Pages

Kamis, 30 Agustus 2012

Sastra Indonesia: Sastra Multikultural


Tujuh tahun silam, saya mengambil kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di Indonesia. Nama perguruan tinggi itu adalah Universitas Indonesia. Lalu jurusan yang saya ambil adalah Sastra Belanda (sekarang Program Studi Belanda). Kalau melihat dari nama belakangnya, jelas orang sudah tahu bahwa itu adalah sebuah negara yang cukup lama mempunyai kaitan erat secara historis dengan Indonesia. Ketika saya masuk ke jurusan itu, nyatanya bukan hanya bahasanya saja yang saya pelajari, tetapi juga kebudayaan dan sastranya. Khusus mengenai sastranya, Belanda memproklamasikan bahwa sastra mereka sama dengan kondisi masyarakat mereka sekarang ini: majemuk dan pluralis. Hal itu dikarenakan banyaknya para penulis dari luar “negeri kincir angin” tersebut, yang kebanyakan para imigran. Istilah untuk mereka adalah immigrantenliteratuur. Sebut saja Kader Abdollah, Lulu Wang, Abdelkader Benali, dan Mustafa Stitou adalah contoh-contoh para penulis imigran yang berhasil eksis di Belanda. Keberadaan mereka jelas membuat situasi yang berubah dalam dunia sastra Belanda, terutama dalam hal penceritaan, bahasa, dan pembawaan budaya dari negeri asal. Dari penceritaan, tentu saja berpusat pada sesuatu yang berasal dari penulis itu sendiri mengenai keberadaannya di tempat baru. Ini berkorelasi langsung dengan pembawaan budaya yang terkadang malah kontras satu sama lain. Dalam bahasa, bahasa para penulis imigran itu lebih gampang dimengerti, simpel, dan tidak bertele-tele. Berbeda dengan penulis asli Belanda yang gemar berbahasa panjang dan membuat pembacanya mengerutkan dahi tanda tak mengerti.

Nah, kalau Belanda begitu bangga mengatakan adanya unsur multikultularisme dalam sastranya, bagaimana dengan negara bekas jajahannya, Indonesia?
***
Berbicara mengenai sastra Indonesia, sejujurnya pikiran saya tidak bisa dilepaskan dari yang namanya Sitti Nurbaya, Layar Terkembang, Robohnya Surau Kami, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Yang demikian itu sering dijadikan bacaan wajib bagi para siswa terutama saat pelajaran bahasa Indonesia. Biasanya dalam pelajaran itu para siswa disuruh mengapresiasi karya-karya itu yang kebanyakan dalam bentuk hafalan dan bukan menuliskan suatu kritik mengenai karya-karya tersebut.

Itulah yang masih tertanam dalam pikiran saya dan itu akhirnya berubah ketika saya di bangku kuliah. Bahwa sastra bukanlah hafalan seperti halnya sejarah. Sastra adalah bagian dari kebudayaan yang harus diapresiasi serta mempunyai nilai yang subjektif jika itu bersinggungan langsung dengan penulisnya. Dan akan menjadi objektif jika ia kemudian dimasukkan dalam tataran ilmiah.

Memang antara sastra dan sejarah, seringkali orang merasa rancu di antara keduanya. Tidak juga bisa dihindari bahwa keduanya saling berhubungan. Sebab pada awal kemunculan budaya tulis-menulis, mengisahkan sesuatu yang bersejarah akan dilakukan dengan cara bersastra, seperti berpantun atau berhikayat.

Keterkaitan antara sastra dan sejarah juga berhubungan dengan sifat multikultural dalam sastra Indonesia itu sendiri. Multikultural dalam sastra Indonesia itu sendiri muncul akibat kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk dan pluralis karena terdiri dari banyak suku bangsa, agama, kepercayaan, etnis, dan juga pulau-pulau. Multikultural dalam sastra Indonesia terbilang unik sebab merupakan perpaduan budaya antara Timur dan Barat yang kemudian berasimiliasi membentuk budaya Indonesia. Namun, jauh sebelum munculnya budaya-budaya dari luar seperti dari India, Arab, Cina, juga Eropa, keadaan sastra Indonesia sendiri sudah cukup multikultural. Hal ini karena tiap suku bangsa yang ada mempunyai ciri khas karya sastra masing-masing. Seperti Sure Galigo dalam sastra Bugis dan kakawin dalam sastra Jawa. Lalu budaya-budaya dari luar itu, termasuk yang membawa agama menjadi pelengkap dan memperkaya khazanah sastra Indonesia itu sendiri.

Sifat multikultural sastra Indonesia ketika memasuki awal sastra modern tidaklah nampak dan hanya samar-samar, sebab pada masa, yang dalam terma sejarah sastra Indonesia disebut sebagai zaman pujangga baru, kebanyakan yang ditampilkan hanyalah permasalahan rumah tangga semata yang sifatnya normatif dan hitam putih. Coba simak dalam Sitti Nurbaya atau karya sejenis yang kebanyakan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit yang berfungsi sebagai corong propaganda Pemerintah Hindia-Belanda ketika itu. Sifat multikultural itu justru ada pada terbitan di luar Balai Pustaka. Sebut saja Loe Fen Koei, Bunga Roos dari Tjikembang, atau Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo. Jika dilihat kebanyakan justru dari etnis Cina atau pribumi, tetapi yang menentang feodalisme.

Barulah pada masa setelah kemerdekaan, multikulturalisme semakin nampak. Balai Pustaka sebagai corong pemerintah kolonial tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya untuk membuat karya sastra yang hitam-putih dan manis. Multikulturalisme itu ditandai dengan runtuhnya dominasi penulis dari Sumatera Barat lalu bermunculanlah penulis-penulis dari luar Sumatera Barat, yang pada masa zaman pujangga baru tidak dianggap sama sekali. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Putu Wijaya, dan sebagainya.

Dari mereka-merekalah multikuluralisme itu muncul melalui kegelisahan-kegelisahan yang mereka hadapi yang berkenaan dengan cara pandang mereka terhadap kebudayaan asal mereka sendiri. Hal itu lalu dituangkan dalam bahasa Indonesia, yang sudah disepakati sebagai bahasa nasional, namun dalam bahasa itu tak lupa mereka memasukkan istilah-istilah dari daerahnya yang nyatanya berpengaruh besar dalam kosakata bahasa Indonesia.

Multikulturalisme dalam sastra Indonesia semakin menjadi-menjadi ketika memasuki era reformasi yang berlangsung hingga sekarang. Atas nama kebebasan berekspresi, multikultralisme itu kemudian dituangkan dalam bentuk apresiasi terhadap kelamin, sehingga melahirkan sastra kelamin yang dipelopori Jenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Juga dalam bentuk roman sejarah, mengingat pada masa orde baru banyak yang dipalsukan, dengan cara penulisan yang tidak biasa alias terkesan tidak formal dan meledak-ledak. Hal demikian berpengaruh besar pada situasi sastra Indonesia sekarang ini, terutama pada situasi sosial, yang masyarakatnya tak perlu takut lagi mengutarakan sesuatu. Keadaan demikian ditambah dengan pesatnya teknologi sehingga memudahkan penyampaian informasi mengenai karya sastra sekarang yang akhirnya dapat dibaca, diserap, dan diapresiasi dalam waktu singkat.  Apalagi penerbitan buku tak lagi terpusat di Jakarta, melainkan juga di luar Jakarta, seperti Yogyakarta dan Bandung.

Hanya saja maraknya paham multikultural dalam dunia sastra Indonesia sekarang ini tidak diimbangi dengan semakin membaiknya kuantitas dan kualitas budaya baca di Indonesia yang masih rendah. Paham multikultural dalam sastra Indonesia itu sendiri sebenarnya hendak memberikan sesuatu yang mencerahkan, terutama pada era reformasi ini, yang sarat akan kebebasan informasi. Apalagi selepas reformasi banyak persinggungan negatif terjadi, baik antaretnis, agama, dan golongan. Mengacu pada pendapat Taufik Ismail, bahwa itu disebabkan oleh rendahnya budaya baca di Indonesia, sehingga orang Indonesia sendiri buta akan sejarahnya. Padahal jika mau mengapresiasi, minimal dengan membaca, konflik-konflik yang terjadi sejatinya bisa diminimalisasi, dan mereka tahu bahwa mereka hidup di lingkungan yang multikultural.
***
Sekarang bisa diketahui bahwa sejatinya sastra Indonesia adalah sastra multikultural. Multikulturalnya tercipta secara alamiah, bukan buatan. Multikultural dalam sastra Indonesia itu sendiri terjadi melalui asimilasi dan akulturasi yang sifatnya positif, tidak seperti di negara-negara lain, contohnya Belanda yang mungkin terjadi melalui persinggungan negatif, terutama melalui konflik dengan lingkungan sekitar. Bahkan karena sifatnya itu, sastra Indonesia bisa menjadi acuan sastra dunia. Sayang, apresiasi yang kurang, terutama di lingkungan sekolah, bisa menjadi penyebab utamanya. Apalagi kalau masih menyuruh siswa membaca lagi karya-karya sastra yang sudah tidak lagi relevan. Inilah yang masih harus diperbaiki.

1 komentar:

  1. PENGEN DAPAT JUTAAN?
    YUK LANSUNG AJA KE ZEUSOLA!

    Hanya Dengan Deposit Pulsa, Gopay & OVO Sudah Bisa Bermain Dan Meraih Keuntungan Yang Besar Jutaan Rupiah Hingga Sepeda Motor !

    Tunggu Apalagi Segera Daftar Dan Bermain Di Zeusbola!
    Jangan Lewatkan Jackpot Anda!

    INFO SELANJUTNYA SEGERA HUBUNGI KAMI DI :
    WHATSAPP :+62 822-7710-4607


    BalasHapus

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran