Pages

Sabtu, 08 Agustus 2026

Modernisasi Bus Kota Jakarta ala Bang Ali Sadikin

Bus kota merupakan sebuah keharusan bagi sebuah kota besar seperti Jakarta. Moda transportasi umum ini ada untuk dapat mengakomodasi kegiatan harian warganya ke tempat kerja, sekolah, dan pasar. Data yang dikeluarkan oleh BPS DKI Jakarta pada Februari 2026 menunjukkan sebanyak 7,02% atau 32,88 juta orang menaiki bus kota yang kebanyakan dioperasikan oleh Transjakarta. Bus-bus itu meliputi bus-bus koridor 1-14 (BRT), non-BRT (Metrotrans dan Minitrans), Royaltrans, dan tentu saja Transjabodetabek yang jangkauannya mencapai kota-kota penyangga Ibu Kota.

Berita Jakarta

Khusus Transjabodetabek sendiri, Pemprov DKI Jakarta di bawah Gubernur Pramono Anung telah meluaskan atau meluncurkan rute baru seperti Blok M-PIK, Blok M-Bogor, dan terbaru adalah Blok M-Bandara Soekarno-Hatta pada Maret 2026. Perluasan layanan ini adalah untuk mempermudah akses setiap orang dari kota-kota penyangga yang bekerja di Jakarta. Apalagi tarif yang ditawarkan cukup murah juga terjangkau, Rp 3.500 sekali jalan. Namun, untuk tarif Transjabodetabek rute Blok M-Bandara Soekarno per 1 September 2026 akan mengalami penaikan menjadi Rp 15.000. Sama dengan tarif pada bus BRT dan non-BRT. Tujuan lainnya adalah untuk mengurangi kemacetan yang sudah menjadi penyakit akut di Jakarta. Data terbaru dari penelitian oleh Tomtom pada awal 2026 menunjukkan tingkat kemacetan di Jakarta adalah 59,8%. Membuat Jakarta jadi kota nomor 24 termacet di dunia.

Adanya peningkatan layanan pada bus kota yang menjangkau hingga ke pinggiran, dan bahkan bandara sebenarnya merupakan kelanjutan dari modernisasi bus-bus kota di Jakarta semenjak era Sutiyoso di awal abad ke-21, dengan meluncurkan Transjakarta pada 2004 yang kemudian oleh dilanjutkan oleh para penerusnya mulai dari Fauzi Bowo hingga Pramono Anung, dengan beberapa modernisasi perangkat dan infrastruktur seperti halte, pembayaran elektronik dengan kartu dan kode Qris, penambahan armada terbaru termasuk bus listri hingga penghapusan Metromini dan Kopaja yang dilebur ke dalam Transjakarta.

Kondisi ini tentu saja menciptakan kenyamanan pengguna karena semua bus di Jakarta pada masa sekarang ini ber-AC, bersih, berhenti di halte-halte yang telah ditentukan, sopir professional, tidak ugal-ugalan, serta tidak adanya pedagang asongan, pengamen, pengemis hingga tukang palak. Meskipun begitu, harus diakui kemacetan masih meraja karena masih banyaknya orang yang lebih memilih kendaraan pribadi daripada transportasi umum.

Di Masa Ali Sadikin

Modernisasi ekstensif yang digencarkan oleh Pemprov DKI Jakarta sejak dekade 2000-melalui Transjakarta sebenarnya sudah pernah diberlakukan di masa Gubernur Ali Sadikin. Memang jika berbicara mengenai transportasi umum di Jakarta tidak akan lepas dari sosok gubernur yang akrab disapa Bang Ali ini. Sepanjang periode memerintah Ibu Kota dari 1966 hingga 1977, Bang Ali telah banyak menyalurkan tenaga dan pikirannya untuk memodernisasi transportasi umum di Ibu Kota, terutama bus kota yang memang sangat penting, dan penggunanya cukup banyak dari moda transum lainnya, kereta api.

Carro.id

Ada alasan khusus Bang Ali harus memodernisasi bus kota ini. Berdasarkan artikel yang ditulis Tirto.id dari buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977. Ia menyoroti perilaku berkendara para sopir bus yang sering ugal-ugalan dan seenaknya sendiri. Di awal-awal menjabat gubernur mantan Marinir berkeliling Jakarta menggunakan bus. Di situlah ia mendapati kenyataan yang tidak mengenakkan seperti sistem lalu lintas yang kacau, armada yang minim, dan pengendara yang tanpa aturan.

Liputan 6.com

Apalagi Jakarta di masa pemerintahanya sudah penuh dengan banyak kendaraan bermotor pribadi, becak, opelet yang semakin membuat kondisi jalanan Jakarta makin macet dari hari ke hari. Untuk mengatasi hal tersebut, Bang Ali lantas mendatangkan dua unit bus Lelyland Titan PD-13 yang merupakan sebuah bus tingkat yang dioperasikan oleh PPD yang sekarang dilebur ke dalam Damri. Rute untuk bus ini adalah Blok M-Salemba-Senen, dengan tarif seharga Rp 50. Tarif yang demikian terjangkau membuat bus ini banyak peminatnya. Selepas itu, ia mendatangkan kembali ratusan bus dari berbagai merek seperti Robur dan Dodge.

Modernisasi Infrastruktur dan Pembayaran

Tak hanya pada bus untuk armada, Bang Ali juga memodernisasi infrastruktur-infrastruktur bus itu sendiri, terminal. Di masa pemerintahannya, ia tercatat telah membangun banyak terminal bus atau memperbaiki kualitas terminal itu. Terminal-terminal itu adalah Lapangan Banteng pada 1967, Blok M pada 1968, Jakarta Kota (1969), Tanjung Priok (1969), Jatinegara (1968), Grogol (1969), Cililitan, dan Pulogadung. Bang Ali juga membangun halte bus sebanyak 50 buah.

Hal lainnya adalah Bang Ali menggaet pihak swasta untuk menjadi operator bus-bus yang didatangkan tersebut. Operator-operator tersebut adalah Arion, Pelita Jaya, Medal Sekarwangi, dan Ajiwirya. Alasan utama diajaknya operator swasta adalah karena Pemprov DKI belum sanggup menjalankan operasional bus baru yang jumlahnya ratusan tersebut. Meskipun, di masa itu sudah ada PPD dan Damri.

Kompas.id

Selain itu, untuk menghindari pemasukan dan pengeluaran operasional bus yang tidak berimbang, Bang Ali memberlakukan sistem karcis. Ini bukan kali pertama karena di zaman Belanda sistem ini pernah ada tapi kemudian hilang di masa kemerdekaan sehingga banyak pengemudi yang ugal-ugalan.

Pemberlakuan sistem karcis ini bukannya tanpa halangan karena akan mengurangi pendapatan sopir yang sebelumnya memakai sistem borongan, dengan pendapatan Rp 50.000-Rp 60.000 per bulan. Namun dengan sistem karcis, pendapatan sopir hanya sebesar minimal Rp 27.500 per bulan, dan kondektur Rp 12.500 per bulan. Di balik itu, pendapatan bus kota jadi terkontrol.

Pendapatan dari penerapan sistem karcis ini rupanya bisa digunakan untuk hal-hal lainnya yang berkaitan dengan operasional bus seperti gaji karyawan. Tak hanya itu, untuk menertibkan sistem karcis, Bang Ali membentuk satuan polisi khusus yang terdiri dari 179 orang yang ditempatkan di halte-halte serta bus-bus pada 3 Mei 1974. Para polisi khusus ini berseragam dengan lengan pendek warna biru muda, celana biru tua, memakai sabuk, topi putih, dan sepatu lars hitam.

Para polisi khusus ini takkan segan-segan menindak para penumpang yang nakal lalu mendenda sejumlah Rp 10.000. Tak hanya para penumpang, sopir dan kondektur yang terlihat menyeleweng juga terkena tindakan tegas. Adanya para polsus di bis membuat operasional bis kota di Jakarta berjalan teratur setelah satu bulan penerapan.

Untuk lebih menggenjot pendapatan bus, karcis tentu saja tidaklah cukup. Apalagi dana yang dimiliki oleh Pemprov DKI sangat terbatas saat menata bus kota menjadi lebih manusiawi. Karena itu, Bang Ali mengizinkan pemasangan iklan di badan bus yang beroperasi. Karena dana yang terbatas inilah, Bang Ali menolak operasional Damri di bawah Pemprov DKI yang disebutnya bisa membebani anggaran.

Setahun menjelang masa jabatannya berakhir, Bang Ali membentuk Metromini dan Kopaja untuk menaungi bus-bus kecil atau mikrobus bekas Ganefo dan Asian Games. Sejak saat itu Metromini dan Kopaja menjadi penguasa jalanan di Jakarta dan terkenal akan sopirnya yang ugal-ugalan hingga kemudian hilang dari jalanan Jakarta pada 2020, dan digantikan oleh Metrotrans dan Minitrans dari Transjakarta.

Modernisasi bus kota yang diterapkan oleh Bang Ali ini memang memakan banyak korban, yaitu pelarangan becak, bemo, oplet, yang selanjutnya digantikan oleh Mikrolet. Meski demikian, modernisasi ini belum begitu berhasil membuat Jakarta lepas dari kemacetan karena kalah cepat dari arus urbanisasi, juga belum adanya prioritas terhadap transportasi umum yang dampaknya masih terasa hingga hari ini.

Sumber artikel: 

Antara News. “Kota Penyangga Jakarta Ingin Lebih Banyak Dibuka Rute Transjabodetabek.” Diakses 13 Mei 2026. Antaranews.com

BPS DKI Jakarta. “Perkembangan Transportasi DKI Jakarta Februari 2026.” Diakses 13 Mei 2026. Jakarta. Bps.go.id

Contoh: Ward, Geoffrey C., dan Ken Burns. The War: An Intimate History, 1941-1945. New York: Knopf, 2007

Foto Tempo. “Jakarta Menempati Peringkat ke 24 Kota Termacet di Dunia.” Diakses 13 Mei 2026. Tempo.co

Hidayat, Nurul . "Transjabodetabek Blok M-Bandara Soekarno Hatta." Diakses 8 Agustus 2026. Bisnis.com

Pemprov DKI Jakarta. “Gubernur Pramono Resmikan Rute Transjabodetabek Blok M Kota Bogor dan Perpanjangan Koridor 13.” Diakses 13 Mei 2026. Jakarta.go.id

Pribadi, Irfan Teguh. “Sebelum MRT: Sejarah Rekayasa Transportasi Massal Ala Ali Sadikin.” Diakses 13 Mei 2016. Tirto.id 

Samudro, Respati Budianto. “Riwayat Bus Tingkat Era PPD di Jakarta (September 2024). UNJ

Sofa, Amira. “Transportasi Jakarta dari masa ke masa.” Diakses 13 Mei 2026. Jakarta Smart City

Sopandi, Amin, Triono, dan Hamluddin. Profil Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta dari Masa ke Masa. Jakarta: Dispusip DKI, 2019

Suciati, Dessy. “Transjabodetabek Blom M Bandara Soetta Resmi Mengaspal Tarif Rp 3.500 Selama 3 Bulan.” Diakses 13 Mei 2026. Berita Jakarta.id

TG, Johnny. “50 Tahun Terminal Bis Grogol,” Diakses 13 Mei 2026. Kompas.id

Tim Harian Kompas. “Karcis Antikorupsi.” Diakses 13 Mei 2026. Kompas.id

Triana, Nelly. “Memori Bis Tumpuk dan Musim Semi Naik Bus Kota,”. Diakses 13 Mei 2026. Kompas.id


Kamis, 06 Agustus 2026

Ada Monyet Depan Pintu

Teriakan itu menggema lagi. Mengoyak keheningan pagi yang cerah namun sedikit berkabut. Menohok matahari yang tersenyum lebar hingga menurunkan raut mukanya. Menggetarkan pepohonan. Membuat burung-burung yang hinggap di rantingnya segera lintang pukang karena suara yang tampak membuyarkan kesyahduan mereka bercericau dengan hikmat untuk mensyukuri anugerah dari Sang Pencipta.

Koleksi pribadi

Teriakan ini tak pelak juga membabat telinga orang-orang yang berada dalam radiusnya. Bagi yang mendengar, ini semacam musik gotik bernuansa gelap menyeramkan, dengan dentingan piano yang membuat bulu kuduk merinding. Juga sebuah teriakan yang melolong dan menyayat seperti seekor serigala yang kesakitan di tengah malam pekat. Teriakan yang memberikan semacam isyarat ketakutan tanpa batas lantas mengharapkan sebuah pertolongan. Namun, samar.

"Mulai lagi deh tuh," ujar Karyo, seorang warga yang mendengar teriakan tersebut. Tampak ia sudah akrab dengan teriakan tersebut. Yang harus selalu merajah kupingnya setiap hari.

"Iya, tuh," timpal Deri, orang yang ia ajak bicara saat keduanya ada di sebuah jalanan yang tidak jauh dari muasal teriakan yang bagai terompet sangkakala tersebut, "Sebenarnya kenapa sih itu orang?"

Karyo berpikir sebentar. Mengeluarkan kata-kata yang sekiranya pas untuk menjawab pertanyaan Deri yang penasaran. Karyo tahu sebenarnya Deri tidak penasaran, ia sudah tahu penyebab teriakan itu muncul. Namun, jawaban yang ada akan selalu menggantung dan membuat penasaran. Sejurus kemudian, ia berkata,

"Ya, kamu kan tidak perlu tanya itu lagi sebenarnya. Orang kamu udah tahu," Karyo menjawab dengan sedikit terkekeh. Pertanda ia sudah malas untuk melontarkan jawaban karena akan sama saja. Jawaban ini jawaban turun-temurun. Yang diperoleh dari mulut ke mulut.

Tahu kalau Karyo merespons dengan nada begitu, Deri langsung paham. Ia lantas berkata dengan kencang dan jelas.

"Ya, tapi masa iya cuma karena sering melihat yang aneh-aneh dia terus-menerus teriak, Pak? Bagi saya sih itu orang udah nggak waras alias orang gila, dan gilanya sudah akut. Ada baiknya udah harus dibawa ke rumah sakit jiwa aja. Mengganggu, Pak!"

"Hus!" Spontan Karyo meminta Deri tutup mulut. "Jangan kencang-kencang ah! Kamu tahu nggak itu siapa?" Karyo lalu melirik ke kanan dan kiri, depan dan belakang berulang kali. Hanya untuk memastikan di jalanan yang tampak sepi itu cuma mereka berdua. Alias tidak ada yang "lain".

"Jangan sampai kedengaran, Der!" Karyo memperingatkan dia setelah itu dengan nada pelan dan berbisik namun tegas, "Dia ini banyak matanya. Salah-salah ngomong bisa dikarungin kita!"

"Ya, bukan begitu, Pak" Deri membela diri atas argumennya, "Habis jawaban yang saya terima kok dari satu kepala ke kepala lain sama semua. Nggak masuk di akal. Apa iya orang selama dalam waktu hampir 10 tahun selalu saja berteriak karena melihat hal-hal yang nalar saya aja bingung mengartikannya. Kata orang, dia begitu karena melihat hantu? Hantu apa? Apa iya ada hantu di pagi hari? Kalaupun ada ya paling hantu ketakutan menjalani hari karena malamnya dipakai untuk menakuti orang-orang. Tapi cuma dalam mimpi!" Seketika ia pun geli dan cekikikan.

"Hus! Sudah, sudah!" Karyo tampak panik terhadap kelakuan Deri yang menurutnya sudah over acting. "Baiknya kamu sama saya pisah aja. Saya tidak mau cuma gara-gara begini kita dikarungin! Saya masih waras!"

"Justru Bapak yang tidak waras," ujar Deri santai menanggapi kepanikan Karyo, "Ngapain kita perlu takut segala dengan orang seperti itu? Dia begitu karena kesalahannya sendiri. Kesalahan tanpa batas di masa silam. Kesalahan yang Bapak, saya, dan kita semua di sini, yang tidak bisa kita maafkan sama sekali! Ngapain juga orang kayak gini masih dikasih ruang di kehidupan kita? Saya pribadi, lebih baik hapus saja!"

"Ah, kamu malah tidak beda jauh dengan si tua bangka itu!" kata Karyo dengan nada yang meski panik, tidak menyukai Deri yang ceplas-ceplos dan sarkas.

"Sudah, saya tidak mau debat lagi. Malah bikin saya pusing! Sekarang kita berdua bubar. Berdoalah dalam beberapa hari ke depan kita masih normal,"

"Aduh, Pak, jangan paranoid begitu!" Kata Deri yang berupaya meminta Karyo tetap ingin berdebat. Namun, Karyo acuh terhadapnya. Ia melangkahkan kaki begitu cepat meninggalkan dirinya.

Setelah itu, Deri mengumbar dengan kesal,

"Yang begini ini, susah deh buat diajak ngomong bareng biar semuanya jelas dan logis. Heran saya orang yang sudah banyak kesalahan masih aja dibanggakan, ditakuti. Memang apa istimewanya lagi itu orang? Sudah jadi pesakitan juga di penjara mewah! Ya, bagus, harus setiap hari ditampilin sosok aneh biar cepat meregang nyawa!" 

Ia tertawa-tawa dan menjejak santai ke arah tempat ia bernaung sehari-hari. Akan tetapi tanpa ia sadari seekor burung gagak perlahan mengepakkan sayap mengikutinya. Tiada sekalipun Deri tahu kalau gagak itulah yang akan membuatnya menjadi tidak normal

  ***

Mereka datang lagi. Bergerombol. Bagaikan tsunami. Tatapan mereka merah tajam menyala. Pada mulut dan bibir mereka tampak ada darah. Seperti habis mengigit sesuatu dengan taring yang terlihat di pinggir mulut. Mulut mereka menyeringai lebar seperti Joker. Sudah jelas ingin menghabisiku. Bau anyir itu kuat dan meruyak seiring kedatangan mereka yang ada di depan pintu lalu menembus tanpa berucap satu patah kata pun.

Aku jujur tidak tahu mereka. Bagiku mereka seperti monyet-monyet liar tak beraturan dan tak beradab yang ingin menggerogoti diriku yang kini terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pesakitan. Aku sungguh lemah. Tak bisa menggerakkan tangan dan kaki. Hanya bisa berteriak ketika mereka datang. Berteriak sekencang-kencangnya sampai kemudian orang datang. Mereka menghilang. Tapi, muncul lagi. Membuat diri dan jiwaku benar-benar mengalami ketakutan luar biasa. Ketakutan tidak waras dan tanpa batas.

Setiap kali mereka datang dengan tatapan kejam dan menakutkan itu beserta kapak, cangkul, palu, dan arit di tangan, akan selalu ada sosok di belakang yang bersinar. Sosok itu bagaikan dewi Sri. Dia selalu memancarkan warna kuning keemasan pada tubuhnya. Parasnya begitu ayu. Matanya selalu memandang tajam padaku. Selaras dengan bibir tipis di mulutnya serta hidung mancung yang sepertinya sering mendengus ketidakberesan.

Sang Dewi selalu mengeluarkan aroma yang membuatku terbang melayang hingga ke langit ketujuh. Aroma khas bidadari kahyangan. Aroma yang menari-narikan hidungku. Membuatku terbius dan pasrah. Ini sungguh berbeda dengan monyet-monyet itu. Ia selalu tampil dengan kemben kuning menyala. Membawa busur dan panah di tangan kanan dan kirinya. Aku yang melihat itu sontak terkesiap di balik keanggunannya.

"Bapak tentu tidak akan takut dengan sosok saya yang seperti ini, kan?" tanyanya dengan retoris setiap kali ia muncul. Ia lalu melihat pada sekelilingnya, "Beda dengan anak buah saya yang selalu bapak takuti,"

Ia selalu bertutur cukup halus. Persis bidadari kahyangan. Tuturan yang membuat diriku jatuh hati, dan bahkan jatuh cinta. Tuturan yang merangsang saraf pada otakku hingga membuat tiang pada diriku terpancang lebar meski aku sudah terbaring tidak berdaya. Kalau sudah begitu, ia akan mengelus pelan dan halus sembari berujar,

"Wah, wah, wah rupanya tongkat sakti Bapak masih kuat juga meski sudah lama tak bergumul dengan bunga-bunga," Ia menatapku pelan, tajam. Tampak nyata kemarahan dalam dua bola matanya. Tidak berkelindan dengan ucapan halusnya yang membius sarafku. Ia masih terus mengelus tiangku, dan masih terus berbicara,

"Apa Bapak sadar kalau tongkat sakti Bapak ini dulunya bukan cuma untuk merobek bunga-bunga? Bunga-bunga yang begitu cantik tapi seketika hancur oleh tingkah Bapak. Bapak ambil paksa mereka dari kebunnya. Kumbang-kumbang yang menjaga mereka dan pemadu alami mereka, malah Bapak bakar dengan angkuhnya!"

Sang Dewi merayap di atas tubuhku dengan pelan bagai ular piton yang hendak membelit mangsanya. Ia terus saja berkata,

"Dengan tongkat ini juga," ujarnya sembari mengelus tiang diriku yang masih menegang kencang. Membuatku sungguh tidak tahan, dan ingin segera menghantam habis Sang Dewi seperti halnya dulu aku menghantam bunga-bunga di taman. Tapi, lacur, aku benar-benar tidak bisa sama sekali. Aku benar-benar tidak berdaya, "Bapak hancurkan orang-orang yang hidupnya hanya memikirkan kampung tengah mereka sendiri. Tidak mau terlibat apapun atau berurusan dengan Bapak,"

Sang Dewi menengok ke kiri dan kanan. Geraman muncul begitu keras dan kencang dari monyet-monyet itu. Air liur menetes dari sela taring-taring mereka. Mata mereka semakin menyala. Salah satu dari mereka melontarkan ucapan dengan tidak sabaran, "Bunuh saja orang ini! Bunuh! Dia yang dulu menyengsarakan kita, membinasakan kita!!!"

Seruannya lantas ditanggapi yang lain: Bunuh, bunuh, bunuh!!!

Sang Dewi yang tahu anak buahnya berpagut dengan emosi menjawab begitu tenang dan santai sembari menoleh,

"Kalian tenanglah. Kita jangan terburu-buru menghabisi keparat tua ini! Kita mainkan saja pelan-pelan. Kita kuliti dia sampai mampus,"

Setelah itu semua diam. Menuruti Sang Dewi. Ia kemudian menoleh kembali padaku dengan tetap mengelus tiang pancangku. Tetap menegang. Aku lagi-lagi benar-benar tidak terpedaya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jantungku menggebu begitu kencang. Keringat dingin perlahan keluar membasahi ragaku yang lemah. Sosok Dewi ini, meski memesona, dia membuatku sesak napas. Dia perlahan ingin mencabut nyawaku.

"Wah, wah, bisa keringatan juga ya, Pak?" ujar dirinya menyindir diriku setelah menyadari ada guncangan pada tubuhku, "Bukannya Bapak dulu orang yang kejam dan ditakuti ya? Saya kira Bapak tuhan? Ternyata, lemah juga!"

Sang Dewi menghentikan elusan pada tiang pancangku. Ia duduk di atas tubuhku. Rambutnya yang panjang hitam ia gelung hingga kini terlihat jelas bahunya yang bersinar. Aku jujur terpesona. Aku ingin menyentuhnya. Ingin menikmatinya. Tapi, lagi-lagi tak bisa!

Di belakangnya para monyet pengganggu tampak sudah siap ingin menghabisi diriku. Liur mereka menetes beberapa kali. Jatuh ke lantai. Bau anyir menyeruak bersirobok dengan aroma surgawi Sang Dewi. Ia menatapku kembali. Mendekatkan kepalanya ke mukaku. Aku tergagap. Tidak tahan. Keringat terus mengalir. Jantung tiada henti mendebar-debur. Tubuh gemetaran.

"Wah, wah, Bapak tampaknya gemetar bukan ketakutan tapi ingin main sama saya ya?" ujarnya kembali yang menyadari kondisi tubuhku. Aku tidak menjawab karena setiap kali aku ingin melontarkan jawaban, mulutku seperti sudah dikunci rapat.

"Boleh saja, Pak!" katanya terkekeh, "Tapi bukan dengan sosok ini!" Mata indah yang penuh kemerahan itu berubah jadi mata yang menyeramkan, dengan tatapan merah menyala. Hidung yang mancung menjadi hidung peyot, dan mulut dengan bibir tipis mengeluarkan taring di sela-sela gigi. Mukanya lantas pucat dan tidak mulus. Ia yang memakai kemben kini memakai baju putih dengan rambut panjang basah. Kuku-kuku tangan yang tadinya pendek beraturan seketika memanjang tajam seperti kuku setan. Tangan yang halus itu tak malu beralih kasar. Aku spontan tersentak. Sang Dewi berubah jadi kuntilanak yang tertawa kencang menyeramkan. Aku kini ketakutan luar biasa. Keringat terus membasahi tubuhku hingga kuyup. Ah, mimpi apa aku ini? Aku ingin lari saja! Lari secepat kilat! Tapi aku lagi-lagi tidak bisa!

Si kuntilanak terus tertawa sangat kencang. Membuat bulu romaku tambah merinding dan memegang. Matanya menatap tajam padaku. Aku semakin ketakutan. Suara bergetar di sela tawa menyeramkan itu.

"Bapak tentu tidak akan suka dengan sosok asli saya. Ya, kan?" Ia lalu menoleh ke belakang. Ke monyet-monyet itu yang kini menggeram dengan kencang dan bersahut-sahutan.

"Habisi dia. Habisi dia yang sudah buat kalian sengsara! Habisi!" Ia tidak ragu memberi komando ke mereka dengan gairah dan semangat. Monyet-monyet itu menanggapi seruan dengan semangat pula seperti hendak berperang.

Mereka menyerbu bagai tsunami. Menggenggam palu, cangkul, arit, dan kapak. Si kuntilanak lantas melayang bagai kapas sembari mengeluarkan tawa khasnya yang memang menyeramkan. Sebuah kata terlontar pedas dari mulutnya: rasakan itu, jenderal!

Aku yang menghadapi serangan yang tampaknya balas dendam atas orang-orang yang dulu pernah kuzalimi hidupnya, hanya bisa mengeluarkan teriakan yang begitu kencang untuk menghalau. Tapi, rupanya sudah tidak mempan lagi. Malaikat maut tampak sudah mengintip dari balik jendela di kamarku yang megah dan tembok yang dijejali banyak "penghargaan". Aku pasrah.


Jumat, 31 Juli 2026

Asmara Kedelapan

Saya mau mengawali dengan apa ya cerita yang akan saya tulis ini? Sebenarnya, saya tak ingin menuliskan cerita ini karena sudah sering saya sampaikan secara acak di AI. Tapi, baiklah, saya tulis saja beserta juga analisis dan penilaiannya supaya juga jadi bahan pelajaran ke depan. Cerita yang saya tulis ini sebenarnya cerita yang cukup receh. Cerita jalinan hubungan asmara atau ya sudah cerita percintaan. Tapi jangan harap cerita ini happily ever after ya. Ya, jangan langsung berpikir ini sedih juga. Cerita ini bagi saya unik dan melelahkan walau jalinan asmara itu cuma dua bulan, dan terhubung hanya via WhatsApp, Instagram, Facebook, dan belakangan email. Jadi, mari kita mulai saja ceritanya!

Awal Mula

Semua dimulai pada Agustus 2009. Saat itu saya yang seharusnya lulus kuliah pada tahun itu harus mengurungkan keinginan saya karena ada banyak mata kuliah yang saya harus ulang, dan jumlah SKS yang kurang untuk bisa lulus. Saya sendiri ambil jalur non-skripsi untuk kelulusan. Ini terpaksa karena mata kuliah metode penelitian sastra untuk skripsi aja saya nggak lulus. Nah, karena kurangnya SKS itu membuat saya menambalnya dengan ambil mata kuliah pilihan. Yaitu, bahasa Jerman sumber. Kenapa saya ambil? Ya, karena saya kan dari jurusan Sastra Belanda, yang bahasanya tidak jauh beda dari bahasa Jerman. Saya beberapa juga tahu kosakata dan cara ucap bahasa Jerman. Ya, ini karena saya sering bergaul dengan anak-anak Sastra Jerman. Di samping saya juga punya kamus dan tata bahasanya. Kamusnya sendiri sudah dimakan rayap. Buku tata bahasanya? Hilang entah kemana.

Ya, karena itu pula, dosen bahasa Jerman sumber terkejut ketika saya bisa mengucapkan kosakata bahasa Jerman dengan sempurna seperti penutur asli. Dia mengira saya pernah belajar bahasa Jerman atau kursus. Saya bilang, tidak. Nah, di kuliah bahasa Jerman sumber ini saya bertemu dengan seorang wanita bernama Prima. Nama lengkapnya Prima Dian Putri. Dari FIK angkatan 2008. Dia ambil kuliah ini habisin SKS sekalian belajar lagi bahasa Jerman karena di SMA udah pernah belajar. Wanita ini beda 3 tahun dari saya. Saya kan kelahiran 1987. Dia 1990. Perawakannya, badan kecil, langsing, pendek, berkacatama, dan terlihat gesit alias cepat jalannya. Dia pembawaannya ya selalu riang, cepat akrab dengan orang. Saya jujur tidak ada perasaan tertarik sama sekali. Wajah juga nggak cantik. Biasa aja. Malah sebenarnya memang tidak menarik.

Jadi, intinya, memang saya tidak tertarik sama sekali dengan dirinya. Semua biasa saja. Tapi, wanita ini karena pembawaannya yang riang, ceria, dan humoris, malah sering berbincang dengan saya. Jadi, memang saya sering berinteraksi dengan dia. Saya tidak tahu alasan dia mau sering interaksi dengan dia? Apa mungkin karena saya orangnya ramah, sering tersenyum tanda mau didekatin orang saat interaksi dan agak ingin tahu sesuatu membuat dia sering berbicara sama saya? Dia itu sama saya bawaannya tiap kali ada kelas bahasa Jerman selalu saja tertawa dan riang kayak anggap saya spesial. Tapi, saya biasa aja dan tidak pernah memikirkan. Apalagi memang juga tidak ada niat menjadikan dia pacar karena saya ingin rehat dahulu dari dunia percintaan. Ya, setahun sebelumnya, saya sempat menjalin asmara dengan seorang wanita dari sesama jurusan tapi beda angkatan. Cuma saya anggap hubungan ini HTS alias hubungan tanpa status. Meski dalam HTS-an itu saya beberapa kali ciuman dan pegangan tangan. Ya, memperlakukan dia seperti pacar. Khas anak muda dimabuk asmara.

Saya dan Prima ini cuma satu semester kuliah bareng dan interaksi langsung. Tapi selama itu pula saya dan dia sudah sering jalan bareng. Kalau tidak salah 3 kali. Ya, antarin dia ke musala, ke kantin, dan ke Detos. Selama itu juga dia pernah menganalisis tulisan tangan saya melalui ilmu grafologi. Katanya, saya orangnya terburu-buru. Namun ada juga yang saya tidak suka dari dia. Saya dianggapnya tidak pernah salat cuma karena saya ke musala temanin dia buat duha tapi saya juga nggak duha. Itu buat saya tersinggung yang setiap hari salat wajib 5 waktu. Ada kesan langsung menjustifikasi dan memvonis saya langsung dari luar tanpa mau tahu secara detail. Belakangan juga, dari cerita dia, saya temanin dia ke musala dan kantin, serta jalan bareng saya sedang pendekatan sama dia. Padahal, tidak sama sekali! Dia salah tafsir.

Intermezzo 

Dari kuliah bareng yang cuma satu semester selama itu pula saya tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Saya sibuk dengan usaha saya untuk bisa lulus kuliah yang ternyata meleset dari target. Saya yang harusnya 4 tahun kuliah malah jadi 5 tahun. Saya lulus pada 2010 tapi baru bisa wisuda awal 2011 karena saya lulus melalui jalur semester pendek dan melewati batas yudisium. Selepas lulus, saya berupaya cari kerja, dan akhirnya bekerja di Komunitas Bambu sebagai editor buku walau sebentar. Lalu pada 2012, saya bekerja di majalah Gatra sebagai editor bahasa selama 6 tahun. Di sini tidak ada sama sekali bayangan akan Prima. Di masa-masa ini saya menjalin hubungan percintaan dengan teman saya semasa SD tapi cuma sebentar karena perbedaan prinsip. Selanjutnya, saya menjalin lagi hubungan dengan temannya teman saya, kenalan di Gunung Padang, dan cuma setahun lebih. Dalam hubungan itu, kita udah sepakat sampai menikah meski akhirnya tidak jadi karena dia terlalu dominan. 

Prima itu baru muncul dalam pikiran saya ketika dia hubungin saya via DM Facebook pada 2015 mengomentari kebiasaan saya lari pagi yang membuat badan saya langsing. Dia takjub dan menanyakan jarak lari saya. Saya bilang kalau tiap hari 5-6 km tapi kalau lagi kesetanan bisa 10 km. Tapi setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Saya juga tidak ada ketertarikan. Saya fokus dengan lari pagi saya, hasil dari rasa sakit hati sehabis putus cinta. Juga saya ingin hidup sehat selepas ayah saya meninggal pada 2014 karena komplikasi. Semenjak itu saya sering berolahraga hingga sekarang.

Oke, kita balik lagi ke hubungan saya dan Prima ini. Jadi selepas DM FB pada 2015 itu, tidak ada lagi pembicaraan, dan saya fokus ke kegiatan saya sampai akhirnya saya berpacaran lagi setelah satu tahun menjomblo. Tepatnya pada 2016. Saya dan dia sepakat menikah, dan kali ini saya akhirnya menikah di usia 29 tahun. Meleset dari keinginan, usia 27 tahun. Saat pernikahan ini saya undang Prima, dan dia datang ke pernikahan saya. Sendiri aja. Dia tampak gembira dan senang. Saya masih bisa mengenalinya walau 7 tahun bercerai mata. Interaksi saya sama dia cuma sebentar. Dia naik panggung kasih ucapan selamat ke saya dan istri saya. Saya bilang terima kasih. Setelah itu ya sudah, dia turun panggung. Saya sudah tidak perhatikan lagi dia; makan atau tidak. Saya fokus sama acara dan para tamu yang datang.

Dari pertemuan terakhir itu secara langsung, saya sudah tidak pernah berinteraksi lagi karena saya fokus membangun rumah tangga saya yang hanya bertahan mau 5 tahun. Jujur, saya kecewa dan sakit hati hingga membuat saya skeptis dan malas dengan wanita. Mau dia cantik atau tidak. Selama itu pula saya menutup pintu meski dua kali dijodohkan. Saya memang lagi tidak mau. Saya juga lagi fokus pada diri sendiri dengan berolahraga hingga badan langsing sampai 75 kg dari berat 97 kg. Juga fokus merawat ibu saya yang sakit stroke sejak 2022. Selama ibu saya sakit juga saya yang pegang urusan rumah tangga. Termasuk juga belanja ke pasar. Sampai-sampai dikatai perawan oleh tukang sayur. Hal yang bikin saya sakit hati. Sampai sekarang saya nggak pernah mau lagi belanja ke tukang sayur itu, dan tidak mau tegur sapa kalau ketemu muka di jalan. Tapi, di masa-masa itu juga saya masih ada keinginan untuk berumah tangga lagi. Cuma ya ini yang satu ini jangan konfirmasi langsung ke saya sampai bilang: cepat cari istri lagi biar ada yang nemenin pas tua. Ya, janganlah. Saya akan marah dan tersinggung serta bisa destruktif kalau marah. 

Interaksi Kembali

Untuk pasangan baru ini ya saya berharap dengan orang yang sudah lama saya kenal sehingga tidak canggung. Cuma saya belum tahu dengan siapa? Sampai akhirnya sekitar September 2024 ada yang menghubungi saya via DM Instagram, dan orang itu adalah Prima. Kita memang sudah lama berteman di IG meski jarang interaksi. Dia hubungi saya karena gusar dan kesal ta'aruf-nya gagal dengan duda anak 4. Katanya repot karena apa-apa harus minta izin ke anaknya. Apalagi anak yang paling kecil belum tentu klop dengan ibu sambung karena akan selalu ingat ibu kandung. Nah, di sini dia merasa tidak sreg. Lalu ia bertanya ke saya perihal kondisi saya. Ya, saya jelaskan saya sekarang duda tanpa anak. Dia terkejut. Seingat saya, dia sempat bertanya ke saya keinginan untuk cari pasangan lagi. Saya bilang belum. Saya masih ada trauma walau ada keinginan berumah tangga lagi.

Nah, dari sinilah timbul keinginan saya apa sebaiknya saya dengan Prima saja? Toh, saya udah kenal dia cukup lama walau sebentar. Pasti juga tidak canggung. Cuma saya masih mempertimbangkan hal lain. Kebiasaan dia waktu kuliah yang gemar menggurui saya dan langsung menilai saya dari luar terkait hal religius dengan nada gembira dan tertawa. Ini yang saya tidak suka dari dia. Saya coba utarakan secara tersirat keinginan saat lagi lowong menunggu pelanggan di tempat kerja via WA. Dia tampaknya menyukai meski mau berpikir dulu. Semenjak itu tak ada lagi pembicaraan bahkan ketika saya WA untuk tanya kabar sama sekali tidak ada jawaban. Saya sempat bertanya: apa mungkin nomornya ganti?

Sekitar awal 2025, saya tiba-tiba melihat di story IG saya dia sedang ada di Mekkah. Oh, rupanya sedang umrah dengan biaya dari kakaknya. Tentu hatinya senang banget. Saya doakan dia supaya lancar dan bisa dapat jodoh. Yang diaminkan oleh dia. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan karena sejak Februari 2025 menghilang dulu dari IG untuk detoksifikasi diri. Maklum, saya lagi stres banget karena belum bisa ke mana-mana sebab ibu saya sakit dan saya tidak bekerja. Hanya gigit jari kalau ada orang bisa lancar bepergian. Soal Prima itu juga menguap begitu saja. Apalagi WA-nya tidak berfungsi sama sekali.

Namun, Prima kembali muncul dalam kehidupan saya. Ini bermula ketika saya yang dalam masa menghilang dari IG menciptakan kembali karya-karya sastra mulai dari puisi, cerpen, dan novel mau tidak mau harus ke IG untuk promosi. Saya waktu itu hendak promosi novel saya yang berjudul Hutan Menguak sekitar awal November 2025. Nah, saat saya hendak promosi via postingan dan story, saya melihat ada notifikasi di DM. Saya buka ternyata dari Prima yang mengirim sebuah surat. Inti surat itu adalah dia mengajak saya nikah karena dia ingin sekali punya penerus yang bisa mengaji. Saya jujur kaget. Dalam masa dewasa saya, baru kali ini ada wanita kirim surat ajak nikah. Kalau waktu saya masih masa pra remaja, ya pernah juga ada wanita kirim surat minta saya jadi pacarnya.

Selain terkejut, ya tidak menyangka juga ada ajakan menikah. Saya pribadi senang. Cuma saya dalam keadaan menganggur. Setelah dapat surat itu, saya hubungi yang bersangkutan. Saya bilang terima kasih tapi saya menolak dengan halus karena saya menganggur selama hampir 2 tahun. Saya tidak mau terulang lagi kejadian yang sama yang berakibat cerai. Dia terkejut dan bertanya hal demikian mengenai penyebabnya. Ya, saya jelaskan. Lalu saya juga kasih tahu kondisi ibu saya yang masih harus saya rawat. Dia bilang saya lebih baik fokus urusin ibu saya. Setelah itu, kita WA-an. Dia tanya soal ibadah harian saya, rumah dekat masjid atau tidak. Sering salat di masjid atau tidak. Letak Kuttab pusat dekat rumah saya atau tidak karena dia kerja di Kuttab Lampung. Saya jawab semuanya meski saya saat ditanya udah setahun tidak ke masjid. Soal Kuttab pusat letak sangat jauh dari rumah saya. Jujur, saya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan interogatif ini. Dia juga bertanya soal rumah tangga, dan saya jelaskan jika berumah tangga begini-begitu. Dia cuma iya-iya aja. Lalu sama sekali tak ada pembicaraan lagi.

Jalinan Asmara 

April 2026. Pada akhirnya saya coba untuk menjalin asmara dengan dia meski hati saya mengatakan tidak sreg dengan sikapnya yang menggurui saya. Tapi, saya tepis. Ini saya menjalin asmara juga tidak ada deklarasi sama sekali. Berawal dari surat dia yang masih saya simpan, dan saya baca berulang kali. Saya dapati ada semacam keikhlasan. Namun belakangan setelah putus hubungan saya meralat. Tidak ada keikhlasan sama sekali. Itu tampak seperti orang yang tertekan karena belum menikah juga sampai di usia mau 35. Jadi, ada semacam keputusasaan untuk mencari calon lagi setelah 10 kali gagal ta'aruf. Toh, akhirnya mengarah ke saya. Apalagi di keluarganya, dari 4 bersaudara, cuma dia aja yang belum menikah. Saudara-saudaranya juga udah punya anak. Itu juga yang buat saya heran.

Kemudian dia sering like story dan postingan saya tiap waktu tahajud. Membuat saya bertanya-tanya dan terbawa perasaan sembari bertanya ke diri, apa sebaiknya dia aja meski ada rasa ketidaknyamanan soal dirinya yang gemar menggurui. Tapi, lagi-lagi saya tepis itu. Apalagi dia satu-satunya orang yang membalas story saya tentang ultah ke-39 saya di bulan April tanggal 16. Saya juga ada rasa penasaran dalam diri soal dirinya yang belum juga dapat jodoh di usia 35 mau ke 36 pada Oktober nanti. Ya, sudah saya putuskan menjalin asmara untuk pernikahan. Benar-benar tidak ada deklarasi sama sekali seperti yang saya lakukan ke 7 mantan pacar saya yang di dalamnya juga ada mantan istri. Saya cuma bilang aja ke dia saya ditawari proyek penyuntingan buku di Dispusip DKI selama 3 bulan lantas bertanya ambil atau tidak karena bayarannya lumayan bisa untuk biayain pernikahan. Dia bilang ambil aja. Beberapa hari kemudian dia WA saya menanyakan pendapat saya soal dirinya yang ikut arisan, dan uangnya bisa buat bantu biaya pernikahan. Saya bilang, ambil saja. Semenjak itu saya dan dia sudah seperti terikat oleh kesepakatan bahwa kami memang akan menikah. 

Kenapa saya tidak deklarasi? Karena saya dari dari profilnya di media sosial, dia ini pengikut salafi, dan dia ini ukhti, guru pelajaran iman di Kuttab Al Fatih Bandar Lampung. Orang-orang kayak begini tidaklah pas diperlakukan dengan standar orang kebanyakan dan kata-kata receh. Jadilah, selain tanpa deklarasi, juga tidak ada kata-kata "sayang, sayangku, manisku, selamat tidur" dan lainnya. Ya, saya beranggapan hal demikian juga mubazir buat dia yang selama hidupnya belum pernah berpacaran atau intiman ke lain jenis. Saya sadar akan hal itu. Jadi, saya adalah satu-satunya lelaki dalam hidupnya di masa dewasa ini. 

Hubungan asmara saya dan dia itu pragmatis dan transaksional. Kering memang. Tapi saya menyesuaikan aja. Saya juga beranggapan akan sayang buang-buang kata romantis saat hubungan pra nikah. Apalagi dia yang tampilan religius juga tidak akan suka dan senang, dan bisa dianggap dosa. Tapi saya menikmati saja. Mungkin nanti pas sudah menikah bisa romantisan tanpa batas.

Awalnya sih lancar-lancar saja tanpa hambatan dan halangan. Hambatan dan halangan paling jarak geografis saya dan dia. Saya di Jakarta. Dia di Bandar Lampung. Kebanyakan hubungan lewat chat WA, IG, dan FB serta video call. Lainnya adalah saya harus mantapkan materi dulu dengan bekerja, mengumpulkan duit baru menikah. Setelah mantap menjalin asmara ini adalah saya ingin tahu wajahnya yang sekarang ini. Sebab, di medsosnya kebanyakan foto lama yang dipasang. Ada yang 2008, 2015, 2022, dan terakhir 2023. Dia juga jarang pasang wajahnya, dan lebih banyak tempat yang dia kunjungi. Yang saya tahu soal dia adalah dia langsing dan gesit, serta pendek. Saya lantas minta fotonya setelah saya pancing dengan foto saya yang dia bilang masih sama kayak waktu kali pertama bertemu tahun 2009. Dia jujur malu mau kasih lihat wajahnya. Tapi saya paksa. Ya, kan saya berhak apalagi dia calon istri saya. Lalu dia kasih video yang ada dirinya. Saya perhatikan dengan detail, dan saya dapati dari memori saya ternyata wajahnya berubah total. Bulat, gemuk. Badannya juga. Dia memakai jilbab panjang lebar dan kacamata bulat. Saya jujur kaget. Kok calon istri saya malah begini tampilannya? Itu yang pertama kali terlontar dari diri saya. Tampilan seperti emak-emak beranak dua, tua, padahal dia aja belum nikah, belum punya anak. Idealnya, kalau dia udah nikah ya tidak masalah begitu. Tapi, ada juga wanita udah nikah, anak dua, usia 43 tahun masih terlihat muda dan kayak remaja.

Jujur saya kaget dan kecewa. Tampilan visualnya tidak menarik. Kalah jauh dari mantan istri saya dan mantan-mantan pacar saya. Saya cuma bilang ke dia: Lo berubah, Prim? Dia cuma menjawab: iya, maaf ya. Saya jawab: nggak apa-apa. Meski demikian, saya tetap iya saja. Biar deh tampilan visual nggak menarik tapi saya masih punya memori lama soal dia dan dia pintar juga. Suka membaca buku. Daripada cantik, ujungnya bikin sakit hati kayak mantan istri saya. Jadi saya terus saja sembari bilang untuk mengecilkan berat badannya dari 77 ke 65 supaya terlihat cantik saat hari pernikahan. Baru setelah itu, boleh melar lagi. Intinya, saya menerima dan menoleransi.

Suatu hari dia panas dan panik saat tahu temannya akan menikah padahal baru seminggu kenalan. Dia hubungi saya dengan nada ingin segera dinikahi. Saya bilang saya akan berusaha menikahi dia sesuai janji saya. Dia lantas bertanya berapa lama akan nikahi dia. Saya bilang setahun. Itu berdasarkan realita dan kondisi yang saya alami. Apalagi saya di Jakarta. Tidak semudah mendapat kerjaan tetap. Yang di Dispusip ini juga temporer. Saya harus cari kerja lagi setelah kontrak kelar. Rupanya dia tidak terima. Dia bilang kelamaan. Lalu mengambek. Diamin saya seharian. Saya susah hubungi dia sama sekali. Dia akhirnya mau dihubungin lalu buka WA dan medsosnya. Dia menuntut saya segera menikahinya. Saya tanya mau bulan apa? Dia bilang Agustus. Saya bilang itu bulan saya nikah dengan mantan istri saya dulu. Akhirnya, dia minta Oktober. Diputuskan menikah 3 Oktober, tepat hari kelahirannya, dan di KUA saja karena biaya pernikahan yang sedikit. Saya anggarkan Rp 13 juta dari penerimaan bayaran saya di Dispusip ketika kontrak kelar. 

Semenjak itu pikiran saya fokus ke sana. Saya upayakan bisa menikahinya karena saya jadi bucin meski wajahnya tidak menarik walau sudah didandani sekalipun. Ini juga karena struktur dasar wajahnya yang tidak bagus. Tiap hari kita berkomunikasi dan saya selalu meyakinkan dia bahwa saya akan usahakan satu atap meski berat di depan. Itu karena saya udah janji, dan harus saya tepati. Apalagi pada saat video call sampai 2 jam yang membuat dia merasa berdosa sebagai seorang ustazah berbicara dengan saya yang bukan mahram. Saya lantas heran. Kalau begitu dari awal ya jangan video call. Cukup telepon aja. Tapi ini dia duluan yang video call. Kalau saya perlu video call supaya saat bertemu langsung tidak kaget. 

Sayangnya, di tengah upaya saya fokus ke 3 Oktober, dia berubah lagi keputusannya. Minta saya nikahin bulan Agustus karena kelamaan. Saya bilang belum ada duitnya. Lalu dia maksa saya minta gaji pertama dari proyek biar segera bisa nikahin dia. Saya bilang saya udah teken kontrak, dan gaji dibayar lumsum. Kemudian dia berubah lagi minta ke Juni-Juli ke pernikahan gratis. Abis nikah pulang ke rumah masing-masing sampai saya mampu nafkahin. What the fuck! Ini maksudnya apa kayak begini? Kok nikah masing-masing begini? Ini sama saja bisa membuat saya cerai lagi yang kali kedua. Ya, saya tidak mau! 

Dia beralasan karena melihat teman-temannya seperti itu, LDR lalu tidak mau membebani ibu saya yang memang detail dan rasional. Ya, tetap saya tidak terima alasan yang menurut saya dibuat-buat. Dia begini cuma ingin validasi status nikah supaya tetap dipandang terhormat di lingkungannya. Saya sampai curhat ke teman-teman saya, dan bilang itu nggak wajar. Akhirnya, dengan berat hati saya putuskan akhiri saja hubungan ini di saat dia silent treatment selama 10 hari untuk bulan Zulhijjah setelah dia buat keputusan itu. Ya, memang selalu begitu setiap kali berhubungan dengan saya kalau kelamaan merasa kena dosa, silent treatment deh. Alasannya, ingin berpikir dan merenung sehingga susah diajak mengobrol bareng.

Jujur, dia kaget saya seperti itu lalu mengutarakan banyak alasan. Saya jujur udah malas tapi saya berpikir saya juga mungkin terlalu emosional menghadapi hal ini. Saya juga merasa sayang kalau harus berakhir cepat, dan ada baiknya saya menjalin lagi sekali lagi sampai benar-benar tahu sifatnya. Bukan prematur begini. Jadi, saya upayakan lagi kembali. Dia agak emosional juga sama saya. Awalnya tampak kesal karena sikap saya lalu blokir semua medsos saya di malam Idul Adha 2026. Ya, sudah saya pasrah. Kalau memang belum jodoh ya jangan dipaksa. Saya bisa cari yang lain lagi. Kebetulan ada orang yang saya ajak ngobrol, orang yang mau dijodohkan ke saya oleh nenek saya. Ya apa salahnya coba. Mungkin bisa pas.

Tapi besoknya saat saya mau salat Id tiba-tiba dia DM saya via FB. Dia bilang katanya selama ini sia-sia udah nunggu 17 tahun ke saya tapi berakhir tidak enak. Saya menangkap maksudnya dia mau sama saya lagi. Tapi saya cenderung hati-hati nanti malah begitu lagi. Saya bilang aja ke dia agar dia cari aja orang lain selama setahun lalu hubungi saya lagi. Saya juga begitu. Lagipula saya akan coba jalin hubungan dengan wanita yang dijodohkan dari nenek saya. Dia bilang terserah. Selama salat id saya kepikiran dengan perilakunya ini yang inkonsisten dan labil.

Setelah kejadian dia maksa nikah lalu berubah-ubah saya berupaya biasa saja. Saya nggak mau aktif menyapa. Biar dia saja. Atau lebih baik nggak perlu ada sama sekali. Tapi memang dia orang yang baru kali ini intiman sama saya, masih terus hubungi saya dengan kirim reel pernikahan di IG dan FB. Saya sempat bilang bahwa saya ingin rehat dulu dari dunia percintaan ini karena cukup lelah dengan dia yang menguras banyak pikiran saya. Saya malah ingin lebih cinta platonis aja. Dia bertanya. Saya jelaskan dengan gamblang platonis itu. Dia mengiyakan. Lalu bilang kayaknya seru dijadikan cerita.

Kemudian dia kirim foto tisu dikeluarkan banyak. Dia cerita kalau dia menangis seharian tanggal 28 Mei karena saya. Saya lantas minta maaf. Setelah itu, dia minta hubungan biasa aja apalagi dia WA saya kalau saya suka wanita putih dan bersinar serta cantik. Saya iyakan saja. Saya nggak masalah. Toh, itu baik juga buat saya untuk rehat. Tapi, memang dasar dia tidak konsisten. Tiba-tiba suatu malam saat telepon saya nanya: kamu nanti udah siap ke rumah kakakku di Bekasi untuk di-tes Qur'an?

Saya jujur kaget. Dalam hati bilang: loh, katanya biasa aja kok jadi masih serius? Saya beneran heran. Sampai akhirnya saya besoknya memutuskan diam. Dia lantas mencari saya khawatir saya diam malah kejadian seperti dulu lagi yang saat diam 10 hari demi bulan Zulhijjah lalu tiba-tiba kasih pernyataan putus hubungan. Padahal, itu kan dia yang mulai. Ya, saya lantas jawab dengan pertanyaan kenapa tidak cari laki-laki yang selevel dan satu aliran dengan dia. Kalau saya bilang saya tidak pantas dengan dia. Saya tersirat mau menyudahi hubungan ini yang menurut saya aneh. Dia malah marah-marah katanya saya was-was menikah dengan dia, dan itu pekerjaan setan. Lalu saya tanya alasan sesungguhnya kenapa masih mau sama saya? Dia jawab karena saya tinggi, badan besar, ganteng, dan bisa buat dia menangis. Lalu dia berucap terima kasih sudah ada di kehidupanku. Saya tersanjung dan terenyuh. Saya akhirnya mantapkan hati lagi menikahi dia tahun depan setelah dia sepakat. Lalu saya ubah panggilan komunikasi ke dia dari gue-lo ke aku-kamu supaya lebih sopan dan romantis. Itu permintaan dia dari dulu. Bukan saya. Jadi, kenapa awalnya saya memakai gue-lo saat hubungan asmara kedelapan ini? Ini karena saya melihat dia ukhti. Tentu tidak akan suka aku-kamu. Ya, soalnya saya juga pernah pacaran dengan ukhti, teman SD, tidak suka aku-kamu. Katanya, bikin muntah. Ya, saya berdasarkan pengalaman. Ya, saya juga senang bisa pakai aku-kamu lagi karena dari dulu saya berpacaran ya begitu.

Semenjak itu suasananya berubah. Selain aku-kamu dia panggil saya dengan sebutan Mas, Mamasku dan di pesan WA selalu ada ikon hati dan cuddle lalu ikon berciuman dari dia. Saya jujur kaget. Dia ukhti malah begini. Selalu bilang saya ganteng. Saya hanya membalas sekali dia cantik karena terbawa suasana. Tapi, jujur, sekali lagi, memang aslinya tidak cantik meski sudah berdandan. Ada kesan tua dan kasar yang saya tangkap di wajahnya kalau dalam keadaan diam. Saya selalu minta dia lepas kacamata karena itu akan membuatnya tampak tua. Tapi memang udah struktur dasar wajah kurang bagus ditambah penampilan memang tidak menarik. Ini semua karena gaya hidup. Dia malas untuk perawatan. Wajahnya jadi kusam dan jerawatan. Padahal, kalau mau dilirik laki-laki haruslah menarik. Tapi, dia selalu berpikir fatalistik kalau begini: Allah nggak akan melihat wajah cantik atau jelek.

Saya selama masa ini juga berjanji akan ke Lampung pada bulan Agustus atau September setelah uang turun untuk menemui dia langsung dan kakaknya mengutarakan maksud kedatangan saya. Itu saya udah kalkulasi semua biaya ke sana. Baru dari Lampung saya akan ke rumah kakaknya di Bogor untuk utarakan hal yang sama. Dia juga janji mau ketemu saya tanggal 28-29 Juni 2026. Saya sih oke aja. Kan ketemuan langsung. Jadi saya bisa tahu dia secara dekat. Tapi dia ini lucu memang. Sudah tetapkan tanggal ketemuan tapi malah ubah-ubah tempat. Tadinya di Rangkasbitung kemudian pindah ke Dukuh Atas lalu ke Revo Mall Bekasi lalu ke Depok ujung-ujungnya malah ke rumah kakaknya di Villa Nusa indah, Bogor. Alasannya, belum muhrim dan dia khawatir terus minta ketemuan di tempat ramai dan ada teman. Saya sebenarnya heran karena kita sudah kenal lama tapi malah begitu. Lagipula saya tidak ada niat apa-apa ke dia. Saya duda. Sudah pernah menikah. Biasa saja juga dengan lawan jenis bahkan sebelum menikah. Usut punya usut, setelah saya selidiki sehabis putus, sebenarnya dia malu ketemu saya karena tampilannya yang berubah. Dia nggak percaya diri. Soal ini dia pernah ngomong. Khawatir saya menolak dia. Padahal, calon istri buat apa saya tolak kalau sudah yakin apalagi setiap hari berhubungan. Kan itu bisa dipoles jadi cantik. Lainnya, dia khawatir sama nafsuan ke saya. Baru kali ini saya dinafsui perempuan. Biasanya saya yang nafsuan.

Akhirnya pertemuan itu tak pernah terjadi sama sekali. Selain alasan di atas kakaknya yang di Bogor balik ke Lampung untuk lomba lari bersama dia tanggal 5 Juli 2026. Saya tidak tahu jadi atau tidak karena kita sudah putus hubungan pada 22 Juni 2026. Jadi diundur ke Agustus. Tapi memang tidak akan pernah terjadi karena sudah putus. Soal pertemuan yang tidak jadi, bukan sekali ini aja. Pada awal menjalin hubungan, di awal Mei, dia janji mau ketemuan sama saya di Bekasi tapi urung karena ketika di Bekasi harus langsung ke Kudus bersama kakaknya untuk silaturahmi. Dia baru bilang mau ketemu saat sore mau balik ke Lampung di Villa Nusa Indah. Saya tanya kenapa harus dadakan saat sore ke malam bukan pagi aja? Soalnya saya tahu daerah itu kalau sore ke malam macet parah. Apalagi Villa Nusa Indah jauh banget ke dalam dari perempatan Pasar Rebo, Jatiasih, Bekasi. Kenapa saya bisa bilang begini? Karena saya dulu punya pacar di sana. Pacaran selama setahun lebih membuat saya tahu dan paham. Jadi, tidak akan bisa terkejar sama sekali. Mau pakai angkot atau ojek online. 

Dia beralasan katanya masih capek kalau pagi lalu minta maaf. Ya, saya juga minta maaf kalau dadakan tidak bisa sama sekali. Jadi, saya di awal-awal bucin banget sama dia karena ya saya tidak tahu perawakan terbarunya. Semua masih pakai data lama. Masa iya dia jadi calon istri saya, saya tidak tahu wajahnya sama sekali. Wajar, jika saya begitu. Karena saking bucinnya saya sampai ciptakan puisi yang lalu saya jadi jadikan lagu. Judulnya Gelombang Cinta. Liriknya begini:

Kamu adalah kumpulan partikel atom

Yang mengimpuls saraf-saraf dalam nalarku 

Membuatku tergugah

Merasakan kembali gelombang bernama cinta itu

Ku mencoba mereka dan meraba-raba 

Sesosok dirimu dalam lapisan memoriku

Rasa samar juga sumir mengawang-awang lalu menggawangi

Sudah banyak musim kita bercerai mata

Hanya dalam lintasan kata-kata kita bergumul 

Membuncahkan perasaan

Meski kamu juga bingung merasai buncahan itu

Karena kamu belum pernah berlayar di samudra penuh gelombang 


Masa romantisan itu pada akhirnya menemui sebuah batu besar. Batu besar itu lebih kepada prinsip dasar masing-masing. Saya pribadi adalah orang yang biasa saja, bukan orang yang religius namun tetap salat 5 waktu setiap hari, baca Al-Qur'an tiap sore, terkadang salat tahajud dan duha, lebih menyukai kehidupan yang realistis dan apa adanya alias tidak dibuat-buat, lebih suka kritis terhadap suatu hal alias tidak mau menerima begitu saja, menyukai sesuatu yang bersifat humaniora dan seni. Sedangkan dia adalah orang tipe religius ketat, lebih pada kepatuhan daripada kritis, tidak independen karena ikut standar kelompok, tidak pernah bisa kritis meskipun pintar.

Suatu ketika saya menelepon lalu dia tanya kabar saya. Saya jawab standar: ya, begini-begini aja dia langsung mengoreksi: jawabnya, Alhamdulillah dong. Saya tertawa tapi dalam hati mengkritik apalagi saat dia bilang ke saya: kamu nanti harus semi ustad kalau sama aku. Di situ saya tertegun dan tertekan. Saya jujur tidak suka. Saya protes. Dia lantas bilang: harusnya aku nggak ngomong gini ke kamu.

Lalu pada tanggal 20 Juni di malam hari, perbedaan itu semakin melebar. Awalnya dari cerita dia sehabis ikut kuliah online hari pertama. Saya menyimak, dan mendapati ketidaknyamanan soal pernikahan dengan visi misi surga dan akhirat. Ini sebenarnya maksudnya lebih ke mana? Apalagi pakai standar ketat via tukaran CV dan segala macam. Ada beberapa hal yang saya protes karena saya orangnya tidak mau terima begitu saja. Semua harus jelas dan jelas. Apalagi dia ini orangnya iya-iya aja atau people pleaser. Ya, saya tidak mau istri seperti itu. Silakan menurut dan patuh ke suami tapi kalau suami keterlaluan masa iya menurut juga. Saya butuh wanita yang kritis. Soal ini sempat saya tanyakan ke teman saya yang lulusan pesantren esoknya. Dia cuma bilang, lo itu nahkoda, Pak. Penumpangnya calon istri Lo yang tarbiyah salafi, yang sebenarnya tujuan Lo dan dia sama cuma cara berbeda. Lo harus tegas karena kalau nggak Lo yang bakal ketarik sama dia. Pilihannya cuma dua, lo pelajarin tarbiyah dan salafi terus ikut dia atau Lo harus punya argumen tegas. Begitulah kata teman saya itu ke dia. Teman saya ini lulusan pesantren yang kemudian masuk sastra Belanda, dan sering berdebat dengan anak-anak tarbiyah di kampus. Dia semasa kuliah juga jadi asisten dosen kaligrafi.

Lalu apa lagi di malam tanggal 20 yang membuat perbedaan dasar semakin melebar? Tipe kepribadian. Jadi, saat kita teleponan, saya sekalian ikut tes psikologi kepribadian yang diadakan dia, dan udah jauh-jauh hari dia mau mengetes saya ingin tahu sebenarnya cocok tidak kepribadian saya dan dia sejauh ini. Setelah hampir 20 menit, didapati hasil kalau saya kuat di musik, kinestetik, intrapersonal, dan dia cuma kuat di intrapersonal. Namun yang bikin dia kaget adalah soal kuatnya kepribadian musik pada diri saya. Saya akui saya suka musik walaupun tidak pandai main musik. Bahkan punya musik favorit dan band favorit. Kalau ada alunan musik, spontan saya menggerakkan tangan dan kaki ikut alunan bahkan sering menepuk-nepuk permukaan dengan tangan membentuk alunan nada. Selain musik, saya juga suka membuat patung atau diorama karena saya menyukai seni.

Tapi dia langsung meradang, mengembus nafas, mengelus dada, dan mengerutkan dahi. Dia tidak suka kepribadian saya itu karena baginya akan bertentangan dengan keinginannya untuk bisa hafal 30 juz. Bagi dia, ini ibarat air dan minyak. Tidak bisa disatukan sama sekali. Saya mendengar itu berupaya untuk santai aja tidak mau terprovokasi. Saya cuma bilang, kalau soal itu bisa dikompromikan. Lalu dia berkata kepada saya, apa kita udahan aja ya? Capek aku kayaknya kayak gini. Lantas saya bilang: sekali genderang perang ditabuh, tetap harus jalan apapun risikonya. Dia menerima namun saya setelah malah terus kepikiran akan hal ini. Ini ke depannya meski ada kompromi tetap akan jadi masalah, dan malah bisa berujung perceraian. Tentu saya tidak mau. 

Esoknya, melalui hasil tes itu saya buat analisis satu per satu, dan saya buat poin-poin komprominya. Saya kasih ke dia. Dia menerima dan katanya siap menghadapi perbedaan yang ada. Saya cuma bilang: Alhamdulillah, kalau terima. Tapi tetap dalam hati saya masih terpikirkan terus perbedaan ini. Saya malah ingin mundur saja. Tapi saya urungkan. Saya harus konsisten minimal sampai lamaran seperti yang dia minta. Ya sudah saya jalankan saja. Kalau memang jodoh ya jodoh, kalau nggak ya nggak. Begitu saya berkata pada diri saya. Saya juga sudah siap terima konsekuensinya tapi saya tetap tidak mau diatur-atur. Saya harus tetap independen. Perihal perbedaan ini, ibu saya sudah bilang ke saya harus tegas. Jangan sampai terseret arus.

Senin tanggal 22 Juni. Pagi hari sampai siang saya sama dia masih romantisan. Dan, kebanyakan ada di dia. Saya sendiri malah tidak sama sekali. Saya hanya menanggapi. Saya masih memikirkan hasil tes dan dampak ke depannya serta pandangan dia soal pernikahan yang terlalu ikut standar kelompoknya. Jujur, saya tidak nyaman. Saya jujur dalam hati sudah malas dan tidak antusias dengan hubungan yang tidak seimbang secara karakter ini. Saya punya karakter melankolis-koleris, dia sanguinis plegmatis. Bahasa kasih saya sentuhan fisik sedangkan dia hadiah dan pujian. Terlihat sekali banyak tabrakannya.

Sore hari seperti biasa saya mengantuk. Kalau sudah mengantuk, saya sehabis Magrib tidur, dan bangun jam 9-10 malam untuk salat Isya lalu tidur lagi. Kebetulan sedang ada Piala Dunia 2026, jadi saya manfaatkan untuk tidur dulu karena saya prinsipnya tidak mau bergadang lagi. Soalnya, tidak menyehatkan. 

Nah, dia seperti biasa, setiap sore selalu minta menelepon. Jujur, saya sudah malas. Apalagi menelepon sampai 2 jam cuma untuk mendengarkan pandangan dia yang semakin lama memaksa saya untuk mengikutinya. Kuping juga pengang. Lalu saya pakai alasan kalau saya sudah mengantuk banget karena capek seharian beraktivitas. Dia tidak mau dan memaksa saya bahkan cuma 5 menit. Tapi saya bilang saya tetap tidak bisa lalu saya janji untuk menelepon saat tengah malam ketika terbangun.

Akhir Kisah

Tengah malam tanggal 23 Juni saya terbangun sekitar jam setengah dua. Saya dapati ada notifikasi WA berupa voice note dari dia. Isinya, dia minta mengakhiri hubungan karena katanya lelah untuk terus berharap ke saya. Saya jujur kaget tapi dalam hati senang banget karena beban di pundak saya akhirnya lepas. Cuma saya agak heran dengan alasannya mengakhiri hubungan hanya karena saya tidak mau ditelepon di ujung sore. Lalu saya dengar alasan lain karena ia sudah capek-capek berdandan demi saya untuk menelepon. Ya heran saja untuk menelepon saja harus berdandan segala. Ini kan bukan video call.

Saya lalu berpikir perkara kecil begini aja dia udah minta mengakhiri hubungan. Terus bagaimana kalau nanti saat satu atap yang lebih banyak dinamikanya daripada masalah telepon ini? Ada satu masa suami bisa jadi cuek sama istrinya kalau istrinya menyebalkan atau tidak menarik dipandang. Ada satu masa juga istri bisa cuek sama suaminya kalau suami tidak perhatian atau melakukan kesalahan yang dianggap besar. Di rumah tangga perihal tidak mau ditelepon bisa terjadi berkali-kali. Itu juga pernah saya alami saat berumah tangga. Saya berpikir tipe dia yang begini malah ujung-ujungnya bisa minta cerai. Saya anggap dia tidak setia.

Dia ketika mengakhiri hubungan dengan saya minta izin blokir media sosial saya karena khawatir tidak bisa move on. Saya persilakan, dan memang kondisi sepi setelah itu. Cuma saya tetap merasa heran dengan tingkah lakunya ini untuk mengakhiri hubungan. Tidak begitu masuk di akal sama sekali. Tidak logis. Karena itu, Jumat, 26 Juni 2026, saya sapa dia aja via email karena email tidak bisa diblokir. Sekadar menanyakan kabar dan sekalian menegaskan hubungan bersifat biasa saja serta ingin menjalin silaturahmi. Responsnya langsung cepat membalas. Dia tampak senang saya hubungi lalu bilang kalau dia ingin hubungi saya duluan tapi malu. Cuma dia salah tafsir terhadap email saya ini. Dikiranya saya meminta dia kembali ke saya. Padahal, tidak. Dianggapnya saya belum move on. Padahal, tidak. Saya cuma ingin menanyakan keanehan pengakhiran hubungan saja. Tapi, dia salah tafsir. Setelah email itu, tiba-tiba dia buka blokir WA lalu cerita kalau sudah hafal juz ke-28 lalu kirim foto-foto kegiatannya di Kuttab. Saya mikir ini kok seperti saat masih berhubungan dulu. Dia intinya tampak senang saya kembali, dan begitu bersemangat serta riang. Tapi, saya sebaliknya.

Malam hari dia kirim voice note yang dalam voice note ini satu kalimat yang buat saya sakit hati sampai sekarang dan tidak bisa saya maafkan. Kalimat itu berbunyi begini: Ya Allah, hamba mencintai dia yang tidak mencintai-Mu. Ia ucapkan dengan begitu gembira karena selama masa hening dia berdoa begitu tentang saya dan terkabul kalau saya akan menghubungi dia lagi. Jujur, saya benar-benar tersinggung dengan kalimat itu. Maksudnya apa dia berucap begitu? Kok main vonis saya begitu gampang cuma melihat dari permukaan? Kayak merasa paling benar aja dan suci! Pelacur dikasih kalimat begitu juga tersinggung! 

Saya jelas tidak terima tapi saya tidak frontal saat itu juga. Saya diamin dalam ketersinggungan saya. Saya bertanya dalam hati: bagaimana kalau Allah yang kamu minta doa tidak mencintai kamu? Bukan kali ini saja saya divonis begitu. Pada awal berhubungan dia juga memvonis saya dengan kalimat: sama-sama ego. Yang satu mendekat ke rabb-nya, yang satu tidak. Yang satu sudah hijrah. Yang satu belum. Maksudnya apa kayak begitu? Beragama kok tapi mulut nggak diajarkan bertutur lembut malah mudah memvonis.

Saya cuma menanggapi biasa, tidak antusias sekaligus menegaskan lagi bahwa hubungan saya dan dia cuma biasa saja. Saya cuma minta dia analisis cerpen-cerpen saya. Kenapa saya begitu? Saya merasa saya masih berhubungan spesial dengan dia. Padahal, tidak. Sudah berakhir. Dia benar-benar salah tafsir. Dia baru menanggapi esok pagi. Mengiyakan sembari minta ganti aku-kamu ke gue-lo. Saya tidak menanggapi. Saya mulai silent treatment. Saya hapus nomornya. Dia sempat menyapa saya: Fan. Tapi, saya diamkan.

Esok malam, di tengah silent treatment itu, dia kirim email ke saya perihal sudah selesai analisis cerpen-cerpen saya. Dan, semua dianggap tidak bermoral sama sekali. Semua pakai kacamata dia yang sempit dan hitam-putih. Saya diamkan, dan saya hapus email. Jujur, kecewa banget! Salah saya sendiri minta tolong ke dia hanya karena suka baca buku. Tapi, ternyata baca buku aja belum tentu bisa pintar dan kritis. Meski tiap hari dia diminta baca 20 halaman untuk satu buku. Saya tetap melakukan silent treatment.

Tanggal 30 Juli 2026 dia kirim email lagi. Kali ini sebuah puisi. Dan, lagi-lagi di puisi itu dia memvonis saya dalam satu bait. Begini bunyinya:

Tuhan kita sama

Tapi surga kita berbeda

Kamu surga dunia

Kamu lebih suka wanita cantik dan bersinar

Tidak pernah terpikirkah menyukai wanita salehah?

Jujur saya benar-benar tersinggung dan gusar. Maunya apa sih kayak begini? Saya tahu dia belum bisa move on. Apalagi saya satu-satunya lelaki yang begitu intim di kehidupannya meski cuma lewat medsos dan email. Dia anggap dirinya wanita salehah? Salehah dari mana? Tampilan luar aja salehah tapi kelakuan tidak sama sekali. Bilang saya suka wanita cantik dan bersinar, ya terus kenapa? Justru malah mereka yang salehah. Inilah kalau beragama tidak belajar filsafat dan tasawuf. Tidak bijak dan tidak lembut menyikapi perbedaan.

Saya jelas protes. Saya tidak balas email itu. Saya buat puisi yang saya jadikan lagu di IG. Di puisi itu saya tidak mencintai dia. Sama sekali tidak mencintai dia. Semasa berhubungan juga saya tidak cinta dia karena saya belum melihat sesuatu yang buat saya jatuh cinta untuk bisa menutupi wajah dan tampilan visualnya yang tidak menarik. Saya protes soal pandangannya, dan saya minta dia move on. Kali ini saya anggap dia benar-benar jelek. Ya tampilan, ya wajah, ya mulut. Semua jelek. Padahal saya sudah toleransi soal wajah dan tampilan tapi dianya yang begitu ke saya. Buktinya, saya masih mau dan lanjut ke pernikahan. Tapi, kalau begini memang sudah tidak bisa berjodoh sama sekali. 

Dia lihat medsos saya rupanya. Itu terlihat dari email yang saya kirimkan. Dia melakukan mirroring. Di email itu dia minta maaf tapi juga melakukan pembelaan diri yang menurut saya dibuat-buat dan semakin menunjukkan kelemahannya. Bahkan bahasan dalam email juga ngalor ngidul. Tiba-tiba malah bahas soal makanan sehat ala Zaidul Akbar. Terlihat inkonsisten dan labil. Saya tidak tanggapi. Dia kirim email sekitar tanggal 4 Juli pagi. Lalu kirim email lagi pada sore hari kalau tetangganya menawarkan dua duda. Satu security. Satu duda dua anak. Dia bilang sreg sama yang duda dua anak karena sesuai kriteria dan impiannya. Apalagi duda itu punya banyak harta. Cuma dia kurang sreg karena beda usia 17 tahun. Ya, saya tahu kalau sama duda yang lebih tua mana bisa dia dominasi. Yang ada didominasi. Apalagi itu duda punya anak yang udah besar. Tentu dia harus bisa jadi ibu sambung yang bisa diterima. Itu kenapa dia mau sama saya. Katanya, nyaman dan udah kenal. Tapi alasan sebenarnya sih ya karena beda usia sama saya cuma 3 tahun. Saya duda juga tapi tanpa anak. Jadi, dia bisa membangun impian dari nol sesuai validasi surga. Sayangnya, tidak akan terjadi.

Saya tetap silent treatment alias tidak membalas sama sekali. Saya biarkan saja sampai dia menyadari kalau dia hanya akan menghadapi gemanya sendiri. Saya juga fokus pada kehidupan harian dan kerjaan di Dispusip. Kalau dari email-nya yang memakai judul progres move on part 1 pasti akan ada lagi part 2. Pertanda dia sebenarnya belum bisa move on dari saya yang dianggap spesial dan merupakan keajaiban di dalam hidupnya. Saya masih menari-nari di pikirannya. Dan, benar saja dia masih mengirim email progress move on part 2. Isinya tentang persetujuan si duda terhadap dirinya yang pakai perantara. Saya tadinya anggap biasa saja. Tapi lama kelamaan saya terganggu. Lah, buat apa saya harus tahu masalah pribadi dia jelas-jelas hubungan udah berakhir. Tadinya saya mau silent treatment aja. Tapi jujur saya jadi malas. Nanti ada lagi part 3, part 4. Akhirnya, saya putuskan kirim email peringatan pada tanggal 11 Juli 2026 dengan judul: Tolong Move On Ya, Neng Puput. Puput itu adalah nama panggilannya di rumah. Saya pakai nama itu selama berhubungan dan supaya bisa akrab secara personal. Daripada nama Prima. Yang bisa jadi nama laki-laki, nama perempuan. 

Saya menulis dalam bahasa Betawi, bahasa suku saya supaya tidak terlalu tegang tapi tegas. Intinya, saya minta dia move on sama sekali karena hubungan kita sudah berakhir. Jangan kirim email lagi dan jangan perpanjang perkara. Saya juga di email itu meminta maaf kalau ada salah kata yang tidak saya sadari meski saya tahu dia sebenarnya yang banyak salah ke saya. Mulai dari inkonsistensinya, kelabilan, dan vonis hitam-putih yang membuat saya lelah saat menjalin hubungan asmara ini. Lalu saya tutup dengan pantun yang minta dia untuk cari lelaki baru. Kenapa saya bilang begitu? Ini karena dia tidak mau lelaki yang baru karena sudah pasti dapat yang tua, bukan yang muda lagi meski sudah langsing. Jadi, dia masih mau ke saya. Itu yang saya dapat dari ucapannya setelah putus ketika saya bilang kalau badan bagus tentu akan banyak kumbang yang datang. Saya pribadi memang sudah tidak mau sama dia karena karakternya yang bertolak belakang dengan saya. Jadi, nggak bisa dipaksakan untuk disatukan.

Selepas saya kirim email itu, saya berharap dia baca dengan pelan dan cermat sehingga tidak balas email lagi karena saya sudah kasih garis merah pada email saya itu. Namun, ternyata pada 23 Juli 2026, dia malah balas email saya. Saya terkejut. Katanya baru tahu ada email 3 hari setelah saya kirim lalu dia bingung mau balas. Tapi kemudian dia membalas panjang lebar. Dimulai dari dia merasa "gembira" saya sudah bisa move on sedangkan dia belum lalu bahas maintenance wanita, bahas masalah dia punya harta (1 mobil, 2 motor, rumah yang lebih besar), bahas punya kerjaan tetap sedangkan saya tidak, bahas soal dia tetap jelek meski sudah pakai lingerie dan suit, bahas tentang dia yang tersinggung karena hidungnya nggak mancung alias pesek serta kulitnya yang tidak putih, bahas fisik saya yang gendut dan jelek, bahas kelakuan saya tentang beribadah: salat Isya tengah malam dan jarang salat di masjid, kemudian kasih wejangan soal rumah tangga.

Saya yang mendapati email balasan itu jelas-jelas marah besar. Seketika api membara di tubuh saya. Ini orang udah dibilang jangan balas email lagi masih juga balas. Padahal, semua sudah saya bilang di email saya sebelumnya. Ini berarti pelanggaran batas. Saya tidak bisa biarkan sama sekali. Saya benar-benar marah. Sangat marah. Karena fokus ke pelanggaran batas saya lansung balas dengan 7 email beruntun yang berisi kemarahan yang frontal alias tanpa filter. Sekalian melancarkan serangan balas dendam saya akibat perilakunya yang selama ini sudah keterlaluan ke saya: sombong secara religius dan vonis saya hitam-putih hanya karena tidak sesuai standarnya. Saya serang langsung tampilan, kepribadian, dan status dia dengan kata-kata kasar ibarat pemanah langsung mengarah ke jantung. Saya lontarkan kata-kata berikut:

"Pamer aja noh sono di akhirat!!!" "Tampilan religius, kelakuan nol!!!", "Jangan sok ngeguruin dah!!! Nikah aja belum pernah!!! Ngerasain aja belum pernah!!! Sok tau banget!!!! Pantas aja nggak laku-laku!!!" Selain kata-kata kasar itu saya juga lontarkan kata "nambeng!!!", "dablek!!!" karena kelakuannya yang malah balas email meski sudah dibilang jangan. Saya juga lontarkan kata: Sini hayo ribut!!!, jangan main-main ya!!! Aku beneran serius marah!!!

Karena kaget dapat balasan beruntun dari saya dengan kata-kata kasar dia cuma membalas: Astaghfirullah, istighfar, Fan, jangan marah-marah. Yang sepertinya reaksi panik dan ketakutan terhadap kemarahan saya. Saya lantas balas: Hak2 gue marah!!! Lo mang siapa??? Udah dibilang jangan balas email!!! Lo siapa??? Kenapa Lo nggak suka??? Hayo ribut sini!!!!

Setelah itu hening. Tiada jawaban dari dia sampai sekarang. Setelah melancarkan serangan frontal itu, saya spontan berkata: pasti nangis nih. Saya yakin dia benar-benar terkejut dengan email balasan saya. Dia berpikir saya akan membalas dengan lembut juga karena dia tahunya saya orangnya lembut, tidak pernah marah. Ternyata dia salah perhitungan dan salah sangka. Saya memang jarang marah tapi kalau sudah sekalinya marah bisa sangat destruktif. Itulah jeleknya karakter melankolis-koleris saya. Dia masih untung saya marahi via teks kalau lewat telepon bisa saya bentak-bentak atau kalau langsung saya bisa lempar botol plastik dan kursi. Saya terpaksa begini karena batas yang saya buat dilanggar juga karena akumulasi kekesalan ke dia sehingga cari waktu yang tepat untuk membalas. Ya, dia harus rasakan kalau bisa sampai mampus karena main-main dengan saya.

Saya jujur setelah itu senang banget. Dopamin saya meningkat cepat. Seperti ada kepuasan tiada tara. Batin begitu puas. Saya tidak peduli dia nangis kaget atau sakit hati karena ucapan saya yang frontal, dan yang pasti akan selalu diingat sepanjang hidupnya apalagi dari orang yang pernah intiman dengan dia di sepanjang hidupnya. Saya yakin dia mengadu ke lingkungan terdekatnya perihal kemarahan saya yang destruktif ini, yang tentunya masih buat dia terkejut dan mencerna dengan pelan. Bayangan saya yang halus seketika hancur di matanya. Membuat ia benci sekaligus kagum karena saya orang yang tidak bisa dianggap main-main. Tapi saya bodoh amat!

Saya malah ingin rasanya tertawa soal dia bilang saya jelek, gendut. Lah, dia sendiri saja gendut. Toh jelek gendut saya udah berkali-kali bisa berinteraksi dengan lawan jenis, bukan cuma pacaran, tapi juga HTS-an bahkan sahabatan serta ngobrol dengan mereka atau malah digelendotin. Saya juga sedari dulu disukai lawan jenis. Di SMP, SMA sampai kuliah banyak yang suka saya. Cuma saya nggak gede rasa, pemalu, dan terkadang nggak percaya diri. Bahkan di tempat kerja juga ada yang terang-terangan suka saya karena lesung pipi saya yang dalam. Mantan-mantan saya juga putih-putih, cantik, tinggi-tinggi apalagi mantan istri saya. Cuma dia aja yang beda. Kalau saya perhatikan dengan saudara-saudaranya di medsos, ampun lebih cakep dan cantik saudara-saudaranya. Dia sendiri yang beda. Ya, mungkin itu juga yang menyebabkan dia belum punya jodoh sampai sekarang. Yang saya dengar saudara-saudaranya ini pada pacaran dan realistis. Seharusnya dia mengaca sebelum berkata begitu. Kasian deh lo!

Kemudian soal dia tetap jelek meski pakai suit atau lingerie saya saja nggak pernah ngomong begitu. Delusi saja ini orang. Gimana saya mau menilai kalau masih belum halal? Apalagi dia kan berjilbab. Aneh! Dia aja nggak mau diperlihatkan lengan atasnya kalau di foto karena malu lengan atasnya besar banget. Mandi saja malah pakai suit. Saya nggak tahu apa alasannya? Apa takut diintip jin atau takut melihat tubuh sendiri? Ya, kalau kayak begini pas satu atap dan berhubungan badan bisa repot. Saya juga tersirat menangkap ketakutannya soal menikah. Dia memang ingin menikah tapi sebenarnya tidak ingin karena ada banyak tanggung jawab yang kan diemban bahkan dia aja sepertinya ogah meninggalkan zona nyamannya untuk ikut suami.

Lalu soal hitam-putih yang diarahkan ke ibadah harian. Yang jelas bukan ke situ ya. Saya lebih menyoroti di perkataannya yang menyakiti saya berulang kali, juga di puisinya. Sayang, dia tidak sadar dan memang sulit sadar.

Yang jelas sampai sekarang ini saya masih senang banget dan puas bisa menghantam telak dirinya tepat ke jantung hatinya. Sebuah balasan yang setimpal. Schadenfreude saya muncul. Biar mampus tuh orang! Lagian main-main sama saya. Yang jelas kata-kata kasar ini akan selalu tergiang di dirinya. Selamanya. Perpisahan yang tidak indah, bukan?

Analisis

Prima Dian Putri bagi saya adalah orang yang penuh dengan inkonsistensi, labil, hitam-putih, dan ambivalen. Hal-hal ini yang menurut saya melelahkan bagi saya yang melankolis-koleris. Saya memang tidak cocok dengan karakter sanguinis-plegmatis-nya. Inkonsistensinya ini juga terlihat dari email-email yang dia kirim serta tulisan dia berupa review buku yang isinya kebanyakan pengalaman pribadi, bukan bukunya. Orang ini seperti ini tidak akan bisa diajak berpikir mendalam dan kritis serta mendetail, dan hanya jadi follower karena unsur people pleaser-nya. Itu karena dia tidak punya kemampuan demikian, kemampuan analitis sehingga hanya iya-iya saja demi menghindari konflik. Saya jujur tidak suka wanita yang seperti ini. Saya butuh wanita yang kritis yang bisa counter saya secara detail lalu selesaikan masalah secara bersama-sama. Tidak perlu ada namanya silent treatment atau kabur dari masalah. Dan, dia sering kabur dari masalah dengan topeng religius.

Kisah romansa menuju pernikahan ini berakhir karena inkonsistensi dan kelabilan Prima. Kalau saja dia konsisten, tidak labil serta jadi orang yang punya pendirian dan yakin seperti saya, tentu sampai sekarang akan lanjut. Semua hancur karena egonya sendiri. Pantaslah gagal jadi istri!

Mantan-mantan pacar saya termasuk mantan istri saya rata-rata melankolis-koleris juga koleris-plegmatis sehingga saya terbiasa berargumentasi dengan mereka. Bahkan ada juga yang mulutnya nyelekit. Baru kali ini saya dapat mantan pacar, orang kedelapan yang sanguinis-plegmatis. Dua bulan berhubungan dan kebanyakan via medsos dan video call tapi cukup melelahkan pikiran dan mental saya. Hubungan ini setelahnya banyak saya jadikan karya. Kebanyakan puisi dan gambar. Itulah orang melankolis. Kalau kesal pasti disalurkan jadi karya, dan di situ terlihat energi besarnya. Lebih positif begini sebenarnya daripada marah yang destruktif.

Yang perlu dipelajari untuk ke depannya

  • Pilih pasangan jangan hanya karena teman lama demi emosional batin semata
  • Jangan tertipu dengan tampilan luar yang ceria tapi labil di dalam
  • Pilih pasangan yang mau menghargai, kritis, juga tegas serta perlakukan pasangan sebagai mitra
  • Pilih pasangan yang anggap pernikahan bukan proyek validasi surga tapi untuk saling belajar dewasa dan tidak menggurui serta menghargai satu sama lain
  • Pilih pasangan yang ingin menikah karena dari hati bukan lingkungan

Itulah kisah asmara kedelapan saya dengan Prima Dian Putri yang aneh dan unik. Saya kira kalau kedelapan ini seharusnya mapan dan papan. Eh, ini malah sebaliknya, beban.


Kamis, 23 Juli 2026

9 Stadion Bola di Indonesia yang Human Centric

Geliat pembangunan stadion sepak bola di Indonesia pasca Orde Baru cukup massif. Setiap daerah kini mempunyai stadion yang cukup megah dengan kapasitas besar sehingga tidak perlu lagi mengarah ke GBK. Ini karena di masa Orde Baru, stadion yang megah, modern, dan representatif dengan wajah sebuah kota adalah GBK, yang di masa pemerintahan Soeharto itu bernama Stadion Utama Senayan.

     Koleksi pribadi

Karena itu, semua perhatian untuk olahraga nasional tertuju ke GBK. Mulai dari kompetisi Liga Indonesia hingga PON. Kondisi ini tentu saja timpang. Ketika Reformasi datang, dan dampaknya ada otonomi pada setiap daerah, tentu saja pemerintah daerah memanfaatkannya juga di bidang olahraga dengan membangun stadion yang tidak kalah megah dari GBK.

Tak mengherankan, jika banyak stadion baru dan besar bermunculan hampir setiap tahun di era Reformasi ini. Stadion-stadion ini kebanyakan dibangun untuk keperluan PON. Lainnya untuk estetika kota serta sebagai ruang ketiga. Ada yang benar-benar baru. Ada juga yang merupakan stadion lama namun dirubuhkan lalu dibangun kembali dengan desain kekinian seperti pada fasad, atap, tribun, kapasitas stadion, dan lain-lain. 

Sebut saja Stadion Gelora Sriwijaya, Palaran, Riau, Bandung Lautan Api, Papua Bangkit, dan Sumatera Utara yang dibangun untuk PON. Lalu ada Patriot Chandrabaga, Manahan, Surajaya, Mandala Krida, Jati Diri, dan Teladan yang merupakan stadion lama yang dibangun kembali melalui pembongkaran total dan renovasi. Selanjutnya adalah Jakarta International Stadium yang dibangun untuk kepentingan estetika kota, pemanfaatan ruang ketiga, dan untuk membuat bangunan olahraga yang ramah lingkungan.

Meski demikian, harus diakui, kebanyakan stadion baru di Tanah Air masih berorientasi pada kendaraan bermotor atau car oriented bukan berorientasi pada manusia atau transportasi umum atau human centric. Mengapa bisa begitu? Perhatikan saja pada desain dan lokasi stadion. Desain stadion yang car centric umumnya lebih banyak menyediakan tempat parkir daripada akses pejalan kaki yang ke ke stadion menggunakan transportasi umum, baik itu melalui bus dan kereta api. Itu artinya tidak ada trotoar sama sekali. Kalaupun ada, tidak begitu lebar sehingga sangat berbahaya bagi pejalan kaki.

Hal lainnya adalah tidak adanya halte atau stasiun kereta api yang dekat atau menempel di sekitar stadion, yang dihubungkan oleh jembatan penghubung atau skybrigde atau jalur khusus yang mengarah dari dan ke stadion. Nah, kebanyakan stadion yang car centric itu terletak di pinggiran kota sehingga dekat dengan perbatasan. Pada Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir, perhatikan saja jika kebanyakan stadion-stadion yang dipakai adalah car centric sehingga menyulitkan fans untuk mobilisasi.

Di Indonesia sendiri kita bisa menyebut Bandung Lautan Api dan Gelora Bung Tomo adalah dua stadion --dari banyak contoh-- dengan kapasitas besar tetapi car centric. Ada dua alasan untuk menyebut keduanya seperti itu. Pertama, terletak di luar kota. Kedua, tidak mudah dijangkau dengan transportasi umum serta berjalan kaki. Meski Bandung Lautan Api jika dilihat dari Google Maps terlihat dekat dengan Stasiun Whoosh Tegalluar dan Stasiun Kereta Api Commuter Line Bandung Raya Cimekar. Ternyata, untuk menuju ke stadion harus melalui Jembatan Cibiru yang dikhususkan untuk kendaraan sehingga tidak aman untuk pejalan kaki. Alhasil, untuk ke stadion, harus menggunakan kendaraan pribadi atau umum berupa shuttle bus. 


Untuk Gelora Bung Tomo atau GBT juga sama saja. Di Wikipedia disebutkan kalau stadion ini punya akses transportasi umum berupa kereta api Commuter Line Surabaya Raya yang berhenti di Stasiun Benowo. Namun jika diperhatikan lagi dengan detail via Maps, jarak dari stasiun ke stadion bisa 3 kilometer, dan itu pun jalan harus memutar. Untuk berjalan kaki pun sangat tidak disarankan karena harus melalui persawahan. Begitu yang diungkap oleh seorang Bonek Mania dalam sebuah curahan di media sosial. Jadi, untuk ke stadion mau tidak mau harus memakai kendaraan umum atau angkutan pengumpan.


Bandung Lautan Api dan GBT setidaknya masih ada stasiun kereta api di dekatnya meski cukup jauh untuk dijangkau dengan berjalan kaki. Ternyata ada juga stadion yang memang terletak di luar kota tapi juga susah dijangkau dengan transportasi umum serta tidak ada stasiun atau halte di sekitar. Yaitu, Banten International Stadium dan Indomilk Arena. Keduanya terletak di Tangerang Raya. Di luar Jawa, ada Stadion Batakan, Stadion Palaran, Stadion Papua Bangkit, Stadion Riau, dan Stadion Barombong yang hingga hari ini masih mangkrak.


Tapi dari semua itu apakah Indonesia mempunyai stadion yang human centric? Tentu saja, Indonesia punya, dan jumlahnya ada 9. Namun, sebelum itu, kita bahas dahulu stadion yang human centric itu ciri-cirinya.

Yang pertama adalah stadion memang didesain untuk pejalan kaki dan transportasi umum. Ini merupakan syarat utama. Desain untuk pejalan kaki itu dimulai dari perimeter stadion itu sendiri, dengan adanya jalur atau ramp khusus pejalan kaki yang terhubung dengan stasiun atau halte. Jalur pejalan kaki itu kebanyakan berupa trotoar yang lebar dan sejuk karena banyak pohon sehingga berjalan kaki terasa aman dan nyaman.

Kedua adalah lokasi. Kebanyakan stadion yang human centric terletak di pusat kota, dan terkoneksi tidak hanya dengan fasilitas transportasi umum, tetapi juga dengan pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit, universitas, dan taman. Namun, dalam beberapa kasus, ada juga stadion yang human centric tetapi terletak di pinggiran kota namun terhubung dengan transportasi umum serta mudah dijangkau dengan jalan kaki dari akses transum tersebut.

Tentu saja 9 stadion di Indonesia yang human centric bisa disebut seperti itu karena punya ciri-ciri yang disebut di atas. 9 stadion ini kebanyakan berada di Pulau Jawa dan Sumatra. Ada stadion yang lama dan historis, baru dan kekinian, serta lama namun dibangun kembali dengan kapasitas besar atau dipercantik untuk keperluan even. 

Pemilihan 9 stadion ini juga berdasarkan hasil penelusuran langsung di lapangan oleh penulis atau penelusuran via Maps dan Streetview sehingga tidak mengasal. Lalu stadion apa sajakah itu? Mari simak!

1. Stadion Gelora Bung Karno

Semua orang se-Indonesia tentu sudah tahu stadion yang sangat historis ini, yang dibangun untuk keperluan Asian Games 1962, dan kemudian dipakai lagi untuk Asian Games 2018. Letak Gelora Bung Karno atau GBK sendiri cukup strategis karena berada di pusat kota. Dekat juga dari kawasan Segitiga Emas Kuningan dan SCBD. Tak hanya itu, GBK juga dikelilingi oleh hotel-hotel dan pusat perbelanjaan seperti FX Sudirman dan Plaza Senayan.


Namun yang lebih penting adalah stadion dengan kapasitas sekitar 77.000-an sudah banyak terhubung dengan transportasi umum, yaitu Transjakarta koridor 1 dan MRT Jakarta (Istora Mandiri) yang halte dan stasiunnya berada persis di depan kompleks GBK, tempat GBK berada. Selain itu, akses berupa trotoar untuk pejalan kaki cukup nyaman dan lebar serta sejuk karena banyak pohon ketika memasuki kompleks olahraga. 

Karena letak GBK berada dalam kompleks olahraga GBK Arena, itu berarti bukan hanya GBK yang bersifat human centric tetapi juga Indonesia Arena, Istora, Stadion Madya, dan arena olahraga lainnya dalam kompleks.

2. Jakarta International Stadium 

Jakarta International Stadium atau JIS juga salah satu stadion di Jakarta yang human centric. Hal ini terlihat dari desain stadion yang lebih mengutamakan pejalan kaki dan transportasi umum. Karena itu, lahan parkir di JIS sangat kecil karena keterbatasan lahan. JIS sendiri dibangun bukan untuk even apa pun, melainkan sebagai perwujudan estetika kota untuk menjadikan stadion tak hanya sebatas arena olahraga tapi juga ruang ketiga.

Koleksi pribadi 

Stadion berkapasitas 82.000 dengan fasad berupa ukiran anyaman Betawi ini terhubung sangat dekat dengan halte Transjakarta koridor 14 di ramp barat dan stasiun KRL yang memakai nama stadion di sebelah utara stadion yang terhubung melalui sebuah JPO yang bisa menembus hingga Pantai Karnaval Ancol dan Sirkuit Jakarta E-Prix di kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Adanya akses transportasi umum dan desain stadion yang human centric ini tak pelak menjadikan JIS nyawa yang menghidupkan kawasan pinggiran kota di Jakarta Utara. 

3. Stadion Soemantri Brodjonegoro 

Selain dua stadion besar yang human centric, Jakarta juga punya stadion kecil yang seperti itu. Yaitu, Stadion Soemantri Brodjonegoro yang terletak di Kuningan, salah satu kawasan bisnis di Jakarta Selatan. 


Letak yang demikian membuat stadion ini cukup strategis untuk dijangkau melalui transportasi umum. Stadion berkapasitas 5.000 penonton ini terletak di belakang Pasar Festival, Universitas Bakrie serta berdampingan dengan kolam renang dan lapangan tenis. Jalan menuju ke stadion juga cukup nyaman karena difasilitasi dengan trotoar lebar dan besar serta letak stadion yang cukup dekat dari Halte Transjakarta Koridor 6 (GOR Soemantri) dan Stasiun LRT Jabodebek Lintas Bekasi dan Cibubur (Rasuna Said).

4. Stadion Patriot Chandrabaga

Tak hanya di Jakarta, stadion besar juga ada di Bekasi. Yaitu, Stadion Patriot Chandrabaga. Sebenarnya ini adalah stadion lama berkapasitas 5.000-10.000 penonton yang dibangun pada 1982 untuk Porda Jawa Barat 1984. Kemudian dirubuhkan dan dibangun ulang pada 2013-2014 dengan kapasitas 30.000. Membuatnya menjadi salah satu stadion terbesar di Bekasi dan Jabodetabek hingga sekarang.


Letak stadion sendiri berada di pusat kota, dekat dengan kantor Wali Kota Bekasi yang ada di seberang Jalan Ahmad Yani. Menjadikannya cukup strategis untuk dijangkau dengan transportasi umum. Adapun transportasi umum yang bisa dinaiki adalah KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi, yang terletak 1 km dari stadion. Perjalanan bisa dilanjutkan dengan baik angkot konvensional warna merah, bus Trans Beken Koridor 1 atau berjalan kaki. Jika berjalan kaki juga cukup aman dan nyaman karena trotoar yang lebar serta teduh karena banyak pepohonan. Tak perlu risau untuk menyeberang karena ada dua JPO yang terhubung ke stadion dari arah kantor Wali Kota. 

Stadion juga bisa dijangkau dengan bus Trans Beken Koridor 1, dan berhenti di halte depan stadion. Bus ini juga buat yang ke stadion jika naik LRT Jabodebek yang berhenti di Stasiun Bekasi Barat.

5. Stadion Mandala Krida

Di luar Jabodetabek, juga terdapat stadion dengan kapasitas besar yang human centric, yaitu Stadion Mandala Krida yang berada di Yogyakarta. Seperti halnya Patriot, Mandala Krida juga merupakan stadion lama yang dibangun kembali. Stadion ini awalnya berkapasitas 20.000. Setelah dibangun ulang jadi 35.000.


Letak stadion sendiri jika dilihat dari Maps berada di pusat kota dan permukiman penduduk yang cukup padat serta sekolah, universitas, dan kantor salah satu instansi Pemprov DI Yogyakarta. Stadion ini pada sisi luarnya terdapat trotoar yang cukup nyaman untuk pejalan kaki yang jika ke stadion menggunakan bus Trans Jogja Koridor 2A dan 2B. Adapun halte Transjogja ini terletak persis depan stadion.

6. Stadion Manahan 

Di tetangga Yogyakarta, tepatnya Solo atau Surakarta, juga ada stadion yang human centric, yaitu Stadion Manahan. Stadion ini mencuri perhatian internasional karena jadi tempat final Piala Dunia U-17 2023. Seperti dua stadion sebelumnya, Manahan juga stadion lama yang direnovasi kembali dengan tampilan baru stadion atap penuh dan fasad yang cukup bagus.


Stadion ini berkapasitas awal 25.000 penonton. Setelah renovasi jadi 20.000 saja. Adapun stadion terletak di pusat kota. Dekat dengan permukiman penduduk, hotel, sekolah-sekolah, Fakultas Olahraga UNS. Tak hanya itu desain stadion memang juga terlihat human centric karena memanjakan pejalan kaki dengan trotoar dan plaza serta taman yang jadi ruang ketiga. Adapun fasilitas transportasi umum berupa halte bus Batik Solo Trans koridor 4 dan 5 persis di depan stadion.

7. Stadion Gelora Sriwijaya 

Ini adalah salah satu stadion terbesar di Sumatra Selatan dan Sumatra. Terletak di pinggiran kota Palembang, Stadion Gelora Sriwijaya atau Jakabaring merupakan stadion besar berkapasitas 23.000 penonton yang dibangun untuk kepentingan PON 2004.


Dari PON stadion kebanggaan Wong Kito Galo ini kemudian banyak menggelar ajang internasional. Mulai dari Piala Asia 2007, SEA Games 2011, ISG 2013 hingga Asian Games 2018. Meski terletak di luar kota, stadion bertaraf internasional ini termasuk human centric karena punya akses pejalan kaki yang cukup nyaman jika memakai transportasi umum. Stadion sendiri terhubung dengan Stasiun LRT Jakabaring. Dan, jika diperhatikan dari maps, kawasan stadion sendiri cukup hijau serta ada pusat perbelanjaan di dekatnya, Lippo Mall Palembang.

8. Stadion Bumi Sriwijaya 

Masih dari Palembang. Selain Gelora Sriwijaya, ada lagi Stadion Bumi Sriwijaya. Stadion ini merupakan stadion lama, dan ada sebelum Gelora Sriwijaya berdiri. Stadion ini dibangun pada 1972 dan mulai dipakai pada 1978.


Stadion Bumi Sriwijaya sendiri merupakan stadion sepak bola yang terletak di pusat kota Palembang, dan mulai jadi perhatian ketika jadi salah satu venue Asian Games 2018. Adapun stadion ini sangat human centric. Sebab, mudah dijangkau dengan berjalan kaki jika naik transportasi umum serta berdekatan dengan mal dan rumah sakit. Uniknya lagi, transportasi umum yang terkoneksi dengan stadion ini adalah LRT Palembang yang berhenti di Stasiun Bumi Sriwijaya yang juga satu lintasan dengan Stadion Gelora Sriwijaya. Hal ini tentu memudahkan bagi mereka yang ke Palembang bisa mengunjungi dua stadion sekaligus dalam waktu cepat.

9. Stadion Teladan

Terakhir, adalah Stadion Teladan yang terletak di Medan, Sumatra Utara. Ini juga sebenarnya stadion lama yang dibangun ulang. Stadion Teladan merupakan salah satu stadion legendaris di Medan, Sumatra, dan Indonesia.


Stadion ini dibangun untuk kepentingan PON 1953, dengan kapasitas 15.000. Stadion kemudian direnovasi pada 2024, dan selesai pada 2026 ini. Kapasitasnya menjadi 20.000 dengan kursi single seat dan semua tribun beratap. Stadion juga tidak memakai lintasan atletik pada tampilan baru seperti halnya JIS.

Terletak di pusat kota Medan, Stadion Teladan jika dilihat dari Maps berdekatan dengan permukiman padat, kawasan bisnis, dan Museum Sumatera Utara. Stadion ini juga human centric karena desainnya yang memungkinkan mobilisasi pejalan kaki seperti adanya trotoar, taman depan stadion, dan jarak dari halte ke stadion yang cukup dekat. Adapun transportasi umum yang bisa menjangkau ke stadion adalah Bus Listrik Medan koridor 1 yang haltenya tidak jauh dari Jalan Stadion.

Nah, itulah 9 stadion sepak bola di Indonesia yang human centric berdasarkan lokasi, konektivitas ke transportasi umum dan fasilitas lainnya serta akses pejalan kaki yang aman dan nyaman. Ke depannya, kita harapkan semakin banyak stadion yang human centric, bukan sekadar bangun stadion baru dan besar saja tapi tanpa memikirkan akses ke lokasi.

Akan tetapi, ada yang perlu diketahui juga dari stadion yang human centric ini. Dari 9 ini cuma JIS dan Teladan yang tanpa lintasan atletik sehingga benar-benar khusus sepak bola. Kemudian dari semuanya, yang sangat disayangkan, masih dimiliki pemerintah daerah atau pusat bukan klub olahraga kota tersebut. Sama seperti kebanyakan stadion di Italia. Tentu kepemilikan atas nama pemerintah, akan berpengaruh secara politik pada kebijakan yang diterapkan jika ada pergantian pemerintahan tersebut.


Artikel dari berbagai sumber

Foto, kecuali foto JIS, dari berbagai sumber

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran