Pages

Senin, 25 Maret 2013

Apa? Uang?


Eh, apa ini? Apa ini nggak salah? Kenapa uang itu diberikan saja secara cuma-cuma kepada para anak-anak itu yang lantas langsung menerima. 

Uangnya jumlahnya besar lagi. Ada sekitar ratusan ribu. Uang sejumlah itu, mungkin, bagi masyarakat perkotaan yang sudah mapan tiada arti. Tetapi bagi mereka itu sungguh berarti. Mungkin juga diriku. Aku sejujurnya juga mau jika diberi uang itu namun, untuk sekarang, ini sungguh sesuatu yang tidak bisa ditoleransi.


Langit cukup cerah. Berawan. Angin sepoi-sepoi berembus. Membuat nyiur melambai-lambai seolah-olah hendak melepas kepergian orang-orang yang sedang ingin melaut. Pemandangan itu sudah cukup bagiku untuk bisa kuabadikan dalam lensa kameraku. Apalagi ada pasir putih perawan memanjang dan cukup menggoda.

Satu-dua-tiga jepretan, aku tangkap pemandangan surgawi itu. Ini seperti di film-film yang berlatarkan pantai yang eksotis. Aku bayangkan diriku di sana. Bermain selancar, lalu ditemani para gadis cantik. Hm...memang benar-benar surgawi. Sayang, mereka tidak ada sekarang. Yang ada hanyalah pantai kosong dengan satu-dua orang hendak melaut. Kecewa sih. Tapi itu tak masalah. Toh, pasti di pantai lain akan ada. Kalau saja ada bidadari-bidadari itu pasti objek fotoku akan bagus.

Aku sekarang berada di sebuah pulau di gugusan kepulauan di Maluku. Sebut saja itu Pulau Merpati meski itu bukan nama sebenarnya. Aku bukannya tidak tahu nama asli pulau ini, tetapi aku hanya tidak hafal namanya yang disebut dalam bahasa lokal. Pokoknya kalau kata si pemanduku di pulau ini kalau dibahasaindonesiakan ya menjadi merpati. Jadi, aku tak salah kan. Kata si pemandu di pulau ini dulunya memang banyak merpati. Namun, entah mengapa, merpati-merpati itu hilang entah ke mana. Aku tanya penyebabnya apa? Dia bilang karena banyak ditangkap untuk dijual. Lantas aku berpendapat, itu sih bukan hilang, pak, tetapi dihilangkan.

Di pulau ini aku sejujurnya tak sendiri. Selain bersama si pemandu, juga bersama rekan-rekan yang lain, terutama dari media massa. Aku sendiri juga termasuk dari media massa, tepatnya dari sebuah majalah pariwisata. Posisinya ya sebagai fotografer atau juru foto. Berbicara posisiku ini, hm...awalnya sih dari hobi sewaktu SMA. Waktu itu aku, entah mengapa, saat melihat foto-foto dalam sebuah majalah berita ternama begitu terkesima. Foto-foto dalam majalah itu begitu realistis dan memukau. Dari situ aku melihat bahwa foto itu bukan sekedar foto, tetapi sebagai sesuatu yang bercerita melalui gambar yang tertangkap. Mulai sejak itu, aku pun jadi tertarik menggeluti fotografi bersama dengan salah satu karibku, Erman, yang sekarang bekerja di majalah berita yang foto-fotonya aku lihat tadi. Objek pertama tentu objek yang sederhana seperti buku, gelas, dan korek api. Kami berdua belajar secara otodidak lewat sebuah buku. Dan kameranya ya berdua menabung. Saat kuliah, aku dan Erman berpisah, aku tetap melanjutkan minatku ini. Bak gayung bersambut di kampusku rupanya membuka ekstrakurikuler fotografi. Tanpa panjang lebar aku segera ikut. Di sinilah kemampuan fotografiku diasah walaupun dari awal lagi. Sering ekskulku ini mengundang para fotografer terkenal yang membuat aku menjadi semangat belajar fotografi. Apalagi di ekskul ini ada seorang wanita cantik. Namanya Vira. Sekarang dia bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan. Aku sempat menjalin hubungan cinta dengannya.

Lepas kuliah, aku akhirnya mantap untuk masuk menjadi fotografer dan tidak peduli dengan jurusanku, ekonomi. Aku berpendapat toh untuk mendapat pekerjaan tidak harus dilihat dari latar belakang pendidikan, tetapi hobi. Dan itu terbukti. Aku diterima di sebuah majalah pariwisata. Sudah sekitar mau dua tahun aku di majalah ini.

Aku bersama dengan rekan-rekan media massa lain, kebanyakan dari televisi, datang ke Pulau Merpati sebenarnya, selain ingin mengekspos keindahan alam pulau ini yang bisa dijadikan potensi pariwisata atas undangan dari pihak pemerintah kabupaten di sana, juga ingin menceritakan sebuah mitos tentang merpati-merpati yang hilang tersebut. Si pemandu tadi kan bilang merpati-merpati hilang karena ditangkap untuk dijual. Namun ada yang menyanggah dan bilang, mana mungkin. Masa iya burung seperti itu harus dijual jika secara ekonomis, penduduk Pulau Merpati yang kebanyakan adalah nelayan bisa menghidupi dirinya dari menjala ikan di lautan. Ini pasti karena perubahan cuaca atau faktor alam lain, begitu kata salah satu rekanku yang berasal dari sebuah majalah keilmuan populer.

Ke pulau itu kami semua menaiki speed boat. Mengarungi lautan yang berirama cukup datar alias minim gelombang. Aku jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sebisa mungkin menangkap pemandangan hidup itu. Apalagi awan yang cukup cerah menghadirkan guratan yang begitu jelas. Guratan yang berpetak-petak. Bila kupotret tentu aku lebih menonjolkan guratan-guratan di awan tersebut. Bagiku itu indah.
Agak sejam untuk mencapai daratan sejak berangkat dari Ternate. Saat sampai, kami disambut secara sederhana oleh penduduk lokal di sana yang diwakili si kepala adat. Aku lihat beberapa kru televisi tampak sibuk mengangkat peralatan-peralatan mereka untuk siaran off air dalam salah satu program mereka.

“Lihat itu, seperti kuli saja mereka,” ujar Andri, salah satu temanku yang ikut dalam rombongan itu. Ia juga berasal dari sebuah majalah pariwisata yang dimiliki salah satu kelompok usaha media terkenal. Sebuah rokok ia isap dengan nikmat hingga membentuk gumpalan asap yang menari-nari lalu menghilang.

“Ah, memangnya lo bukan kuli? Kuli foto!” sanggahku. Ia lalu tertawa-tawa.

Kami berdua bersama rombongan itu lalu masuk ke dalam desa nelayan di sana. Merapat ke dalam sebuah bangunan seperti pendopo. Berbincang sebentar dengan si kepala adat, terutama yang berasal dari televisi bahwa mereka, para kru, mau membuat sebuah dokumenter. Si kepala adat dengan bahasa Indonesia khas Indonesia Timur tampak setuju sebaab bagi dia itu sama saja mempromosikan daerahnya. Aku ketika hendak berangkat, beberapa hari sebelumnya, sudah dipesan oleh redakturku untuk memotret yang indah-indah saja dan merepresentasikan majalah. Itu berarti sesuatu yang sifatnya ironis dan berlawanan tidak boleh dimasukkan. Satu contoh kecil saja: sampah. Jadi, jika ada sampah sekecil apapun jangan dipotret. Apalagi jika wilayah yang dituju diproyeksikan menjadi potensi wisata dan masuk majalah, sedangkan situasi yang didapat tidak mendukung, harus dimanipulasi sebagus mungkin dan meyakinkan.

Jujur, aku agak tidak suka dengan cara demikian. Cara yang sebenarnya melawan hati nuraniku. Membohongi keadaan demi kepentingan di atas. Cara yang membuat yang  melihat jadi begitu yakin, dan ketika ke sana malah kecewa dan kesal. Ini yang kudapati pertama kali sewaktu bekerja jadi fotografer di sini. Awalnya aku iya aja. Senang. Bisa keliling Indonesia, bahkan ke luar negeri. Sesuatu yang aku impi-impikan dari dulu. Tetapi, lama-kelamaan, kusadari buat apa melanglang buana kemana-mana namun hanya kebohongan yang harus kutangkap dalam lensaku. Rasa-rasanya mengkhianati diriku sendiri yang sebenarnya mau masuk majalah berita tetapi malah ditolak. Ya kusadari waktu itu aku masih hijau alias awam apalagi majalah berita membutuhkan foto-foto yang menurutku tidak asal, tidak sembarangan, dan sesuai fakta. Aku tidak lolos sewaktu seleksi pengambilan foto gambar demonstrasi. Alasannya, foto yang kuambil terlalu umum gambarnya, murahan, apalah. Benar-benar seperti sebuah hinaan. Ya aku sadari aku sewaktu memotret agak ketakutan. Apalagi itu sewaktu demonstrasi yang bisa saja berubah menjadi ajang pukul-pukulan antara si pendemo dan polisi. Memang juga itu bukan rezekiku sampai akhirnya aku masuk ke dalam majalah pariwisata ini.

Kalau melihat keadaanku sekarang, rasanya ingin pindah saja ke majalah berita. Toh, aku sudah punya modal yang cukup, dan tahu banyak teknik-teknik pengambilan foto yang benar. Ya, aku merasa percaya diri saja. Tetapi, memang, keinginanku ini aku singkirkan dulu. Tugas ada di depan mata meskipun itu harus dimanipulasi.

Setelah si kepala adat setuju, mulailah para kru televisi memasang alat dan menentukan setting cerita. Dalam setting itu mereka menginginkan ada anak-anak di dalamnya. Supaya anak-anak itu mau mereka memberi uang. Dan inilah yang aku tidak suka. Apa-apaan ini, gumamku tak percaya, kok malah diberi uang. Anak-anak lagi. Kenapa bukan permen saja?

“Lho, mbak kok mereka diberi uang?” tanyaku pada si presenter televisi. Aku tak perlu sebut namanya. Dia presenter televisi terkenal.

“Memang kenapa?” tanyanya sewot padaku, “Nggak salah kan? Supaya mereka mau,”

“Tapi, cara mbak salah,” kataku berargumen, “Itu sama saja mengajari mereka menjadi konsumtif dan menghambakan uang,”

“Jangan sok tau deh lo!” si presenter malah menghardikku, “Mending lo foto aja deh. Ga usah ribet!”

“Saya tetap nggak setuju,” kataku ngotot, “Kalau suatu saat mbak ke sini lagi dan mereka sudah besar mereka akan minta uang ke mbak lagi,”

“Terserah!”

Ketika kami berargumen itu, datanglah salah satu kru televisi mencoba melerai kami. Aku jelaskan permasalahannya mengapa, eh dia malah menyuruhku bungkam. Aku jelas kesal. Apa-apaan ini. Katanya memberitakan kebenaran tetapi kok prakteknya malah membusukkan kebenaran itu. Sesuatu yang ironis. Rancu. Aku memang kurang suka anak-anak itu diberi uang. Berapa lembar pun. Sebab nanti pikiran mereka akan merekam lalu diturunkan ke anak-anak cucunya bahwa kalau ada orang ke tempat mereka harus dimintai uang. Dan uang menjadi sesuatu yang harus diharapkan bak dewa penolong. Kalau begini terus ya bisa dipastikan, terutama para pelancong pas-pasan bisa miskin karena dimintai uang dengan cara diperas yang kemudian membudaya. Kenapa sih tidak memberi permen saja atau coklat asal jangan uang? Bagiku makanan kecil itu perlu dan penting dan tidak akan menimbulkan kesan untuk mengharapkan uang.
Aku yang jelas kesal tetap memotret. Bagaimanapun, aku harus profesional. Seusai acara, Andri berkata padaku,

“Makanya, lo jangan sok idealis segala. Udah tau mereka orang TV. Tentulah yang dicari kualitas tayangan,”

“Ya gue tau,” kataku berargumen, “Tetapi, caranya salah. Pantas aja pariwisata kita jalan di tempat,”

Semenjak kejadian itu, aku malah punya keinginan kuat untuk pindah. Aku harus menjadi fotografer majalah berita. Sesuatu yang aku impi-impikan semenjak SMA melalui gambar-gambar di majalah itu. Aku ingin menjadi bagian dari majalah itu. Aku ingin sekali. Aku ingin memotret sesuai fakta. Memotret sesuai nurani dan bukan pesanan. Oh, semoga saja mereka membuka lowongan. Batinku merasa tersiksa di sini. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran