belum lalu bahas siap maintenance wanita, bahas masalah dia punya harta (1 mobil, 2 motor, rumah yang lebih besar), bahas punya kerjaan tetap sedangkan saya tidak, bahas soal dia tetap jelek meski sudah pakai lingerie dan suit, bahas tentang dia yang tersinggung karena hidungnya nggak mancung alias pesek serta kulitnya yang tidak putih, bahas fisik saya yang gendut dan jelek, bahas kelakuan saya tentang beribadah: salat Isya tengah malam dan jarang salat di masjid, kemudian kasih wejangan soal rumah tangga.
Saya yang mendapati email balasan itu jelas-jelas marah besar. Seketika api membara di tubuh saya. Ini orang udah dibilang jangan balas email lagi masih juga balas. Padahal, semua sudah saya bilang di email saya sebelumnya. Ini berarti pelanggaran batas. Saya tidak bisa biarkan sama sekali. Saya benar-benar marah. Sangat marah. Karena fokus ke pelanggaran batas saya lansung balas dengan 7 email beruntun yang berisi kemarahan yang frontal alias tanpa filter. Sekalian melancarkan serangan balas dendam saya akibat perilakunya yang selama ini sudah keterlaluan ke saya: sombong secara religius dan vonis saya hitam-putih hanya karena tidak sesuai standarnya. Saya serang langsung tampilan, kepribadian, dan status dia dengan kata-kata kasar ibarat pemanah langsung mengarah ke jantung. Saya lontarkan kata-kata berikut:
"Pamer aja noh sono di akhirat!!!" "Tampilan religius, kelakuan nol!!!", "Jangan sok ngeguruin dah!!! Nikah aja belum pernah!!! Ngerasain aja belum pernah!!! Sok tau banget!!!! Pantas aja nggak laku-laku!!!" Selain kata-kata kasar itu saya juga lontarkan kata "nambeng!!!", "dablek!!!" karena kelakuannya yang malah balas email meski sudah dibilang jangan. Saya juga lontarkan kata: Sini hayo ribut!!!, jangan main-main ya!!! Aku beneran serius marah!!!
Karena kaget dapat balasan beruntun dari saya dengan kata-kata kasar dia cuma membalas: Astaghfirullah, istighfar, Fan, jangan marah-marah. Yang sepertinya reaksi panik dan ketakutan terhadap kemarahan saya. Saya lantas balas: Hak2 gue marah!!! Lo mang siapa??? Udah dibilang jangan balas email!!! Lo siapa??? Kenapa Lo nggak suka??? Hayo ribut sini!!!!
Setelah itu hening. Tiada jawaban dari dia sampai sekarang. Setelah melancarkan serangan frontal itu, saya spontan berkata: pasti nangis nih. Saya yakin dia benar-benar terkejut dengan email balasan saya. Dia berpikir saya akan membalas dengan lembut juga karena dia tahunya saya orangnya lembut, tidak pernah marah. Ternyata dia salah perhitungan dan salah sangka. Saya memang jarang marah tapi kalau sudah sekalinya marah bisa sangat destruktif. Itulah jeleknya karakter melankolis-koleris saya. Dia masih untung saya marahi via teks kalau lewat telepon bisa saya bentak-bentak atau kalau langsung saya bisa lempar botol plastik dan kursi. Saya terpaksa begini karena batas yang saya buat dilanggar juga karena akumulasi kekesalan ke dia sehingga cari waktu yang tepat untuk membalas. Ya, dia harus rasakan kalau bisa sampai mampus karena main-main dengan saya.
Saya jujur setelah itu senang banget. Dopamin saya meningkat cepat. Seperti ada kepuasan tiada tara. Batin begitu puas. Saya tidak peduli dia nangis kaget atau sakit hati karena ucapan saya yang frontal, dan yang pasti akan selalu diingat sepanjang hidupnya apalagi dari orang yang pernah intiman dengan dia di sepanjang hidupnya. Saya yakin dia mengadu ke lingkungan terdekatnya perihal kemarahan saya yang destruktif ini, yang tentunya masih buat dia terkejut dan mencerna dengan pelan. Bayangan saya yang halus seketika hancur di matanya. Membuat ia benci sekaligus kagum karena saya orang yang tidak bisa dianggap main-main. Tapi saya bodoh amat!
Saya malah ingin rasanya tertawa soal dia bilang saya jelek, gendut. Lah, dia sendiri saja gendut. Toh jelek gendut saya udah berkali-kali bisa berinteraksi dengan lawan jenis, bukan cuma pacaran, tapi juga HTS-an bahkan sahabatan serta ngobrol dengan mereka atau malah digelendotin. Saya juga sedari dulu disukai lawan jenis. Di SMP, SMA sampai kuliah banyak yang suka saya. Cuma saya nggak gede rasa, pemalu, dan terkadang nggak percaya diri. Bahkan di tempat kerja juga ada yang terang-terangan suka saya karena lesung pipi saya yang dalam. Mantan-mantan saya juga putih-putih, cantik, tinggi-tinggi apalagi mantan istri saya. Cuma dia aja yang beda. Kalau saya perhatikan dengan saudara-saudaranya di medsos, ampun lebih cakep dan cantik saudara-saudaranya. Dia sendiri yang beda. Ya, mungkin itu juga yang menyebabkan dia belum punya jodoh sampai sekarang. Yang saya dengar saudara-saudaranya ini pada pacaran dan realistis. Seharusnya dia mengaca sebelum berkata begitu. Kasian deh lo!
Kemudian soal dia tetap jelek meski pakai suit atau lingerie saya saja nggak pernah ngomong begitu. Delusi saja ini orang. Gimana saya mau menilai kalau masih belum halal? Apalagi dia kan berjilbab. Aneh! Dia aja nggak mau diperlihatkan lengan atasnya kalau di foto karena malu lengan atasnya besar banget. Mandi saja malah pakai suit. Saya nggak tahu apa alasannya? Apa takut diintip jin atau takut melihat tubuh sendiri? Ya, kalau kayak begini pas satu atap dan berhubungan badan bisa repot. Saya juga tersirat menangkap ketakutannya soal menikah. Dia memang ingin menikah tapi sebenarnya tidak ingin karena ada banyak tanggung jawab yang kan diemban bahkan dia aja sepertinya ogah meninggalkan zona nyamannya untuk ikut suami.
Lalu soal hitam-putih yang diarahkan ke ibadah harian. Yang jelas bukan ke situ ya. Saya lebih menyoroti di perkataannya yang menyakiti saya berulang kali, juga di puisinya. Sayang, dia tidak sadar dan memang sulit sadar.
Yang jelas sampai sekarang ini saya masih senang banget dan puas bisa menghantam telak dirinya tepat ke jantung hatinya. Sebuah balasan yang setimpal. Schadenfreude saya muncul. Biar mampus tuh orang! Lagian main-main sama saya. Yang jelas kata-kata kasar ini akan selalu tergiang di dirinya. Selamanya. Perpisahan yang tidak indah, bukan?
Analisis
Prima Dian Putri bagi saya adalah orang yang penuh dengan inkonsistensi, labil, hitam-putih, dan ambivalen. Hal-hal ini yang menurut saya melelahkan bagi saya yang melankolis-koleris. Saya memang tidak cocok dengan karakter sanguinis-plegmatis-nya. Inkonsistensinya ini juga terlihat dari email-email yang dia kirim serta tulisan dia berupa review buku yang isinya kebanyakan pengalaman pribadi, bukan bukunya. Orang ini seperti ini tidak akan bisa diajak berpikir mendalam dan kritis serta mendetail, dan hanya jadi follower karena unsur people pleaser-nya. Itu karena dia tidak punya kemampuan demikian, kemampuan analitis sehingga hanya iya-iya saja demi menghindari konflik. Saya jujur tidak suka wanita yang seperti ini. Saya butuh wanita yang kritis yang bisa counter saya secara detail lalu selesaikan masalah secara bersama-sama. Tidak perlu ada namanya silent treatment atau kabur dari masalah. Dan, dia sering kabur dari masalah dengan topeng religius.
Kisah romansa menuju pernikahan ini berakhir karena inkonsistensi dan kelabilan Prima. Kalau saja dia konsisten, tidak labil serta jadi orang yang punya pendirian dan yakin seperti saya, tentu sampai sekarang akan lanjut. Semua hancur karena egonya sendiri. Pantaslah gagal jadi istri!
Mantan-mantan pacar saya termasuk mantan istri saya rata-rata melankolis-koleris juga koleris-plegmatis sehingga saya terbiasa berargumentasi dengan mereka. Bahkan ada juga yang mulutnya nyelekit. Baru kali ini saya dapat mantan pacar, orang kedelapan yang sanguinis-plegmatis. Dua bulan berhubungan dan kebanyakan via medsos dan video call tapi cukup melelahkan pikiran dan mental saya. Hubungan ini setelahnya banyak saya jadikan karya. Kebanyakan puisi dan gambar. Itulah orang melankolis. Kalau kesal pasti disalurkan jadi karya, dan di situ terlihat energi besarnya. Lebih positif begini sebenarnya daripada marah yang destruktif.
Yang perlu dipelajari untuk ke depannya
- Pilih pasangan jangan hanya karena teman lama demi emosional batin semata
- Jangan tertipu dengan tampilan luar yang ceria tapi labil di dalam
- Pilih pasangan yang mau menghargai, kritis, juga tegas serta perlakukan pasangan sebagai mitra
- Pilih pasangan yang anggap pernikahan bukan proyek validasi surga tapi untuk saling belajar dewasa dan tidak menggurui serta menghargai satu sama lain
- Pilih pasangan yang ingin menikah karena dari hati bukan lingkungan
Itulah kisah asmara kedelapan saya dengan Prima Dian Putri yang aneh dan unik. Saya kira kalau kedelapan ini seharusnya mapan dan papan. Eh, ini malah sebaliknya, beban.


















