Pages

Senin, 18 Desember 2017

SANGARNYA PENOLAKAN TERHADAP TRANSPORTASI ONLINE DI BALI

Penolakan terhadap transportasi daring atau online yang marak di seluruh Indonesia, dan memuncak pada 2016 silam kala transportasi jenis ini diberhentikan sementara oleh Kemenhub rupanya masih berlangsung. Terutama di Bali.

Di Pulau Seribu Pura atau Pulau Dewata ini, penolakan bisa terjadi melebihi dari yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Apalagi penolakan itu juga merembet ke tempat-tempat tertentu seperti hotel dan pariwisata.

Hasil gambar untuk poster penolakan blue bird di bali
Baliberkarya.com
Penyebabnya adalah kehadiran transportasi online secara tidak langsung mengancam keberadaan transportasi tempatan seperti taksi. Karena itulah, beberapa pengelola tempat wisata bekerja sama dengan pengelola transportasi lokal membuat sebuah peraturan bahwa transportasi online hanya diperbolehkan mengantar penumpang, dan tidak diperbolehkan menjemput.

Uniknya, dalam larangan tersebut taksi konvensional ternama seperti Blue Bird juga masuk daftar larangan. Ini tidak seperti di Jakarta dan sekitarnya, yaitu Blue Bird malah yang paling getol melarang keberadaan transportasi online, dengan didukung organda. Pada intinya larangan itu berupaya mengajak masyarakat yang berada di tempat-tempat tertentu untuk menggunakan transportasi lokal.


Di Bali ada beberapa tempat yang terlihat begitu keras terhadap eksistensi transportasi online. Salah satunya di Tabanan. Di salah satu kabupaten di Bali ini terdapat objek wisata terkenal, yaitu Pura Tanah Lot. Pura yang terletak di atas karang laut yang menyembul ini memang menimbulkan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Ketika diabadikan dalam kamera pun keindahan itu akan semakin terasa apalagi pemandangan diambil di waktu matahari terbenam.

Namun, di balik keindahan dan kemahsyuran itu, tentu ada hal tak mengenakkan bagi mereka yang bepergian ke objek wisata itu dengan menggunakan transportasi online. Seperti sudah disebutkan di atas, Tabanan adalah salah satu wilayah yang keras dan hanya memperbolehkan transportasi online untuk mengantar penumpang.

Hal demikian sebenarnya sudah diutarakan oleh salah satu sopir online yang mengantar penulis ke Tanah Lot pada Selasa, 12 Desember lalu. Akan tetapi, karena belum begitu percaya, penulis tidak begitu memedulikan. Benar saja ketika hendak pulang dari Tanah Lot, penulis mengalami hal yang demikian. Ketika hendak menuju ke tempat pemberhentian transportasi online yang disepakati, tanpa disadari penulis diikuti pemotor yang merupakan intel transportasi lokal. Dia melarang penulis menggunakan transportasi online. Namun, penulis tak hiraukan.

Pada akhirnya penulis bisa menggunakan transportasi online setelah berjalan 2 kilometer di siang terik menuju ke tempat lain yang disepakati, dan si pemotor itu tidak lagi mengikuti. Rupa-rupanya penolakan terhadap transportasi online di Bali lebih dahsyat daripada di Jakarta. Apalagi penulis mendapat cerita ada yang mobilnya dibakar. Sungguh mengerikan.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran