Pages

Kamis, 21 Februari 2013

Garis Batas

http://ekonomisyariat.com/gambar/garis-batas.jpg
ekonomisyariat.com
Sebagian dari Anda pasti sudah membaca Garis Batas, sebuah sastra perjalanan karya dari seorang traveler, Agustinus Wibowo. Di dalam buku itu. dengan menggunakan subjek "saya", sang penulis menceritakan kisah perjalanannya menjelalajah negara-negara berakhiran "stan" di Asia Tengah. Sebuah perjalanan lintas batas yang mempunyai banyak cerita. Berhadapan dengan sisi sosiologis, antropologis masyarakat setempat. Sebuah perjalanan yang membuat kita di Tanah Air, jika membandingkan keadaan di sana, lalu berujar: oh, ternyata masih lebih enak di Indonesia ya.


Dalam Garis Batas itu kita diajak oleh sang penulis menelusuri negara-negara "stan" seperti Kyrgiztan, Turkmenistan, Kazahkstan, Uzbekistan, dan Tajikistan. Semua negara "stan" itu mempunyai kesamaan, sama-sama bekas wilayah Uni Soviet, dan sama-sama berbahasa Rusia. Namun ada yang unik pada perjalanan itu. Sang traveler menceritakan tentang garis batas antara negara-negara "stan" tersebut. Sebuah garis batas yang tidak biasa. Sebuah garis batas yang dibentuk, bukan hanya tujuan geografis, tetapi juga tujuan politis. Dalam buku itu, kita bisa melihat bagaimana garis batas antara satu negara "stan" dengan "stan" lainnya ada di belakang rumah, atau malah di dalam rumah. Garis batas yang tentu saja sudah memisahkan keluarga yang berada di dalamnya dalam tanda kutip.

Garis batas, dalam kehidupan ini, memang "patut" ada. Ia memang diciptakan untuk membatasi segala sesuatu yang bisa saja keluar dari koridor yang ditetapkan. Kita perandaikan saja kereta api. Tentulah ia harus melewati rel sebagai landasan perjalanannya berdasarkan koridor-koridor penetapannya. Batas-batas pun juga sudah ditetapkan. Mulai dari bentuk rel, bentuk gerbong, kapasitas gerbong, jurusan, hingga jam keberangkatan. Batas-batas itu harus dipatuhi supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti kecelakaan. Batas juga diciptakan supaya manusia menyadari sampai sejauh mana kemampuannya seperti jangan bekerja terlalu berlebihan yang pada akhirnya bisa sakit.

Garis batas, pun bisa diciptakan siapa saja. Manusia, hewan, bahkan Tuhan. Hanya saja garis batas yang diciptakan manusia terkesan mengada-ngada daripada yang menciptakannya. Jika Tuhan sudah menetapkan batasan yang tegas dalam kitab suci, manusia malah sebaliknya. Garis batas di negara-negara "stan" hanyalah satu contoh garis batas geopolitik di dunia yang terkesan aneh. Di Tanah Air, hal demikian cukup banyak. Garis batas itu cukup membuat banyak pihak kesusahan terutama mereka yang sangat membutuhkannya. Anda tentu ingat dalam belakangan terakhir ada kasus meninggalnya salah satu bayi kembar akibat ditolak rumah sakit karena alasan-alasan yang terkesan klasik, tidak ada dana, birokrasi, hingga kurang fasilitas. Hal itu terjadi sebab garis batas yang sudah ditetapkan rumah sakit. Garis batas yang sesungguhnya bisa ditembus melalui tuntasnya urusan administratif. Tapi, apa lacur, apakah semua itu bisa dituntaskan begitu saja jika ternyata mereka yang membutuhkan dan terbentur garis batas itu adalah yang tidak mampu?

Garis batas juga menjadi makna yang kabur. Bisa dipermainkan ke sana kemari demi satu tujuan kelompok. Kita tentu ingat bagaimana Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, malah ikut kampanye salah satu pasangan pilgub Jabar, Rieke-Teten. Padahal, dalam kapasitas politis, Jokowi mempunyai batasan bahwa ia adalah gubernur bukan simpatisan, bukan juga sebagai magnet kampanye. Garis batas yang sudah ditetapkan oleh semua pihak bahwa tidak boleh salah satu pejabat ikut kampanye menjadi sesuatu yang nikmat dilanggar sebab garis batas bernama peraturan tidaklah bersifat tegas. Tegas itu ya hanya pada kertas atau pada orang-orang, yang katakanlah, tidak mempunyai kekuatan. Sedangkan pada orang yang mempunyai kekuatan, semua menjadi tiada arti.

Pada akhirnya, garis batas bisa jadi hanyalah sebuah imajiner dalam alam pikiran manusia yang selalu tidak puas, dan menginginkan segala-galanya. Garis batas hanya berlaku bagi yang harus mengikuti peraturan, sedangkan yang membuat tidak. Tidak ada keadilan dalam garis batas.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran