Pages

Jumat, 31 Juli 2026

Asmara Kedelapan

Saya mau mengawali dengan apa ya cerita yang akan saya tulis ini? Sebenarnya, saya tak ingin menuliskan cerita ini karena sudah sering saya sampaikan secara acak di AI. Tapi, baiklah, saya tulis saja beserta juga analisis dan penilaiannya supaya juga jadi bahan pelajaran ke depan. Cerita yang saya tulis ini sebenarnya cerita yang cukup receh. Cerita jalinan hubungan asmara atau ya sudah cerita percintaan. Tapi jangan harap cerita ini happily ever after ya. Ya, jangan langsung berpikir ini sedih juga. Cerita ini bagi saya unik dan melelahkan walau jalinan asmara itu cuma dua bulan, dan terhubung hanya via WhatsApp, Instagram, Facebook, dan belakangan email. Jadi, mari kita mulai saja ceritanya!

Awal Mula

Semua dimulai pada Agustus 2009. Saat itu saya yang seharusnya lulus kuliah pada tahun itu harus mengurungkan keinginan saya karena ada banyak mata kuliah yang saya harus ulang, dan jumlah SKS yang kurang untuk bisa lulus. Saya sendiri ambil jalur non-skripsi untuk kelulusan. Ini terpaksa karena mata kuliah metode penelitian sastra untuk skripsi aja saya nggak lulus. Nah, karena kurangnya SKS itu membuat saya menambalnya dengan ambil mata kuliah pilihan. Yaitu, bahasa Jerman sumber. Kenapa saya ambil? Ya, karena saya kan dari jurusan Sastra Belanda, yang bahasanya tidak jauh beda dari bahasa Jerman. Saya beberapa juga tahu kosakata dan cara ucap bahasa Jerman. Ya, ini karena saya sering bergaul dengan anak-anak Sastra Jerman. Di samping saya juga punya kamus dan tata bahasanya. Kamusnya sendiri sudah dimakan rayap. Buku tata bahasanya? Hilang entah kemana.

Ya, karena itu pula, dosen bahasa Jerman sumber terkejut ketika saya bisa mengucapkan kosakata bahasa Jerman dengan sempurna seperti penutur asli. Dia mengira saya pernah belajar bahasa Jerman atau kursus. Saya bilang, tidak. Nah, di kuliah bahasa Jerman sumber ini saya bertemu dengan seorang wanita bernama Prima. Nama lengkapnya Prima Dian Putri. Dari FIK angkatan 2008. Dia ambil kuliah ini habisin SKS sekalian belajar lagi bahasa Jerman karena di SMA udah pernah belajar. Wanita ini beda 3 tahun dari saya. Saya kan kelahiran 1987. Dia 1990. Perawakannya, badan kecil, langsing, pendek, berkacatama, dan terlihat gesit alias cepat jalannya. Dia pembawaannya ya selalu riang, cepat akrab dengan orang. Saya jujur tidak ada perasaan tertarik sama sekali. Wajah juga nggak cantik. Biasa aja. Malah sebenarnya memang tidak menarik.

Jadi, intinya, memang saya tidak tertarik sama sekali dengan dirinya. Semua biasa saja. Tapi, wanita ini karena pembawaannya yang riang, ceria, dan humoris, malah sering berbincang dengan saya. Jadi, memang saya sering berinteraksi dengan dia. Saya tidak tahu alasan dia mau sering interaksi dengan dia? Apa mungkin karena saya orangnya ramah, sering tersenyum tanda mau didekatin orang saat interaksi dan agak ingin tahu sesuatu membuat dia sering berbicara sama saya? Dia itu sama saya bawaannya tiap kali ada kelas bahasa Jerman selalu saja tertawa dan riang kayak anggap saya spesial. Tapi, saya biasa aja dan tidak pernah memikirkan. Apalagi memang juga tidak ada niat menjadikan dia pacar karena saya ingin rehat dahulu dari dunia percintaan. Ya, setahun sebelumnya, saya sempat menjalin asmara dengan seorang wanita dari sesama jurusan tapi beda angkatan. Cuma saya anggap hubungan ini HTS alias hubungan tanpa status. Meski dalam HTS-an itu saya beberapa kali ciuman dan pegangan tangan. Ya, memperlakukan dia seperti pacar. Khas anak muda dimabuk asmara.

Saya dan Prima ini cuma satu semester kuliah bareng dan interaksi langsung. Tapi selama itu pula saya dan dia sudah sering jalan bareng. Kalau tidak salah 3 kali. Ya, antarin dia ke musala, ke kantin, dan ke Detos. Selama itu juga dia pernah menganalisis tulisan tangan saya melalui ilmu grafologi. Katanya, saya orangnya terburu-buru. Namun ada juga yang saya tidak suka dari dia. Saya dianggapnya tidak pernah salat cuma karena saya ke musala temanin dia buat duha tapi saya juga nggak duha. Itu buat saya tersinggung yang setiap hari salat wajib 5 waktu. Ada kesan langsung menjustifikasi dan memvonis saya langsung dari luar tanpa mau tahu secara detail. Belakangan juga, dari cerita dia, saya temanin dia ke musala dan kantin, serta jalan bareng saya sedang pendekatan sama dia. Padahal, tidak sama sekali! Dia salah tafsir.

Intermezzo 

Dari kuliah bareng yang cuma satu semester selama itu pula saya tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Saya sibuk dengan usaha saya untuk bisa lulus kuliah yang ternyata meleset dari target. Saya yang harusnya 4 tahun kuliah malah jadi 5 tahun. Saya lulus pada 2010 tapi baru bisa wisuda awal 2011 karena saya lulus melalui jalur semester pendek dan melewati batas yudisium. Selepas lulus, saya berupaya cari kerja, dan akhirnya bekerja di Komunitas Bambu sebagai editor buku walau sebentar. Lalu pada 2012, saya bekerja di majalah Gatra sebagai editor bahasa selama 6 tahun. Di sini tidak ada sama sekali bayangan akan Prima. Di masa-masa ini saya menjalin hubungan percintaan dengan teman saya semasa SD tapi cuma sebentar karena perbedaan prinsip. Selanjutnya, saya menjalin lagi hubungan dengan temannya teman saya, kenalan di Gunung Padang, dan cuma setahun lebih. Dalam hubungan itu, kita udah sepakat sampai menikah meski akhirnya tidak jadi karena dia terlalu dominan. 

Prima itu baru muncul dalam pikiran saya ketika dia hubungin saya via DM Facebook pada 2015 mengomentari kebiasaan saya lari pagi yang membuat badan saya langsing. Dia takjub dan menanyakan jarak lari saya. Saya bilang kalau tiap hari 5-6 km tapi kalau lagi kesetanan bisa 10 km. Tapi setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Saya juga tidak ada ketertarikan. Saya fokus dengan lari pagi saya, hasil dari rasa sakit hati sehabis putus cinta. Juga saya ingin hidup sehat selepas ayah saya meninggal pada 2014 karena komplikasi. Semenjak itu saya sering berolahraga hingga sekarang.

Oke, kita balik lagi ke hubungan saya dan Prima ini. Jadi selepas DM FB pada 2015 itu, tidak ada lagi pembicaraan, dan saya fokus ke kegiatan saya sampai akhirnya saya berpacaran lagi setelah satu tahun menjomblo. Tepatnya pada 2016. Saya dan dia sepakat menikah, dan kali ini saya akhirnya menikah di usia 29 tahun. Meleset dari keinginan, usia 27 tahun. Saat pernikahan ini saya undang Prima, dan dia datang ke pernikahan saya. Sendiri aja. Dia tampak gembira dan senang. Saya masih bisa mengenalinya walau 7 tahun bercerai mata. Interaksi saya sama dia cuma sebentar. Dia naik panggung kasih ucapan selamat ke saya dan istri saya. Saya bilang terima kasih. Setelah itu ya sudah, dia turun panggung. Saya sudah tidak perhatikan lagi dia; makan atau tidak. Saya fokus sama acara dan para tamu yang datang.

Dari pertemuan terakhir itu secara langsung, saya sudah tidak pernah berinteraksi lagi karena saya fokus membangun rumah tangga saya yang hanya bertahan mau 5 tahun. Jujur, saya kecewa dan sakit hati hingga membuat saya skeptis dan malas dengan wanita. Mau dia cantik atau tidak. Selama itu pula saya menutup pintu meski dua kali dijodohkan. Saya memang lagi tidak mau. Saya juga lagi fokus pada diri sendiri dengan berolahraga hingga badan langsing sampai 75 kg dari berat 97 kg. Juga fokus merawat ibu saya yang sakit stroke sejak 2022. Selama ibu saya sakit juga saya yang pegang urusan rumah tangga. Termasuk juga belanja ke pasar. Sampai-sampai dikatai perawan oleh tukang sayur. Hal yang bikin saya sakit hati. Sampai sekarang saya nggak pernah mau lagi belanja ke tukang sayur itu, dan tidak mau tegur sapa kalau ketemu muka di jalan. Tapi, di masa-masa itu juga saya masih ada keinginan untuk berumah tangga lagi. Cuma ya ini yang satu ini jangan konfirmasi langsung ke saya sampai bilang: cepat cari istri lagi biar ada yang nemenin pas tua. Ya, janganlah. Saya akan marah dan tersinggung serta bisa destruktif kalau marah. 

Interaksi Kembali

Untuk pasangan baru ini ya saya berharap dengan orang yang sudah lama saya kenal sehingga tidak canggung. Cuma saya belum tahu dengan siapa? Sampai akhirnya sekitar September 2024 ada yang menghubungi saya via DM Instagram, dan orang itu adalah Prima. Kita memang sudah lama berteman di IG meski jarang interaksi. Dia hubungi saya karena gusar dan kesal ta'aruf-nya gagal dengan duda anak 4. Katanya repot karena apa-apa harus minta izin ke anaknya. Apalagi anak yang paling kecil belum tentu klop dengan ibu sambung karena akan selalu ingat ibu kandung. Nah, di sini dia merasa tidak sreg. Lalu ia bertanya ke saya perihal kondisi saya. Ya, saya jelaskan saya sekarang duda tanpa anak. Dia terkejut. Seingat saya, dia sempat bertanya ke saya keinginan untuk cari pasangan lagi. Saya bilang belum. Saya masih ada trauma walau ada keinginan berumah tangga lagi.

Nah, dari sinilah timbul keinginan saya apa sebaiknya saya dengan Prima saja? Toh, saya udah kenal dia cukup lama walau sebentar. Pasti juga tidak canggung. Cuma saya masih mempertimbangkan hal lain. Kebiasaan dia waktu kuliah yang gemar menggurui saya dan langsung menilai saya dari luar terkait hal religius dengan nada gembira dan tertawa. Ini yang saya tidak suka dari dia. Saya coba utarakan secara tersirat keinginan saat lagi lowong menunggu pelanggan di tempat kerja via WA. Dia tampaknya menyukai meski mau berpikir dulu. Semenjak itu tak ada lagi pembicaraan bahkan ketika saya WA untuk tanya kabar sama sekali tidak ada jawaban. Saya sempat bertanya: apa mungkin nomornya ganti?

Sekitar awal 2025, saya tiba-tiba melihat di story IG saya dia sedang ada di Mekkah. Oh, rupanya sedang umrah dengan biaya dari kakaknya. Tentu hatinya senang banget. Saya doakan dia supaya lancar dan bisa dapat jodoh. Yang diaminkan oleh dia. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan karena sejak Februari 2025 menghilang dulu dari IG untuk detoksifikasi diri. Maklum, saya lagi stres banget karena belum bisa ke mana-mana sebab ibu saya sakit dan saya tidak bekerja. Hanya gigit jari kalau ada orang bisa lancar bepergian. Soal Prima itu juga menguap begitu saja. Apalagi WA-nya tidak berfungsi sama sekali.

Namun, Prima kembali muncul dalam kehidupan saya. Ini bermula ketika saya yang dalam masa menghilang dari IG menciptakan kembali karya-karya sastra mulai dari puisi, cerpen, dan novel mau tidak mau harus ke IG untuk promosi. Saya waktu itu hendak promosi novel saya yang berjudul Hutan Menguak sekitar awal November 2025. Nah, saat saya hendak promosi via postingan dan story, saya melihat ada notifikasi di DM. Saya buka ternyata dari Prima yang mengirim sebuah surat. Inti surat itu adalah dia mengajak saya nikah karena dia ingin sekali punya penerus yang bisa mengaji. Saya jujur kaget. Dalam masa dewasa saya, baru kali ini ada wanita kirim surat ajak nikah. Kalau waktu saya masih masa pra remaja, ya pernah juga ada wanita kirim surat minta saya jadi pacarnya.

Selain terkejut, ya tidak menyangka juga ada ajakan menikah. Saya pribadi senang. Cuma saya dalam keadaan menganggur. Setelah dapat surat itu, saya hubungi yang bersangkutan. Saya bilang terima kasih tapi saya menolak dengan halus karena saya menganggur selama hampir 2 tahun. Saya tidak mau terulang lagi kejadian yang sama yang berakibat cerai. Dia terkejut dan bertanya hal demikian mengenai penyebabnya. Ya, saya jelaskan. Lalu saya juga kasih tahu kondisi ibu saya yang masih harus saya rawat. Dia bilang saya lebih baik fokus urusin ibu saya. Setelah itu, kita WA-an. Dia tanya soal ibadah harian saya, rumah dekat masjid atau tidak. Sering salat di masjid atau tidak. Letak Kuttab pusat dekat rumah saya atau tidak karena dia kerja di Kuttab Lampung. Saya jawab semuanya meski saya saat ditanya udah setahun tidak ke masjid. Soal Kuttab pusat letak sangat jauh dari rumah saya. Jujur, saya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan interogatif ini. Dia juga bertanya soal rumah tangga, dan saya jelaskan jika berumah tangga begini-begitu. Dia cuma iya-iya aja. Lalu sama sekali tak ada pembicaraan lagi.

Jalinan Asmara 

April 2026. Pada akhirnya saya coba untuk menjalin asmara dengan dia meski hati saya mengatakan tidak sreg dengan sikapnya yang menggurui saya. Tapi, saya tepis. Ini saya menjalin asmara juga tidak ada deklarasi sama sekali. Berawal dari surat dia yang masih saya simpan, dan saya baca berulang kali. Saya dapati ada semacam keikhlasan. Namun belakangan setelah putus hubungan saya meralat. Tidak ada keikhlasan sama sekali. Itu tampak seperti orang yang tertekan karena belum menikah juga sampai di usia mau 35. Jadi, ada semacam keputusasaan untuk mencari calon lagi setelah 10 kali gagal ta'aruf. Toh, akhirnya mengarah ke saya. Apalagi di keluarganya, dari 4 bersaudara, cuma dia aja yang belum menikah. Saudara-saudaranya juga udah punya anak. Itu juga yang buat saya heran.

Kemudian dia sering like story dan postingan saya tiap waktu tahajud. Membuat saya bertanya-tanya dan terbawa perasaan sembari bertanya ke diri, apa sebaiknya dia aja meski ada rasa ketidaknyamanan soal dirinya yang gemar menggurui. Tapi, lagi-lagi saya tepis itu. Apalagi dia satu-satunya orang yang membalas story saya tentang ultah ke-39 saya di bulan April tanggal 16. Saya juga ada rasa penasaran dalam diri soal dirinya yang belum juga dapat jodoh di usia 35 mau ke 36 pada Oktober nanti. Ya, sudah saya putuskan menjalin asmara untuk pernikahan. Benar-benar tidak ada deklarasi sama sekali seperti yang saya lakukan ke 7 mantan pacar saya yang di dalamnya juga ada mantan istri. Saya cuma bilang aja ke dia saya ditawari proyek penyuntingan buku di Dispusip DKI selama 3 bulan lantas bertanya ambil atau tidak karena bayarannya lumayan bisa untuk biayain pernikahan. Dia bilang ambil aja. Beberapa hari kemudian dia WA saya menanyakan pendapat saya soal dirinya yang ikut arisan, dan uangnya bisa buat bantu biaya pernikahan. Saya bilang, ambil saja. Semenjak itu saya dan dia sudah seperti terikat oleh kesepakatan bahwa kami memang akan menikah. 

Kenapa saya tidak deklarasi? Karena saya dari dari profilnya di media sosial, dia ini pengikut salafi, dan dia ini ukhti, guru pelajaran iman di Kuttab Al Fatih Bandar Lampung. Orang-orang kayak begini tidaklah pas diperlakukan dengan standar orang kebanyakan dan kata-kata receh. Jadilah, selain tanpa deklarasi, juga tidak ada kata-kata "sayang, sayangku, manisku, selamat tidur" dan lainnya. Ya, saya beranggapan hal demikian juga mubazir buat dia yang selama hidupnya belum pernah berpacaran atau intiman ke lain jenis. Saya sadar akan hal itu. Jadi, saya adalah satu-satunya lelaki dalam hidupnya di masa dewasa ini. 

Hubungan asmara saya dan dia itu pragmatis dan transaksional. Kering memang. Tapi saya menyesuaikan aja. Saya juga beranggapan akan sayang buang-buang kata romantis saat hubungan pra nikah. Apalagi dia yang tampilan religius juga tidak akan suka dan senang, dan bisa dianggap dosa. Tapi saya menikmati saja. Mungkin nanti pas sudah menikah bisa romantisan tanpa batas.

Awalnya sih lancar-lancar saja tanpa hambatan dan halangan. Hambatan dan halangan paling jarak geografis saya dan dia. Saya di Jakarta. Dia di Bandar Lampung. Kebanyakan hubungan lewat chat WA, IG, dan FB serta video call. Lainnya adalah saya harus mantapkan materi dulu dengan bekerja, mengumpulkan duit baru menikah. Setelah mantap menjalin asmara ini adalah saya ingin tahu wajahnya yang sekarang ini. Sebab, di medsosnya kebanyakan foto lama yang dipasang. Ada yang 2008, 2015, 2022, dan terakhir 2023. Dia juga jarang pasang wajahnya, dan lebih banyak tempat yang dia kunjungi. Yang saya tahu soal dia adalah dia langsing dan gesit, serta pendek. Saya lantas minta fotonya setelah saya pancing dengan foto saya yang dia bilang masih sama kayak waktu kali pertama bertemu tahun 2009. Dia jujur malu mau kasih lihat wajahnya. Tapi saya paksa. Ya, kan saya berhak apalagi dia calon istri saya. Lalu dia kasih video yang ada dirinya. Saya perhatikan dengan detail, dan saya dapati dari memori saya ternyata wajahnya berubah total. Bulat, gemuk. Badannya juga. Dia memakai jilbab panjang lebar dan kacamata bulat. Saya jujur kaget. Kok calon istri saya malah begini tampilannya? Itu yang pertama kali terlontar dari diri saya. Tampilan seperti emak-emak beranak dua, tua, padahal dia aja belum nikah, belum punya anak. Idealnya, kalau dia udah nikah ya tidak masalah begitu. Tapi, ada juga wanita udah nikah, anak dua, usia 43 tahun masih terlihat muda dan kayak remaja.

Jujur saya kaget dan kecewa. Tampilan visualnya tidak menarik. Kalah jauh dari mantan istri saya dan mantan-mantan pacar saya. Saya cuma bilang ke dia: Lo berubah, Prim? Dia cuma menjawab: iya, maaf ya. Saya jawab: nggak apa-apa. Meski demikian, saya tetap iya saja. Biar deh tampilan visual nggak menarik tapi saya masih punya memori lama soal dia dan dia pintar juga. Suka membaca buku. Daripada cantik, ujungnya bikin sakit hati kayak mantan istri saya. Jadi saya terus saja sembari bilang untuk mengecilkan berat badannya dari 77 ke 65 supaya terlihat cantik saat hari pernikahan. Baru setelah itu, boleh melar lagi. Intinya, saya menerima dan menoleransi.

Suatu hari dia panas dan panik saat tahu temannya akan menikah padahal baru seminggu kenalan. Dia hubungi saya dengan nada ingin segera dinikahi. Saya bilang saya akan berusaha menikahi dia sesuai janji saya. Dia lantas bertanya berapa lama akan nikahi dia. Saya bilang setahun. Itu berdasarkan realita dan kondisi yang saya alami. Apalagi saya di Jakarta. Tidak semudah mendapat kerjaan tetap. Yang di Dispusip ini juga temporer. Saya harus cari kerja lagi setelah kontrak kelar. Rupanya dia tidak terima. Dia bilang kelamaan. Lalu mengambek. Diamin saya seharian. Saya susah hubungi dia sama sekali. Dia akhirnya mau dihubungin lalu buka WA dan medsosnya. Dia menuntut saya segera menikahinya. Saya tanya mau bulan apa? Dia bilang Agustus. Saya bilang itu bulan saya nikah dengan mantan istri saya dulu. Akhirnya, dia minta Oktober. Diputuskan menikah 3 Oktober, tepat hari kelahirannya, dan di KUA saja karena biaya pernikahan yang sedikit. Saya anggarkan Rp 13 juta dari penerimaan bayaran saya di Dispusip ketika kontrak kelar. 

Semenjak itu pikiran saya fokus ke sana. Saya upayakan bisa menikahinya karena saya jadi bucin meski wajahnya tidak menarik walau sudah didandani sekalipun. Ini juga karena struktur dasar wajahnya yang tidak bagus. Tiap hari kita berkomunikasi dan saya selalu meyakinkan dia bahwa saya akan usahakan satu atap meski berat di depan. Itu karena saya udah janji, dan harus saya tepati. Apalagi pada saat video call sampai 2 jam yang membuat dia merasa berdosa sebagai seorang ustazah berbicara dengan saya yang bukan mahram. Saya lantas heran. Kalau begitu dari awal ya jangan video call. Cukup telepon aja. Tapi ini dia duluan yang video call. Kalau saya perlu video call supaya saat bertemu langsung tidak kaget. 

Sayangnya, di tengah upaya saya fokus ke 3 Oktober, dia berubah lagi keputusannya. Minta saya nikahin bulan Agustus karena kelamaan. Saya bilang belum ada duitnya. Lalu dia maksa saya minta gaji pertama dari proyek biar segera bisa nikahin dia. Saya bilang saya udah teken kontrak, dan gaji dibayar lumsum. Kemudian dia berubah lagi minta ke Juni-Juli ke pernikahan gratis. Abis nikah pulang ke rumah masing-masing sampai saya mampu nafkahin. What the fuck! Ini maksudnya apa kayak begini? Kok nikah masing-masing begini? Ini sama saja bisa membuat saya cerai lagi yang kali kedua. Ya, saya tidak mau! 

Dia beralasan karena melihat teman-temannya seperti itu, LDR lalu tidak mau membebani ibu saya yang memang detail dan rasional. Ya, tetap saya tidak terima alasan yang menurut saya dibuat-buat. Dia begini cuma ingin validasi status nikah supaya tetap dipandang terhormat di lingkungannya. Saya sampai curhat ke teman-teman saya, dan bilang itu nggak wajar. Akhirnya, dengan berat hati saya putuskan akhiri saja hubungan ini di saat dia silent treatment selama 10 hari untuk bulan Zulhijjah setelah dia buat keputusan itu. Ya, memang selalu begitu setiap kali berhubungan dengan saya kalau kelamaan merasa kena dosa, silent treatment deh. Alasannya, ingin berpikir dan merenung sehingga susah diajak mengobrol bareng.

Jujur, dia kaget saya seperti itu lalu mengutarakan banyak alasan. Saya jujur udah malas tapi saya berpikir saya juga mungkin terlalu emosional menghadapi hal ini. Saya juga merasa sayang kalau harus berakhir cepat, dan ada baiknya saya menjalin lagi sekali lagi sampai benar-benar tahu sifatnya. Bukan prematur begini. Jadi, saya upayakan lagi kembali. Dia agak emosional juga sama saya. Awalnya tampak kesal karena sikap saya lalu blokir semua medsos saya di malam Idul Adha 2026. Ya, sudah saya pasrah. Kalau memang belum jodoh ya jangan dipaksa. Saya bisa cari yang lain lagi. Kebetulan ada orang yang saya ajak ngobrol, orang yang mau dijodohkan ke saya oleh nenek saya. Ya apa salahnya coba. Mungkin bisa pas.

Tapi besoknya saat saya mau salat Id tiba-tiba dia DM saya via FB. Dia bilang katanya selama ini sia-sia udah nunggu 17 tahun ke saya tapi berakhir tidak enak. Saya menangkap maksudnya dia mau sama saya lagi. Tapi saya cenderung hati-hati nanti malah begitu lagi. Saya bilang aja ke dia agar dia cari aja orang lain selama setahun lalu hubungi saya lagi. Saya juga begitu. Lagipula saya akan coba jalin hubungan dengan wanita yang dijodohkan dari nenek saya. Dia bilang terserah. Selama salat id saya kepikiran dengan perilakunya ini yang inkonsisten dan labil.

Setelah kejadian dia maksa nikah lalu berubah-ubah saya berupaya biasa saja. Saya nggak mau aktif menyapa. Biar dia saja. Atau lebih baik nggak perlu ada sama sekali. Tapi memang dia orang yang baru kali ini intiman sama saya, masih terus hubungi saya dengan kirim reel pernikahan di IG dan FB. Saya sempat bilang bahwa saya ingin rehat dulu dari dunia percintaan ini karena cukup lelah dengan dia yang menguras banyak pikiran saya. Saya malah ingin lebih cinta platonis aja. Dia bertanya. Saya jelaskan dengan gamblang platonis itu. Dia mengiyakan. Lalu bilang kayaknya seru dijadikan cerita.

Kemudian dia kirim foto tisu dikeluarkan banyak. Dia cerita kalau dia menangis seharian tanggal 28 Mei karena saya. Saya lantas minta maaf. Setelah itu hubungan biasa aja apalagi dia WA saya kalau saya suka wanita putih dan bersinar serta cantik. Saya iyakan saja. Saya nggak masalah. Toh, itu baik juga buat saya untuk rehat. Tapi, memang dasar dia tidak konsisten. Tiba-tiba suatu malam saat telepon saya nanya: kamu nanti udah siap ke rumah kakakku di Bekasi untuk di-tes Qur'an?

Saya jujur kaget. Dalam hati bilang: loh, katanya biasa aja kok jadi masih serius? Saya beneran heran. Sampai akhirnya saya besoknya memutuskan diam. Dia lantas mencari saya khawatir saya diam malah kejadian seperti dulu lagi yang saat diam 10 hari demi bulan Zulhijjah lalu tiba-tiba kasih pernyataan putus hubungan. Padahal, itu kan dia yang mulai. Ya, saya lantas jawab dengan pertanyaan kenapa tidak cari laki-laki yang selevel dan satu aliran dengan dia. Kalau saya bilang saya tidak pantas dengan dia. Saya tersirat mau menyudahi hubungan ini yang menurut saya aneh. Dia malah marah-marah katanya saya was-was menikah dengan dia, dan itu pekerjaan setan. Lalu saya tanya alasan sesungguhnya kenapa masih mau sama saya? Dia jawab karena saya tinggi, badan besar, ganteng, dan bisa buat dia menangis. Lalu dia berucap terima kasih sudah ada di kehidupanku. Saya tersanjung dan terenyuh. Saya akhirnya mantapkan hati lagi menikahi dia tahun depan setelah dia sepakat. Lalu saya ubah panggilan komunikasi ke dia dari gue-lo ke aku-kamu supaya lebih sopan dan romantis. Itu permintaan dia dari dulu. Bukan saya. Jadi, kenapa awalnya saya memakai gue-lo saat hubungan asmara kedelapan ini? Ini karena saya melihat dia ukhti. Tentu tidak akan suka aku-kamu. Ya, soalnya saya juga pernah pacaran dengan ukhti, teman SD, tidak suka aku-kamu. Katanya, bikin muntah. Ya, saya berdasarkan pengalaman. Ya, saya juga senang bisa pakai aku-kamu lagi karena dari dulu saya berpacaran ya begitu.

Semenjak itu suasananya berubah. Selain aku-kamu dia panggil saya dengan sebutan Mas, Mamasku dan di pesan WA selalu ada ikon hati dan cuddle lalu ikon berciuman dari dia. Saya jujur kaget. Dia ukhti malah begini. Selalu bilang saya ganteng. Saya hanya membalas sekali dia cantik karena terbawa suasana. Tapi, jujur, sekali lagi, memang aslinya tidak cantik meski sudah berdandan. Ada kesan tua dan kasar yang saya tangkap di wajahnya kalau dalam keadaan diam. Saya selalu minta dia lepas kacamata karena itu akan membuatnya tampak tua. Tapi memang udah struktur dasar wajah kurang bagus ditambah penampilan memang tidak menarik. Ini semua karena gaya hidup. Dia malas untuk perawatan. Wajahnya jadi kusam dan jerawatan. Padahal, kalau mau dilirik laki-laki haruslah menarik. Tapi, dia selalu berpikir fatalistik kalau begini: Allah nggak akan melihat wajah cantik atau jelek.

Saya selama masa ini juga berjanji akan ke Lampung pada bulan Agustus atau September setelah uang turun untuk menemui dia langsung dan kakaknya mengutarakan maksud kedatangan saya. Itu saya udah kalkulasi semua biaya ke sana. Baru dari Lampung saya akan ke rumah kakaknya di Bogor untuk utarakan hal yang sama. Dia juga janji mau ketemu saya tanggal 28-29 Juni 2026. Saya sih oke aja. Kan ketemuan langsung. Jadi saya bisa tahu dia secara dekat. Tapi dia ini lucu memang. Sudah tetapkan tanggal ketemuan tapi malah ubah-ubah tempat. Tadinya di Rangkasbitung kemudian pindah ke Dukuh Atas lalu ke Revo Mall Bekasi lalu ke Depok ujung-ujungnya malah ke rumah kakaknya di Villa Nusa indah, Bogor. Alasannya, belum muhrim dan dia khawatir terus minta ketemuan di tempat ramai dan ada teman. Saya sebenarnya heran karena kita sudah kenal lama tapi malah begitu. Lagipula saya tidak ada niat apa-apa ke dia. Saya duda. Sudah pernah menikah. Biasa saja juga dengan lawan jenis bahkan sebelum menikah. Usut punya usut, setelah saya selidiki sehabis putus, sebenarnya dia malu ketemu saya karena tampilannya yang berubah. Dia nggak percaya diri. Soal ini dia pernah ngomong. Khawatir saya menolak dia. Padahal, calon istri buat apa saya tolak kalau sudah yakin apalagi setiap hari berhubungan. Kan itu bisa dipoles jadi cantik. Lainnya, dia khawatir sama nafsuan ke saya. Baru kali ini saya dinafsui perempuan. Biasanya saya yang nafsuan.

Akhirnya pertemuan itu tak pernah terjadi sama sekali. Selain alasan di atas kakaknya yang di Bogor balik ke Lampung untuk lomba lari bersama dia tanggal 5 Juli 2026. Saya tidak tahu jadi atau tidak karena kita sudah putus hubungan pada 22 Juni 2026. Jadi diundur ke Agustus. Tapi memang tidak akan pernah terjadi karena sudah putus. Soal pertemuan yang tidak jadi, bukan sekali ini aja. Pada awal menjalin hubungan, di awal Mei, dia janji mau ketemuan sama saya di Bekasi tapi urung karena ketika di Bekasi harus langsung ke Kudus bersama kakaknya untuk silaturahmi. Dia baru bilang mau ketemu saat sore mau balik ke Lampung di Villa Nusa Indah. Saya tanya kenapa harus dadakan saat sore ke malam bukan pagi aja? Soalnya saya tahu daerah itu kalau sore ke malam macet parah. Apalagi Villa Nusa Indah jauh banget ke dalam dari perempatan Pasar Rebo, Jatiasih, Bekasi. Kenapa saya bisa bilang begini? Karena saya dulu punya pacar di sana. Pacaran selama setahun lebih membuat saya tahu dan paham. Jadi, tidak akan bisa terkejar sama sekali. Mau pakai angkot atau ojek online. 

Dia beralasan katanya masih capek kalau pagi lalu minta maaf. Ya, saya juga minta maaf kalau dadakan tidak bisa sama sekali. Jadi, saya di awal-awal bucin banget sama dia karena ya saya tidak tahu perawakan terbarunya. Semua masih pakai data lama. Masa iya dia jadi calon istri saya, saya tidak tahu wajahnya sama sekali. Wajar, jika saya begitu. Karena saking bucinnya saya sampai ciptakan puisi yang lalu saya jadi jadikan lagu. Judulnya Gelombang Cinta. Liriknya begini:

Kamu adalah kumpulan partikel atom

Yang mengimpuls saraf-saraf dalam nalarku 

Membuatku tergugah

Merasakan kembali gelombang bernama cinta itu

Ku mencoba mereka dan meraba-raba 

Sesosok dirimu dalam lapisan memoriku

Rasa samar juga sumir mengawang-awang lalu menggawangi

Sudah banyak musim kita bercerai mata

Hanya dalam lintasan kata-kata kita bergumul 

Membuncahkan perasaan

Meski kamu juga bingung merasai buncahan itu

Karena kamu belum pernah berlayar di samudra penuh gelombang 


Masa romantisan itu pada akhirnya menemui sebuah batu besar. Batu besar itu lebih kepada prinsip dasar masing-masing. Saya pribadi adalah orang yang biasa saja, bukan orang yang religius namun tetap salat 5 waktu setiap hari, baca Al-Qur'an tiap sore, terkadang salat tahajud dan duha, lebih menyukai kehidupan yang realistis dan apa adanya alias tidak dibuat-buat, lebih suka kritis terhadap suatu hal alias tidak mau menerima begitu saja, menyukai sesuatu yang bersifat humaniora dan seni. Sedangkan dia adalah orang tipe religius ketat, lebih pada kepatuhan daripada kritis, tidak independen karena ikut standar kelompok, tidak pernah bisa kritis meskipun pintar.

Suatu ketika saya menelepon lalu dia tanya kabar saya. Saya jawab standar: ya, begini-begini aja dia langsung mengoreksi: jawabnya, Alhamdulillah dong. Saya tertawa tapi dalam hati mengkritik apalagi saat dia bilang ke saya: kamu nanti harus semi ustad kalau sama aku. Di situ saya tertegun dan tertekan. Saya jujur tidak suka. Saya protes. Dia lantas bilang: harusnya aku nggak ngomong gini ke kamu.

Lalu pada tanggal 20 Juni di malam hari, perbedaan itu semakin melebar. Awalnya dari cerita dia sehabis ikut kuliah online hari pertama. Saya menyimak, dan mendapati ketidaknyamanan soal pernikahan dengan visi misi surga dan akhirat. Ini sebenarnya maksudnya lebih ke mana? Apalagi pakai standar ketat via tukaran CV dan segala macam. Ada beberapa hal yang saya protes karena saya orangnya tidak mau terima begitu saja. Semua harus jelas dan jelas. Apalagi dia ini orangnya iya-iya aja atau people pleaser. Ya, saya tidak mau istri seperti itu. Silakan menurut dan patuh ke suami tapi kalau suami keterlaluan masa iya menurut juga. Saya butuh wanita yang kritis. Soal ini sempat saya tanyakan ke teman saya yang lulusan pesantren esoknya. Dia cuma bilang, lo itu nahkoda, Pak. Penumpangnya calon istri Lo yang tarbiyah salafi, yang sebenarnya tujuan Lo dan dia sama cuma cara berbeda. Lo harus tegas karena kalau nggak Lo yang bakal ketarik sama dia. Pilihannya cuma dua, lo pelajarin tarbiyah dan salafi terus ikut dia atau Lo harus punya argumen tegas. Begitulah kata teman saya itu ke dia. Teman saya ini lulusan pesantren yang kemudian masuk sastra Belanda, dan sering berdebat dengan anak-anak tarbiyah di kampus. Dia semasa kuliah juga jadi asisten dosen kaligrafi.

Lalu apa lagi di malam tanggal 20 yang membuat perbedaan dasar semakin melebar? Tipe kepribadian. Jadi, saat kita teleponan, saya sekalian ikut tes psikologi kepribadian yang diadakan dia, dan udah jauh-jauh hari dia mau mengetes saya ingin tahu sebenarnya cocok tidak kepribadian saya dan dia sejauh ini. Setelah hampir 20 menit, didapati hasil kalau saya kuat di musik, kinestetik, intrapersonal, dan dia cuma kuat di intrapersonal. Namun yang bikin dia kaget adalah soal kuatnya kepribadian musik pada diri saya. Saya akui saya suka musik walaupun tidak pandai main musik. Bahkan punya musik favorit dan band favorit. Kalau ada alunan musik, spontan saya menggerakkan tangan dan kaki ikut alunan bahkan sering menepuk-nepuk permukaan dengan tangan membentuk alunan nada. Selain musik, saya juga suka membuat patung atau diorama karena saya menyukai seni.

Tapi dia langsung meradang, mengembus nafas, mengelus dada, dan mengerutkan dahi. Dia tidak suka kepribadian saya itu karena baginya akan bertentangan dengan keinginannya untuk bisa hafal 30 juz. Bagi dia, ini ibarat air dan minyak. Tidak bisa disatukan sama sekali. Saya mendengar itu berupaya untuk santai aja tidak mau terprovokasi. Saya cuma bilang, kalau soal itu bisa dikompromikan. Lalu dia berkata kepada saya, apa kita udahan aja ya? Capek aku kayaknya kayak gini. Lantas saya bilang: sekali genderang perang ditabuh, tetap harus jalan apapun risikonya. Dia menerima namun saya setelah malah terus kepikiran akan hal ini. Ini ke depannya meski ada kompromi tetap akan jadi masalah, dan malah bisa berujung perceraian. Tentu saya tidak mau. 

Esoknya, melalui hasil tes itu saya buat analisis satu per satu, dan saya buat poin-poin komprominya. Saya kasih ke dia. Dia menerima dan katanya siap menghadapi perbedaan yang ada. Saya cuma bilang: Alhamdulillah, kalau terima. Tapi tetap dalam hati saya masih terpikirkan terus perbedaan ini. Saya malah ingin mundur saja. Tapi saya urungkan. Saya harus konsisten minimal sampai lamaran seperti yang dia minta. Ya sudah saya jalankan saja. Kalau memang jodoh ya jodoh, kalau nggak ya nggak. Begitu saya berkata pada diri saya. Saya juga sudah siap terima konsekuensinya tapi saya tetap tidak mau diatur-atur. Saya harus tetap independen. Perihal perbedaan ini, ibu saya sudah bilang ke saya harus tegas. Jangan sampai terseret arus.

Senin tanggal 22 Juni. Pagi hari sampai siang saya sama dia masih romantisan. Dan, kebanyakan ada di dia. Saya sendiri malah tidak sama sekali. Saya hanya menanggapi. Saya masih memikirkan hasil tes dan dampak ke depannya serta pandangan dia soal pernikahan yang terlalu ikut standar kelompoknya. Jujur, saya tidak nyaman. Saya jujur dalam hati sudah malas dan tidak antusias dengan hubungan yang tidak seimbang secara karakter ini. Saya punya karakter melankolis-koleris, dia sanguinis plegmatis. Bahasa kasih saya sentuhan fisik sedangkan dia hadiah dan pujian. Terlihat sekali banyak tabrakannya.

Sore hari seperti biasa saya mengantuk. Kalau sudah mengantuk, saya sehabis Magrib tidur, dan bangun jam 9-10 malam untuk salat Isya lalu tidur lagi. Kebetulan sedang ada Piala Dunia 2026, jadi saya manfaatkan untuk tidur dulu karena saya prinsipnya tidak mau bergadang lagi. Soalnya, tidak menyehatkan. 

Nah, dia seperti biasa, setiap sore selalu minta menelepon. Jujur, saya sudah malas. Apalagi menelepon sampai 2 jam cuma untuk mendengarkan pandangan dia yang semakin lama memaksa saya untuk mengikutinya. Kuping juga pengang. Lalu saya pakai alasan kalau saya sudah mengantuk banget karena capek seharian beraktivitas. Dia tidak mau dan memaksa saya bahkan cuma 5 menit. Tapi saya bilang saya tetap tidak bisa lalu saya janji untuk menelepon saat tengah malam ketika terbangun.

Akhir Kisah

Tengah malam tanggal 23 Juni saya terbangun sekitar jam setengah dua. Saya dapati ada notifikasi WA berupa voice note dari dia. Isinya, dia minta mengakhiri hubungan karena katanya lelah untuk terus berharap ke saya. Saya jujur kaget tapi dalam hati senang banget karena beban di pundak saya akhirnya lepas. Cuma saya agak heran dengan alasannya mengakhiri hubungan hanya karena saya tidak mau ditelepon di ujung sore. Lalu saya dengar alasan lain karena ia sudah capek-capek berdandan demi saya untuk menelepon. Ya heran saja untuk menelepon saja harus berdandan segala. Ini kan bukan video call.

Saya lalu berpikir perkara kecil begini aja dia udah minta mengakhiri hubungan. Terus bagaimana kalau nanti saat satu atap yang lebih banyak dinamikanya daripada masalah telepon ini? Ada satu masa suami bisa jadi cuek sama istrinya kalau istrinya menyebalkan atau tidak menarik dipandang. Ada satu masa juga istri bisa cuek sama suaminya kalau suami tidak perhatian atau melakukan kesalahan yang dianggap besar. Di rumah tangga perihal tidak mau ditelepon bisa terjadi berkali-kali. Itu juga pernah saya alami saat berumah tangga. Saya berpikir tipe dia yang begini malah ujung-ujungnya bisa minta cerai. Saya anggap dia tidak setia.

Dia ketika mengakhiri hubungan dengan saya minta izin blokir media sosial saya karena khawatir tidak bisa move on. Saya persilakan, dan memang kondisi sepi setelah itu. Cuma saya tetap merasa heran dengan tingkah lakunya ini untuk mengakhiri hubungan. Tidak begitu masuk di akal sama sekali. Tidak logis. Karena itu, Jumat, 26 Juni 2026, saya sapa dia aja via email karena email tidak bisa diblokir. Sekadar menanyakan kabar dan sekalian menegaskan hubungan bersifat biasa saja serta ingin menjalin silaturahmi. Responsnya langsung cepat membalas. Dia tampak senang saya hubungi lalu bilang kalau dia ingin hubungi saya duluan tapi malu. Cuma dia salah tafsir terhadap email saya ini. Dikiranya saya meminta dia kembali ke saya. Padahal, tidak. Dianggapnya saya belum move on. Padahal, tidak. Saya cuma ingin menanyakan keanehan pengakhiran hubungan saja. Tapi, dia salah tafsir. Setelah email itu, tiba-tiba dia buka blokir WA lalu cerita kalau sudah hafal juz ke-28 lalu kirim foto-foto kegiatannya di Kuttab. Saya mikir ini kok seperti saat masih berhubungan dulu. Dia intinya tampak senang saya kembali, dan begitu bersemangat serta riang. Tapi, saya sebaliknya.

Malam hari dia kirim voice note yang dalam voice note ini satu kalimat yang buat saya sakit hati sampai sekarang dan tidak bisa saya maafkan. Kalimat itu berbunyi begini: Ya Allah, hamba mencintai dia yang tidak mencintai-Mu. Ia ucapkan dengan begitu gembira karena selama masa hening dia berdoa begitu tentang saya dan terkabul kalau saya akan menghubungi dia lagi. Jujur, saya benar-benar tersinggung dengan kalimat itu. Maksudnya apa dia berucap begitu? Kok main vonis saya begitu gampang cuma melihat dari permukaan? Kayak merasa paling benar aja dan suci! Pelacur dikasih kalimat begitu juga tersinggung! 

Saya jelas tidak terima tapi saya tidak frontal saat itu juga. Saya diamin dalam ketersinggungan saya. Saya bertanya dalam hati: bagaimana kalau Allah yang kamu minta doa tidak mencintai kamu? Bukan kali ini saja saya divonis begitu. Pada awal berhubungan dia juga memvonis saya dengan kalimat: sama-sama ego. Yang satu mendekat ke rabb-nya, yang satu tidak. Yang satu sudah hijrah. Yang satu belum. Maksudnya apa kayak begitu? Beragama kok tapi mulut nggak diajarkan bertutur lembut malah mudah memvonis.

Saya cuma menanggapi biasa, tidak antusias sekaligus menegaskan lagi bahwa hubungan saya dan dia cuma biasa saja. Saya cuma minta dia analisis cerpen-cerpen saya. Kenapa saya begitu? Saya merasa saya masih berhubungan spesial dengan dia. Padahal, tidak. Sudah berakhir. Dia benar-benar salah tafsir. Dia baru menanggapi esok pagi. Mengiyakan sembari minta ganti aku-kamu ke gue-lo. Saya tidak menanggapi. Saya mulai silent treatment. Saya hapus nomornya. Dia sempat menyapa saya: Fan. Tapi, saya diamkan.

Esok malam, di tengah silent treatment itu, dia kirim email ke saya perihal sudah selesai analisis cerpen-cerpen saya. Dan, semua dianggap tidak bermoral sama sekali. Semua pakai kacamata dia yang sempit dan hitam-putih. Saya diamkan, dan saya hapus email. Jujur, kecewa banget! Salah saya sendiri minta tolong ke dia hanya karena suka baca buku. Tapi, ternyata baca buku aja belum tentu bisa pintar dan kritis. Meski tiap hari dia diminta baca 20 halaman untuk satu buku. Saya tetap melakukan silent treatment.

Tanggal 30 Juli 2026 dia kirim email lagi. Kali ini sebuah puisi. Dan, lagi-lagi di puisi itu dia memvonis saya dalam satu bait. Begini bunyinya:

Tuhan kita sama

Tapi surga kita berbeda

Kamu surga dunia

Kamu lebih suka wanita cantik dan bersinar

Tidak pernah terpikirkah menyukai wanita salehah?

Jujur saya benar-benar tersinggung dan gusar. Maunya apa sih kayak begini? Saya tahu dia belum bisa move on. Apalagi saya satu-satunya lelaki yang begitu intim di kehidupannya meski cuma lewat medsos dan email. Dia anggap dirinya wanita salehah? Salehah dari mana? Tampilan luar aja salehah tapi kelakuan tidak sama sekali. Bilang saya suka wanita cantik dan bersinar, ya terus kenapa? Justru malah mereka yang salehah. Inilah kalau beragama tidak belajar filsafat dan tasawuf. Tidak bijak dan tidak lembut menyikapi perbedaan.

Saya jelas protes. Saya tidak balas email itu. Saya buat puisi yang saya jadikan lagu di IG. Di puisi itu saya tidak mencintai dia. Sama sekali tidak mencintai dia. Semasa berhubungan juga saya tidak cinta dia karena saya belum melihat sesuatu yang buat saya jatuh cinta untuk bisa menutupi wajah dan tampilan visualnya yang tidak menarik. Saya protes soal pandangannya, dan saya minta dia move on. Kali ini saya anggap dia benar-benar jelek. Ya tampilan, ya wajah, ya mulut. Semua jelek. Padahal saya sudah toleransi soal wajah dan tampilan tapi dianya yang begitu ke saya. Buktinya, saya masih mau dan lanjut ke pernikahan. Tapi, kalau begini memang sudah tidak bisa berjodoh sama sekali. 

Dia lihat medsos saya rupanya. Itu terlihat dari email yang saya kirimkan. Dia melakukan mirroring. Di email itu dia minta maaf tapi juga melakukan pembelaan diri yang menurut saya dibuat-buat dan semakin menunjukkan kelemahannya. Bahkan bahasan dalam email juga ngalor ngidul. Tiba-tiba malah bahas soal makanan sehat ala Zaidul Akbar. Terlihat inkonsisten dan labil. Saya tidak tanggapi. Dia kirim email sekitar tanggal 4 Juli pagi. Lalu kirim email lagi pada sore hari kalau tetangganya menawarkan dua duda. Satu security. Satu duda dua anak. Dia bilang sreg sama yang duda dua anak karena sesuai kriteria dan impiannya. Apalagi duda itu punya banyak harta. Cuma dia kurang sreg karena beda usia 17 tahun. Ya, saya tahu kalau sama duda yang lebih tua mana bisa dia dominasi. Yang ada didominasi. Apalagi itu duda punya anak yang udah besar. Tentu dia harus bisa jadi ibu sambung yang bisa diterima. Itu kenapa dia mau sama saya. Katanya, nyaman dan udah kenal. Tapi alasan sebenarnya sih ya karena beda usia sama saya cuma 3 tahun. Saya duda juga tapi tanpa anak. Jadi, dia bisa membangun impian dari nol sesuai validasi surga. Sayangnya, tidak akan terjadi.

Saya tetap silent treatment alias tidak membalas sama sekali. Saya biarkan saja sampai dia menyadari kalau dia hanya akan menghadapi gemanya sendiri. Saya juga fokus pada kehidupan harian dan kerjaan di Dispusip. Kalau dari email-nya yang memakai judul progres move on part 1 pasti akan ada lagi part 2. Pertanda dia sebenarnya belum bisa move on dari saya yang dianggap spesial dan merupakan keajaiban di dalam hidupnya. Saya masih menari-nari di pikirannya. Dan, benar saja dia masih mengirim email progress move on part 2. Isinya tentang persetujuan si duda terhadap dirinya yang pakai perantara. Saya tadinya anggap biasa saja. Tapi lama kelamaan saya terganggu. Lah, buat apa saya harus tahu masalah pribadi dia jelas-jelas hubungan udah berakhir. Tadinya saya mau silent treatment aja. Tapi jujur saya jadi malas. Nanti ada lagi part 3, part 4. Akhirnya, saya putuskan kirim email peringatan pada tanggal 11 Juli 2026 dengan judul: Tolong Move On Ya, Neng Puput. Puput itu adalah nama panggilannya di rumah. Saya pakai nama itu selama berhubungan dan supaya bisa akrab secara personal. Daripada nama Prima. Yang bisa jadi nama laki-laki, nama perempuan. 

Saya menulis dalam bahasa Betawi, bahasa suku saya supaya tidak terlalu tegang tapi tegas. Intinya, saya minta dia move on sama sekali karena hubungan kita sudah berakhir. Jangan kirim email lagi dan jangan perpanjang perkara. Saya juga di email itu meminta maaf kalau ada salah kata yang tidak saya sadari meski saya tahu dia sebenarnya yang banyak salah ke saya. Mulai dari inkonsistensinya, kelabilan, dan vonis hitam-putih yang membuat saya lelah saat menjalin hubungan asmara ini. Lalu saya tutup dengan pantun yang minta dia untuk cari lelaki baru. Kenapa saya bilang begitu? Ini karena dia tidak mau lelaki yang baru karena sudah pasti dapat yang tua, bukan yang muda lagi meski sudah langsing. Jadi, dia masih mau ke saya. Itu yang saya dapat dari ucapannya setelah putus ketika saya bilang kalau badan bagus tentu akan banyak kumbang yang datang. Saya pribadi memang sudah tidak mau sama dia karena karakternya yang bertolak belakang dengan saya. Jadi, nggak bisa dipaksakan untuk disatukan.

Selepas saya kirim email itu, saya berharap dia baca dengan pelan dan cermat sehingga tidak balas email lagi karena saya sudah kasih garis merah pada email saya itu. Namun, ternyata pada 23 Juli 2026, dia malah balas email saya. Saya terkejut. Katanya baru tahu ada email 3 hari setelah saya kirim lalu dia bingung mau balas. Tapi kemudian dia membalas panjang lebar. Dimulai dari dia merasa "gembira" saya sudah bisa move on sedangkan dia belum lalu bahas siap maintenance wanita, bahas masalah dia punya harta (1 mobil, 2 motor, rumah yang lebih besar), bahas punya kerjaan tetap sedangkan saya tidak, bahas soal dia tetap jelek meski sudah pakai lingerie dan suit, bahas tentang dia yang tersinggung karena hidungnya nggak mancung alias pesek serta kulitnya yang tidak putih, bahas fisik saya yang gendut dan jelek, bahas kelakuan saya tentang beribadah: salat Isya tengah malam dan jarang salat di masjid, kemudian kasih wejangan soal rumah tangga.

Saya yang mendapati email balasan itu jelas-jelas marah besar. Seketika api membara di tubuh saya. Ini orang udah dibilang jangan balas email lagi masih juga balas. Padahal, semua sudah saya bilang di email saya sebelumnya. Ini berarti pelanggaran batas. Saya tidak bisa biarkan sama sekali. Saya benar-benar marah. Sangat marah. Karena fokus ke pelanggaran batas saya lansung balas dengan 7 email beruntun yang berisi kemarahan yang frontal alias tanpa filter. Sekalian melancarkan serangan balas dendam saya akibat perilakunya yang selama ini sudah keterlaluan ke saya: sombong secara religius dan vonis saya hitam-putih hanya karena tidak sesuai standarnya. Saya serang langsung tampilan, kepribadian, dan status dia dengan kata-kata kasar ibarat pemanah langsung mengarah ke jantung. Saya lontarkan kata-kata berikut:

"Pamer aja noh sono di akhirat!!!" "Tampilan religius, kelakuan nol!!!", "Jangan sok ngeguruin dah!!! Nikah aja belum pernah!!! Ngerasain aja belum pernah!!! Sok tau banget!!!! Pantas aja nggak laku-laku!!!" Selain kata-kata kasar itu saya juga lontarkan kata "nambeng!!!", "dablek!!!" karena kelakuannya yang malah balas email meski sudah dibilang jangan. Saya juga lontarkan kata: Sini hayo ribut!!!, jangan main-main ya!!! Aku beneran serius marah!!!

Karena kaget dapat balasan beruntun dari saya dengan kata-kata kasar dia cuma membalas: Astaghfirullah, istighfar, Fan, jangan marah-marah. Yang sepertinya reaksi panik dan ketakutan terhadap kemarahan saya. Saya lantas balas: Hak2 gue marah!!! Lo mang siapa??? Udah dibilang jangan balas email!!! Lo siapa??? Kenapa Lo nggak suka??? Hayo ribut sini!!!!

Setelah itu hening. Tiada jawaban dari dia sampai sekarang. Setelah melancarkan serangan frontal itu, saya spontan berkata: pasti nangis nih. Saya yakin dia benar-benar terkejut dengan email balasan saya. Dia berpikir saya akan membalas dengan lembut juga karena dia tahunya saya orangnya lembut, tidak pernah marah. Ternyata dia salah perhitungan dan salah sangka. Saya memang jarang marah tapi kalau sudah sekalinya marah bisa sangat destruktif. Itulah jeleknya karakter melankolis-koleris saya. Dia masih untung saya marahi via teks kalau lewat telepon bisa saya bentak-bentak atau kalau langsung saya bisa lempar botol plastik dan kursi. Saya terpaksa begini karena batas yang saya buat dilanggar juga karena akumulasi kekesalan ke dia sehingga cari waktu yang tepat untuk membalas. Ya, dia harus rasakan kalau bisa sampai mampus karena main-main dengan saya.

Saya jujur setelah itu senang banget. Dopamin saya meningkat cepat. Seperti ada kepuasan tiada tara. Batin begitu puas. Saya tidak peduli dia nangis kaget atau sakit hati karena ucapan saya yang frontal, dan yang pasti akan selalu diingat sepanjang hidupnya apalagi dari orang yang pernah intiman dengan dia di sepanjang hidupnya. Saya yakin dia mengadu ke lingkungan terdekatnya perihal kemarahan saya yang destruktif ini, yang tentunya masih buat dia terkejut dan mencerna dengan pelan. Bayangan saya yang halus seketika hancur di matanya. Membuat ia benci sekaligus kagum karena saya orang yang tidak bisa dianggap main-main. Tapi saya bodoh amat!

Saya malah ingin rasanya tertawa soal dia bilang saya jelek, gendut. Lah, dia sendiri saja gendut. Toh jelek gendut saya udah berkali-kali bisa berinteraksi dengan lawan jenis, bukan cuma pacaran, tapi juga HTS-an bahkan sahabatan serta ngobrol dengan mereka atau malah digelendotin. Saya juga sedari dulu disukai lawan jenis. Di SMP, SMA sampai kuliah banyak yang suka saya. Cuma saya nggak gede rasa, pemalu, dan terkadang nggak percaya diri. Bahkan di tempat kerja juga ada yang terang-terangan suka saya karena lesung pipi saya yang dalam. Mantan-mantan saya juga putih-putih, cantik, tinggi-tinggi apalagi mantan istri saya. Cuma dia aja yang beda. Kalau saya perhatikan dengan saudara-saudaranya di medsos, ampun lebih cakep dan cantik saudara-saudaranya. Dia sendiri yang beda. Ya, mungkin itu juga yang menyebabkan dia belum punya jodoh sampai sekarang. Yang saya dengar saudara-saudaranya ini pada pacaran dan realistis. Seharusnya dia mengaca sebelum berkata begitu. Kasian deh lo!

Kemudian soal dia tetap jelek meski pakai suit atau lingerie saya saja nggak pernah ngomong begitu. Delusi saja ini orang. Gimana saya mau menilai kalau masih belum halal? Apalagi dia kan berjilbab. Aneh! Dia aja nggak mau diperlihatkan lengan atasnya kalau di foto karena malu lengan atasnya besar banget. Mandi saja malah pakai suit. Saya nggak tahu apa alasannya? Apa takut diintip jin atau takut melihat tubuh sendiri? Ya, kalau kayak begini pas satu atap dan berhubungan badan bisa repot. Saya juga tersirat menangkap ketakutannya soal menikah. Dia memang ingin menikah tapi sebenarnya tidak ingin karena ada banyak tanggung jawab yang kan diemban bahkan dia aja sepertinya ogah meninggalkan zona nyamannya untuk ikut suami.

Lalu soal hitam-putih yang diarahkan ke ibadah harian. Yang jelas bukan ke situ ya. Saya lebih menyoroti di perkataannya yang menyakiti saya berulang kali, juga di puisinya. Sayang, dia tidak sadar dan memang sulit sadar.

Yang jelas sampai sekarang ini saya masih senang banget dan puas bisa menghantam telak dirinya tepat ke jantung hatinya. Sebuah balasan yang setimpal. Schadenfreude saya muncul. Biar mampus tuh orang! Lagian main-main sama saya. Yang jelas kata-kata kasar ini akan selalu tergiang di dirinya. Selamanya. Perpisahan yang tidak indah, bukan?

Analisis

Prima Dian Putri bagi saya adalah orang yang penuh dengan inkonsistensi, labil, hitam-putih, dan ambivalen. Hal-hal ini yang menurut saya melelahkan bagi saya yang melankolis-koleris. Saya memang tidak cocok dengan karakter sanguinis-plegmatis-nya. Inkonsistensinya ini juga terlihat dari email-email yang dia kirim serta tulisan dia berupa review buku yang isinya kebanyakan pengalaman pribadi, bukan bukunya. Orang ini seperti ini tidak akan bisa diajak berpikir mendalam dan kritis serta mendetail, dan hanya jadi follower karena unsur people pleaser-nya. Itu karena dia tidak punya kemampuan demikian, kemampuan analitis sehingga hanya iya-iya saja demi menghindari konflik. Saya jujur tidak suka wanita yang seperti ini. Saya butuh wanita yang kritis yang bisa counter saya secara detail lalu selesaikan masalah secara bersama-sama. Tidak perlu ada namanya silent treatment atau kabur dari masalah. Dan, dia sering kabur dari masalah dengan topeng religius.

Kisah romansa menuju pernikahan ini berakhir karena inkonsistensi dan kelabilan Prima. Kalau saja dia konsisten, tidak labil serta jadi orang yang punya pendirian dan yakin seperti saya, tentu sampai sekarang akan lanjut. Semua hancur karena egonya sendiri. Pantaslah gagal jadi istri!

Mantan-mantan pacar saya termasuk mantan istri saya rata-rata melankolis-koleris juga koleris-plegmatis sehingga saya terbiasa berargumentasi dengan mereka. Bahkan ada juga yang mulutnya nyelekit. Baru kali ini saya dapat mantan pacar, orang kedelapan yang sanguinis-plegmatis. Dua bulan berhubungan dan kebanyakan via medsos dan video call tapi cukup melelahkan pikiran dan mental saya. Hubungan ini setelahnya banyak saya jadikan karya. Kebanyakan puisi dan gambar. Itulah orang melankolis. Kalau kesal pasti disalurkan jadi karya, dan di situ terlihat energi besarnya. Lebih positif begini sebenarnya daripada marah yang destruktif.

Yang perlu dipelajari untuk ke depannya

  • Pilih pasangan jangan hanya karena teman lama demi emosional batin semata
  • Jangan tertipu dengan tampilan luar yang ceria tapi labil di dalam
  • Pilih pasangan yang mau menghargai, kritis, juga tegas serta perlakukan pasangan sebagai mitra
  • Pilih pasangan yang anggap pernikahan bukan proyek validasi surga tapi untuk saling belajar dewasa dan tidak menggurui serta menghargai satu sama lain
  • Pilih pasangan yang ingin menikah karena dari hati bukan lingkungan

Itulah kisah asmara kedelapan saya dengan Prima Dian Putri yang aneh dan unik. Saya kira kalau kedelapan ini seharusnya mapan dan papan. Eh, ini malah sebaliknya, beban.


Kamis, 23 Juli 2026

9 Stadion Bola di Indonesia yang Human Centric

Geliat pembangunan stadion sepak bola di Indonesia pasca Orde Baru cukup massif. Setiap daerah kini mempunyai stadion yang cukup megah dengan kapasitas besar sehingga tidak perlu lagi mengarah ke GBK. Ini karena di masa Orde Baru, stadion yang megah, modern, dan representatif dengan wajah sebuah kota adalah GBK, yang di masa pemerintahan Soeharto itu bernama Stadion Utama Senayan.

     Koleksi pribadi

Karena itu, semua perhatian untuk olahraga nasional tertuju ke GBK. Mulai dari kompetisi Liga Indonesia hingga PON. Kondisi ini tentu saja timpang. Ketika Reformasi datang, dan dampaknya ada otonomi pada setiap daerah, tentu saja pemerintah daerah memanfaatkannya juga di bidang olahraga dengan membangun stadion yang tidak kalah megah dari GBK.

Tak mengherankan, jika banyak stadion baru dan besar bermunculan hampir setiap tahun di era Reformasi ini. Stadion-stadion ini kebanyakan dibangun untuk keperluan PON. Lainnya untuk estetika kota serta sebagai ruang ketiga. Ada yang benar-benar baru. Ada juga yang merupakan stadion lama namun dirubuhkan lalu dibangun kembali dengan desain kekinian seperti pada fasad, atap, tribun, kapasitas stadion, dan lain-lain. 

Sebut saja Stadion Gelora Sriwijaya, Palaran, Riau, Bandung Lautan Api, Papua Bangkit, dan Sumatera Utara yang dibangun untuk PON. Lalu ada Patriot Chandrabaga, Manahan, Surajaya, Mandala Krida, Jati Diri, dan Teladan yang merupakan stadion lama yang dibangun kembali melalui pembongkaran total dan renovasi. Selanjutnya adalah Jakarta International Stadium yang dibangun untuk kepentingan estetika kota, pemanfaatan ruang ketiga, dan untuk membuat bangunan olahraga yang ramah lingkungan.

Meski demikian, harus diakui, kebanyakan stadion baru di Tanah Air masih berorientasi pada kendaraan bermotor atau car oriented bukan berorientasi pada manusia atau transportasi umum atau human centric. Mengapa bisa begitu? Perhatikan saja pada desain dan lokasi stadion. Desain stadion yang car centric umumnya lebih banyak menyediakan tempat parkir daripada akses pejalan kaki yang ke ke stadion menggunakan transportasi umum, baik itu melalui bus dan kereta api. Itu artinya tidak ada trotoar sama sekali. Kalaupun ada, tidak begitu lebar sehingga sangat berbahaya bagi pejalan kaki.

Hal lainnya adalah tidak adanya halte atau stasiun kereta api yang dekat atau menempel di sekitar stadion, yang dihubungkan oleh jembatan penghubung atau skybrigde atau jalur khusus yang mengarah dari dan ke stadion. Nah, kebanyakan stadion yang car centric itu terletak di pinggiran kota sehingga dekat dengan perbatasan. Pada Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir, perhatikan saja jika kebanyakan stadion-stadion yang dipakai adalah car centric sehingga menyulitkan fans untuk mobilisasi.

Di Indonesia sendiri kita bisa menyebut Bandung Lautan Api dan Gelora Bung Tomo adalah dua stadion --dari banyak contoh-- dengan kapasitas besar tetapi car centric. Ada dua alasan untuk menyebut keduanya seperti itu. Pertama, terletak di luar kota. Kedua, tidak mudah dijangkau dengan transportasi umum serta berjalan kaki. Meski Bandung Lautan Api jika dilihat dari Google Maps terlihat dekat dengan Stasiun Whoosh Tegalluar dan Stasiun Kereta Api Commuter Line Bandung Raya Cimekar. Ternyata, untuk menuju ke stadion harus melalui Jembatan Cibiru yang dikhususkan untuk kendaraan sehingga tidak aman untuk pejalan kaki. Alhasil, untuk ke stadion, harus menggunakan kendaraan pribadi atau umum berupa shuttle bus. 


Untuk Gelora Bung Tomo atau GBT juga sama saja. Di Wikipedia disebutkan kalau stadion ini punya akses transportasi umum berupa kereta api Commuter Line Surabaya Raya yang berhenti di Stasiun Benowo. Namun jika diperhatikan lagi dengan detail via Maps, jarak dari stasiun ke stadion bisa 3 kilometer, dan itu pun jalan harus memutar. Untuk berjalan kaki pun sangat tidak disarankan karena harus melalui persawahan. Begitu yang diungkap oleh seorang Bonek Mania dalam sebuah curahan di media sosial. Jadi, untuk ke stadion mau tidak mau harus memakai kendaraan umum atau angkutan pengumpan.


Bandung Lautan Api dan GBT setidaknya masih ada stasiun kereta api di dekatnya meski cukup jauh untuk dijangkau dengan berjalan kaki. Ternyata ada juga stadion yang memang terletak di luar kota tapi juga susah dijangkau dengan transportasi umum serta tidak ada stasiun atau halte di sekitar. Yaitu, Banten International Stadium dan Indomilk Arena. Keduanya terletak di Tangerang Raya. Di luar Jawa, ada Stadion Batakan, Stadion Palaran, Stadion Papua Bangkit, Stadion Riau, dan Stadion Barombong yang hingga hari ini masih mangkrak.


Tapi dari semua itu apakah Indonesia mempunyai stadion yang human centric? Tentu saja, Indonesia punya, dan jumlahnya ada 9. Namun, sebelum itu, kita bahas dahulu stadion yang human centric itu ciri-cirinya.

Yang pertama adalah stadion memang didesain untuk pejalan kaki dan transportasi umum. Ini merupakan syarat utama. Desain untuk pejalan kaki itu dimulai dari perimeter stadion itu sendiri, dengan adanya jalur atau ramp khusus pejalan kaki yang terhubung dengan stasiun atau halte. Jalur pejalan kaki itu kebanyakan berupa trotoar yang lebar dan sejuk karena banyak pohon sehingga berjalan kaki terasa aman dan nyaman.

Kedua adalah lokasi. Kebanyakan stadion yang human centric terletak di pusat kota, dan terkoneksi tidak hanya dengan fasilitas transportasi umum, tetapi juga dengan pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit, universitas, dan taman. Namun, dalam beberapa kasus, ada juga stadion yang human centric tetapi terletak di pinggiran kota namun terhubung dengan transportasi umum serta mudah dijangkau dengan jalan kaki dari akses transum tersebut.

Tentu saja 9 stadion di Indonesia yang human centric bisa disebut seperti itu karena punya ciri-ciri yang disebut di atas. 9 stadion ini kebanyakan berada di Pulau Jawa dan Sumatra. Ada stadion yang lama dan historis, baru dan kekinian, serta lama namun dibangun kembali dengan kapasitas besar atau dipercantik untuk keperluan even. 

Pemilihan 9 stadion ini juga berdasarkan hasil penelusuran langsung di lapangan oleh penulis atau penelusuran via Maps dan Streetview sehingga tidak mengasal. Lalu stadion apa sajakah itu? Mari simak!

1. Stadion Gelora Bung Karno

Semua orang se-Indonesia tentu sudah tahu stadion yang sangat historis ini, yang dibangun untuk keperluan Asian Games 1962, dan kemudian dipakai lagi untuk Asian Games 2018. Letak Gelora Bung Karno atau GBK sendiri cukup strategis karena berada di pusat kota. Dekat juga dari kawasan Segitiga Emas Kuningan dan SCBD. Tak hanya itu, GBK juga dikelilingi oleh hotel-hotel dan pusat perbelanjaan seperti FX Sudirman dan Plaza Senayan.


Namun yang lebih penting adalah stadion dengan kapasitas sekitar 77.000-an sudah banyak terhubung dengan transportasi umum, yaitu Transjakarta koridor 1 dan MRT Jakarta (Istora Mandiri) yang halte dan stasiunnya berada persis di depan kompleks GBK, tempat GBK berada. Selain itu, akses berupa trotoar untuk pejalan kaki cukup nyaman dan lebar serta sejuk karena banyak pohon ketika memasuki kompleks olahraga. 

Karena letak GBK berada dalam kompleks olahraga GBK Arena, itu berarti bukan hanya GBK yang bersifat human centric tetapi juga Indonesia Arena, Istora, Stadion Madya, dan arena olahraga lainnya dalam kompleks.

2. Jakarta International Stadium 

Jakarta International Stadium atau JIS juga salah satu stadion di Jakarta yang human centric. Hal ini terlihat dari desain stadion yang lebih mengutamakan pejalan kaki dan transportasi umum. Karena itu, lahan parkir di JIS sangat kecil karena keterbatasan lahan. JIS sendiri dibangun bukan untuk even apa pun, melainkan sebagai perwujudan estetika kota untuk menjadikan stadion tak hanya sebatas arena olahraga tapi juga ruang ketiga.

Koleksi pribadi 

Stadion berkapasitas 82.000 dengan fasad berupa ukiran anyaman Betawi ini terhubung sangat dekat dengan halte Transjakarta koridor 14 di ramp barat dan stasiun KRL yang memakai nama stadion di sebelah utara stadion yang terhubung melalui sebuah JPO yang bisa menembus hingga Pantai Karnaval Ancol dan Sirkuit Jakarta E-Prix di kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Adanya akses transportasi umum dan desain stadion yang human centric ini tak pelak menjadikan JIS nyawa yang menghidupkan kawasan pinggiran kota di Jakarta Utara. 

3. Stadion Soemantri Brodjonegoro 

Selain dua stadion besar yang human centric, Jakarta juga punya stadion kecil yang seperti itu. Yaitu, Stadion Soemantri Brodjonegoro yang terletak di Kuningan, salah satu kawasan bisnis di Jakarta Selatan. 


Letak yang demikian membuat stadion ini cukup strategis untuk dijangkau melalui transportasi umum. Stadion berkapasitas 5.000 penonton ini terletak di belakang Pasar Festival, Universitas Bakrie serta berdampingan dengan kolam renang dan lapangan tenis. Jalan menuju ke stadion juga cukup nyaman karena difasilitasi dengan trotoar lebar dan besar serta letak stadion yang cukup dekat dari Halte Transjakarta Koridor 6 (GOR Soemantri) dan Stasiun LRT Jabodebek Lintas Bekasi dan Cibubur (Rasuna Said).

4. Stadion Patriot Chandrabaga

Tak hanya di Jakarta, stadion besar juga ada di Bekasi. Yaitu, Stadion Patriot Chandrabaga. Sebenarnya ini adalah stadion lama berkapasitas 5.000-10.000 penonton yang dibangun pada 1982 untuk Porda Jawa Barat 1984. Kemudian dirubuhkan dan dibangun ulang pada 2013-2014 dengan kapasitas 30.000. Membuatnya menjadi salah satu stadion terbesar di Bekasi dan Jabodetabek hingga sekarang.


Letak stadion sendiri berada di pusat kota, dekat dengan kantor Wali Kota Bekasi yang ada di seberang Jalan Ahmad Yani. Menjadikannya cukup strategis untuk dijangkau dengan transportasi umum. Adapun transportasi umum yang bisa dinaiki adalah KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi, yang terletak 1 km dari stadion. Perjalanan bisa dilanjutkan dengan baik angkot konvensional warna merah, bus Trans Beken Koridor 1 atau berjalan kaki. Jika berjalan kaki juga cukup aman dan nyaman karena trotoar yang lebar serta teduh karena banyak pepohonan. Tak perlu risau untuk menyeberang karena ada dua JPO yang terhubung ke stadion dari arah kantor Wali Kota. 

Stadion juga bisa dijangkau dengan bus Trans Beken Koridor 1, dan berhenti di halte depan stadion. Bus ini juga buat yang ke stadion jika naik LRT Jabodebek yang berhenti di Stasiun Bekasi Barat.

5. Stadion Mandala Krida

Di luar Jabodetabek, juga terdapat stadion dengan kapasitas besar yang human centric, yaitu Stadion Mandala Krida yang berada di Yogyakarta. Seperti halnya Patriot, Mandala Krida juga merupakan stadion lama yang dibangun kembali. Stadion ini awalnya berkapasitas 20.000. Setelah dibangun ulang jadi 35.000.


Letak stadion sendiri jika dilihat dari Maps berada di pusat kota dan permukiman penduduk yang cukup padat serta sekolah, universitas, dan kantor salah satu instansi Pemprov DI Yogyakarta. Stadion ini pada sisi luarnya terdapat trotoar yang cukup nyaman untuk pejalan kaki yang jika ke stadion menggunakan bus Trans Jogja Koridor 2A dan 2B. Adapun halte Transjogja ini terletak persis depan stadion.

6. Stadion Manahan 

Di tetangga Yogyakarta, tepatnya Solo atau Surakarta, juga ada stadion yang human centric, yaitu Stadion Manahan. Stadion ini mencuri perhatian internasional karena jadi tempat final Piala Dunia U-17 2023. Seperti dua stadion sebelumnya, Manahan juga stadion lama yang direnovasi kembali dengan tampilan baru stadion atap penuh dan fasad yang cukup bagus.


Stadion ini berkapasitas awal 25.000 penonton. Setelah renovasi jadi 20.000 saja. Adapun stadion terletak di pusat kota. Dekat dengan permukiman penduduk, hotel, sekolah-sekolah, Fakultas Olahraga UNS. Tak hanya itu desain stadion memang juga terlihat human centric karena memanjakan pejalan kaki dengan trotoar dan plaza serta taman yang jadi ruang ketiga. Adapun fasilitas transportasi umum berupa halte bus Batik Solo Trans koridor 4 dan 5 persis di depan stadion.

7. Stadion Gelora Sriwijaya 

Ini adalah salah satu stadion terbesar di Sumatra Selatan dan Sumatra. Terletak di pinggiran kota Palembang, Stadion Gelora Sriwijaya atau Jakabaring merupakan stadion besar berkapasitas 23.000 penonton yang dibangun untuk kepentingan PON 2004.


Dari PON stadion kebanggaan Wong Kito Galo ini kemudian banyak menggelar ajang internasional. Mulai dari Piala Asia 2007, SEA Games 2011, ISG 2013 hingga Asian Games 2018. Meski terletak di luar kota, stadion bertaraf internasional ini termasuk human centric karena punya akses pejalan kaki yang cukup nyaman jika memakai transportasi umum. Stadion sendiri terhubung dengan Stasiun LRT Jakabaring. Dan, jika diperhatikan dari maps, kawasan stadion sendiri cukup hijau serta ada pusat perbelanjaan di dekatnya, Lippo Mall Palembang.

8. Stadion Bumi Sriwijaya 

Masih dari Palembang. Selain Gelora Sriwijaya, ada lagi Stadion Bumi Sriwijaya. Stadion ini merupakan stadion lama, dan ada sebelum Gelora Sriwijaya berdiri. Stadion ini dibangun pada 1972 dan mulai dipakai pada 1978.


Stadion Bumi Sriwijaya sendiri merupakan stadion sepak bola yang terletak di pusat kota Palembang, dan mulai jadi perhatian ketika jadi salah satu venue Asian Games 2018. Adapun stadion ini sangat human centric. Sebab, mudah dijangkau dengan berjalan kaki jika naik transportasi umum serta berdekatan dengan mal dan rumah sakit. Uniknya lagi, transportasi umum yang terkoneksi dengan stadion ini adalah LRT Palembang yang berhenti di Stasiun Bumi Sriwijaya yang juga satu lintasan dengan Stadion Gelora Sriwijaya. Hal ini tentu memudahkan bagi mereka yang ke Palembang bisa mengunjungi dua stadion sekaligus dalam waktu cepat.

9. Stadion Teladan

Terakhir, adalah Stadion Teladan yang terletak di Medan, Sumatra Utara. Ini juga sebenarnya stadion lama yang dibangun ulang. Stadion Teladan merupakan salah satu stadion legendaris di Medan, Sumatra, dan Indonesia.


Stadion ini dibangun untuk kepentingan PON 1953, dengan kapasitas 15.000. Stadion kemudian direnovasi pada 2024, dan selesai pada 2026 ini. Kapasitasnya menjadi 20.000 dengan kursi single seat dan semua tribun beratap. Stadion juga tidak memakai lintasan atletik pada tampilan baru seperti halnya JIS.

Terletak di pusat kota Medan, Stadion Teladan jika dilihat dari Maps berdekatan dengan permukiman padat, kawasan bisnis, dan Museum Sumatera Utara. Stadion ini juga human centric karena desainnya yang memungkinkan mobilisasi pejalan kaki seperti adanya trotoar, taman depan stadion, dan jarak dari halte ke stadion yang cukup dekat. Adapun transportasi umum yang bisa menjangkau ke stadion adalah Bus Listrik Medan koridor 1 yang haltenya tidak jauh dari Jalan Stadion.

Nah, itulah 9 stadion sepak bola di Indonesia yang human centric berdasarkan lokasi, konektivitas ke transportasi umum dan fasilitas lainnya serta akses pejalan kaki yang aman dan nyaman. Ke depannya, kita harapkan semakin banyak stadion yang human centric, bukan sekadar bangun stadion baru dan besar saja tapi tanpa memikirkan akses ke lokasi.

Akan tetapi, ada yang perlu diketahui juga dari stadion yang human centric ini. Dari 9 ini cuma JIS dan Teladan yang tanpa lintasan atletik sehingga benar-benar khusus sepak bola. Kemudian dari semuanya, yang sangat disayangkan, masih dimiliki pemerintah daerah atau pusat bukan klub olahraga kota tersebut. Sama seperti kebanyakan stadion di Italia. Tentu kepemilikan atas nama pemerintah, akan berpengaruh secara politik pada kebijakan yang diterapkan jika ada pergantian pemerintahan tersebut.


Artikel dari berbagai sumber

Foto, kecuali foto JIS, dari berbagai sumber

Kamis, 30 Oktober 2025

Novel Terbaru Faaqih Irfan Djaelani, Hutan Menguak: Tersingkapnya Dia yang Hilang

Di postingan ini saya ingin mempromosikan novel terbaru saya yang berjudul: Hutan Menguak: Tersingkapnya Dia yang Hilang. Novel ini bercerita tentang penemuan sesosok mayat di sebuah hutan, yang ternyata merupakan salah satu sosok yang hilang pada 1998.




Penemuan ini seolah kembali membuka tabir yang terpendam selama 27 tahun Reformasi. Yang tentu saja harus dikuak siapa pembunuh mayat tersebut. Mampukah Tya dan Norman mengungkapnya?

Bagi yang tertarik silakan beli novel saya ini di Tokopedia, Lazada, dan Shopee serta di Guepedia. Terima kasih

Berikut link-linknya

https://www.guepedia.com/book/32542

https://s.shopee.co.id/1BE7rXz4FA

https://www.lazada.co.id/-i8756696039-s16201042826.html


Rabu, 01 Oktober 2025

Lepasnya Bara dalam Sekam


Alkisah, ada sebuah negeri yang sangat maju. Kehidupan rakyatnya sangat makmur dan sejahtera. Tidak ada ketimpangan sama sekali. Semua mendapatkan hak yang sama dan setara terutama di mata hukum. Pemimpinnya pun arif bijaksana dan sangat peduli akan rakyatnya terutama rakyat yang tidak mampu untuk mempunyai akses ke dua hal penting, kesehatan dan pendidikan. Sang pemimpin juga dikenal tegas dan berwibawa serta tidak pandang bulu dalam menegakkan supremasi hukum berasaskan pada kekuatan sipil. Tidak ada yang namanya kekuatan bersenjata yang menunjukkan batang hidung secara massal di depan orang banyak. Tidak ada yang namanya tindakan represif dan berlebihan dari penegak hukum ketika orang-orang mengungkapkan perasaan mereka kepada para wakil rakyat. Yang ada adalah bentuk pengayoman dan kasih sayang. Rakyat jadi tuan para penguasa karena mereka tuan sebenarnya. 

Negeri itu bernama Angkasapura. Sebuah negeri yang berada di atas awan yang berada di bawah negeri sebelumnya, Bumipura, yang tenggelam karena banjir besar seperti banjir Nuh. Negeri di atas awan ini berbentuk kapal besar yang lebar yang membentuk geografis yang sangat natural. Ada tanah yang subur ditumbuhi padang rumput, hutan, sawah-sawah, dan kebun-kebun. Kemudian ada gunung yang sangat tinggi serta sungai besar yang mengalir jernih untuk memberikan penghidupan bagi rakyat di sekitarnya, bangunan-bangunan berupa perumahan, desa-desa, kota-kota dengan gedung pencakar langit yang sangat tinggi, jaringan jalanan dan transportasi yang sangat bagus, yang sangat dinikmati para warga dari semua golongan.

Angkasapura, bagai sebuah Shangrila, yang dibangun dengan teknologi artifisial yang hasilnya sama persis dengan kenyataan. Membuat negeri ini juga disanjung negeri-negeri lainnya untuk belajar tentang semua hal. 

Tetapi...

Tetapi...

Tetapi...

Ada satu hal yang masih mengganjal jika melihat negeri ini secara keseluruhan. Masyarakatnya memang benar adil dan makmur, supremasi sipil di atas segala-galanya. Semua terlayani oleh teknologi canggih yang ada di Angkasapura.

Namun, ada satu tempat yang tidak semua orang boleh tahu. Tempat ini sangat terlarang bahkan saking terlarangnya tidak boleh ada yang masuk. Jika ketahuan masuk, siap-siap robot penjaga tidak kenal perasaan akan langsung membabat tanpa ampun. Karena itu, tempat ini sangat tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Bahkan oleh mata telanjang sekalipun. Di peta digital ia juga dihilangkan, dan sekali lagi hanya yang paham tempat ini yang tahu berdasarkan cerita turun-temurun.

Tempat itu sebenarnya sebuah gedung dengan fasilitas ruang bawah yang bisa sampai puluhan meter sesuai dengan panjang Angkasapura ke bawah. Di situlah ada sebuah ruang khusus dengan suhu udara sangat dingin dari AC yang di dalamnya ada sebuah sekam yang diberi kaca tebal serta sebuah api yang selalu menyala setiap saat yang tertutup oleh sekam tersebut. Api itu bukanlah api biasa. Ia juga bukan api untuk menyalakan kompor untuk keperluan memasak, untuk keperluan mengelas, untuk menghangatkan badan saat di alam terbuka, merokok, kremasi, pemujaan hingga untuk keperluan menghancurkan semua dokumen yang menganggu.

Ia adalah api yang sangat menakutkan, yang jika ia hadir dalam setiap kehidupan orang-orang ia akan menjadi malapetaka besar yang dapat menyebabkan kehancuran Angkasapura. Ia adalah banaspati, sang api teror yang jika diperhatikan tampak berbentuk wajah manusia yang selalu menyunggingkan horor dan ketakutan tiada ampun bagi yang menatapnya. Karena itulah, ia dikurung dalam sebuah kaca dan sekam untuk mengantisipasi panasnya.

Banaspati adalah sesosok perwujudan monster raksasa yang datang meneror Angkasapura. Oleh Ratu Adil, sang pendiri Angkasapura, ia dikalahkan dan dikurung hingga baranya kini mengecil. Meski demikian, setelah dikurung baranya malah perlahan tambah membesar ke semula hampir melampaui batas muatan kaca tersebut serta suhu yang diatur untuk bisa mengurungnya. Jika suhu yang diatur itu telah melampaui batas, Banaspati akan dengan mudahnya keluar dari kaca itu dengan membakar sekamnya. Ia akan kembali menebarkan teror dan ketakutan.

Hal inilah yang disadari betul oleh Pak Joko, sang direktur pengendali fasilitas rahasia yang mengurung Banaspati. Tampak setiap hari ia selalu khawatir apalagi jika Sang Martil, sang pemimpin Angkasapura terus meneleponnya melalui panggilan video,

"Saya tidak mau api keluar dari kaca!" Begitulah kata Sang Martil saat menghubungi Pak Joko yang cuma bisa berkata "Iya, Pak" atau "Saya akan usahakan". Ini karena ia tampak bingung menjelaskan kepada Sang Martil perihal si Banaspati yang tingkatan besaran apinya di luar nalar hingga mendekati zona merah.

"Saya tidak mau tahu!" kata Sang Martil dengan nada mengebos, "Ini kan tugas Anda sebagai orang pintar yang mampu mengendalikan api, dan saya lebih percaya Anda daripada dukun-dukun desa yang selalu ribet dalam melaksanakan ritual. Apa itu dupa? Kemenyan? Oh, ayolah kita sudah hidup di zaman mesin ada di mana-mana!"

Wajar jika Sang Martil berkata demikian karena dalam beberapa hari belakangan ia selalu dimimpikan sosok besar berapi seperti kaiju yang menebarkan teror tanpa henti. Monster raksasa api dalam mimpi itu datang lalu membakar setiap gedung yang ia lewati termasuk juga istana tempat tinggalnya. Dalam keadaan seperti itu, Sang Martil selalu terbangun dalam keadaan keringat. Mimpi itu membuatnya takut dan sangat takut karena dapat membuka rahasia yang selama ini tersimpan rapat.

"Kalau api ini sampai lepas, bukan hanya saya yang kena tapi juga rahasiamu. Atau saya lebih baik bungkam kamu saja kalau kamu tidak mengendalikannya?" Ucapan disertai ancaman intimidasi itu selalu muncul dalam kehidupan harian Pak Joko. Ia sejujurnya sudah kenyang akan ancaman itu yang merupakan konsekuensi dari tugasnya yang berat, yang membuat ia rela menjadikan gedung itu sebagai atap rumahnya dan jauh dari keluarga.

***

Riki berlari kencang kemudian perlahan merayap-rayap di atas tanah untuk menghindari lampu sorot dari para robot yang berjaga di mercusuar. Setelah itu merapat pada sebuah tembok lalu melewati mercusuar dengan cepat ala ninja. Jantungnya cukup berdetak kencang saat melakukan banyak transisi gerakan tersebut. Setelah melewati mercusuar di hadapannya kini terdapat sebuah tanah lapang kosong yang bagi kebanyakan orang itu memang cuma tanah lapang kosong. Tetapi tidak bagi Riki. Di balik itu ada sesuatu.

Ia segera berkomunikasi via mikrofon di dekat mulutnya dengan seseorang yang sedari tadi memandunya, Bambang, yang berada di sebuah mobil operasi, dengan jarak 5 kilometer dari tempat Riki berada.

"Sekarang, bro!" Ujarnya singkat. Bambang yang mendengar itu via transmisi di dalam mobil yang ia jadikan sebagai ruang kendali, yang di dalamnya ada TV layar datar untuk memantau Riki via kamera yang terpasang di tubuh, laptop, dan gawai lainnya segera berkata,

"Oke, bro!" Lalu tangannya menari di atas tuts laptop, memunculkan sebuah enkripsi di layarnya yang kemudian memencet enter.

Perlahan dari pencetan itu muncullah sebuah bangunan di balik sebuah lapangan besar. Sebuah bangunan besar yang di dalamnya menyimpan benda yang Riki ingin membebaskannya, Banaspati. Dengan semangat yang cukup besar dan membara, Riki percaya bahwa yang selama ini dikatakan oleh Sang Martil dan para pendahulunya di Angkasapura, terutama Ratu Adil, tidaklah benar.

Banaspati adalah sosok yang sebenarnya baik dan ksatria. Ia sebenarnya adalah sosok pelindung Angkasapura. Namun bagaimana bisa ceritanya ia jadi jahat?

Ketika Angkasapura dibangun untuk menggantikan Bumipura yang tenggelam karena banjir, Ratu Adil, sang pendiri Angkasapura, meminta bantuan Banaspati untuk menghidupkan seluruh mesin pembakaran yang ada di Angkasapura supaya negeri ini tetap bisa terbang dan melanjutkan kehidupan. Energi pembakaran untuk mesin utama ini sangat penting dan vital. Apalagi Ratu Adil tahu api dari Banaspati sangatlah abadi sehingga ia ingin Banaspati tetap di Angkasapura.

Akan tetapi, Banaspati menolak karena ia harus segera kembali ke Bumipura yang walaupun sudah tenggelam ia akan coba tinggal di atasnya sekadar menerangi laut bekas Bumipura yang gelap gulita, dan kebetulan juga di atas Bumipura yang tenggelam dibangunlah sebuah negeri bernama Samudrapura yang negerinya dilindungi oleh sebuah kaca supertebal anti air laut yang tekanannya tinggi. Nah, di Samudrapura itu tinggallah Roro Kuning sebagai penguasanya, dan Banaspati menjalani hubungan asmara dengan wanita cantik yang selalu bersinar ini.

Tindakan ini sebenarnya tidak disukai oleh Ratu Adil yang secara kebetulan menyukai juga Roro Kuning.

Karena itulah, Ratu Adil dan Banaspati berselisih sehingga mereka pun bertarung di Angkasapura selama 7 hari 7 malam. Keduanya pun melancarkan amuk membuat Angkasapura kacau balau. Lalu Ratu Adil meminta bantuan Pak Joko untuk bisa mengalahkan Banaspati dengan menyedotnya memakai penyedot listrik untuk menarik unsur apinya sehingga terperangkap dalam kaca tebal anti api. Sejak itulah, dibuatlah narasi jika Banaspati adalah pengacau dalam buku-buku sejarah Angkasapura. Semua budi baik Banaspati dihapus, dan dibuat narasi bahwa Angkasapura adalah negeri yang makmur. Kenyataannya sebaliknya.

Riki tahu betul soal kebohongan itu dari cerita ibunya yang menjadi korban kebohongan rezim Ratu Adil dan para penerusnya termasuk Sang Martil. Tidak ada yang namanya kebebasan. Semuanya semu. Supremasi sipil selalu terancam. Senjata ada di mana-mana. Memamerkan moncongnya ke setiap hidung yang lewat sehingga selalu ada was-was. Karena itu, Riki ingin membebaskan Banaspati supaya kebenaran yang sebenarnya terungkap meskipun itu tidak mudah karena mereka yang ingin membebaskan Banaspati pasti akan selalu dihapus atau dihilangkan oleh rezim.

"Ingat, Nak, manusia itu hidup untuk memerdekakan dirinya sendiri, dan bukan diperbudak orang lain. Jadilah selalu manusia yang berguna untuk orang lain. Jangan pernah manfaatkan kelebihanmu untuk mencelakakan atau memperbudak orang! Itulah hakikat manusia sejati yang selalu merdeka!"

Begitulah ucapan yang selalu ia ingat dari ibunya yang diam-diam dalam keheningan selalu memuja Banaspati, dan berharap makhluk itu segera dibebaskan.

***

Riki kini berhasil memasuki sebuah lorong panjang berangin dan dingin yang mengarah pada ruangan Banaspati berada. Ia berjalan pelan berdasarkan peta layar virtual yang muncul dari jam di tangannya. Kata Bambang yang berada di ruang kendali, tidak ada robot yang lalu lalang di sekitar situ. Dan, berdasarkan kata Bambang itu ia juga bergerak.

***

Pak Joko sedang berdiri memandangi Banaspati yang semakin semakin membesar apinya. Meski tertutup sekam tampak bara itu begitu menyala. Mengalahkan dinginnya ruangan penyimpanannya. 

"Saya sebenarnya sudah muak bekerja untuk kebohongan ini," katanya pada Banaspati, "Saya rasa ingin keluar dari sini! Percuma harta melimpah jika saya bekerja tidak berdasarkan hati nurani,"

Banaspati yang mendengar keluhan dan curahan itu segera menanggapi dengan suaranya yang bergetar,

"Kalau begitu kau lepaskan aku. Kau bisa bebas, aku juga. Aku akan buat perhitungan dengan Si Martil, dan semua kebohongan ini harus diakhiri"

"Tetapi..." tampak ada rasa bingung dan bimbang di wajah Pak Joko, "Saya bingung habis ini mau kemana?"

"Kau tak perlu bingung, "kata Banaspasti mencoba menghapus kebimbangan yang ada pada Pak Joko, "Kau bisa ikut denganku ke Samudrapura. Di sana lebih menjanjikan di sini. Roro Kuning sudah mengatakan itu berulang kali padaku via teleportasi. Dia sudah tahu kondisi Angkasapura yang bobrok,"

"Tetapi..." Pak Joko masih merasa bimbang. Pikirannya ribet. Hal ini yang tidak disukai Banaspati.

"Kalau mau revolusi, jangan ada kata "tetapi"!" katanya marah, "Kalau ada "tetapi" lebih baik jangan revolusi!"

Pak Joko pun terdiam. Banaspati pun berbicara lagi.

"Sebentar lagi akan ada anak yang membebaskanku. Ibunya adalah seorang pemujaku. Kau jangan halangi, dan bantulah dia supaya kau juga bebas dan keluar dari sini!"

Pak Joko ngeh ketika ada orang yang akan membebaskan Si Banaspati. Senyum pun mengembang di mukanya. Ia lalu mempersiapkan sesuatu supaya segalanya berjalan lancar. Kini ia pun yakin akan jalan yang ditempuh.

Beberapa menit kemudian masuklah Riki melalui sebuah sensor yang jauh-jauh hari ia ambil dari robot yang ia dan Bambang berhasil amankan. Pak Joko yang mengetahui hal itu sesuai instruksi Banaspati tidak menghalangi tetapi menyambut Riki. Banaspati lalu gembira dengan kedatangan Riki.

Mereka lalu bekerja sama untuk bisa membebaskan Banaspati. Pak Joko segera mengutak-atik tombol di tutsnya yang berisi program destruksi kaca yang mengurung Banaspati sementara Riki mengeksekusi dengan melepas kabel penghubung ke kaca. Tak lama kemudian kaca itu pun terbuka. Banaspati yang berupa api itu keluar kemudian mengecil seukuran manusia dewasa. Ia lalu menoleh kepada Riki dan Pak Joko lalu mendekati kemudian berkata,

"Terima kasih sudah membebaskan saya!" Katanya senang. Api tampak berkobar di seluruh tubuhnya hingga terang dan membuat Riki dan Pak Joko silau sehingga harus memakai kacamata khusus.

"Sekarang pergilah kalian ke Samudrapura," katanya melanjutkan, "Bilang pada Roro Kuning bahwa saya sudah bebas, dan kini saya akan membereskan Sang Martil,"

Ia lalu mengubah dirinya jadi besar kemudian melelehkan tembok dengan api di tubuhnya. Ia pun terbang menembus malam yang gelap dan kelam serta hanya bersinarkan lampu-lampu neon pada gedung-gedung bertingkat.

"Sekarang bara api itu sudah keluar dari sekam," kata Pak Joko setelah itu, "Kebenaran akhirnya akan terungkap,"

Pak Joko dan Riki segera keluar dari gedung lewat jalan rahasia. Mereka berdua segera menuju ke mobil yang jaraknya 5 kilometer dari gedung. Di saat itulah, dari kejauhan, saat mereka berjalan, sebuah gedung tinggi putih yang berwarna neon di malam hari, dan merupakan tempat tinggal Sang Martil terbakar hebat hingga menerangi langit.

"Revolusi sudah dimulai, Pak!" kata Riki terpukau dan senang. Begitu juga Pak Joko,

"Janji juga sudah ditepati, Nak!"

Di langit malam yang kelam terdengar suara-suara ketakutan dan kematian yang melayang-layang bersamaan dengan api yang membakar hebat dan asap yang membumbung tinggi. Suara itu kemudian lenyap ditelan cakrawala. Meteor yang kebetulan lewat jadi saksi bisu.

Hilangnya Ayam-ayam Kami


"Mau ke mana lagi, Pak?" ujar Bu Reni kepada suaminya, Pak Parto, di suatu pagi yang sedikit cerah, sedikit mendung alias gamang. Bingung antara turun hujan dan tidak. Bu Reni bertanya seperti itu kepada suaminya yang sudah berpakaian sangat rapi dengan tampilan berupa kaos hitam kemudian memakai rompi hijau tua kecoklatan. Kemudian pada bagian bawah ia memakai celana kargo juga dengan warna sama, dan gesper coklat keemasan sebagai penanda. Pak Parto yang berkumis tebal baplang itu dengan rambut selalu cepak pada bagian kiri dan kanan kepala sembari menenteng sebuah tongkat hitam yang jika dipencet pada bagian tombol di bawah akan bisa mengeluarkan sebuah jaring. Semua berkelindan dengan sepatu bot hitam yang jadi alasnya. Tampak ia begitu tegap dan gagah.

Bu Reni yang melihatnya mencium bau kecurigaan pada suaminya tersebut. Kecurigaan yang sering kali muncul saat suaminya berpenampilan jantan tersebut.

"Kamu mau berburu lagi, Pak?" tanyanya untuk mengonfirmasi rasa kecurigaan tersebut

Dengan tegas, Pak Parto yang ditanyai sesuatu yang menurutnya menganggu itu menjawab,

"Ya, Bu! Aku mau berburu ayam lagi!" Ia arahkan pandangannya ke halaman rumahnya yang luas yang dipenuhi banyak pohon jati yang ranting dan daunnya menurun sehingga membentuk segitiga meleyot.

Jawaban yang meluncur dari suaminya itu jelas membenarkan kecurigaan tersebut. Bu Reni pun langsung berkata

"Memangnya ayam-ayam yang ada nggak udah bikin kamu puas?" tanyanya. Ia lalu memohon pada suaminya itu, "Tolong, Pak, jangan kasihan. Jangan berburu mereka lagi. Jangan kamu turuti nafsu kamu karena kamu cuma keindahan yang dimiliki mereka. Apa kamu nggak kasihan sama istrimu ini yang rela tidak kamu sentuh lagi gara-gara ayam-ayam itu?"

Permintaan Bu Reni yang memelas itu sangat menganggu gairah Pak Parto yang tengah memuncak dan tinggi-tingginya. Ia anggap itu sebagai batu kerikil yang harus dibuang,

"Kamu jangan banyak omong, Bu!" Kini Pak Parto dalam keadaan marah. Seketika tubuhnya berubah menjadi seekor elang raksasa yang menatap tajam istrinya. Bu Reni yang melihat itu langsung terkejut, bergidik lalu bersujud memohon ampun. Barulah setelah itu Pak Parto berubah lagi jadi manusia, dan berkata mengancam,

"Awas sekali lagi kamu kayak tadi,"" Ia arahkan tongkat ke Bu Reni yang ketakutan, "Aku takkan segan-segan masukkan kamu dalam karung biar kamu aku buang ke sungai, dan dimakan buaya! Paham?"

"I...iya, Pak," kata Bu Reni yang masih ketakutan dalam sujudnya, dan tidak mau melihat wajah suaminya yang marah besar dan berubah jadi elang. Selepas itu, Pak Parto pergi dengan tegapnya meninggalkan sang istri yang setelahnya bangkit dari sujudnya kemudian duduk untuk menetralkan rasa takutnya. Dibasuhnya keringat yang tadi keluar saat kemarahan suaminya itu. Ia kemudian mencoba menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan. Kini rasa lega muncul pada dirinya. Ia menggelengkan-gelengkan kepalanya atas tindakan suaminya itu kemudian muncul sebuah sumpah serapah darinya,

"Semoga burungmu tidak bisa berdiri lagi,"

Setelah itu ia bangkit berdiri kemudian berjalan ke bagian belakang rumah yang besar bak istana namun sering mencekam setiap harinya.

***

Kenalkan, ini adalah Pak Parto. Seorang lelaki dengan umur lebih dari setengah abad yang tinggal di sebuah kampung bernama Muara Jaya. Dinamakan demikian karena kampung ini dekat dengan sebuah muara sungai besar yang dihuni banyak buaya yang selalu lapar tanpa kenal henti, membuat orang-orang yang melintas sungai harus selalu membaca mantra-mantra turun-temurun dari para tetua.

Pak Parto adalah seorang pensiunan baju hijau yang datang ke Muara Jaya, yang sebenarnya untuk beristirahat. Namun, hal itu ia urungkan setelah tahu di desa ini para penduduknya memelihara ayam-ayam yang luar biasa cantik bulu dan suaranya. Tak hanya di rumah penduduk, di hutan pun ada ayam-ayam seperti itu. Akan tetapi, ayam-ayam yang ada pada rumah penduduk ini selalu dikonsumsi, dan setelah dikonsumsi bulu-bulu mereka yang bagus akan ditanam di hutan kemudian berubah menjadi ayam lagi.

Tidak halnya bagi Pak Parto. Ia menganggap ayam-ayam itu harus dijadikan pajangan yang bisa dilihat setiap detik, menit, dan jam serta juga bisa dipermainkan sesuka hati. Pak Parto merasakan naik berahinya melihat ayam-ayam cantik ini. Maka, mulailah ia mengambil paksa ayam-ayam milik penduduk. Dengan ajian elang pada dirinya, ia ubah wujud jadi elang raksasa menakutkan jika para penduduk enggan memberi. Para penduduk yang ayamnya diambil tentu hanya pasrah. Padahal ayam-ayam itu sangat penting untuk kehidupan sehari-hari mereka terutama untuk tumbuh-kembang keturunan. Akibatnya, para penduduk kini cuma bisa makan bayam dan kangkung liar yang sebenarnya tidak cukup untuk kebutuhan tubuh sehari-hari.

Kepala Desa Muara Jaya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kekuatan dan keperkasaan yang dimiliki Pak Parto. Bahkan ia sangat ketakutan sekali ketika Pak Parto datang ke kantor desa, dan selalu berwujud elang. Ia mengancam Kepala Desa untuk jangan-jangan menghalangi dia dalam mencari ayam atau nasibnya bisa seperti warga desa yang ia buang ke sungai penuh buaya biar mereka terus berpesta.

Ketika ayam-ayam cantik ini habis di rumah penduduk, ia akan mencari ayam-ayam itu di hutan yang ternyata banyak dan melimpah. Lalu apa yang Pak Parto lakukan terhadap ayam-ayam ini? Apakah sekadar untuk hiasan belaka demi sebuah hasrat? Kenyataannya, Pak Parto menyetubuhi ayam-ayam itu. Setiap malam ia akan selalu ke ruangan yang merupakan kandang ayam. Ayam-ayam yang ada di kandang jelas ketakutan karena kalau Pak Parto datang berarti pertanda siap-siap diajak ke kamar. Setelah dipilih dan diambil, ayam cantik itu dibawa ke kamar lalu di dalam kamar diubahlah menjadi seorang wanita yang sama cantik saat seperti ayam. Pak Parto menjadi dikuasai oleh nafsunya. Tongkat emas pada dirinya menegang kencang tanda berahi itu bagaikan air sungai yang tidak bisa dibendung-bendung.

Wanita dari ayam itu jelas ketakutan namun pasrah tubuhnya dirajah sesuka hati. Ia sendiri tidak bisa melawan karena jika melawan Pak Parto akan langsung mengubah dirinya menjadi elang raksasa yang siap mengoyak-ngoyak si wanita. Bu Reni yang melihat itu hanya bisa menangis pasrah. Ia dalam hati cemburu Pak Parto lebih suka bermain dengan ayam-ayamnya yang masih terlihat menawan dan memukau daripada ia yang sudah dalam keadaan keriput dan berlemak pada beberapa bagian tubuhnya. Namun di sisi lain ia juga kasihan dengan ayam-ayam itu. Ia berharap suatu saat ada keajaiban datang untuk menyadarkan suaminya itu.

Kini Pak Parto dengan gagahnya seperti biasa masuk ke hutan untuk memburu ayam-ayam cantik. Dipegang dengan erat tongkat hitam itu sembari ia bersiul-siul melihat keadaan di sekeliling. Sebuah keadaan yang sepi dan sunyi. Hanya hijau-hijau daun yang menemani. Seberkas sinar matahari tampak masuk menembus hutan membentuk sebuah tongkat yang menyerong panjang.

Ia berjalan pelan pada lantai hutan yang tampak selalu basah dan gembur. Menerebos sulur-sulur penghalang di depan. Ia terus bersiul-siul dengan harapan ada ayam cantik muncul di depan. Tak lama kemudian, ia melihat seekor ayam yang sedang menapak di bawah pohon mahoni besar. Ayam itu sangat terlihat cantik. Tubuhnya gemuk berisi berwarna hijau toska. Pada dadanya terdapat corak warna merah marun. Begitu juga pada jambul dan jenggernya yang jika terkena siraman sinar matahari berubah warna jadi oranye memukau. Pada sayap pun ia melihat ada corak kuning dan putih yang memanjang sampai ekor.

Pak Parto yang melihat ini segera terbit nafsunya. Tubuhnya mengencang menegang. Ia harus mendapatkan ayam itu sebagai koleksi terbarunya untuk nanti malam ditumbuk-tumbuk di bilik peraduan. Ia kemudian keluar dari semak persembunyiannya lalu mengacungkan tongkat hitam sembari memencet tombol hingga keluar jaring besar yang menyasar ke si ayam. Namun, ayam cantik yang sudah tahu hal itu, dengan cepat menghindar sehingga tidak kena. 

Pak Parto terkejut sebab baru kali ini ada ayam bisa menghindari jaring besar dari tongkatnya. Ia tarik lagi jaring itu kemudian ia lempar untuk menjala si ayam yang sudah ada di posisi lain. Tetapi, tetap saja si ayam bisa menghindar, dan bahkan meloncat. Pak Parto pun heran dibuatnya. Ia sekali lagi melempar jaringnya, dan si ayam tetap bisa menghindar. Ia pun kesal sembari berujar,

"Kurang ajar, kau, ayam cecunguk!"

Ayam itu tampak meledeknya kemudian berlari kencang. Pak Parto yang tidak ingin kalah apalagi buruannya kabur segera mengejar ayam itu ke bagian hutan paling dalam. Langkahnya pun seperti setan saat seperti itu, dan tanpa disadari ia menyadari bahwa dirinya kini ada di sebuah bagian hutan yang lain. Yang tampak bagai surga. Ada sungai jernih mengalir yang bermuara ke sebuah danau. Di situ juga ada alunan musik yang mengalun-alun membentuk nada-nada yang indah. Pohon yang berwarna-warni bagai sebuah mozaik, dan tak lupa awan yang tak selalu putih tetapi bisa kuning, merah, bahkan hijau layaknya pelangi. Tentu saja pemandangan ini akan memukau mereka yang ada di dalamnya. Begitu juga Pak Parto.

Di surga itu tampak banyak sekali ayam yang tampilannya sama seperti yang tadi ia cari. Hasrat buasnya seketika muncul lagi. Ia mulai mendekati ayam-ayam itu, mengejar hingga dapat. Sayang, tidak bisa. Mereka cukup lincah dan bisa mengelabui Pak Parto. Pak Parto pun gusar. Ia rasanya ingin menghancurkan surga ini. Sampai kemudian ada satu ayam di depannya yang lalu ia kejar meski merasa lelah juga. Ketika mengejar ayam tersebut mendadak menghilang, dan di hadapannya kini seorang wanita dengan badan tinggi, berambut panjang lurus, memakai baju hijau dengan corak hijau muda pada bagian dada. Warna celananya pun sama, dengan sandal gunung sebagai alas. Di tangannya ada sebuah pedang tajam.

"Siapa kamu?" tanya Pak Parto dalam keterkejutannya, "Jangan halangi jalan saya atau kamu akan merasakan akibatnya!"

Si wanita baju hijau ini tampak santai menanggapi Pak Parto yang mengancam dirinya dengan sebuah tongkat hitam yang diarahkan ke mukanya.

"Saya bukan siapa-siapa, Pak!" kata si wanita itu kemudian melihat ke sekitarnya. Ada ayam-ayam cantik yang tiba-tiba bermunculan, juga ayam yang tadi dikejar Pak Parto muncul dari belakang si wanita, "Saya cuma pembela ayam-ayam di sini, ayam-ayam yang telah bapak rampas haknya hanya untuk kesenangan bapak saja!"

Perlahan ayam-ayam cantik yang tadi bermunculan mengubah wujudnya menjadi para wanita pendekar. Mereka sama dengan si wanita baju hijau. Ada pedang pada tangan-tangan mereka yang siap menebas kezaliman.

"Saya minta bapak lepaskan ayam-ayam yang sudah bapak tawan," kata si wanita baju hijau, "Bapak jangan seenak perut ambil mereka. Karena kelakuan bapak, semua jadi sengsara!"

Pak Parto yang merasa dirinya diancam tentu tidak bisa terima karena selama ini dia yang mengancam orang-orang dengan wujud elangnya. Ia lantas menantang balik si wanita baju hijau itu,

"Kamu jangan ngomong sembarangan sama saya!" Ia mulai emosi. Bola matanya membara, dan kedua tangannya perlahan-lahan mengepal kencang sembari memegang tongkat, "Kamu belum tahu siapa ya?"

"Saya tidak peduli siapa bapak!" kata si wanita baju hijau kini mulai bersiap memegang pedang kencang dan pasang kuda-kuda. Ia merasakan sebentar lagi akan ada pertarungan dengan orang yang sangat sombong ini di depannya.

Pak Parto yang sangat emosi itu langsung mengubah tubuhnya jadi seekor elang raksasa warna coklat dengan warna putih pada kepala dan dada. Seekor elang yang matanya sangat tajam, paruhnya runcing, kedua sayapnya besar dan lebar, dan kakinya yang bercakar dengan cengkraman yang superkuat.

Ia mulai menyerang si wanita baju hijau yang dengan cepat mengubah dirinya menjadi seekor ayam cantik warna hijau dan petarung. Begitu juga dengan para wanita yang lain. Mereka ubah dirinya jadi ayam. Mereka segera menyerang elang besar wujud dari Pak Parto itu bersama-sama. Terjadilah pertarungan antara seekor elang besar dan ayam-ayam cantik petarung.

Pak Parto yang berwujud elang itu tentu saja pada awalnya mampu menangkis serangan ayam-ayam tersebut dengan sayap dan tongkatnya. Namun, ayam-ayam ini bukanlah ayam-ayam yang biasa ia setubuhi setiap malam dengan mudahnya disertai perasaan takut dan pasrah. Ini adalah ayam-ayam petarung yang benar-benar gigih menyerang. Mereka membuat si elang besar itu kewalahan. Kaki dan sayapnya yang merupakan perlambang kesombongan dan kegagahan itu mereka ikat dengan tali lalu mereka kaitkan pada batang pohon sehingga si elang tidak bisa bergerak sama sekali. Paruhnya yang runcing mereka mereka tebas dengan pedang. Si elang itu kaget ketika mulut yang biasa ia gunakan itu kini telah terpisah, dan jatuh ke tanah. Dan, belum habis rasa kagetnya seekor ayam tiba-tiba muncul di depannya. Ayam itu meloncat sembari memegang pedang dengan mata tajam yang kemudian dengan cepat ia tebas pada kepala elang itu. Mata elang itu membelalak. Seketika itu juga kepala terlepas dan menggelinding. Darah mengucur deras. Tanah pun menelannya dengan suka cita. Tubuh tanpa kepala itu perlahan menunduk dan berbaring ke tanah. Lepas sudah rasa keangkuhan dan kezaliman itu.

***

Bu Reni terbangun dari tidurnya. Kemudian dilihatnya jam di dinding. Jarum jam menunjuk ke arah jam 2. Rupanya sudah tengah malam, dan pada jam segini ia sadari suaminya belum juga pulang dari berburu. Ia terbangun karena ada suara ketukan kencang. Pasti itu suaminya, demikian gumamnya. Jujur ada perasaan malas ketika seperti itu karena itu tandanya ia berhasil membawa pulang ayam buruan yang siap dihabisi di ranjang. Soal itu, ia sudah siap mengalah, dan nanti akan tidur di ruangan lain. Namun yang jadi pertanyaan adalah mengapa jam segini Pak Parto baru pulang. Demikian ia membatin lagi.

Suara ketukan pintu itu terasa kencang. Membuat ia segera berlari untuk membuka pintu. Namun ketika pintu dibuka suara ketukan malah menghilang. Dan, saat itu pula ia tidak melihat siapa pun. Cuma ada barisan pohon jati di halaman dan embusan angin malam serta cahaya lampu dari rumah. Ia merasa heran, dan mengira itu Pak Parto. Namun kemudian perhatiannya tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak besar dan tertutup di halaman rumahnya. Ia dekati kotak itu. Dalam dirinya timbul penasaran mengenai isi dalam kotak ini dan pengirimnya. Ia sempat urungkan untuk membuka. Namun karena penasaran ia putuskan membuka. Ada rasa campur aduk saat membukanya secara perlahan.

Lalu terkejutlah ia saat membuka penutup kotak. Mulutnya menganga karena melihat apa yang ia tidak bisa percayai. Dalam kotak itu ada kepala Pak Parto yang matanya membelalak, dan pada mulutnya sebuah tongkat keperkasaan yang dulu pernah merobek keperawanannya serta sebagai senjata untuk menjajah para ayam menjadi sumpalan.

Bu Reni sendiri tidak habis pikir siapa yang berbuat keji pada suaminya ini. Ia perlahan menangis tetapi kemudian ia merasakan kegembiraan karena doanya terkabul. Ia lalu sujud syukur sebab beban hidupnya kini hilang. Setelah itu terdengarlah suara ayam-ayam dari belakang yang kemudian ke halaman depan lalu terbang berubah menjadi bidadari dengan cahaya hijau terang menembus cakrawala yang masih gelap.

Bu Reni yang melihat itu merasa gembira karena ayam-ayam itu akhirnya bisa lepas dari cengkraman suaminya. Bahkan salah satu ayam sempat tersenyum padanya seolah-olah ingin berucap terima kasih.

***

Setelah kejadian itu, penduduk Desa Muara Jaya kembali ceria karena ayam-ayam mereka yang hilang kembali. Kehidupan seperti sedia kala. Ayam yang ada untuk dikonsumsi, bukan dipajang atau diadu. Jika sudah dikonsumsi, kuburkan bulu-bulu cantiknya di hutan agar mereka bisa muncul lagi. 

Tak jauh dari situ, seorang wanita muda dengan rasa percaya diri segera mengemasi barang-barangnya. Ia perhatikan rumah yang dulu pernah ia tempati. Rumah yang selalu mencekam karena tingkah Pak Parto. Bu Reni yang setelah kejadian mendapati dirinya menjadi wanita muda segera tinggalkan rumah itu yang perlahan terbakar dan akan menjadi abu. Asap yang membumbung tinggi perlahan menghilang ditiup angin. Hilang sudah semua memori kelam itu. Bu Reni kini siap mencari pelabuhan baru.



 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran