Pages

Senin, 23 September 2013

Nuk*

Matahari masih menggantung di ufuk barat. Sebentar lagi cahaya terbesar alam semesta itu akan menenggelamkan diri, merayap bagian bumi lainnya yang siap menerima cahayanya. Langit memerah menguning. Gelap sudah mulai terasa. Siluet burung-burung nampak beterbangan mencoba menjadi latar bagi senja yang selalu berulang setiap hari. Potret senja itu jelas menjadi santapan bagi mereka yang menyukai senja untuk diabadikan ke dalam kamera, baik digital atau kamera. Selanjutnya diunggah ke dalam jejaring sosial untuk menyatakan dan membagi betapa indahnya senja itu. Apalagi senja yang dimaksud berlatar depan sebuah bangunan megah dari masa lampau, Candi Borobudur. Sungguh tak seorang pun mau melewatkan ini. Bisa dipastikan kilatan cahaya menyambangi pendaran cahaya senja itu.

Bagi Rudi, pemandangan senja itu merupakan hal yang biasa. Tiap hari ia melihat senja itu dari tempat kerjanya, sebuah hotel di kawasan dekat candi Buddha terbesar di Asia Tenggara itu. Di hotel itu ia bekerja sebagai seorang pegawai hotel yang diikhususkan mengantar para turis ke kawasan Borobudur. Tak hanya mengantar, ia juga memandu mereka ke candi tersebut. Menjelaskan asal mula candi itu, sejarahnya dari zaman baheula hingga sekarang. Berulang kali ini ia lakukan sampai-sampai ia menjadi di luar kepala dan bisa dengan caranya sendiri mengatur untuk menjelaskan setiap detail-detail dan sejarah Borobudur. Tentu saja ada perasaan bosan dan ia ingin rehat sejenak dari pekerjaan ini dengan pergi ke pantai. Menikmati alunan ombak dan pasir putih. Tetapi, di dalam rehat pun ia merindukan dan ingin secepatnya kembali. Apalagi atasannya menjanjikan ia tambahan gaji jika ia bisa meningkatkan kinerjanya supaya lebih baik.

Tiap kali mengantar dan memandu, tiap kali ia juga berhadapan dengan banyak wajah dari berbagai bangsa. Coklat, sawo matang, hitam, putih, bahkan kuning. Menjelaskan dengan sabar sejarah Borobudur meski terkadang tak begitu ditanggapi. Membiarkan diri diterpa dengan siang yang menyengat yang membuat tenggorokan minta diairi. Tapi, itulah risiko dari pekerjaannya. Pekerjaan yang sebenarnya bukan pekerjaan idaman selepas lulus kuliah dari sebuah universitas di Solo. Ia sebenarnya ingin menjadi diplomat. Tapi, apa daya syarat menjadi diplomat cukup berat dan harus menunggu umur 45. Kemampuan berbahasa Inggris yang dimilikinya, selain bahasa-bahasa asing lainnya membuat ia mau dan menyanggupi untuk bekerja di salah satu hotel di Borobudur ketika hotel itu membuka lowongan pekerjaan.

Tiap kali mengantar dan memandu juga, ia berkenalan dengan banyak wajah dari berbagai dunia yang juga mmepunyai banyak karakter. Ada yang antusias sampai begitu aktif bertanya-tanya. Ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang tak terlalu begitu antusias dan kagum alias masa bodoh. Dari banyak wajah itu, turis-turis dari Asia Timur yang paling sering berceloteh sedangkan turis-turis dari Barat diam namun mengamati, dan turis-turis dari Mediterania sesekali tertawa. Rudi tak begitu menangkap kesan istimewa di antara mereka walaupun turis-turis, terutama para wanita, memakai pakaian terbuka yang cukup membelalakkan mata apalagi di siang yang menguras tenaga. Lagipula mereka yang gemar memakai pakaian terbuka harus menutup bawahannya supaya terlihat sopan.

Hanya saja ada yang harus membuatnya terkesan dari sekian wajah yang banyak ia jumpai. Seorang wanita membuatnya terpikat dan jatuh cinta walaupun bukan pada pandangan pertama. Ya, Rudi menganggap ia biasa-biasa saja seperti turis lainnya namun lama-kelamaan ia merasa tertarik pada wanita itu. Arruny nama wanita itu. Parasnya putih. Rambut panjang. Pendek, dan enak diajak bicara. Adalah sebuah kesalahan dilakukan Arruniy. Kesalahan ini yang membuat Rudi berinteraksi dengannya. Di dalam sebuah rombongan yang terdiri dari 10-15 orang, Rudi merasa ada yang tertinggal di dalam rombongannya setelah berkeliling Borobudur. Ia kemudian mengabsen satu per satu turis-turis yang ada di dalam rombongannya. Kebanyakan dari Eropa, Amerika, serta Asia Timur, dan satu Asia Tenggara. Ketika di daftar absen itu ada nama Arruny Chantou dan berasal dari Kamboja, ia lalu memanggilnya, tak ada jawaban, ia segera mencari-cari dan meminta turis-turis yang lain untuk menetap di titik temu yang ditetapkan, bagian candi yang menghadap ke Bukit Menoreh. Supaya aman, ia meminta salah satu rekannya agar segera datang menjaga turis-turis itu selagi ia mencari si turis asal Kamboja.

Ketika temannya, Aryo datang, Rudi segera bergegas dan mulai mencari-cari di bagian candi yang lain. Ia berteriak-teriak lalu bertanya kepada pemandu yang lain tentang sosok yang dicarinya. Namun tak ada yang tahu. Ia bertanya dalam hati, kemanakah gerangan ini orang? kenapa harus menghilang segala. Rasa kesal muncul di dalam dirinya. Huh, menyusahkan saja. Ia kemudian mencari lagi. Kali ini malah ke arah Candi Mendut alias sudah mau keluar dari kawasan candi. Ia berpikir pasti turis itu ada di desa di sekitar candi. Berjalanlah ia ke desa yang jarak sekira 1 kilometer itu. Cukup lelah memang tetapi mau bagaimana lagi. Turis itu menjadi tanggung jawabnya. Kalau hilang bisa-bisa ia bakal kehilangan pekerjaannya.
"Ini turis kok kaya hantu? hilang begitu saja," ujarnya kesal pada diri sendiri.
Rasa lelah menghantuinya. Ia mau tidak mau harus mencari bahan bakar berupa air minum. Sebuah warung terdekat disinggahinya. Ia pesan sebuah minuman dingin.
"Capek banget le sepertinya," kata si pemilik warung.
"Iya, bu," jawabnya, "Ada turis hilang dari rombongan saya. Nyusahin aja,"
Ia teguk minuman dingin yang dipesannya dan merasakan dahaga yang kemudian hilang.
"Kok bisa le?" tanya si pemilik warung.
"Tidak tahu, bu," jawab Rudi sambil meneguk lagi, "Orang saya sudah bilang jangan pisah dari rombongan. Tapi dia ini nakal,"
Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba muncullah suara dari belakang. Suara itu berkata dalam bahasa Inggris,
"Sorry, do you know which way to Borobudur?"
Rudi segera membalikkan badan. Dan terkejutlah ia ternyata suara itu berasal dari orang yang tengah ia cari-cari, Arruny. Ia segera berdiri dan berkata dalam bahasa Inggris,
"Kemana saja kamu, hei? Saya mencari-cari kamu,"
Arruny yang sadar bahwa yang dihadapinya itu adalah pemandunya hanya tersenyum lalu berkilah,
"Maaf, tadi saya hanya mencoba keluar untuk memotret-motret desa di sini. Kelihatannya lebih menarik daripada Borobudur,"
"Ya apa pun itu kamu hampir membuat saya kehilangan pekerjaan," ujar Rudi yang nampaknya kesal namun gembira, "Ayo kita kembali ke rombongan,"
Rudi lalu membawa Arruny berjalan kembali ke rombongan setelah sebelumnya membayar uang minuman dingin.
"Ingat lho saya harus bertanggung jawab terhadap turis yang saya bawa dan tolong jangan seperti itu lagi,"
"Iya, maaf, saya hanya mengikuti naluri saja,"
"Apa pun itu, tanpa seizin saya, tidak boleh,"
"Iya,"

Kejadian itulah yang membuatnya harus terus berinteraksi dengan Arruny. Ketika di hotel pun, Arruny membuat masalah lagi karena kehilangan kunci kamarnya. Hal yang membuat Rudi menjadi geram dan memperingatkan Arruny agar berhati-hati supaya tidak ceroboh. Kehilangan kunci bisa membuat Arruny didenda puluhan ribu rupiah, atau kalau tidak Rudi yang harus bertanggung jawab. Untungnya, kunci hotel itu ketemu. Ia terselip di bawah pintu kamar.
"Jaga baik-baik dan jangan sampai hilang," ujar Rudi setelah itu.
"Iya, maaf ya merepotkan," jawab Arruny dengan senyum, "Terima kasih,"
Arruny segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

Esok pagi, ketika sedang tidak ada pekerjaan, Arruny tiba-tiba mendekatinya. Memintanya diantarkan. Rudi menyanggupi. Salah satu temannya, Heri, berkata,
"Cantik tuh cewek, bro. Sayang dianggurin,"
"Maksudmu apa?"
"Ya, pacarin aja,"
"Sembarangan kamu,"
Heri hanya tertawa-tawa.

Maka, diantarlah Arruny oleh Rudi keliling Borobudur dengan mobil dan kemudian ke arah Yogyakarta. Rudi sembari menjelaskan tiap daerah yang dilewati dengan gaya pemandu.
"Kamu dari tadi bicara mulu memangnya tidak capek," ujar Arruny yang kemudian ikatan rambutnya hingga terurai panjang. Saat itulah, Rudi melihat pesona dari wanita Khmer ini. Oh, cantik rupanya, ujarnya dalam hati.
"Capek memang," kata Rudi kaku.
"Kalau begitu berhentilah," ujar Arruny, "Saya ingin menikmati alam di sini tanpa harus mendengar panduan,"
"Baiklah," ujar Rudi menurut.

Arruny lalu memperkenalkan dirinya secara jelas. Ia berasal dari Kamboja, tepatnya dari Siem Reap, sebuah kota kecil yang terkenal dengan situs warisan dunianya, Angkor Wat. Mendengar Angkor Wat, Rudi hanya mengingat tentang Tomb Raider yang katanya pernah melakukan proses syuting di situ. Ya, candinya lumayan besar. Itu juga yang ia ingat kala melihat di internet. Ia pun teringat setelahnya bahwa Borobudur dan Angkor Wat mempunyai hubungan historis di masa lalu mengingat salah satu raja di Angkor, Jayawarman II pernah menetap di Jawa di masa dinasti Syailendra, dinasti pendiri Borobudur. Di masa lalu itu antara Indonesia yang diwakili Jawa dan Kamboja yang diwakili Khmer sering terjadi banyak interaksi terutama di perdagangan. Bukankah Khmer dahulunya merupakan bagian dari Jawa?

Dan pertemuan dengan Arruny ini seperti membuka tabir masa lalu.

"Saya ke Borobudur ingin mengetahui Borobudur itu seperti apa dan bagaimana relasi historis antara Angkor Wat dan Borobudur. Ya ini seperti sebuah perjalanan historis antara bangsa pendiri kedua candi,"
"Dan kamu sudah tahu kan Borobudur itu seperti apa?" tanya Rudi.
"Ya saya sudah tahu," kata Arruny, "Cukup besar tetapi tidak sebesar Angkor Wat,"
"Maksudmu?"
"Angkor Wat sejujurnya bukan merupakan satu candi tetapi banyak candi dalam satu kompleks. Apa kamu tahu Angkor Wat itu berarti kota besar? Boleh dibilang Angkor Wat dan candi-candi lainnya adalah sebuah permukiman bangsa Khmer di masa lalu. Nanti ketika kamu ke sana kamu akan tahu betapa luasnya candi-candi yang kami miliki dan kebanyakan berada di dalam hutan,"
"Hutan? Maksudnya kita berjalan ke dalam hutan untuk melihat semuanya,"
"Iya, dan ini bukan perjalanan sehari tetapi bisa dua atau seminggu,"
"Saya malah jadi penasaran,"

Arruny hanya tersenyum. Senyumnya membuat Rudi seketika takluk. Oh, begitu cantiknya wanita Khmer ini. Ia merasa jatuh cinta.Saking merasa jatuh cinta, Rudi yang mabuk itu bertanya tentang arti namanya. Arruny menjawab bahwa arti namanya adalah matahari terbit. Di saat itulah Rudi menggombal,
"Oh, pantas wajahmu selalu berseri. Aku suka itu,"

Arruny hanya tersipu. Ia tahu Rudi menyukainya. Sesuatu yang ia harapkan. Ia juga menyukai Rudi. Namun mencoba memancing supaya terlihat.

Seharian itu Rudi mengantarnya keliling Yogyakarta. Menjelaskan secara detail kota Yogyakarta mulai dari sejarah hingga tempat-tempat wisatanya juga kulinernya.

"Kota yang tenang dan adem ayem seperti di Siem Reap," komentar Arruny ketika mereka berada di Malioboro, "Orang-orang yang ramah. Saya sungguh suka,"
"Oh, terima kasih," kata Rudi, "Itulah kami. Tetapi saya jadi penasaran dengan Siem Reap,"
"Datanglah ke kotaku dan saya akan menyambut kamu di sana dengan ramah. Kamu akan merasakan keramahan khas Kamboja,"
"Ya, semoga ada waktu dan saya akan ke sana,"

Rasa jatuh cinta dibarengi dengan keinginan menyambangi langsung Siem Reap membuat Rudi merasa harus menyatakan cintanya ketika tahu lusa Arruny harus kembali ke Kamboja via Kuala Lumpur. Maka, pada esok malamnya, di sebuah tempat sepi di hotel, berhadapan dengan kolam ikan dan ditemani nyanyian jangkrik, Rudi menyatakan cintanya pada Arruny. Arruny yang tahu hal itu pura-pura terkejut lalu mencoba mengetes Rudi mengenai apa yang dikatakannya. Rudi mencoba meyakinkan sampai akhirnya Arruny mau menerima cintanya dan menjadikan Rudi sebagai pacarnya. Malam itu, selepas berikrar menjadi pasangan satu sama lain mereka bermesra-mesraan. Esok harinya, hari terakhir Arruny di Yogyakarta, Rudi mengantarnya ke Gunung Merapi. Di sanalah Arruny merasakan keterpesonaan panorama indah gunung itu. Di sanalah keduanya kembali bermesra-mesraan untuk terakhir kalinya. Ketika akan berpisah esoknya, keduanya seakan tak mau berpisah. Tetapi, Arruny harus kembali sebab ia harus bekerja. Begitu juga Rudi. Keduanya saling berucap sayang dan rindu. Rudi merasa waktunya cepat sekali harus berpisah.

Selepas berpisah, keduanya terus mengintensifkan komunikasi melalui Whatsapp. Sayang dan rindu selalu terucap ketika memulai dan mengakhiri pembicaraan. Rudi merasa harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berlibur ke Kamboja, tepatnya ke Siem Reap. Membayangkan ia akan bertemu Arruny, melepas rindu lalu berjalan bersama ke dalam Angkor Wat. Oh, sungguh indah!

"Sudah samperi saja pacarmu itu," kata Heri, "Pergilah ke Kamboja,"
"Besok aku pergi kok," kata Rudi, "Sudah bilang ke atasan dan membolehkan,"
"Bagus dong," kata Heri senang, "Jangan lupa oleh-olehnya,"
"Pasti lah, bro,"

Di senja itulah dari hotel, Rudi menerawang. Membayangkan wajah Arruny yang tersenyum bersanding dengan siluet Borobudur. Rasa rindu itu tak bisa ditahan. Jawabannya hanyalah bertemu. Maka, leburlah rindu itu. Ia berharap esok bisa ke lancar terbang dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur lalu ke Siem Reap. Sebuah relasi historis yang lama terpendam muncul kembali ketika cinta meruak di lubuk.

*bahasa Khmer: Kangen


Jumat, 13 September 2013

Polisi oh polisi

Selasa malam, 10 September 2013 lalu tiba-tiba kita dikejutkan oleh penembakan terhadap seorang anggota polisi oleh beberapa orang tak dikenal di depan gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah penembakan yang sepertinya merupakan miniseri dari penembakan-penembakan sebelumnya terhadap anggota dari institusi yang sama. Setelah penembakan yang menjadi breaking news di beberapa stasiun televisi nasional itu, beberapa pihak mulai berspekulasi. Ada yang bilang itu perbuatan pelaku teror. Ada yang bilang itu karena persaingan di dunia pengawalan barang. Apa pun itu, saya tau mau membahas terlalu dalam mengenai kejadian yang, mungkin, akhir atau endingnya sulit ditebak atau takkan pernah berakhir. Saya ingin melihat, melalui tulisan ini, tentang polisi.

Polisi, selalu identik dengan pemberantasan kejahatan dan pencarian keadilan. Selain itu,  identik sebagai alat anti huru-hara akibat demonstrasi atau kerusuhan. Polisi, yang saya tahu sewaktu kecil, kala mendengarnya, adalah polisi yang memakai mobil dengan sirine, cat mobilnya berwarna hitam dan putih, berseragam hitam-hitam, dan memakai pistol. Gambaran itu saya dapat karena terpengaruh oleh film-film Hollywood seperti Police Academy, yang waktu kecil memang populer. Tapi, kala melihat ke negeri sendiri, rupanya polisinya berpakaian coklat. dan tidak seperti di Hollywood, jarang yang bermobil.

Seiring berjalannya waktu, polisi yang saya lihat, ketika menyaksikan televisi, adalah polisi yang memakai tameng, helm, senapan mesin, pentungan lalu berpelindung di sekujur tubuhnya. Terlihat kesan angker dan juga angkuh kala dengan senjata yang dipunya menembaki dan memukul lawannya yang hanya bermodalkan nekat atau malah cuma punya bom molotov saat terjadi huru-hara. Bisa ditebak, lawannya babak belur tak keruan. Dipukul dan ditendangi.

Lalu polisi yang saya lihat juga berpakaian dan berperalatan canggih. Ya, itulah polisi yang bertindak sebagai pasukan elite. Tugasnya, melawan dan memberantas penjahat yang sudah berada di level mengkhawatirkan seperti teroris. Tampilan polisi ini boleh dibilang keren seperti di film-film. Apalagi memakai kacamata hitam yang digunakan untuk menyamarkan identitas.

Padahal, di masa lampau polisi itu tidak seperti sekarang. Hanya memakai pentungan, berjalan kaki lalu bersepeda. Nah, bagi yang pernah menyaksikan salah satu adegan dalam Pengkhianatan G30S/PKI, Anda akan melihat Soekitman, si polisi, yang tertangkap anggota Cakrabirawa karena tidak sengaja melintas di sekitar rumah Jenderal Pandjaitan. Ketika tertangkap ia sedang berpatroli menggunakan sepeda.

Di beberapa film kartun pun, terutama film kartun di tahun 30-40-an, polisi digambarkan hanya berseragam dan memakai pentungan, namun berperilaku kocak. Itu juga yang terlihat di Agen Polisi 212, sebuah komik karya Daniel Kox dan Raoul Cauvin. Ini mengenai kisah seorang polisi yang konyol dan terkadang sok tahu dalam menghadapi suatu kasus. Tingkah lakunya bisa membuat yang membacanya terbahak-bahak.

Polisi, yang berasal dari kata politia, yang berarti warga kota atau pemerintahan kota, yang kemudian diartikan lagi sebagai usaha kegiatan negara, pada kenyataannya lebih populer dalam ranah fiksi illmiah daripada tentara. Robocop, Judge Dredd, Jiban, Winspector,  merupakan sederetan beberapa film yang menggunakan polisi, dalam hal ini, polisi robot sebagai tokoh yang diyakini mampu memberantas kejahatan. Keyakinan itu muncul karena para polisi ini merupakan robot yang mempunyai sederetan kendaraaan dan senjata canggih. Keberadaan mereka pun diyakini sebagai jawaban persoalan atas kejahatan yang tak kunjung reda dan tak bisa diatasi polisi biasa. Keberadaan polisi dalam ranah fiksi ilmiah lebih populer dan banyak daripada tentara yang diwakili dalam The Universal Soldier.

Itulah gambaran saya tentang polisi. Aparat/perangkat negara yang tugasnya mengayomi dan melindungi. Meski dalam prakteknya sering berkebalikan. Sebuah gambaran yang melihat polisi mulai dari tampang ramah hingga bisa sangar dan kejam, terutama dalam pemberantasan teroris. Akibatnya, timbullah dendam kesumat yang berujung pembalasan terhadap perangkat negara yang sudah berusia ribuan tahun di bumi.

 

Selasa, 03 September 2013

Selamat Datang di Dunia Maya

Nyalakan komputermu
Nyalakan handphonemu
Nyalakan laptopmu

Lalu mainkan jejarimu
ketik sebuah situs
dan klik

infobogor.com

Selamat datang di dunia maya
selamat datang di dunia portal-portal
mencari kawan
mencari lawan
mencari cinta
mencari narsis
tiada batas dan waktu
apalagi norma

Selamat datang di dunia nihil kesopanan
caci maki, hujat-menghujat, deras mengalir seperti sungai
dan menghujam seperti pisau

Selamat datang di dunia yang nampak tepat untuk seorang pengecut
mungkin juga seorang pengumbar
dan seorang penggarap imaji liar
lalu menjadi gugup ketika kembali ke dunia nyata

Kamis, 29 Agustus 2013

Ketika Serumpun Bersatu dalam Sastra

Judul: Cerita Etnis 5 Negara Serumpun
Penyusun: Free Hearty dan Handoko F. Zainsam
Jumlah Halaman: 290
Penerbit: Wohai, Juni 2013

Melayu bersatu? atau serumpun bersatu? Secara politik dan ekonomi rasanya tidak mungkin jika melihat kondisi negara-negara berbahasa Melayu saat ini yang boleh dikatakan timpang. Namun secara budaya dan adat-istiadat masih bisa apalagi jika itu disatukan dalam karya tulis berupa cerpen yang memang merupakan produk budaya. Dan di dalam cerpen-cerpen itu juga menceritakan perilaku-perilaku manusianya yang berbahasa Melayu meskipun berlatar belakang dari etnis yang berbeda-beda.

Inilah yang disajikan di dalam Cerita Etnis 5 Negara Serumpun, sebuah buku berisi kumpulan cerpen dari negara-negara berbahasa Melayu. Antara lain Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, tepatnya Thailand Selatan. Di dalamnya terdapat 26 cerpen karya para cerpenis dari masing-masing negara dan kebanyakan, jika melihat dari profilnya, sudah mempunyai nama dan malang-melintang di dunia cerpen negara masing-masing atau dalam karya-karya serumpun. Sebut saja Phaosan Jehwae dari Thailand, Rosmiaty Shaari dan Jaya Ramba dari Malaysia, M. Raudhah Jambak dan Syarifuddin Arifin dari Indonesia, Brahim A.H.T dari Brunei Darussalam. Nama terakhir termahsyur sebagai sastrawan papan atas negeri kecil di Kalimantan tersebut.

Kebanyakan tema cerita yang ditampilkan dalam antologi cerpen serumpun ini tidaklah lepas dari kehidupan dan permasalahan sehari-hari yang bisa dibilang sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, ada sesuatu yang sejujurnya hendak diungkapkan oleh para cerpenis ini. Dalam Anak-Anak Dewa, Phaosan Jehwae memang bercerita dengan sederhana tentang kehidupan anak-anak Melayu di Thailand Selatan bernama Rafi dan Rafat, dua bersaudara yang tinggal bersama neneknya. Dalam cerpen satu-satunya dari Thailand itu, penulis yang mempunyai nama Melayu Che Wan Fauzan bin Che Wan Yusoff itu menyinggung tentang keadaan bangsa Pattani sebagai bangsa Melayu yang tinggal di Thailand Selatan dan menjadi minoritas. Ada semacam kegusaran dan kekhawatiran dari sang penulis mengenai anak-anak muda Patani, yang diwakili Rafi, yang gemar mengonsumsi obat-obat terlarang alias narkoba. Obat-obatan terlarang itu dibiarkan begitu saja oleh Pemerintah Thailand yang malah lebih sibuk menangkap orang-orang yang dicurigai akan memerdekakan diri. Perlu diketahui, sejak lama Patani memang menginginkan kemerdekaan dari Thailand dan wilayah di selatan negara itu sudah lama dirundung konflik. Simaklah kegusaran tersebut,
"Jika kita tinjau dari segi ekonomi, jika seorang penagih membelanjakan 500 bath seorang, bagaimana jika 90% pemuda di Patani penagihnya. Bangsa Patani hanya akan tinggal dalam catata sejarah saja, tentang kebesaran ratu-ratu dan ulama-ulama bertaraf dunia. Nampaknya tidak ada tindakan apa-apa dari pihak kerajaan untuk membasmi secara sungguh-sungguh fenomena yang sedang berlaku. Sikit-sikit masalah puak-puak yang menuntut kemerdekaan. Sebenarnya apa motif dan kehendak mereka?" (hal.4).

Selain isu kemerdekaan, isu politik juga kental dalam salah satu antologi cerpen serumpun ini. Djazlam Zainal dalam Panas menceritakan tentang politik di Malaysia setiap menjelang pemilihan umum atau pilihan raya, istilah di sana. Dalam Panas, terlihat sang cerpeni berusaha mengkritik kebijakan UMPURNO ---plesetan dari UMNO--- yang dianggap mendiskriminasi pihak pembangkang atau oposisi yang diwakili Parti Dakapan Suci, yang bisa jadi merupakan koalisi yang digalang oleh Anwar Ibrahim dan PAS. Untuk menunjukkan bahwa Malaysia terdiri dari semua unsur, sang cerpenis melakukannya dengan sebuah diskusi politik sederhana antara para tokohnya yang terdiri dari Melayu, India, dan Cina.

Sementara dari Indonesia, isu-isu keetnisan lebih terasa menonjol. Bagaimana Dhenok Kristianti dalam Sejengkal Tanah, Sebilah Keris menceritakan dengan detail tentang adat-istiadat Bali mengenai penggunaan tanah mewakili dan nampak memperlihatkan kondisi Bali selepas menjadi tujuan utama wisata Indonesia dan internasional. Ada semacam pertentangan antara kaum muda yang diwakili Gung Wira dan Bli Gung yang mewakili kaum muda. Pertentangan antar-etnis juga terasa dan terlihat pada Alek Baralek dari Free Hearty, yang menceritakan kisah orangtua tokoh utama bernama Galuh, yang berbapak Minang, tetapi beribu Jawa. Dalam cerpen ini, diceritakan masa lalu kedua orangtua Galuh yang sempat mengalami cibiran dan pertentangan karena orangtua laki-lakinya menikahi perempuan Jawa. Dan yang tak boleh dilewatkan bagaimana seorang M. Raudhah Jambak dengan detail menceritakan keterbelakangan kehidupan di Indonesia Timur, tepatnya di Papua dalam Mbirokateya.

Sementara dari dua negara terakhir, Brunei Darussalam dan Singapura, isu-isu religius lebih terasa. Inin terlihat pada Sungai Pendaruan Mengalir Lesu karya Firdaus H.N dan Wawancara di Nazareth karya Pengiran Metassan. Di yang pertama menceritakan seorang lulusan sebuah universitas ternama di Brunei, Universiti Brunei Darussalam, yang hanya disebut dengan kata ganti "kau" dan "ia". Dalam cerpen ini juga oleh cerpenis diberitahukan tentang Brunei Darussalam, sebuah negara kecil yang berfalsafah Melayu Islam Beraja, setiap kemerdekaan selalu membaca Yassin dan tahlil sebagai ungkapan rasa syukur karena kemerdekaan yang diraih sejak 1984. Sedangkan dalam Wawancara di Nazareth, Pengiran Metassan, ingin mengungkapkan sebuah perjumpaan religius dengan Sitti Maryam, ibunda Nabi Isa di Nazareth. Di dalamnya terlihat bagaimana seorang Maryam yang berusaha memberi banyak peringatan dan wejangan kepada tokoh utama yang disebut dengan "aku" tentang umat Islam dan Kiamat. Terlihat ada upaya untuk menghidupkan Maryam meski hanya melalui hitam di atas putih. Selain isu-isu religius, cerita fabel berjudul Kucing dari Sosonjan A. Khan patut disimak sebab menceritakan tentang para kucing yang selalu menjadi objek kesalahan binatang-binatang lain.

Terakhir, dari "negeri singa", Singapura, isu religius terlihat pada Malam Kita Lupakan Ranjang dari Chempaka Aizim. Cerpen ini menceritakan kisah pertobatan tentang seorang mucikari yang tentu taubatnya itu membuat terkejut tokoh utama.

Sekilas, cerpen-cerpen yang ditulis dalam bahasa Melayu itu bisa dimengerti meskipun terdapat perbedaan, baik dari ejaan dan makna. Kata-kata seperti mahu, sahaja masih bisa dimengertikan sebagai mau dan saja. Tetapi, kata nenek, yang seharusnya untuk orangtua perempuan dari ayah/ibu, bisa berarti sebagai orangtua laki-laki dari ayah/ibu. Perbedaan itu memang terkadang membuat pembaca bahasa Indonesia bisa tidak nyaman. Tapi inilah yang sesungguhnya hendak disajikan dalam cerpen-cerpen ini. Literasi serumpun yang diutujukan untuk mempererat persaudaraan seperti yang dituturkan dalam kata pengantar di buku ini. Sehingga bisa dibilang untuk meminimalisasi konflik-konflik yang belakangan terjadi antara negara-negara serumpun seperti Indonesia dan Malaysia yang terjadi belakangan.

Konflik-konflik yang demikian terjadi karena seringnya kesalahpahaman antara pihak-pihak yang bertikai. Dan apa karena hal tersebut kedua negara menjadi penyumbang terbanyak daripada negara-negara Melayu lainnya? Apapun itu, antologi ini patut diapresiasi.

Kamis, 22 Agustus 2013

Sebut Saja Nama itu Bosscha


Sebut saja nama itu Bosscha, diucapnya bosya atau boskha, terserah yang penting enak diucap
Sebut saja nama itu Bosscha, kebanyakan langsung merujuk pada sebuah observatorium, sebuah teropong bintang besar, benda-benda langit, planet, bulan, matahari
Sebut saja nama itu Bosscha, semua pikiran mengarah ke Lembang, lalu berucap sejuk, segar, dan tenang
Sebut saja nama itu Bosscha, dan nama ITB tercantum, di antara keekslusifan dan kehati-hatian
Sebut saja nama itu Bosscha, tetapi tidak benar-benar menyebut kata Bosscha, sang filantropis, juragan perkebunan
Sebut saja nama itu Bosscha, si meneer yang memang tertarik pada astronomi, dan karena itulah bangunan besar di Lembang itu dibangun, beserta sebuah teleskop
Sebut saja nama itu Bosscha, dan Malabar telah menjadi tempat abadinya

Selasa, 16 Juli 2013

Silent (kiss)

Yang merindukan gulatan bibir
berpadu dengan tatapan tulus
Merenyahkan senyawa kata yang memadu pada
kasih sayang



http://www.freewebs.com/mahtame/couple%20kissing%20sihoulette.bmp
www.freewebs.com


Yang merindukan keheningan malam
hanya suara berbisik bersaut
membungkam tembok-tembok budaya
saat kehangatan itu begitu mendarat dari dingin yang terkuak

Yang merindukan permainan lidah
menyentuh pada langit-langit kenikmatan
getaran itu mengalir lepas
jiwa itu seperti dalam satu badaniah
tenggelam dalam perasaan
kala hanya tertawa
Ungkapan sayang pun memburai

Kamis, 11 Juli 2013

Het Park

Het regent. Nog stond. Dat was genoeg gierzwaluw en maakte iedereen die in het straat haast om naar shuilplaatsen te lopen. Hoewel de zon scheen maar er was geen obstakel voor regen. Ja, het was toch 9 uur 's morgens. De tijd die veel mensen hun activiteiten liepen. Zoals naar de kantoor, school, en ook sport te doen. Regen kwam en dan maakte de situatie onveilig. Hij kwam plotseling. Volgens de weerberichten op 6 uur 's morgens kwam het mooi weer vandaag. Alle mensen hoefden niet te zorgen om hun activiteiten te doen. Doch dat was niet geldig.

Zijn naam was Dani. Deze man liep naar plaats welke hij werkte. Een paraplu beschermte hem. Een draagtas in zijn rug. Hij was zichtbaar ontspannen. Voor hem, regen was niet een obstakel. Hij beschouwde dat als God zegen. Daarom geniet ervan. Dani was een schrijver. Een advertentie schrijver preciezer. Ja, hij werkte in een advertentie bureau. Zijn kantoor lag in een grote straat. Aan de voorkant van zijn kantoor of tegenover lag een park. Een klein park maar er waren veel bomen. Dat maakten het park groener en koel. Dani vond dat het park belangrijk omdat er waren veel inspiraties als hij in het park zat. En de inspiraties hielpen hij om een schrift te maken. Zonder dat was het moeilijk voor hem. Even het park was uitgezet worden. En dan was er geen zang van vogels die altijd in de bomen zatten en netstelden. Er was geen windstoot die uit bomen kwam ook en natuurlijk was er geen iets groen. Als het gebeurt voelde Dani zich niet lekker in zijn lichaam en treurig. Hij wou een tegenstander worden.

http://www.abbaye-du-val-dieu.be/1_NL/uploads/images/v-d19.04.09.003.JPG
www.abbaye-du-val-dieu.be
“Genoeg gierzwaluw, niet waar?” vroeg een maan aan hem. Een man was Fredi, zijn collega in een dit advertentie bureau.
“Absoluut,” Dani antwoorde vast. “Waarom? Ben je natheid?”
“Ja, een beetje,” antwoordde Fredi terwijl Fredi leidde naar hemd die natheid was. “Hm...heb je dat iets gehoord?”
“Nee? Wat is dat? Is er een nieuw nieuws?”
“Ja, een nieuw nieuws maar het heeft geen relatie met onze beroep. Het is een slechte nieuws,”
“Slechte? Wat slechte? Is er slechts?”
“Ja, dat betreft met dat park,” zei Fredi leidde zijn ogen naar het park in de tegenover.
“Waarom met het park?” vroeg Dani nieuwsgierig. En in zijn hart zei hij: was dat park....nee...onmogelijk...
“Uitgezet,” antwoordde Fredi kort. Dat maakte Dani bleek.
“Waarom?”
Fredi keek naar Dani. Er was een treurig gezicht. Ja, hij wist dat Dani van het park hield.
“Meneer Rosman, eigenaar van het park, hebt dat park verkocht aan de zakenman zodat een gebouw wou gebouwd worden,”
“Waarom Meneer Rosman hebt dat park verkocht?”
“Ik heb gehoord dat hij geld had nodig voor zijn zoon en nu zijn zoon kritisch,”
“Maar waarom deed hij?”
“Dat park is zijn alleen schat,”

Stil. Indewaar. Treurig. Keek hij naar het park. Het park die veel betekenissen voor hem gaf. Het park die een verkoeling gaf. Natuurlijk, veel inspiraties. En nu dat wou gebeurd. Het park wou uitgezet worden. En dat betekent dat hij iets speciaal wou losmaakten. Dani voelde zich hemzelf leeg. Hij liep naar de bureau ongeest. Zijn collega's waren verbazing.
“Wat is er aan de hand, joh?” vroeg Rina.
“Fredi zei me dat het park wou uitgezet, niet waar?”
Rina stil. Zij keek naar Dani. Zij haalde adem in dan,
“Ja, dat is waar,” antwoorde Rina langzaam, “Ik weet dat je dat niet accepteert. En ook alle vrienden hier. Maar we kunnen niets,”
“Ja, we kunnen niets omdat we zijn alleen en kleine bureau en de ondermening dat het park wil uitgezet zeker een grote. Belachelijk!”
“Zeg, maak jezelf kalm, hoor,” zei Robi, “We bidden maar dat de uitgezet niet gebeurd,”
“Ja, zonder actie. En dat je voelt je zinloos!”
Plotseling verliet hij zijn collega's en leidde naar zijn directeur kamer. Misschien, in zijn hersenen, zijn directeur wou zijn klagen horen. Blijkbaar niet. In plaats daarvan zei zijn directeur tegen:
“Beter je werkt dan zorgt niet iets onbelangrijk!”
“Maar dat park is erg betekenis voor me en u weet dat. Kijk, hoewel klein, hij geeft me veel inspiraties en de inspiraties brengen dit bureau altijd een winnaar worden  in advertentie competities! U hoeft dat te realiseren!”
“Ja, ik heb dat gerealiseerd maar je moet naar andere plaatsen verhuizen. We kunnen toch een park maken in deze bureau,”
“Nee, ik denk dat het park is speciaal en belangrijk!”
“Oh, dus dat je opinie. Okee...ik geef nu twee opties. Werk of...ontslaag?”
Dani stil. Hij kon niet antwordden. Zijn directeur alleen glimlach. Hij vond dat hem vervelend. Dus, hij besliste om zijn directeur te verlaten.

Alle dagen, Dani was niet de geest. Hij piekerde alleen het park. Hij voelde zich niet lekker om iets te doen. Het park, volgens hem, als zijn vriendje. Eindelijk koos hij alleen te zitten.
“Hai, vriend,” zei Dani toen hij in het park was. Hij zat en kijk naar omheen. “Ik ben treurig sinds je wilt uitgezet worden. Ik accepteer niet erg. Ik vind dat ik me leeg wil voelen zonder jou. Ik kun niet als je geweest. Ik kun....ah, vergeet maar. Er is niets die ik voor jou kun even ook ze....wat een flauwekul!”

Hij stil dan. Keek naar omheen terug. Zag de vogels vlogen en daarna zitten. In de bomen netstelden zij tijdens zongen. Zo afstembaar te luisteren. Natuur zong. Het geluid was hinder en zuiver. Maakte Dani wou het park niet verlaten. Op den duur voelde hij slaperig en dan sliep.

***

Dani was ontwaakt. Hij keek naar omheen dan realiseerde dat hij nog in het park was. De zon sloeg neer. Koele lucht was zo gevoel. Het waait. Dani voelde zich voortdurend in het park maar hij realisserde dat hij moest werkten. Hij stond dan. Schoot hij op. Maar, hij was indewaar toen hij wist dat hij in de andere milieu. Geen gebouwen, geen straat, geen mensen, geen auto's. Alleen bomen en vogels. Vroeg hij zich af: Waar ben ik?


 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran