Pages

Selasa, 06 November 2012

Ismail Kadare dan Sejarah Albania

Awal 1990, lelaki berusia 66 tahun itu memutuskan pergi ke Prancis. Namun kepergiannya ke “negeri mode” itu bukan untuk berwisata, melainkan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Ia yakin di negeri yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi itu, karier kepenulisannya akan lebih baik, sehingga akan terus bisa membuat karya-karya yang isinya menyindir apa yang tengah terjadi di negeri asalnya, Albania. Ismaїl Kadaré pun akhirnya hingga kini menikmati kehidupan kepenulisan di sana dari hasil pencarian suaka politiknya tersebut.
***
Itulah gambaran dari perjalanan hidup yang pernah dirasakan Ismaїl Kadaré, sastrawan asal Albania yang sekarang memutuskan tinggal di Prancis demi menghindari tekanan opresif rezim komunis di negeri asalnya. Mengenai Kadaré sendiri, tentunya belum banyak orang di Indonesia yang mengenalnya mengingat karya-karyanya sendiri di Tanah Air baru diterjemahkan tiga buah oleh tiga penerbit yang berbeda. Pertama oleh Jalasutra (Elegi untuk Kosovo, 2004), kedua oleh Marjin Kiri (Piramid, 2011), dan terakhir oleh Serambi (Istana Mimpi, 2012). Namun, itu bukanlah alasan untuk tidak mengetahui si penulis yang rupanya sudah banyak mengantongi berbagai penghargaan di bidang sastra, seperti Man Booker Prize International, Pix Mondial Cino del Duca, Principe Asturias, dan lain-lainnya.
 



Berbicara mengenai karya-karya Kadaré, sesungguhnya secara alamiah memang tak bisa lepas dari Albania, sebuah negara di Eropa Timur yang beribukotakan Tirana. Albania dalam karya-karya tersebut digambarkan sebagai negeri yang tak kunjung lepas dari pendudukan, perlawanan, dan ketidakadilan. Dan ia mengambilnya dari sudut pandang historis lalu menuliskannya dalam bentuk roman sejarah.

Kebanyakan Kadaré dalam karya-karyanya menuliskan tentang kekuasaan kemudian perlawanan atas kekuasaan tersebut. Kekuasaan yang sering digambarkan olehnya secara historis adalah kekuasaan Kekhalifahan Ustmaniyah (Ottoman). Dalam sejarah Albania, Kesultanan Islam terakhir dari Turki itu menguasai negara yang berada di Jazirah Balkan itu selama 433 tahun. Penguasaan yang cukup lama dan melalui peperangan yang melibatkan tiga negara Balkan terhadap Ustmaniyah, Bulgaria, Serbia, dan Albania, secara tidak langsung mempengaruhi cara hidup masyarakat Albania sendiri. Seketika sebagian besar penduduk, seperti halnya di wilayah Balkan lainnya, langsung memeluk Islam, mengikuti cara hidup budaya Turki dengan berpenampilan ala Turki atau minum salep, minuman khas Turki yang terbuat dari sari anggrek. Seperti kebiasaan kekhalifahan, banyak dari penduduk Albania mereka jadikan tentara dan juga pejabat kerajaan, termasuk keluarga Köprülü (Quprili), yang dalam sejarah Utsmaniyah menjadi keluarga yang menyumbang enam wazir agung. Gambaran demikian terlihat jelas dalam Istana Mimpi, salah satu karya termasyhur Kadare. Novel tersebut menceritakan tentang Mark-Alem, seorang keturunan Köprülü yang menjadi pegawai di Tabir Sarrail atau Istana Mimpi, sebuah institusi milik kekhalifahan yang bertugas menyortir dan menafsir mengenai Mimpi Utama yang mungkin akan menjadi pertanda bahaya bagi kekhalifahan. 
 
Karya lain yang lekat dengan Ustmaniyah sebagai latar belakang historis adalah Elegi untuk Kosovo dan The Siege. Di Elegi untuk Kosovo, ia bercerita mengenai ambisi seorang Sultan Ustmaniyah, Murad, untuk menguasai Kosovo, daerah yang banyak dihuni etnis Albania melalui sebuah pertempuran. Di The Siege, menceritakan tentang pertempuran orang Albania melawan invasi Utsmaniyah dengan tokoh utama adalah George Kastrioti Skanderberg atau Iskandar Bey (1405-1468), seorang yang sebenarnya masuk ke dalam kemiliteran Utsmaniyah kemudian membelot melakukan perlawanan. Orang ini kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional Albania. 
 
Dalam karya-karyanya, Ustmaniyah oleh Kadaré digambarkan sebagai kekhalifahan yang kejam, haus kekuasaan, memaksa orang Albania hidup ala Turki, serta menyebarkan Islam melalui jalan perang, yang pada akhirnya membuat sebagian besar orang di Albania mau tidak mau memeluk Islam, atau malah menyingkir ke luar Albania, terutama ke Eropa Barat, seperti Marin Barleti, sejarawan, Marino Bechichemi, dan Gjon Gazulli. Penggambaran itu cukup mendetail, dan bahkan jarang terungkap di sejarah dunia yang umum.
Keadaan yang demikian pada akhirnya menimbulkan nasionalisme pada bangsa Albania itu sendiri untuk melepaskan diri dari kuasa Ustmaniyah pada awal abad ke-20. Albania sendiri dalam sejarah Balkan adalah negara Balkan terakhir yang baru bisa lepas dari Turki pada 1912. Sementara, negara-negara Balkan yang lain sudah merdeka di akhir abad ke-19. Pada saat itu, kekuatan Ustmaniyah memang sedang melemah karena menghadapi berbagai macam pemberontakan di wilayah-wilayahnya.

Lepas dari Ustmaniyah, Albania sempat menjadi bagian singkat dari Kerajaan Serbia, kemudian beralih menjadi republik (1924-1928), dan terakhir kerajaan (1928-1939) sebelum dikuasai Italia pada Perang Dunia ke-2. Pasca Perang Dunia ke-2, Albania menjadi negara komunis dengan Enver Hoxha (1941-1985) menjadi pemimpinnya. Di sinilah sebenarnya Kadare mulai bersinggungan dengan Hoxha melalui karya-karyanya yang secara tidak langsung ia hubungkan dengan kekuasaan Utsmaniyah di masa-masa sebelumnya.

Di masa Hoxha, kehidupan bukannya menjadi lebih baik usai rezim fasis Italia berhasil diusir dari Albania. Hoxha, yang kemudian membuat sebuah paham berdasarkan nama dirinya, Hoxhaist, banyak mengontrol kehidupan di berbagai bidang, termasuk di penerbitan buku. Hal demikian tentu mematikan kreativitas penulis seperti Kadaré yang sebenarnya mempunyai hubungan spesial dengan Hoxha karena lahir di tempat yang sama, Gjirokastër. Di masa Hoxha, sebagaimana negara yang menganut komunis, rakyat dipaksa bekerja melakukan pembangunan dengan dikirim ke kamp-kamp. Bila melawan akan disiksa. Tradisi-tradisi lama ditinggalkan, termasuk juga agama. Masjid dan gereja ditutup atau dihancurkan. Hoxha melakukannya melalui Sigurimi, badan intelijen yang menjadi kaki tangannya.
Namun, Kadaré tidak menyindir secara langsung, melainkan memakai perumpamaan. Zaman Hoxha berkuasa ia hubungkan dengan zaman ketika Utsmaniyah masih bercokol. Kekejaman, ketidakdilan, kediktatoran, dan nafsu kuasa semua tergambar begitu kuat dan detail. Sebuah benang merah tersimpul bahwa kekuasaan Hoxha sama dengan kekuasaan Ustmaniyah. Bahkan ia juga tak segan mengaitkannya dengan kediktatoran Firaun, sebagaimana yang tergambar dalam Piramid. Diceritakan dalam novel tersebut, rakyat Mesir Kuno dikorbankan jiwa raganya dengan berdarah-darah demi membangun sebuah piramida untuk kesenangan Firaun semata. Pengorbanan itu jelas ada kaitannya dengan pemaksaan yang dilakukan Hoxha terhadap rakyat Albania selama ia berkuasa. Akibatnya, karya-karya Kadare dilarang beredar dan kehidupannya pun terancam. Suaka politik mau tidak mau harus dilakukan. Ini sebenarnya sesuai dengan ucapannya yang mengatakan bahwa penulis adalah musuh alami sebuah kediktatoran.
***
Apa yang ditulis Kadaré, jika kita mengambil konteks di Tanah Air, sesungguhnya tak jauh beda dengan apa yang ditulis oleh sastrawan termashyur kita, Pramoedya Ananta Toer. Sama seperti Kadaré, Pram juga menceritakan tentang ketidakadilan, kesewenangan, dan perlawanan terhadap penguasa. Setting dan penceritaan yang diambilnya juga sama. Melalui kejadian historis yang dikemas dalam roman sejarah dengan penggambaran sosialis-realisme. Kalau di Kadaré menceritakan kediktatoran Hoxha melalui penjajahan Utsmaniyah. Di Pram menceritakan kediktatoran Orde Baru melalui penjajahan Belanda. Kedua negara itu secara historis memang sama-sama menguasai negara yang dijajahnya berabad-abad yang kemudian dilawan dengan semangat nasionalisme yang timbul. Maka, tak salah jika membaca Kadaré, seperti halnya Pram di Indonesia, seperti membaca sebuah sejarah Albania yang hendak diluruskan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran