Pages

Selasa, 24 Desember 2019

4 Persamaan MRT dan KRL yang Tidak Kamu Sadari


canva
Sejak Maret 2019, MRT mulai beroperasi melayani lintas Lebak Bulus-Bundaran HI.

Kehadiran transportasi massal berbasis rel ini menemani transportasi sejenis yang sudah ada, KRL.

Keduanya pun terlihat berbeda terutama dari segi pelayanan.

MRT identik dengan pelayanan jalur bawah tanah, KRL dengan jalur permukaan.

Apabila MRT terlihat begitu modern jika dilihat dari arsitektur stasiun-stasiunnya, dan bahkan namanya menggandeng sponsor, KRL sebaliknya.

Begitu juga dengan budaya penumpang. Yang satu terlihat tertib, yang satu lagi sebaliknya.

Waktu datang dan berangkat kereta MRT pun dianggap selalu tepat waktu. Kereta KRL kebalikannya.

Meski begitu, ternyata keduanya mempunyai banyak persamaan yang tidak disadari.

Apa saja persamaan kedua ular besi ini?

Kereta made in Japan

Canva
Ya, tepat sekali! Baik MRT maupun KRL menggunakan kereta buatan Jepang. Manufakturnya pun sama, Nippon Sharyo.

Namun untuk KRL yang keretanya tidak hanya terdiri dari satu jenis seperti MRT, manufakturnya pun beragam.

Selain Nippon Sharyo, ada juga nama Kawasaki Heavy Industries, Kinki Sharyo, Toei Corporation, dan Tokyu Car Corporation.

Akan tetapi, yang perlu dicatat adalah Ratangga, si kereta MRT benar-benar fresh from the oven sedangkan armada KRL kebanyakan merupakan bekas pakai.

Lebar sepur 1.067 mm

wikipedia
MRT dan KRL sama-sama menggunakan lebar sepur 1.067 mm yang memang umum digunakan di Indonesia terutama sejak zaman Jepang.

Keadaan ini membuat MRT menggunakan lebar yang sama dengan alasan ke depannya supaya ada konektivitas dan sinergisitas dengan KRL.

Listrik aliran atas

ceanadisty.wordpress.com
Disingkat LAA atau bahasa Inggrisnya, overhead catenary, yaitu sistem aliran listrik yang menggunakan tiang dan kabel yang dialiri listrik.

Perangkat ini juga digunakan MRT dan KRL untuk menghasilkan daya yang juga sama, 1.500V.

Akan tetapi, MRT menggunakan LAA jenis terbaru, rigid overhead conduct yang tampilan fisiknya tidak lagi memakai kawat penggantung seperti pada LAA konvensional KRL, tetapi rigid bar.

Selain LAA baru, MRT konsisten memakai pantograf cakar ayam atau single-arm yang memang pantograf bagi kereta zaman now.

Sebaliknya dengan KRL. Terkadang memakai single-arm, terkadang pula diamond shape atau pantograf berlian yang terlihat old school.

Jalur dan stasiun layang

Layout
MRT punya jalur dan stasiun layang. Begitu juga dengan KRL.

Di MRT jalur itu dimulai setelah Stasiun Senayan lalu keluar dari bawah tanah dan naik mengarah ke Stasiun ASEAN berlanjut hingga Stasiun Lebak Bulus.

Sedangkan di KRL dimulai setelah Stasiun Manggarai lalu naik menuju Stasiun Cikini dan berlanjut hingga Stasiun Jayakarta, dan turun lagi menuju Stasiun Jakarta Kota.

Meski begitu, jalur dan stasiun layang MRT kebanyakan dibangun di atas jalan sehingga masih memungkinkan kendaraan lewat di bawahnya.

Sedangkan jalur dan stasiun layang KRL dibangun di atas jalur lama yang sudah diaspal sehingga terlihat seperti bangunan yang konstan alias tidak bisa dilewati bagian bawahnya.

Namun, stasiun layang MRT dan KRL berwarna-warni dan tematik.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran