Pages

Rabu, 29 Agustus 2012

Tuhan, Izinkan Aku Lepas Darinya

Aku ingin teriak. Tapi apakah teriakanku ini didengar? Terutama oleh mereka yang berhubungan dengan diriku? Peduli setan, yang jelas aku ingin teriak. Teriak pada ketidaknyamananku. Dan kenyamanan itu ada di dekatku. Paling dekat. Setiap hari ia bersamaku. Dalam tiap menit, detik, jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Bisa dibilang aku mengenalnya. Ya, bisa dibilang. Walau terkadang dalam beberapa hal aku malah tidak mengenalnya.

Baiklah, ketidaknyamanan ini sudah aku rasakan semenjak aku mengenalnya. Tetapi, secara pastinya aku tidak tahu. Yang jelas ia sudah ada di dekatku dan selalu bersamaku. Bersama melewati hari-hari yang kadang kelam. Kadang terang. Atau malah kadang bukan kedua-duanya. Pada awalnya sih, aku enak-enak saja dengannya. Berkenalan secara perlahan walau mungkin ada penolakan. Entah itu bisa di aku sendiri atau dirinya.

Tak ada ingatan pasti dariku mengenai dirinya. Tapi, sejak awal aku sudah mengenal bahwa ia selalu memberontak. Tidak mau mendengarkan orang yang dekat dengannya dan selalu memaksa diriku untuk melakukan apa yang ia mau. Terutama terhadap hal-hal yang bertentangan, yang Tuhan telah ajarkan padanya. Mengenai itu aku jadi sedikit teringat ketika ada sesosok cahaya besar menyuruhku untuk masuk ke sebuah sosok yang sedang diciptakan dalam sebuah rahim. Sosok cahaya itu berkata kepadaku,

“Kau masuklah ke dalamnya,” perintah sosok cahaya itu kepadaku. Pada saat itu sosok yang ada dalam rahim itu hampir mendekati jadi.

Namun ketika melihat ke sosok itu dengan meneropongnya, aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sesuatu yang sepertinya akan menjadi bumerang bagi diriku.

“Maaf, bukan hamba menolak,” kataku menolak karena sosok itu benar-benar akan menjadi sosok yang menyiksa diriku, “Tetapi, hamba tidak mau,”

“Apa kau berani menolak perintahKu, wahai ciptaanKu yang hina?” tanyanya dengan nada yang menggelegar. Mendengar itu aku bergetar dan ketakutan, “Masuklah dan turuti perintah Tuhanmu!”

Aku yang dalam keadaan seperti itu, segera menuruti perintah sesosok cahaya yang rupanya adalah sang penciptaku sendiri. Yang mempunyai segala kuasa atas diriku. Yang mempunyai lebih dari yang kupunya yang mungkin hanya seujung rambut. Dia yang benar-benar membuat semuanya tunduk. Begitu juga iblis.

Lalu masuklah aku. Mendiami sosok itu seperti air yang mengisi suatu ruang. Lalu terciptalah suatu nafas yang amat sangat dibutuhkan, nafas kehidupan. Suatu nafas yang amat sangat vital.



Jepretan kamera itu tiada henti menerpa dirinya. Jepret sana. Jepret sini. Kilatan itu seakan memantul mengenai kulit putih yang mulus itu. Dan itu bagaikan kulit yang tercambuk keras dan berulangkali. Rasanya tentu sakit. Sakit sekali. Aku tentu sudah tidak tahan jika keadaannya seperti itu. Ingin minta itu dihentikan. Tetapi, si pemilik kulit malah kelihatannya asyik. Senyum-senyum saja. Mengikuti arahan sang fotografer di sebuah studio foto itu. Dengan berpakaian semi terbuka, maka semakin menjadilah serbuan kilat itu. Menyilaukan. Membuatku geram dan ingin berteriak.

Kenapa kamu mau kulitmu menjadi santapan kilat itu? Dinodai satu per satu dengan titik-titik cahaya yang lekas tak berbekas? Lalu berpakaian dengan memperlihatkan kulit indahmu yang mulus itu? Bukankan seharusnya itu menjadi privasimu, wahai si pemilik kulit, Rini?

Ya Rini. Engkaulah si pemilik kulit itu. Orang yang selalu bersamaku. Yang satu langkah, satu kata, dan satu hati. Tetapi, sebenarnya bertentangan. Dalam beberapa hal kau selalu menolak mentah-mentah saranku. Padahal, saranku baik. Saran itu adalah titipan dari Sang Pencipta kepadaku sesaat sebelum aku memasuki dirinya.

“Aku cuma meminta kepada dirimu agar kau mengarahkannya baik-baik,” ujar Sang Pencipta kepadaku.
“Tetapi, ia akan melawan, wahai Engkau yang menciptakan diriku,” kataku yang sepertinya ragu bahwa aku akan bisa mengarahkan ia seperti yang diminta, “Ia akan melawanku,”

“Itu sudah sifat alami,” kata Sang Pencipta, “Dan sudah menjadi tugasmu lah untuk bisa setidaknya memberinya saran atau peringatan agar ia tak terjerembab. Kemudian masuk ke nerakaku,”

“Hamba mengerti dan akan melaksanakan,” ujarku yang mau tidak mau harus menuruti karena itu adalah perintah nan sakral.

Tetapi, apa daya dan seperti yang sudah kuperkirakan, Rini melawanku. Selalu aku menyarankannya untuk tampil dengan pakaian sopan dan tidak mengundang nafsu berahi lelaki, terutama lelaki hidung belang.

“Kamu pikir dirimu siapa? Ulama? Ustad? Atau Tuhan? Tuhan aja nggak repot sama diriku. Kok kamu repot? Suka-suka aku dong!”

Ketika aku berikan penjelasan mengapa, ia malah balas menghardikku,

“Tergantung orangnya dong. Sekarang zamannya kebebasan berekspresi. Mau-mau diriku dong! Lagian kamu siapa aku sih? Pergi sana!”

Itulah yang setiap hari aku lakukan. Sebisa dan semampu mungkin mengarahkan Rini menjadi yang baik-baik. Penolakan-penolakan dari dirinya kepadaku sudah seperti menjadi santapan sehari-hari. Seharusnya, aku sudah bisa tahu di mana celahnya. Tetapi, sayang hingga hari ini aku belum dapat menemukannya. Apalagi dalam penolakan-penolakan itu, selalu saja iblis menghalangiku. Ia selalu tertawa-tawa.

“Sudah tak ada gunanya kamu tiap hari mengarahkan dia,” ujarnya sambil berenang di dalam aliran darah dalam tubuh Rini, “Kamu bukan siapa-siapanya dia lagipula,”

“Memang menurutmu aku bukan siapa-siapanya,” kataku seraya membela diri, “Tapi, Sang Pencipta sudah titipkan tugas padaku untuk terus mengarahkannya supaya ia tidak menemanimu,”

Iblis tertawa-tawa mendengar ucapanku.

“Basi!” ujarnya, “Percuma. Lagipula dia lebih senang mendengar diriku daripada kamu!”

Kembali ia tertawa. Jujur, tertawaannya itu membuatku membencinya. Tawa yang mengandung kesombongan dan kesombongan itulah yang menyebabkan ia harus hengkang dari surga karena menolak sujud kepada Adam.

“Kamu sebaiknya diam saja dan mengendap,” ujarnya lagi mengejekku, “Abaikan saja perintahNya. Selesai kan?”

“Selesai kalau memang tugasku sudah seharusnya selesai,” ujarku membalas, “Tapi, ini belum,”

Iblis tertawa-tawa kembali dan kemudian lenyap entah kemana.


Sejujurnya, aku ingin bertanya ini derita atau cobaan? Kalau memang derita, ada baiknya aku pasrah. Tetapi, kalau cobaan sebaiknya tidak. Namun antara kedua-duanya bisa jadi sama dan akan tertukar maknanya. Tapi, sudahlah aku tak mau bermain pada tataran linguistik itu sebab aku tak begitu memahaminya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku saat ini berada di antara keduanya.

Aku merasa sebenarnya sudah lelah menghadapi Rini. Mungkin bukan hanya lelah tetapi juga menangis. Menangis teramat sedih. Menyaksikan tingkah lakunya dalam cahaya yang berburam. Membiarkan dirinya dinodai oleh lawan jenisnya lalu berteriak kesakitan dan mendesah. Ia lakukan itu berulangkali dan itu membuatku merasa harus lepas darinya. Bagiku, mungkin itu yang terbaik. Tetapi, Sang Pencipta menegurku,

“Tetaplah di situ sampai aku putuskan kau sudah tidak bersama dirinya lagi. Janganlah seperti Yunus,”

Dan teguran itu, mau tidak mau, harus aku patuhi. Lalu kisah tentang Yunus. Yah, aku tahu kisah itu. Kisah seorang nabi yang diutus Tuhan kepada suatu kaum. Dengan tujuan agar kaum itu mau taat dan menyembah kepadaNya. Namun kaum itu rupanya ogah dan keras kepala, maka menantang Yunus. Yunus yang kesal dan putus asa lalu meninggalkan kaumnya sebelum datang perintah dariNya. Ia pun hendak menuju ke tempat lain dengan menumpang kapal. Tiba-tiba badai pun datang, dan kapal yang ditumpanginya pun oleng. Yunus pun tenggelam. Seekor ikan besar menelannya hidup-hidup. Ia sendiri tidak mengerti kenapa sebelum akhirnya si ikan menjawab bahwa ia disuruh Tuhan menelannya karena perilaku Yunus yang meninggalkan kaumnya. Yunus pun menyadari kesalahannya. Kemudian Tuhan memerintahkan si ikan besar itu merapat di pantai dan mengeluarkan Yunus dan Yunus akhirnya kembali kepada kaumnya untuk berdakwah.

Aku memang bukan Yunus. Dan aku juga bukan seorang nabi. Tapi, sepertinya Ia memandangku agar jangan berperilaku seperti manusia pilihannya. Kemudian menunggu komandonya kapan aku harus pergi. Sungguh, bagiku itu terasa lama karena itu takkan pasti dan mendadak. Apalagi bagi diriku yang sudah tidak betah bersama Rini yang makin lama mengawang-awang di dalam dunianya dan melupakan diriku.

Rini, wanita itu, yang sepertinya adalah bumerang bagiku. Bukan hanya bagiku. Tetapi juga orangtuanya dan saudara-saudaranya. Orangtuanya berulangkali menasehati, tetapi ia acuh. Saudara-saudaranya ia remehkan. Bahkan ia menantang keras dan kerap terganggu dengan lingkungan keluarganya yang religius. Selalu ia beralibi ini-itu jika disuruh berperilaku religius, yang sebenarnya baik buat dirinya dan ia hanya seperti itu ketika pada saat tertentu saja. Sampai-sampai aku menegurnya sekaligus menyindirnya. Tetapi, selalu ia melawan dengan mengatakan,

“Eh, memang kamu siapa? Nggak ada yang sempurna manusia. Suka-suka aku dong!”

Manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi ia pasti akan selalu berusaha mendekati apa yang dinamakan kesempurnaan.

“Terus? Kamu mau maksa? Udah deh sana pergi!”

Dan begitulah. Aku terdiam tak bisa menjawab. Ia telah begitu keras denganku. Sulit bagiku untuk bisa berkompromi dengannya.

Maka dari itu, aku ingin teriak. Teriak kepadaNya. Mungkin cuma Dia yang bisa mendengar. Aku ingin berteriak kenapa aku harus bersamanya. Bersama dengannya yang sepertinya takkan mau diajak akur dan bekerja sama demi satu tujuan: surga. Haruskah di sini terus. Terus-terusan menasehatinya. Terus-terusan dilawan sampai aku merasa apa yang kulakukan percuma. Iblis kulihat begitu berhasil mendekapnya dengan erat. Rini pun mau saja tergoda. Semakin jauh dariku dan juga dariNya.

Oh, katakanlah Tuhanku, aku sudah tidak betah dan ingin keluar darinya. Biarlah aku, rohMu ini melayang untuk kembali kepadaMu daripada aku harus menderita. Oh, katakanlah wahai Tuhanku. Izinkan aku tak bersamanya lagi. Selamanya.

1 komentar:

  1. PENGEN DAPAT JUTAAN?
    YUK LANSUNG AJA KE ZEUSOLA!

    Hanya Dengan Deposit Pulsa, Gopay & OVO Sudah Bisa Bermain Dan Meraih Keuntungan Yang Besar Jutaan Rupiah Hingga Sepeda Motor !

    Tunggu Apalagi Segera Daftar Dan Bermain Di Zeusbola!
    Jangan Lewatkan Jackpot Anda!

    INFO SELANJUTNYA SEGERA HUBUNGI KAMI DI :
    WHATSAPP :+62 822-7710-4607


    BalasHapus

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran