Pages

Kamis, 17 Juni 2010

Maunya Apa Sih (Kereta)?

Keringat terus bercucuran di tubuh Rino. Padahal baru jam 8 pagi. Begitulah yang tertera di layar handphone-nya saat ia melihatnya. Matahari pagi memang tidak kenal ampun apalagi matahari pagi di Jakarta. Rino berulang kali mengelap keringat dengan lap kecil yang dibawanya sambil terus mondar-mandir duduk-berdiri-jalan dan melihat sesuatu dari arah utara. Belum datang juga dia padahal ini sudah jam 8 lewat 5 menit. Begitulah yang dilihat Rino kembali di handphone-nya. Padahal satu jam lagi ia harus kuliah.

Stasiun Cawang seperti biasanya selalu ramai akan tetapi hari ini lebih ramai daripada biasanya. Karena kereta api yang ditunggu belum kunjung datang maka terjadilah penumpukan penumpang di sepanjang peron Jakarta-Bogor sementara di peron seberang untuk ke arah sebaliknya dalam tiap menit selalu datang kereta-kereta dari Bogor dengan lancar. Pertama-tama Pakuan yang datang tanpa berhenti kemudian kereta ekonomi yang selalu penuh dan sesak hingga ke atas gerbong dan terakhir AC ekonomi yang lumayan padat juga namun teratur.


Rino tak terlalu mau menanggapi. Ia hanya ingin kereta dari arah utara datang sekarang juga atau nanti ia telat kuliah. Sekali lagi dirogoh kantung jins-nya. Dilihat handphone-nya kembali. Ah, tidak sudah jam 8 lewat 15 menit. Rino agak ketar-ketir. Ia tambah berkeringat dan kali ini karena keketar-ketirannya tersebut. Dalam hati ia mengumpat, ngepet! Kakinya bergerak terus-menerus tidak tenang dari duduknya. Ia mencoba menarik napas supaya bisa lega dari keketar-ketirannya. Sayangnya, karena kereta belum datang jadi belum bisa hilang.


Matahari tambah menerik. Menerpa wajahnya. Ia pun kepanasan kembali dan berusaha menunduk saja. Ketika terik matahari menghilang, ia lalu menoleh ke sampingnya. Penumpang-penumpang lain yang seperti dirinya. Beberapa dari mereka ada juga yang seperti dirinya. Panik, kawatir, dan bolak-balik dari tempat duduk. Kebanyakan orang-orang kantoran. Namun ada juga yang santai, masa bodoh, dan acuh tak acuh.
Tiba-tiba datang pengumuman dari pengeras suara oleh petugas stasiun bahwa akan datang kereta dari utara. Rino langsung menyambut antusias dan mengira itu pasti kereta-nya. Namun, semua berubah seketika saat si petugas bilang Pakuan yang melintas langsung. Rautnya langsung menjadi kecewa. Setelah itu Rino merogoh lagi handphone-nya di kantung jins-nya. Sudah jam setengah 9. Gawat, gumamnya, ya udah telat deh gue. Ketika sudah seperti itu ia langsung berpikir apa nanti masuk aja kalau memang telat sementara ia sendiri mengaku malas kalau sudah telat atau yah bolos saja. Toh, absen masih sedikit. Tapi, ia berpikir lagi kalau nggak masuk nggak enak sama dosennya dan teman-temannya.

Kemudian datang lagi pengumuman. Sayangnya, dari arah selatan. Rino kembali mengkerut. Tapi, setelahnya datang lagi. Kali ini dari utara. Rino kembali antusias. Sayangnya, ia kembali kecewa lagi karena yang datang malah AC ekonomi. Waduh, gumamnya, benar-benar sialan nih kereta. Ia tak mungkin naik AC ekonomi sebab kereta ini berbeda dengan kereta ekonomi biasa. Lagipula harga tiketnya mahal dan hanya buang-buang uang demi satu hari. Makanya, ketika AC ekonomi datang ia hanya terdiam lalu berharap kereta ekonomi akan datang setelah ini.
Jam di handphone sudah menunjukkan pukul setengah 9 kurang 10. Itu tandanya ia hanya punya waktu 10 menit ke kampus. Tetapi, rasanya mustahil karena kereta selain datang telat juga lambat jalannya. Ia berangan-angan kapan semua orang di sini bisa tepat waktu kalau kereta yang dianggap tercepat seperti ini terus. Suka menyiksa. Toh, waktu 5-10 menit itu cukup untuk dia ke kampus dengan kereta. Tapi, kenyataan sebaliknya.


Di tengah kekesalannya kembali datang pengumuman. Si petugas bilang dari arah utara. Rino biasa saja menyambutnya karena pasti bukan kereta ekonomi melainkan kereta yang lain. Tetapi, rautnya berubah senang ketika akhirnya diumumkan yang akan datang kereta ekonomi. Ia langsung mempersiapkan diri. Ia lihat dari utara tampak kereta sedang berjalan dan lambat sepertinya. Ia bergumam, udah telat lambat lagi.

Ketika kereta sampai ia langsung masuk. Keadaan di dalam tampak sepi. Tetapi, ia tak duduk dan berdiri di dekat pintu. Ia lalu melihat jam handphone-nya. Sudah jam setengah 9 kurang 20 menit. Ia sudah pasti telat. Rino tak tahu lagi harus berbuat apa. Kereta lalu berjalan meninggalkan stasiun menuju stasiun-stasiun berikutnya. Ketika sampai di stasiun Pasar Minggu, kereta malah mengaso sebentar karena ada Pakuan di belakang. Rino tambah sebal dan ingin marah. Beberapa menit kemudian setelah Pakuan melintas kereta berangkat lagi.

Ketika kereta sampai di tujuannya di stasiun UI, ia langsung turun dan melihat handphone lagi. Sudah jam 9 lewat 15 menit rupanya. Sudah di ambang batas telat. Awalnya ia merasa tak ingin masuk sampai kemudian berubah pikiran. Ia langsung berlari dan sesampainya di kelas ia merasa aneh. Tampak di situ hanya ada teman-temannya.

“Ngapain lo?” tanya salah seorang temannya, “Ngos-ngosan gitu?”
“Nggak ada dosennya?” tanyanya.
“Iya, nggak ada,” jawab temannya, “Barusan ada telpon kalau dia nggak bisa ngajar hari ini karena sakit,”
Rino yang mendengar hal itu segera terkejut dan kesal,
“Ah, sialan! Kalo gitu ngapain gue tadi buru-buru! Brengsek!”
“Ya udahlah,” kata temannya, “Lo duduk aja dulu,”
Ia segera duduk di sebuah bangku kosong. Kemudian memandang ke depan kelas dan bergumam dengan kesal, Sialan! Udah dikerjain sama kereta nggak ada dosen juga lagi! Maunya apa sih?

1 komentar:

  1. Anda semua yang juga memanfaatkan jasa kereta pasti sering dibuat kesal..terinspirasi dari kenyataan.

    BalasHapus

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran