Pages

Sabtu, 01 Februari 2020

3 Negara Asia Timur yang Pernah Melawan AS pada Abad ke-20

Axios

Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu negara adidaya yang gemar berperang di negara lain. Sejak kemerdekaan negara itu pada 1776, tercatat sudah banyak peperangan yang dilakukan.

Mulai dari dataran Amerika, Eropa, Afrika, hingga Asia, semuanya pernah merasakan salakan senapan mesin, derap langkah lars, dentuman meriam hingga kedahsyatan bom AS.

Dari situ pula timbul banyak korban jiwa. Kebanyakan rakyat sipil yang tidak tahu sama sekali perihal berperang.

Belakangan ini juga kita melihat para serdadu Paman Sam gemar berperang di Timur Tengah dengan alasan HAM dan kebebasan berpendapat alih-alih sumber daya alam seperti minyak.

Namun sebelum sering beraksi di Timur Tengah, para serdadu negeri asal Rambo lebih banyak memuntahkan senjata di kawasan Asia Timur terutama pada abad ke-20.

Tercatat dalam berperang di kawasan tersebut, AS telah menghadapi 3 negara kulit kuning. Apa saja sih 3 negara di Asia Timur itu? Yuk, mari kita simak!

Negara-negara Asia Timur yang Pernah Melawan AS


Jepang

National Interest
Negara pertama di Asia Timur yang dihadapi AS dalam sejarah perang abad ke-20 adalah Jepang. Ya, AS menghadapi Jepang dalam Perang Dunia Kedua di kawasan Pasifik pada 1941 hingga 1945.

Awal mula peperangan kedua negara ini dimulai dari ulah Jepang yang secara mendadak menyerang pangkalan militer AS di Pearl Harbour pada 7/8 Desember 1941.

Penyerangan mendadak yang menimbulkan banyak korban jiwa, dan sampai sekarang diingat sebagai hari memalukan dalam sejarah AS itu membuat Paman Sam tak perlu berpikir panjang untuk mendeklarasikan perang terhadap Jepang beberapa jam setelahnya.

Setelah penyerangan mendadak yang menuai kesuksesan itu, Jepang makin digdaya untuk berperang ke negara-negara Asia-Pasifik yang dikuasai kolonialis kulit putih.

Semua mencapai puncaknya ketika Jepang berhasil menaklukkan pertahanan orang kulit putih terakhir di Corregidor, Filipina, pada Mei 1942.

Ironisnya, pertahanan tersebut juga digawangi oleh AS, negara kulit putih terakhir di kawasan Asia-Pasifik.

Namun setelah rentetan kemenangan yang gilang-gemilang itu, Jepang mulai kehilangan taji terutama setelah pertempuran di Midway pada Juni 1942, dan mulai banyak mengalami kekalahan.

Puncaknya adalah pada 6-9 Agustus 1945 ketika AS mengebom Hiroshima dan Nagasaki, dan membuat Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945 lalu penyerahan diri pada 2 September 1945.

Meskipun ada yang sangsi bahwa Jepang menyerah bukan karena bom atom tetapi serangan pasukan Uni Soviet di Manchuria pada 9 Agustus 1945.

Alasan Jepang nekat dan berani menyerang negara-negara kulit putih di Asia-Pasifik, terutama AS selain didasari oleh nasionalisme yang tinggi, penyetaraan hak dengan orang-orang kulit putih, juga karena kebutuhan ekonomi dan sumber daya alam yang meningkat setelah Restorasi Meiji.

Apalagi, AS berani mengembargo minyak bumi ke Jepang akibat tindakan brutal para serdadu Negeri Sakura di Nanjing, Cina, pada 1939.

Kini, setelah Perang Dunia Kedua, AS malah berkawan dengan Jepang, dan menjadikan Jepang sebagai sekutu strategis terutama untuk menghadapi Cina.

Namun, AS masih berhadapan dengan Jepang di bidang perdagangan dan teknologi, dan mobil-mobil Jepang seperti Toyota dan Honda sukses di pasar Negeri Paman Sam.

Korea Utara

History.net
Kamu yang sering membaca berita di internet atau menonton televisi tentu tahu perseteruan AS terhadap Korea Utara terkait dengan rudal nuklir yang dimiliki oleh negara Kim Jong-un tersebut.

Nah, perseteruan ini bukanlah yang pertama kali mengingat ini adalah perseteruan lanjutan setelah berakhirnya Perang Korea melalui sebuah gencatan senjata pada 1953.

Di perang yang meletus di Semenanjung Korea itu, AS secara tidak langsung terseret di dalamnya, dan menghadapi Korea Utara yang berhaluan komunis.

Keterlibatan AS pada perang selama 3 tahun ini (1950-1953) dimulai ketika negara tersebut menjadi pelindung dan pemberi bantuan militer terhadap Korea Selatan yang non-komunis.

Semua dilakukan Negeri Paman Sam supaya Korea Selatan tidak jatuh ke tangan Korea Utara yang dibeking penuh oleh Uni Soviet dan Cina.

Apalagi pihak AS beranggapan setelah merdeka pada 1948, Korea Utara semakin agresif dalam persenjataan yang dibantu Uni Soviet.

Meski begitu, pihak AS sama sekali tidak menambah pasukannya untuk menjaga Korea Selatan apalagi setelah diberlakukannya Garis Paralel ke-38 sebagai pemisah kedua negara pada 1946.

Akibatnya, tanpa disadari Korea Utara yang kuat dalam persenjataan dan ketentaraan itu secara terang-terangan berani menyerang Korea Selatan pada 24 Juni 1950.

Penyerangan secara mendadak itu mengagetkan Korea Selatan dan AS. Keduanya kelabakan menghadapi serbuan Korea Utara yang berhasil mendesak keduanya hingga Busan.

Pada akhirnya AS mulai ikut campur secara langsung dalam perang saudara ini. Dipimpin oleh Douglas McArthur, pasukan AS mulai didatangkan dari Jepang dan Filipina untuk bertempur di Semenanjung Korea yang memasuki musim dingin.

Tentu saja bukan perkara mudah bagi AS untuk bisa menaklukan Korea Utara yang komunis. Negara ini mempunyai semangat yang sama dengan Jepang kala bertempur.

Bahkan, AS sebenarnya cukup kewalahan menghadapi tentara Korea Utara yang benar-benar berperang untuk menyatukan Korea di samping ada bantuan dari Uni Soviet dan Cina.

Misi AS pun di Semenanjung Korea gagal ketika Perang Korea, salah satu perang terdahsyat dalam Perang Dingin itu, harus diselesaikan lewat gencatan senjata.

Artinya, perang bisa kembali meletus di Semenanjung Korea. Hingga hari ini, AS masih menyiagakan pasukannya di perbatasan Korea Selatan, serta di Jepang.

Bahkan, tidak jarang pula, Negeri Paman Sam melakukan latihan tempur bersama para sekutunya di laut Kuning yang terkadang membuat gusar Korea Utara.

Cina

Pinterest
Dewasa ini sering terdengar oleh kita bahwa di masa yang akan datang atau dalam waktu dekat AS akan berperang dengan Cina jika melihat perkembangan militer yang pesat si Negara Tirai Bambu dalam waktu yang cepat.

Perkembangan militer di kawasan Asia Pasifik itu cukup mengkhawatirkan negara-negara tetangga Cina terutama Jepang yang memang punya hubungan buruk sejak akhir abad ke-19.

Perkembangan militer itu yang membuat Jepang semakin massif memperbarui kekuatan militernya setelah Perang Dunia Kedua.

Melihat situasi yang demikian apalagi Cina juga agresif ingin menjadi penguasa di Laut Cina Selatan, AS yang berada di kawasan itu melalui Armada ke-7-nya tentu tidak tinggal diam.

Negeri Paman Sam semakin memperkuat militernya untuk melindungi para sekutunya. Perang kedua negara tinggal soal waktu.

Akan tetapi, jika melihat pada sejarahnya, baik AS maupun Cina sebenarnya pernah berhadapan langsung, dan medannya adalah Perang Korea.

Ya, pada perang tersebut Cina terjun karena AS yang berani menyinggung kedaulatan Negeri Tirai Bambu di Manchuria.

Meskipun demikian alasan sesungguhnya adalah Cina ingin melakukan intervensi militer membantu Korea Utara dalam perang melawan AS.

Tidak tanggung-tanggung Cina mengerahkan pasukan berkekuatan hingga 400.000 orang dalam usaha mengusir AS yang dianggap sebagai imprealis.

Dalam peperangan melawan Cina di Korea itu AS cukup kewalahan. Tentara Cina sebagaimana tentara-tentara Asia Timur punya kemampuan dan semangat yang luar biasa.

Tentara Cina punya kelebihan mampu mengenal medan daripada tentara AS yang terlihat buta, dan tidak punya referensi sama sekali.

Dalam beberapa foto dan gambar Perang Korea terlihat tentara Cina bisa memenangkan pertempuran melawan AS yang teknologi militernya lebih oke.

Pada akhirnya, pertempuran antara AS dan Cina harus berhenti seiring dengan gencatan senjata di Panmujom pada 1953, sehingga belum terlihat siapa pemenang, siapa pecundang.

Apabila dikaitkan kembali di masa sekarang, perang AS dan Cina bukan lagi pada perkembangan alat-alat militer, melainkan pada perdagangan dan teknologi.

Kasus teranyar adalah Huawei yang dianggap sebagai mata-mata oleh AS, membuat pimpinan perusahaan tersebut ditahan AS hingga sekarang, serta membuat Huawei tidak didukung lagi oleh Google pada produk-produknya.

Kesimpulan


Nah, itulah 3 negara Asia Timur yang pernah dihadapi AS dalam perang-perang yang dilakoni sepanjang abad ke-20.

Dari situasi di atas kita bisa menyimpulkan bahwa negara-negara Asia Timur bukanlah kawasan yang sebenarnya mudah dikuasai oleh karena keadaan alamnya serta budaya masyarakatnya yang bermental baja dan pantang menyerah.

Bahkan, AS saja harus membuat Jepang bertekuk lutut lewat bom atom bukan melalui invasi langsung karena tahu karakter orang Jepang yang begitu luar biasa dalam berperang, siap sedia berkorban demi negara secara bersama-sama.

Alasan lainnya juga adalah untuk menghemat ongkos peperangan dan menyelamatkan nyawa para serdadu yang akan mati sia-sia.

Tindakan mengebom lewat bom atom ini yang akhirnya dikecam oleh Kaisar Hirohito sebagai tindakan barbar dan pengecut, bukan tindakan samurai.

Hal ini tentu berkebalikan dengan situasi di Timur Tengah yang terlihat begitu mudah dikuasai dan jadi mainan untuk alat-alat tempur Negeri Paman Sam.

Selain kondisi alam yang kebanyakan didominasi oleh padang pasir, juga karena mental masyarakat Timur Tengah yang benar-benar pragmatis alias akan mendukung siapa yang paling kuat sehingga loyalitas bisa dibuang jauh-jauh. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Statistik

Terjemahan

Wikipedia

Hasil penelusuran